Belajar Menjadi Seorang Ibu

Belajar Menjadi Seorang Ibu
35. Emosinya Meluap.


__ADS_3

Setelah merenung beberapa menit, aku mengembuskan napas sebagai bentuk pasrah dengan keadaan. Kopi, teh, dan camilan yang tersaji kuletakkan kembali ke tempatnya. Merapikan beberapa barang yang habis dipakai, lalu mengumpulkan ponsel anak-anakku yang sempat dirampas oleh ayahnya.


Aku menaruhnya di tempat yang aman, memastikan semuanya tergeletak baik-baik saja. Aku juga mengunci pintu rumahku, lalu membilas wajah sebentar sebelum masuk ke kamar tidur. Ini memang masih jam delapan malam, tetapi karena kejadian tadi, sepertinya kami berempat tidak akan berjumpa lagi malam ini.


Usai merapikan piyamaku, aku mengetuk pintu kamarku, memberi tahu pada yang sudah mendatangi ruangan lebih dahulu bahwa aku akan menempati ruangannya juga. Karena tidak digubris, aku membuka pintu tersebut yang menampilkan seorang pria bersama laptopnya di bagian meja.


Dia tampak menitikberatkan perhatiannya di sana. Seakan sedang melampiaskan sesuatu, wajahnya ikut cemberut persis perasaan yang masih berkecamuk. Mulanya aku berniat membuka topik, membahas tentang sikapnya yang semakin berubah dan sulit dimengerti. Namun, melihat suamiku yang terkesan tidak mau diganggu, aku jadi mengurungkan niat.


Aku mendekati tempat tidurku, duduk tanpa bersuara melewatinya meski suamiku sepertinya tahu kalau aku memasuki ruangan. Sampai di tempat tidur, aku mencari kesibukan dengan merapikan barang-barang di kamar. Sesekali wajahku pun bercermin, memastikan penampilanku baik dan tidak membuatnya risi.


Aku sengaja menunggu beberapa menit, terdiam sambil dua atau tiga kali melirik pada layar laptop yang sedang menampilkan pekerjaannya.


"Ngapain?"


Sepertinya suamiku sadar bahwa istrinya sempat mengintip, aku lantas memundurkan tubuh yang sempat mencondong, lalu bertingkah polos seolah tidak tahu mau berbuat apa.


Kepalaku menggeleng. "Nggak, tapi kamu masih sibuk, ya?"


"Masih," ujarnya tanpa intonasi yang lembut, dia menyempatkan diri untuk memberi perhatiannya padaku, "kenapa?"


"Ada yang mau aku bahas."


Cahyo memutar balik, tidak jadi menaruh sepenuh atensinya padaku seakan hanya membuang-buang waktu. Dia kembali pada laptopnya, bereaksi tidak peduli tentang seberapa penting apa yang akan kami bahas.


"Ngomong aja."


Aku mengembuskan napas. Didengar dari caranya membalas, Cahyo seperti belum bisa diajak berdiskusi. Apalagi dia tidak fokus mendengarkan, perhatiannya terbagi dua—bisa jadi terbagi tiga karena overthinking diam-diam. Ini akan menjadi malam yang buruk jika aku benar membuka topik tentang penyampaiannya kepadaku dan anak-anak yang perlu diperbaiki.

__ADS_1


Dia tidak mau mengalah, mungkin pernah, tetapi sebelum anak-anakku lahir. Seakan dia tidak ingin menanggung hal yang paling berat di bagian mengasuh anak, Cahyo berkelakuan seenaknya seperti seorang raja yang harus dilayani meski posisinya menjadi kepala keluarga kami.


"Soal anak-anak."


Cahyo mendengkus, menggeser alat elektronik itu lalu menghadapkan tubuhnya padaku. Dia mau meluangkan waktu, meski kelihatan kurang meyakinkan untuk bisa mengontrol emosi, setidaknya dia mau mendengarkanku, 'kan? Mungkin aku harus mencoba.


"Kenapa sama mereka?" tanya Cahyo memperpanjang tujuan.


Aku melipat bibirku, berharap bisa bernapas tenang dan tidak tergesa-gesa bereaksi di hadapannya. Kalau dia tidak mengalah, aku yang selalu memahaminya. Bisa saja ini menjadi salah satu kekurangan suamiku, yang kurang peka terhadap posisiku sebagai seorang istri dan ibu.


