Belajar Menjadi Seorang Ibu

Belajar Menjadi Seorang Ibu
39. Berikan Kebebasan.


__ADS_3

"Cukup, Kalista."


Aku menyentak, memotong pembicaraan kedua belah pihak yang emosinya meningkat. Tangan anakku mengepal kuat, sedangkan napas Ayahnya tak beraturan lagi, seperti ada yang ditahannya sedari tadi dan hanya bisa terlepas dengan permainan tangannya.


Malam ini tak boleh ada pertengkaran yang sama, tidak boleh ada yang melihat kekerasan Cahyo padaku meskipun sudah dinyatakan sebagai sebuah tindakan KDRT. Aku tidak tahu terlalu berlebihan menganggapnya atau memang suamiku yang kasar, tetapi tidak ada istri yang mau disakiti laki-lakinya. Benar, 'kan?


Apalagi di depan mereka. Rasanya gagal menjadi seorang istri dan ibu yang baik dari anak-anaknya, aku dipermalukan persis di tempat umum karena keteledoran yang tidak sengaja, karena rasa capek yang belum bisa kuhapus sedikit demi sedikit penatnya. Selalu memendam, aku selalu memendamnya.


"Mama emang nggak pernah ngajarin kamu kayak begitu, Mama juga minta maaf karena kamu dan Kakak pernah dikasarin Mama sama Ayah, tapi Mama mohon ... mohon banget sama kalian, jangan pernah bawa-bawa Ayah yang nyakitin Mama. Mama nggak suka."


"Tapi aku nggak salah 'kan, Ma?"


"Mama harap kamu ngerti perkataan Mama."


Anakku mendengkus, tetapi tidak meninggalkan tempat seperti biasanya. Dia bersedekap, menunggu kelanjutan dari percakapan yang sempat terputus tadi. Aku juga punya perasaan, begitu pun Cahyo. Mau sekeras apa pun pola pikirnya, suamiku pasti pernah sakit hati.


"Lo bilang kalau gue nggak peduliin lo?" Namun, bukannya menjauhi pertengkaran dengan adanya jeda yang kuambil tadi. Suamiku justru melanjutkan lagi, "terus selama ini gue kerja nggak ada apa-apanya gitu? Coba gue tanya, siapa yang ngasih lo makan sampe sekarang?"


"Kebutuhan itu nggak cuma di bagian makan doang, 'kan?"


Baik aku maupun Fathan, kami saling melirik antara satu sama lain. Seakan apa yang dikatakan anak perempuan itu dimengerti kami, akhirnya pertukaran pandang dilepas lagi menjadi kepala yang menunduk pasrah.


"Aku juga mau didukung kayak Kakak," ujarnya penuh penekanan, terdengar intonasi yang naik turun seiring air mata itu terlihat memecah, "kenapa apa yang aku lakuin selalu salah di mata Ayah? Giliran Kakak berantem kemarin sampe dapet surat peringatan kedua aja didiemin, Ayah nggak marah, Ayah malah selalu cari alesan biar Kakak nggak dimarahin Mama."


"Karena dia pinter, dia punya potensi!" balas suamiku tak kalah tinggi pada nada bicaranya, "emangnya lo. Apa yang bisa lo lakuin buat keluarga ini? Juara aja nggak dapet."

__ADS_1


"Ayah nggak pernah ngedukung aku!"


"Gimana gue ngedukung kalau lo aja males-malesan?" Cahyo berdecak, "begini, ya. Kalau nggak ada proses mah percuma, sekarang kurang apa coba? Katanya capek-capek, istirahatlah. Capekan juga gue setiap hari kerja, lo ...? Cuma disuruh sekolah aja banyak ngeluhnya, bersyukur! Ada banyak orang yang nggak bisa sekolah di luar sana."


Dari sini, aku bisa melihat putriku mengusap kelopak matanya yang basah. Ini belum batasnya, tetapi aku tahu dia letih berdebat dengan Ayahnya perkara hal yang berulang kali dibahas dan tak pernah ada habisnya. Aku tidak bisa melerai sekarang, siapa tahu ini waktunya mereka jujur antara satu sama lain.


"Ayah nggak pernah kasih harapan yang baik."


"Terus tadi gue ngomong apa?"


"Itu nuntut ekspetasi!" Alis anakku dipertemukan, wajahnya jauh lebih emosi dari yang sebelumnya, "kalau Ayah pikir yang tadi itu termasuk harapan, aku nggak termotivasi dan justru semakin minder kalau dibandingin terus-terusan! Aku sama Kakak itu beda, kita punya kelebihan masing-masing. Aku yakin kalau aku juga pinter di luar akademik!"


