Belajar Menjadi Seorang Ibu

Belajar Menjadi Seorang Ibu
22. Anak Pertama.


__ADS_3

Siang itu, setelah keributan yang terjadi di rumah ini, pria yang memperbesar masalah pun melarikan diri entah ke mana. Kesan rumah yang menjadi tempat pulang ternyaman bagi setiap orang di sini semakin menipis, mengecil seperti dinding bangunan yang retak karena adanya kemiskinan komunikasi.


Kami membelah diri. Ada yang minggat tanpa menghubungi urusannya, ada yang beristirahat di kamar, yang merenung di ruang tamu, sementara aku yang kini terdiam di daerah dapur. Tidak ada yang bersuara sedari tadi, hanya bunyi tumisan sayur kangkung yang membuat rumah ini terasa hidup dan berpenghuni.


Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan sekarang. Menganggap seolah kejadian tadi siang adalah hal yang bukan-bukan, menganggapnya sebagai hari yang paling menyedihkan, atau justru menganggapnya seperti hal yang pantas diterima oleh anak-anakku.


Mengingat parenting yang dikatakan bu Irma tadi pagi membuat kepalaku pusing, bagaimana wanita itu menghadapinya jika diberi masalah begini, ya? Apa dia akan menangis diam-diam, melampiaskan semua emosinya secara terang-terangan, atau justru tetap menurut pada emosi anak-anak? Sebenarnya, apa arti 'baik dan hebat' dalam peran seorang ibu?


Begitu banyak pertanyaan yang menghantuiku sekarang. Aku mengembuskan napas, karena tadi yang terluka banyak adalah anak terakhir, mungkin aku harus memperlakukannya secara istimewa. Setelah memasak bagian sayur, aku lanjut menggoreng telur dan potongan tempe kesukaan anak-anakku. Siapa tahu perasaan mereka akan membaik setelah menyantap makan malam ini.


Kulirik jam di bagian dinding, menyadari waktu berjalan melewati pukul delapan malam, saat-saat Cahyo pulang terlambat ketika pulang dari kantornya maupun setelah pergi entah ke mana. Tetapi sampai saat ini, pria itu tidak terlihat sama sekali. Bahkan pesan yang menyatakan pengirim atas namanya pun tidak ada, aku jadi khawatir dan kesal.


"Fathan, panggil adiknya buat makan," titahku pelan sembari menoleh sejenak. "Mama mau nyelesein ini dulu, sebentar lagi selesai."


Mengerti, terdengar bunyi jejak kaki dari satu tempat ke tempat lain. Sepertinya Fathan menuruti perintahku tadi, terdengar juga bunyi pintu kamar yang dibuka lalu ditutup kembali seakan seseorang telah masuk ke dalam sana.


Aku menyelesaikan pekerjaanku. Menyetel kelengkapan wadah dari mangkuk, piring, sendok, garpu, dan gelas berisikan air sampai disajikan rapi di meja makan. Yang membuat perasaanku membaik, aku juga meletakkan sebatang cokelat kesukaan Kalista yang selalu dimakannya ketika perasaannya memburuk. Aku sempat membelinya tadi sore, berharap dia menyukainya!


Kemudian, kedua anakku keluar dari ruangan itu. Si Kakak berjalan di belakang adiknya, memastikan tidak ada yang kurang sehingga bisa menempati kursi mejanya dengan nyaman dan tenang. Sekilas, aku menyadari saat anak perempuanku mengedarkan pandangan, tingkahnya seperti mencari atau berjaga-jaga dari sosok yang sempat menyergapnya tadi.


"Ayah ke kantor lagi," elakku mencari alasan yang padahal tas kerjanya kutaruh di kamar lagi. "Kita makan duluan aja, ya. Katanya hari ini ayah telat, ayah lagi lembur."


Kalista mengangguk kecil, begitu pula Kakaknya yang ikut mengiyakan meski tahu aku berbohong. Aku tidak menikmati makan malamku, netra yang mulai mengantuk ini memberi perhatiannya pada perempuan berpiyama yang sadar dengan cokelat di permukaan meja. Alisnya dipertemukan, lalu mendongak padaku lebih dahulu.


"Ini punya siapa?"


"Punya kamu," jawabku berusaha menampilkan senyum terbaik. "Suka nggak?"


"Suka, sih. Tapi aku lebih suka rasa matcha," katanya menatapku sinis, sepertinya aku salah menduga. "Tapi bohong!"

__ADS_1


"Bikin kaget aja!" Aku ikut tertawa melihatnya senyum.


