
"Nggak bisa dikurangi, Bu?"
"Maaf, Bu Laras. Nggak bisa, bukan saya yang waktu itu ngurus masalahnya."
Aku menghela napas, tetap menyambungkan telepati lewat telepon seluler ini antara aku dan bu Irma di sana. Aku baru saja dikabarkan Fathan menerima skors selama tiga hari, dia tidak diizinkan mengikuti ujian di sekolah sebagai hukuman karena telah menciptakan keributan di sana.
"Berarti Fathan ujiannya di rumah?"
"Ya, Bu. Fathan ujian di rumah lewat link ujian yang nanti saya kasih."
Aku berjalan mondar-mandir mengelilingi ruang tamu, berpikir bagaimana cara mengatakannya kepada anakku yang sudah tidur. Pasti Fathan kecewa mendengar kabar ini, seakan usaha belajarnya adalah hal sia-sia karena bisa jadi soal yang disediakan dalam link tersebut berbeda dengan soal teman-temannya di kelas.
Mungkin aku bisa bernegosiasi. Sembari merangkai kalimatnya, aku melirik anakku yang sudah tertidur nyenyak lewat pintu yang tidak tertutup rapat. Aku yakin Fathan kecapekan sekarang, hari Senin ini berat bagi kami.
"Maaf, bu Irma. Tapi bukannya ini kurang adil buat anak saya?"
"Mohon maaf, Ibu. Saya tetep nggak bisa ngelakuin apa-apa buat masalah ini, saya cuma nyampein sesuai yang diminta guru konseling lain."
Memang tidak bisa, ya. Aku juga tidak mungkin memaksa bu Irma, bisa-bisa berimbas pada anakku yang kena hukumannya lagi atas kelakuan Ibunya. Aku tidak bisa membujuknya terus-terusan, ini sudah malam dan waktunya semua orang istirahat. Aku yakin diam-diam bu Irma pasti menggerutu.
Akhirnya, aku cuma bisa mengiyakan perkataannya. Mengucapkan terima kasih karena meluangkan waktu tidurnya untuk memberi tahu informasi ini.
"Kalau gitu makasih ya, Bu. Maaf malem-malem."
"Nggak apa-apa, Bu Laras. Seharusnya saya yang minta maaf karena nelepon duluan."
Kami sempat tertawa renyah, berusaha mengurangi kecanggungan itu.
"Kalau ada apa-apa, tolong jangan sungkan dateng ke saya ya, Bu. Besok saya di sekolah, jadi Bu Laras bisa langsung kemari."
"Oh, iya. Makasih banyak, Bu."
Setelahnya, panggilan itu diputuskan sepihak. Kami kembali ke urusan masing-masing. Aku melihat anakku dari kejauhan, tersenyum kecil, lalu menutup rapat pintunya. Besok aku akan bangun lebih pagi, memberi tahu anakku pelan-pelan bahwa dia tidak bisa mengikuti ujiannya di sekolah. Fathan juga butuh istirahat, sepertinya akan lebih baik kutinggalkan sendirian di rumah nanti.
Sedangkan, Kalista pasti tertekan dengan apa yang dilakukan Ayahnya tadi. Baik dari intonasi suaranya yang tinggi juga kekerasan fisik padaku, dia mungkin paham apa yang sedang terjadi hari ini. Maksudku, aku berharap setelah hari ini berlalu, Kalista jadi lebih bisa mengendalikan diri.
__ADS_1
...***...
Sayangnya, aku terlambat bangun. Aku selesai mandi pada jam enam pagi, tidak sempat membersihkan banyak bagian rumah karena sibuk menyiapkan kebutuhan sekolahnya Kalista. Setelah sepiring telur dadar diletakkan di meja makan, aku beralih mencari suamiku yang entah ke mana perginya.
Dari kamarku, kamarnya Kalista, kamar mandi, dan berakhir di ruang tamu. Tidak ada tanda-tanda kehadirannya, aku was-was sampai anak perempuanku ikut menghampiri, sepertinya dia tahu Ibunya sedang mencari sesuatu.
"Ayah udah berangkat, Ma."
Aku menatapnya sejenak. "Udah lama?"
"Udah," jawabnya kembali ke meja makan. "Dari sebelum Mama bangun, aku ngeliat ayah berangkat sama mobilnya."
Aku mengembuskan napas, mungkin dia tidak mau diganggu atau dilayani dengan baik seperti biasa. Aku bisa mengurusnya nanti, sekarang waktunya aku menghampiri anakku yang mungkin masih di dalam kamar.
Pintu itu kubuka perlahan, menampilkan ruangan yang dalam keadaan lebih bersih dan rapi. Buku-buku yang berantakan tidak lagi terlihat, tempat sampahnya pun bersih dengan interior kamar yang disembur aroma parfum bunga lily. Aku terpana melihatnya sebegitu niat merapikan kamar, dia memang bisa diandalkan.
