
Setengah jam kemudian, kami kembali berkumpul di ruang tamu; aku, Fathan, dan Kalista yang sibuk dengan kegiatan masing-masing tanpa membuka topik apa pun untuk dibicarakan. Aku mencomot beberapa camilan di meja, anak laki-lakiku sesekali membaca dan menulis sesuatu di buku, sedangkan anak yang terakhir tampak sibuk bermain ponsel.
Diam-diam, aku menebak-nebak siapa yang akan datang sebagai temannya Kalista ke rumah ini. Selama ini yang mengunjungi rumah kami dengan identitas teman Kalista hanya Biyan, tidak ada teman SD maupun SMP-nya yang bertamu untuk sekadar menanyakan kabar atau meminta bantuan.
Apa dia adalah anak yang kemarin bertengkar dengannya di sekolah? Kalau tidak salah namanya Natasya, bisa jadi keduanya akur dan justru berteman akrab, 'kan? Seperti kebanyakan sinetron yang muncul di televisi. Jika yang terjadi memang begitu, aku senang mendengarnya mulai berdamai bersama orang-orang di sekolah.
Anakku yang terakhir memang mudah berbaur. Namun, dia tidak berada di lingkup pertemanan mana pun. Kalista dikenal sendirian, tetapi bisa berteman dengan siapa saja—aku tidak tahu apakah itu pilihannya atau dia memang kurang didekati orang-orang sekitar. Kalau Kalista tidak keberatan, kupikir tidak apa-apa.
Kami belum menikmati makan siang hari ini, aku berniat mengajak temannya makan bersama sambil mengobrol ringan. Namun, aku tidak mengatakannya, sengaja agar terkesan lebih bisa ramah dan terbuka di hadapan mereka.
Tak lama, anak perempuanku meletakkan ponselnya di meja. Dia kelihatan lebih ceria dari sebelumnya seakan yang dinanti-nanti pun tiba, kemudian Kalista bergerak ke luar rumah. Menjemput harapannya yang membuat aku dan Fathan saling bertukar pandang.
"Nah, ayo masuk. Maaf ya berantakan."
Aku menggeram sebentar, anakku bilang rumah ini berantakan? Padahal dia tidak menyentuh barang satu pun untuk merapikan keadaan ruangan ini, tetapi bisa-bisanya berkata begitu terhadap tamu yang pertama kalinya datang.
"Karina."
Emosiku langsung menipis setelah melihat siapa yang datang, gadis manis yang pernah memberi sekotak pisang goreng hangat atas kepindahannya kemari. Aku lantas berdiri, menyambutnya dengan tatapan berbinar sembari menerima salam darinya.
"Ibu, iya ini Karina," jawabnya tersenyum ramah.
Kalista melihat sinis pada kami secara bergantian, seolah baru tahu bahwa aku dan Karina saling mengenal sebelum dikenalkan baik-baik.
"Kok bisa kenal, sih?"
__ADS_1
"Ada, deh," balas Karina membuatku tersenyum kecil.
Menyadari Fathan yang sedari tadi terduduk diam, aku membantunya bangun untuk ikut diperkenalkan. Baik Karina maupun Fathan, mereka kelihatan gugup karena pertama kalinya dihadapkan antara perempuan dan laki-laki secara langsung di depanku.
"Karina. Ini anak pertama Ibu, namanya Fathan," ujarku memperkenalkan, membalikkan atensi pada anakku lagi, "Fathan, ini Karina, dia baru pindah ke perumahan ini minggu kemarin."
Anakku salah tingkah, bingung ingin membalas apa dengan gerak-gerik yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Aku tertawa pelan melihatnya begitu malu.
"Malu ini, Mama nggak pernah liat Fathan kayak begini."
"Nggak, Ma. Fathan ke kamar dulu."
Laki-laki itu kabur ke dalam kamar, meninggalkan kami bertiga di tempat tanpa sepatah kata. Baik aku, Kalista, maupun Karina sama-sama menghela napas secara bergilir. Kemudian, aku mempersilakan mereka melanjutkan kegiatan atau bermain di mana pun yang keduanya mau.
