Belajar Menjadi Seorang Ibu

Belajar Menjadi Seorang Ibu
29. Anak Pendiam.


__ADS_3

Tak ingin membuang banyak waktu, akhirnya kami berangkat menaiki angkutan umum yang lewat di depan pertigaan gang rumah. Ada banyak sopir kendaraan itu yang tinggal di permukiman ini dan kebetulan aku kenal beberapa dari mereka.


Kami menaiki angkutan umum yang dilihat pertama kali, dikendarai oleh tetanggaku dari gang lain, dan kondisi kendaraannya juga masih bagus. Tidak banyak kulit mobil yang mengelupas, tidak banyak yang berkarat, juga tempat duduknya pun nyaman tanpa lubang tak seperti angkutan lainnya.


"Pada mau ke mana ini tèh?"


Aku tersenyum simpul. "Ini mau nganter anak bungsu sekolah, sekalian saya juga ada urusan di sana, jadi sekalian bareng aja."


Bapak-bapak itu manggut mengiyakan, lalu menstarter transportasi ini sehingga kembali berjalan seperti biasa. Sebenarnya, jarak di antara rumah dan sekolah anakku tidak terlalu jauh, tetapi kami juga tidak ingin bersusah payah ke sana pagi-pagi.


Aku jadi berpikir ini terlalu pagi kalau langsung bertemu bu Irma, bisa jadi aku mengganggunya, 'kan? Seharusnya aku tidak berangkat sepagi ini, sekarang aku terlihat seperti seorang Ibu yang membutuhkan pendengar siapa saja.


Huft, sedih rasanya. Walaupun perkataanku ada benarnya, tetapi semestinya aku tidak menunjukkan kesedihanku kepada orang lain. Kini wajahku semakin murung, jelas memperlihatkan ada sesuatu yang terjadi dan perlu direnungkan oleh diri sendiri atau mendapat solusi dari orang lain.


Dadaku sesak, perasaanku tidak tenang mengingat suamiku juga berangkat lebih pagi. Mungkin dia akan pulang terlambat, terus bisa jadi aku diperlakukan kasar seperti yang bukan-bukan, seperti kemarin. Dia bisa mengataiku banyak hal, menjelek-jelekkan atau sampai mengumpat banyak nama binatang padaku. Tetapi tidak di hadapan anak-anak.


"Ma, udah sampe!"


Mataku mengerjap cepat, sepertinya sedari tadi anakku berusaha menyadarkanku karena tujuan kami sampai di tempat. Akhirnya, kami pun turun. Meskipun statusnya tetangga di perumahan yang sama, mana mungkin aku pergi berlalu begitu saja tanpa memberikan tip. Aku dan Kalista adalah penumpang pertamanya, jadi aku memberinya sedikit lembaran uang kertas.


"Makasih, Pak."


Setelahnya, angkutan umum itu melaju dengan harapan banyak yang menaikinya hari ini. Diyakini telah pergi menjauhi kami, akhirnya aku dan anakku mengembalikan atensi kami ke tempat ini, SMA Negeri 1 yang kedatangan warga sekolah seperti biasanya.


Gerbangnya tinggi semampai dan tampak kuat menahan anak-anak sekolah yang akan kabur, halamannya tidak terlalu luas karena tempat parkirnya pun tidak di sana, tetapi bagian dalam sekolah ini punya bagian yang bisa dikatakan lapang karena letaknya melebar begitu dalam.


Kami masuk secara bersamaan, berjalan sesuai ritme jejak kaki yang pelan-pelan dengan tidak banyak berbicara. Baik aku maupun Kalista, kami sama-sama sadar sudah menyingkap sebagian perhatian dari anak-anak yang sudah menongkrong di sepanjang lorong. Mereka menyorot kedatangan kami.

__ADS_1


Aku sempat melihat reaksi Kalista, dia tampak sadar dan tidak peduli dengan apa yang dilihatnya sekarang. Seakan desas-desus yang mulai terdengar hanya bentuk hiburan pagi, alhasil aku tidak berkata apa-apa lalu berhenti saat anakku sampai di tujuan kelasnya.


"Udah, sekolah yang bener."


"Bener aku mah," katanya membanggakan diri. "Emangnya si kakak."


"Nggak usah dibahas, Mama nggak suka," ucapku tak ingin mengulang topik itu di tempat ini. "Mama ke ruangan sebelah habis itu pulang. Nanti kamu pulang sendiri, ya."


Kalista berdeham ria, melanjutkan perjalanannya ke dalam kelas dengan lambaian tangan sampai jumpa. Aku cuma bisa menggeleng kepala, lalu meneruskan perjalanan yang sempat terhambat di tengah lorong. Aku baru sadar, para penonton yang melihat perjalanan kami tadi kelihatan tahu bahwa aku adalah Ibu dari Fathan yang kemarin berulah. Makanya mereka berbisik-bisik sekarang.


Namun, tujuanku kemari bukan untuk mengomel satu persatu murid di sini. Sesampainya di ruangan guru, aku iseng mengetuk pintu itu tiga kali dan mendorong pintu tersebut sebagai percobaan memastikan keadaan di dalam.