"Fathan."
Laki-laki yang setia dengan meja belajarnya menoleh, tersenyum manis dengan lambaian tangan sebagai bentuk sapa di pagi hari. Seingatku ini baru jam tujuh pagi, tetapi pakaiannya sudah rapi dengan buku-buku pelajaran yang terlihat baru saja dibaca.
"Mama."
"Habis ini makan, Ma," jawabnya lembut.
Mendengarnya yang masih lemah lembut padaku, aku jadi tidak tega memberi tahu kabar mengenai skors atas tindakannya kemarin. Aku membalas senyumnya, mendekati anak pertamaku sembari mengusap rambutnya perlahan sebagai bentuk sapaan juga untuk pagi yang disemogakan cerah.
"Fathan, hari ini kamu ujian di rumah, ya."
Aku bisa melihat adanya perubahan ekspresi dari wajahnya, juga gestikulasi yang tadinya sangat menyambutku. Tarikan senyum di bibirnya itu mengendur, bertukar menjadi seseorang yang akan mendengarkan informasi penting dengan wajah siap menerima fakta.
"Berapa hari, Ma?"
"Fathan, kemarin malem Mama ditelepon sama bu Irma. Katanya kamu dapet skors tiga hari, kamu belum bisa sekolah sekarang."
Ada embusan napas yang diembus oleh anak pertamaku, sepertinya dia paham apa yang dimaksud perkataanku tadi. Bukan kesempatan untuk beristirahat, melainkan hukuman atau skors yang harus diterimanya.
__ADS_1
"Iya, Fathan belajar di rumah aja."
Aku tersenyum tenang mendengarnya memahami situasi, bersyukur anakku tidak banyak mengoceh atau tidak menentang apa yang diterimanya. Fathan selalu mengiyakan dan menurut ketika aku dan suamiku menyuruh, berbeda dengan adiknya yang selalu membantah. Huft, aku tidak tahu cara Kalista mengikuti seperti Kakaknya yang banyak diam.
"Nah, begitu. Jangan cengeng lagi, ya. Malu diliat adiknya nanti, oke?"
Fathan tak langsung merespons, ada beberapa detik untuk terdiam sampai berakhir mengangguk pelan.
"Pagi ini Mama mau anter Kalista ke sekolah, nanti sekalian langsung ke tempat lain. Mama ada urusan, Fathan di rumah sendiri nggak apa-apa, 'kan?" Aku bertanya penuh harapan, berusaha membuatnya mengatakan 'tidak apa-apa'.
"Nggak apa-apa, Ma. Fathan juga di rumah aja."
Aku bersorak dalam hati, lalu menukar perhatianku pada buku-buku yang masih terbuka di meja. Beberapa dari mereka kututup halamannya, tidak boleh menyontek sesuai perkataan dan tindakannya waktu itu. Meski Fathan ujian di rumah, dia tetap tidak boleh mencari jawabannya di buku. Sama saja bohong, 'kan?
"Nggak boleh nyontek, kalau nggak nanti ditendang," celotehku bercanda dilanjut kekehan kecil. "Mama siap-siap dulu, ya. Nanti kalau ada apa-apa bilang Mama, ada nasi goreng di meja, jangan lupa dimakan."
"Ya, Ma. Nanti Fathah makan."
Setelahnya, aku menutup pintu. Menarik outer sebagai pelengkap busana untuk mengantar anak bungsuku ke sekolahnya, dia tampak siap dengan penampilannya sekarang, dihiasi rambut yang diikat dua persis seorang anak kecil berangkat ke PAUD.
"Mau ke sekolah pake gaya rambut itu? Mirip anak kecil, kenapa nggak kayak biasanya aja, sih?"
Kalista cemberut mendengarku begitu. "Tapi ini bagus, Ma."
"Ganti-ganti, ah. Bagus dari mana malah kayak bocah, udah dengerin aja kata Mama. Mama tau yang baik buat kamu."
"Kenapa Mama ngomong begitu, sih?" Kalau sudah begini, pasti akan menyangkal, "Ini pilihan aku."
"Ganti, nggak suka Mama lihat kamu kayak begitu."
"Ya, nggak usah dilihat."
"Kalista!" Kakaknya memanggil.
Anak perempuan itu berdecak. Kalau Kakaknya sudah menyahut, dia tidak bisa berbuat banyak. Akhirnya, ikatan rambut itu dilepasnya cepat, dia melemparnya asal dan membuat rambutnya menjadi terurai lebat. Awalnya mau bilang cantik, tetapi wajahnya justru cemberut.
__ADS_1
"Jangan cemberut begitu kalau dibilanginlah, nggak sopan."
"Terserah, deh."