Aku mengangguk mantap, tentu saja boleh. Selain mendapat teman baru, anakku akan belajar lebih banyak dari Karina, siapa tahu sikapnya pun ikut ramah dan lebih banyak menurut—aku tidak berharap banyak—selagi Cahyo tidak ada di rumah, tidak akan ada yang bisa mengganggunya.
Aku tersenyum manis. Namun, harapanku yang baik sepertinya tidak berlangsung lama. Senyum Kalista mengendur seakan ada yang datang tidak diundang, tidak lagi senang ketika ketukan pintu terdengar yang dilanjut selangkah kedatangan orang lain ke rumah ini.
Kupikir suamiku pulang lebih cepat atau ada sesuatu yang dilupakan anakku, tetapi perkiraanku salah. Ada orang lain yang datang mengunjungi rumah kami selain Karina, perempuan dengan penampilan yang jelas mempunyai kasta lebih tinggi dari keluarga ini. Wajahnya tidak asing, seperti pernah melihatnya di suatu tempat.
"Lho ...."
"Eh, Natasya."
Oh, iya Natasya. Anak yang pernah duduk berdampingan bersama Kalista di ruang konseling, yang terlibat pertengkaran di sekolah dengan anakku. Ini memang dia, tampangnya mempunyai impresi pertama yang mudah meremehkan orang.
__ADS_1
"Aku telat nggak?"
Karina menggeleng pelan. "Nggak, kok. Belum mulai belajarnya."
"Kok ada dia, sih?" Kalista menatapnya jengkel.
"Lo belum baca grup, ya?" timpal perempuan itu, "gue udah bilang bakal ikut kelas hari ini, ternyata malah di rumah lo. Ya, akhirnya gue ke sini. Nggak apa-apa, 'kan?"
Aku berniat tidak ikut campur. Tak ingin mengundang emosinya Kalista, akhirnya aku mengiyakan perkataan Natasya sebagai perwakilan dari anakku yang sekarang bersungut-sungut dalam hati. Kepalaku mengangguk, menyentuh pucuk rambut Kalista yang ikut menoleh padaku.
"Boleh, kok. Nanti kalau ada apa-apa bilang sama Mama, ya."
Natasya senyum memenangkan debat, sedangkan aku mengalihkan perhatian pada anakku yang menggerutu. Kami bertukar pikiran lewat lirikan mata, aku memintanya untuk membawa para tamu masuk ke dalam kamar atau segera menyiapkan tempat untuk belajarnya mereka.
Aku tidak tahu apa diskusi dari ketiga remaja ini berdampak baik atau tidak, tetapi aku senang karena ada yang bisa menemani Kalista di rumah selain aku, Fathan, dan ayahnya. Oleh karena itu, aku membiarkan mereka mengikuti anakku yang masuk ke dalam kamar.
Melihat Kalista, Karina, dan Natasya dipastikan berada di dalam ruangan. Aku mengembuskan napas, duduk di sofa dengan harapan tidak ada pertengkaran yang mengganggu kegiatan belajar mereka hari ini.
Aku tidak tahu bagaimana Natasya kemari, mungkin Karina yang memberi tahunya. Aku berharap masalah kemarin yang sudah terjadi tidak banyak terdengar di telinga para tetangga, mulai dari; Kalista yang akrab bersama Biyan, keributan antara Kalista dan Natasya, juga kasus yang menyebabkan surat peringatan kedua dikeluarkan untuk si Kakak.
Mungkin ada beberapa orang yang mendengarnya sekilas, mengingat ada anak-anak lain yang sekolah di SMA Negeri itu. Tetapi mendengar Kalista yang berniat meluangkan waktunya sampai mengundang seorang guru ke rumah, kekhawatiran ini jadi berkurang, aku berpikir anakku sudah ada niat belajar daripada yang sebelumnya.
Meskipun sekadar mengerjakan tugas dan belum menjadikan belajar sebagai hal yang menyenangkan, setidaknya ada kenaikan sedikit demi sedikit dari anak terakhirku. Siapa tahu dia mengikuti jejak Kakaknya, 'kan? Aku tidak langsung berharap banyak, sih. Tetapi siapa tahu.
Senyumanku terbentuk, aku akan selalu mendoakan yang terbaik untuk anak-anakku.
__ADS_1