"Eh, Bu Laras. Mau ke saya, ya? Masuk aja, Bu."


Aku mengucap syukur dalam hati, beruntung Bu Irma sudah hadir pagi-pagi. Usai tersenyum tulus, aku mengikuti arahan guru itu lalu bersalaman dengannya sebagai bentuk akrab antara pihak sekolah dan wali murid yang siap untuk terbuka. Aku tidak yakin akan menceritakan apa saja, tetapi aku yakin pendengarku bisa menanyakan yang perlu dibahas.


"Maaf soal Fathan ya, Bu. Waktu itu saya di luar sekolah, lagi ngurus anak yang tahun kemarin lulus buat kelanjutan kuliahnya di universitas."


Mendengar tujuanku kemari, tidak ada lagi senyuman yang tersirat di wajah Bu Irma. Seakan sudah waktunya kamu berbincang serius, aku tidak bersuara sampai wanita di depanku membalas perkataanku tadi.


"Bu Irma, saya belum pernah lihat Fathan bermasalah di sekolah ini. Bahkan kemarin itu pertama kalinya dia ada di salah satu keributan, apa perasaan Fathan waktu itu udah jelek dari rumahnya?"


Aku berpikir sejenak, mengingat apa yang sempat terjadi di antara kami sebelum hari ujian terjadi. Namun, yang kuingat hanya izin meminta futsal, juga debat kecil antara aku dan Cahyo waktu itu. Tidak ada yang lain.


"Waktu itu anak saya minta izin mau main sama temen-temennya, tapi nggak saya izinin karena besoknya ujian. Anak saya harus belajar."


Bu Irma hanya mengangguk. "Apa Bu Laras kesulitan menghadapi anak-anak Ibu?"

__ADS_1


Kalau ditanya begini sudah pasti jawabanku 'iya'. Selain sulit dimengerti, mereka juga susah diatur, dan banyak memberontak. Jika sudah sampai batas emosi, aku yang akan disalahkan seperti Kalista padaku waktu itu. Ya, 'kan?


"Anak yang susah dimengerti itu yang mana, Bu?" tanya Bu Irma menatapku serius. "Tapi kalau Bu Laras nggak mau jawab atau ini udah batas privasinya, saya nggak maksa Ibu."


Aku spontanitas menggeleng, sepertinya sudah seharusnya aku berkonsultasi ke guru konseling yang satu ini. Dia sudah mengenalku sejak lama, kami juga sering diskusi, dan melakukan pertemuan sesekali. Tidak ada kesulitan saat aku berbicara dengannya, jadi aku bisa menceritakannya sedikit, 'kan?


"Kalista, Bu Irma."


"Kalista yang banyak diemnya?"


Aku langsung membantah, "Kalista nggak pernah diem kalau di rumah, paling cuma pas ngambek aja. Dia banyak emosinya, saya susah ngadepin Kalista."


"Nggak, Bu. Yang perlu kita hadepin itu yang paling diem dulu."


Aku kebingungan mendengarnya begitu. "Bukannya tadi Bu Irma nanya saya tentang siapa yang susah diasuh? Kalista jawabannya, Fathan mah banyak diemnya karena nurut terus sama saya. Nggak ada masalah apa-apa tuh, setiap kali diomong pasti langsung ngangguk."


Bu Irma melakukan gilirannya dengan gelengan kepala, membuat banyak pertanyaan yang menggumpal di pikiranku atas tindakannya tadi. Aku tampak salah menjawab, padahal apa yang dikatakanku itu benar. Fathan memang banyak diamnya, tetapi dia mudah diatur. Kenapa harus mengurus anak yang itu dahulu?


"Bu Laras, anak yang diem itu belum tentu nggak punya masalah. Dari banyak orang tua yang konsultasi sama saya, banyak anak pendiem yang lebih sulit mengontrol emosinya. Diem-diem mereka silent treatment, memendam amarah terus-terusan, nggak bagus."


Alisku mengerut, masih belum mengerti. "Maksudnya gimana, Bu?"


"Anak yang pendiem itu biasanya kalah memperebutkan perhatian orang tuanya, dia cuma bisa mengangguk kepala aja kalau diomongin. Keliatan nggak butuh banyak perhatian, keliatan nggak bisa marah, padahal mereka pasrah dan sesekali butuh diperhatikan."


Aku termenung mendengarnya, apa Fathan merasakan itu? Apa dia benar-benar kalah mendapatkan porsi perhatian daripada adiknya? Kalau diingat-ingat, anakku yang satu itu memang tidak banyak mengeluh di hadapanku, tidak banyak protesnya.


"Apa semua anak pendiem itu emang begitu?"

__ADS_1


Bu Irma menjawab, "Nggak, Bu. Tapi rata-rata yang pendiem udah pasti begitu, apalagi kalau mereka anak pertama, apa-apa harus ngalah. Nggak boleh cengeng, punya banyak ekspetasi orang tua buat dicontohin ke adiknya, harus berani, selalu dianggep gede atau dewasa yang padahal umur nggak menentukan kedewasaannya anak."


Aku menghela napas, apa sekali lagi aku memang keterlaluan?


__ADS_2