"Mana buktinya?"


Aku menghampiri, bermaksud membuat perasaannya tenang karena lagi-lagi diharuskan memendam emosi. Meskipun dia bisa banyak berekspresi, tetapi pasti ada yang mengganjal di hati dengan berbicara di hadapan kami.


Kalista memang sulit mengendalikan emosi, aku mengakuinya, mungkin dia juga sadar dengan diri yang belum stabil. Jadi aku mengusap rambutnya sejenak, berusaha membuatnya lebih baik walaupun tidak banyak yang bisa kulakukan sekarang.


"Tolong ke kamar, ya. Sama Kakak, Kalista masuk ke kamar sama Fathan. Biar Mama yang ngomong sama Ayah."


Namun, anakku menggeleng pelan. Dia tampak enggan meninggalkan, pergelanganku digenggam olehnya.


"Nggak, aku nggak mau Mama dipukulin Ayah lagi."


"Eh ... nggak, Sayang. Mama nggak bakal dipukul Ayah." Aku langsung menitikberatkan perhatianku padanya, mengusap wajah anakku selembut mungkin agar dia mau menurut, "kamu percaya sama Mama. Mama cuma bakal ngomong sama Ayah, jangan sedih-sedih terus, ah. Kalista udah gede. Mau dengerin Mama sebentar, 'kan?"

__ADS_1


Aku memperlakukannya seperti anak kecil, berusaha membuatnya mengerti dengan cara membujuk seperti tadi. Beruntungnya dia mengangguk, kemudian berakhir bersama Kakaknya masuk ke dalam kamar tanpa bertukar pandang dengan Ayahnya untuk yang terakhir di malam ini.


Namun, sebelum pembahasan kami ... Cahyo lebih dahulu menduduki sofanya lagi. Mulutnya penuh decakan, dia belum bisa melampiaskan emosinya ke mana pun selain menyeruput secangkir kopi yang telah dingin. Aku tidak langsung bicara, aku membiarkannya sebentar untuk memastikan perasaannya lebih tenang sekarang.


Sekitar lima menit kemudian, suasana yang sejuk menghanyutkan kembali berguncang lagi. Ada anak-anak hujan yang menemani situasi kami, bunyi jatuhnya menjadi sebuah tanda utama yang mengartikan kami seharusnya berdebat lagi.


"Mau ngomong soal apa?" Tak lama, Cahyo membuka topik lebih dahulu dariku, "kalau lo bahas soal pihak lain atau pihak ketiga, gue nggak sudi."


"Anak kamu lebih penting dari itu semua."


Pria itu terkekeh, mengumbar senyuman yang dipaksakan. "Seharusnya pentingin diri lo sendiri sebelum ngutamain anak-anak."


"Aku serius, Yah." Aku menatapnya dalam, "ini soal Kalista. Kamu dari dulu terlalu keras ngomongnya, gengsi kamu nggak pernah turun buat anak-anak sama aku. Kamu selalu pengen dilihat menang, pengen dilihat bener terus. Kamu sadar nggak kalau tadi kamu pojokkin Kalista? Dia digituin bukannya makin semangat atau dapet harapan malah makin sedih."


"Salah lagi."


"Aku nggak bercanda!" Nada bicaraku meningkat, telanjur kesal melihatnya banyak menghindari pembicaraan, "aku paling nggak suka ngelihat kamu ngehindar kayak begitu. Masalah kita jadi makin besar, kita jadi sering salah paham, Cahyo. Aku nggak mau semuanya makin rumit, aku cuma pengen anak-anak dikasih pengertian kamu, dikasih kebebasan, cuma itu."


"Cuma itu, tapi kalau dikasih terus-terusan nanti anaknya nggak mau nurut. Mikirin! Nanti mereka jadi seenaknya, yang nyesel siapa? Ya, kita-kita jugalah!"


"Aku nggak mau banyak debat lagi."


Tubuhku lepas dari tempat duduk, bangkit dengan tangan sepenuhnya mengepal tanpa membuang pandanganku ke objek lain. Aku masih bisa mengontrol emosi, tetapi aku tidak bisa memukulnya juga untuk memastikan kondisiku aman sampai hari-hari ke depan.


"Kasih Kalista kesempatan tanpa harus dipojokkin kayak tadi, aku nggak mau kamu nagih-nagih hasilnya, Kalista juga pasti diem-diem berusaha. Jangan pernah main tangan lagi, aku nggak suka, itu kekerasan dan kamu bisa dilaporin. Jangan bilang aku nggak berani, ya. Aku bisa perlakuin kamu kayak apa yang kamu lakuin ke aku."

__ADS_1


__ADS_2