"Ayah, tolong kontrol emosinya lebih baik lagi, ya. Kasian anak-anak, aku takut mereka tertekan atau trauma. Kamu kalau ngomong jangan teriak-teriak, jangan terlalu keras. Mereka juga punya kekurangan yang siapa tau belum bisa dilihat kita."


"Begini, nih, yang nggak gue seneng."


Sudah kuduga, dia akan selalu bertolak belakang dengan pendapatku. Entah memang aku yang terlalu lembek atau dia yang selalu ingin menang, kami jadi sering berakhir dengan komunikasi yang terputus karena kehilangan kendali pada emosi masing-masing, antara suamiku dan anak-anak, aku tidak tahu siapa yang harus disalahkan.


"Lo tuh terlalu lembek, lagian bener gue kasih tau begitu ke anak-anak lo, apalagi Kalista. Bukan salah gue kalau dia jadi kasar atau susah diatur, sama lo dimanjain mulu," balasnya gampang, "kalau lo mau ngasuh yang beda. Urus aja sendiri, nggak usah ngomong-ngomong ke gue lagi."


"Ayah kenapa, sih?" Aku menatapnya cemas, "awal-awal nikah, kita baik-baik aja. Kamu nggak pernah begini, kamu selalu terbuka sama aku, tapi semenjak anak-anak pada gede malah semaunya sendiri. Yah, mereka juga mau dingertiin, bukan seharusnya mereka yang maklumin kita mulu."


"Nggak ngerti gue sama lo."


Aku mengembuskan napas, tidak tahu harus menjelaskannya dengan kata sehalus apa. Apa yang kuucap tadi memang benar, 'kan? Lagi pula aku tidak bermaksud menyalahkannya, aku hanya ingin suamiku sadar dan bisa diajak diskusi lebih dalam. Bukan malah mencari pembelaan.


"Intinya, tolong kalau ngomong sama anak-anak jangan teriak, jangan dikasarin. Coba ngertiin perasaan mereka."


"Ngertiin?"

__ADS_1


Cahyo menaruh laptopnya lebih jauh, tubuhnya bangkit dan berdiri menghadap kehadiranku di tempat tidur yang sudah gemetar tak berdaya lagi. Aku terpaku di kasur, sorot tajam matanya seakan mengunci pandanganku yang berakhir menatap lurus.


"Lo pernah ngertiin gue?"


"Aku kurang apa, sih?"


"Gue nanya, lo pernah ngertiin gue?" Cahyo mengulang, "lo cuma selalu nyari ribut pas gue banyak kerjaan, jelas-jelas gue lagi madep laptop begini malah tiba-tiba disalahin. Lo bilang apa tadi? Jangan kasar sama anak-anak, kalau nggak digituin, gimana Fathan sama adiknya ngadepin dunia luar? Liat Fathan, buktinya dia tumbuh jadi yang banyak prestasi."


"Ya, tapi bukan begitu caranya ...."


"Sekarang liat Kalista, yang lo rawat baik-baik gimana jadinya? Baik nggak, malah jadi sering ngelawan, 'kan?"


"Nanti kalau dikerasin, kalau dikasarin dia malah makin berani, Yah!"


"Ah, suka-suka lo! Apa-apa salah terus, gue nyoba ngertiin lo, tapi lo nyalahin gue mulu. Dikerasin anak aja nurut, giliran diomongin suami malah nuntut!"


Aku ikut berkonfrontasi, membalas tatapan mautnya yang tak kalah geram dari emosiku di bagian puncak. Tangan ini mengepal kuat, tak berpikir seberapa percepatan murkanya pria di hadapanku. Aku tidak mungkin diam terus-terusan, aku harus mengambil alih kalau soal anak-anakku.


"Kamu nggak bisa ngontrol emosi meskipun udah disabarin, udah dimaklumin. Aku masih nyiapin makannya kamu, ngeiyain semua omongan kamu, dan berharap banget bisa tenang di hadapan anak-anak. Aku nggak pernah cerita soal masalah kita ke mereka, lho. Aku juga nggak pernah didengerin kamu, selalu disepelein."


"Banyak omong lo."


"Kalau aku diem, kamu nggak bakal nyadar, Yah."


"Berisik!"


Aku ditamparnya lagi.

__ADS_1


__ADS_2