Kalista menampilkan deretan giginya, bertingkah seakan mengucap terima kasih dengan perasaan suka cita. Sudah lama kami tidak berbincang sehangat ini, aku senang bisa melihatnya tersenyum meski hanya karena sebatang cokelat.


Jemari lentiknya membuka kemasan itu, pelangi yang mengembang di mulutnya tak berhenti muncul berwarna-warni yang membuatku semakin tenang. Sepertinya Kalista benar menyukainya, aku bersyukur tidak membeli camilan maupun rasa yang salah.


"Kalau buat Fathan mana, Ma?"


Aku melirik lebih jauh, melihat Kakaknya yang membuka telapak tangan seakan siap diberikan apa saja yang bentuknya pemberian dariku. Melihatnya tersenyum begitu, aku membalasnya dengan gelengan kepala yang ringan.


"Fathan kan laki-laki, anak pertama. Emangnya masih mau cokelat?"


Mendengar pernyataanku tadi, anak laki-lakiku membungkam dengan uluran tangan yang ditarik lagi. Dia melanjutkan kegiatannya, menikmati makan malam bersama adiknya yang senang menggigit cokelat-cokelat itu.


"Enak nggak?"


"Nggak, makasih."


"Dih ...."


Aku mengembuskan napas, mengambil distraksi ke bagian lauk pauk yang tersaji di meja makan. Bisa-bisa makanannya dingin dan habis lebih dahulu sebelum suamiku pulang, kulirik sedari tadi pun ponselku tidak kunjung menyala karena masuknya notifikasi. Seingatku data selulernya juga sudah menyala, apa Cahyo tidak berniat menghubungi atau sedang terkendala?


Nyatanya, melihat Kalista yang masih nyaman dengan cokelat kesukaannya membuat kepalaku tidak banyak pikiran. Seakan senyuman anak adalah obat dari setiap kesulitan yang bersemayam di bagian otak, aku dengan mudah teralihkan sambil menyantap gumpalan nasi hangat yang kucampur potongan tempe berlumuran kecap.


Setidaknya, anakku merasa aman dan dipastikan baik dalam hal perasaannya. Aku jadi tidak khawatir, senang rasanya bisa melihat mereka tersenyum manis. Aku juga tersadar, aku tidak berhenti mengagumi Kalista yang masih setia dengan gerak-gerik riangnya.


"Ayah pulang kapan, Ma?"


Fathan bertanya, mengundang atensiku cepat yang bersamaan dengan diamnya kegiatan Kalista. Kenapa Fathan harus bertanya saat adiknya senang bisa merasa aman? Apa tidak ada waktu lagi untuk menanyakan hal kayak begitu?

__ADS_1


"Nanti," jawabku ketus. "Makan dulu aja."


"Udah selesai."


Aku melirik piringnya, memang habis tanpa sisa makanan yang bisa kutegur.


"Mama, besok aku izin main sama Biyan, ya?" Yang satu tiba-tiba meminta izin, membuat perhatianku tergantikan lagi. "Sebentar aja, kok. Mau ke toko buku juga, aku janji pulang sebelum jam tiga sore. Boleh, 'kan? Boleh, yaaa ...."


Aku tidak tahu kapan Cahyo kembali atau apa jadwal suamiku besok, tetapi Kalista berada dalam perasaan yang bagus dan aku pasti terkesan jahat bila tidak menuruti keinginannya. Jadi, aku memberikan kalimat.


"Iya, boleh. Tapi jangan berlebihan, ya."


Sebagai jawaban, lalu anakku bersorak senang.


"Fathan juga izin, Ma. Besok mau futsal bareng temen."


"Nggak."


Anakku lantas membalas, "Kalista aja boleh, kenapa Fathan nggak boleh? Fathan kan udah biasa main futsal sama mereka."


"Karena Fathan kalau pulang itu terlambat terus, janjinya jam berapa pulangnya jam berapa. Sebentar lagi ada ujian harian, 'kan? Mending kamu fokus belajar aja."


"Kalista juga ujian."


"Kok kamu jadi bandel begini, sih?"


Yang menjadi kekurangan Fathan adalah tidak mau kalah berdebat jika apa yang dipikirkannya tidak terwujud. Tetapi laki-laki itu bukan tipe yang akan meninggalkan tempat, dia justru membungkam, lalu menahan amarahnya sampai emosi tersebut ditelannya mentah-mentah.


Aku mengembuskan napas, seharusnya anak pertama itu mengerti.

__ADS_1


__ADS_2