
Aku tertawa mendengar apa yang dikatakan Fathan padaku tadi. Dia meminta cokelat, sebatang cokelat yang mungkin sama saat kuberikan pada anak bungsuku. Entah karena iri atau sama-sama menyukai cokelat juga, akhirnya aku cuma bisa tersenyum kecil sembari mendekatinya.
"Emangnya beneran kamu mau cokelat?" tanyaku memastikan keinginannya. "Nggak mau bola, sepatu, buku, atau novel begitu?"
"Boleh novel, Ma?"
Fathan langsung menoleh, terdengar antusias mendengar barang kesukaannya disebutkan sebagai bentuk penawaran apresiasi. Dia memang gemar mengoleksi novel, sepertinya juga suka menulis cerita dilihat dari banyaknya buku-buku itu. Jadi aku mengangguk pelan.
"Boleh, tapi juara satu, ya?"
Ekspresi anakku melemas. "Kalau nggak juara satu?"
"Dadah dulu sama novelnya."
Sebenarnya, aku tidak tahu banyak novel dan tidak tahu juga genre novel macam apa yang disukai anakku. Dilirik dari sampul bukunya seperti cerita-cerita romantis, kadang aku berpikir Fathan agak alay membaca semua itu. Mungkin keterusan karena hobinya membaca, tetapi seharusnya tidak sebanyak yang terpajang di sini.
Anak laki-laki semestinya terlihat kuat, gagah dengan postur badan atletis yang membuat setiap perempuan kagum dan terpesona. Sedangkan, anakku justru menjadi salah satu kelompok dari remaja yang hobi halusinasi. Maksudku, apa untungnya?
Yang kuinginkan hanya Fathan di angka satu. Nantinya, aku bisa menjadikan anak pertamaku sebagai seorang kakak yang patut dicontoh oleh adik dan anak-anak tetangga. Meski sudah banyak prestasi yang telah diraihnya di bidang akademik, setidaknya Fathan juga harus terlihat mendominasi bahwa dia bisa membuat impianku menjadi nyata.
Lagi pula, selisih antara peringkat anakku dan peringkat yang kuminta tadi hanya berbeda sebuah angka. Sepertinya akan mudah bila Fathan belajar dengan sedikit lebih banyak waktu dari yang sebelumnya. Dia selalu berada di peringkat kedua dan hal itulah yang selalu membuatku gereget.
"Aku mau novel ya, Ma."
"Ya, nanti kalau juara satu Mama kasih novelnya, ya."
Anakku kelihatannya bersorak dalam hati, kemudian melanjutkan kegiatannya tadi dengan gestikulasi atau tingkah yang lebih semangat. Beberapa detik setelah melirik sepanjang meja belajarnya, ada sebuah lembaran kertas terpajang yang berhasil memikat perhatianku pada gambaran itu.
Jariku terarah mengambilnya, melihat garis-garis ini membentuk sketsa gambar apa yang tampak asing bagiku. Selama berkunjung ke ruangan ini, rasanya aku belum pernah melihat kertas yang sekarang kugenggam yang sukses menciptakan banyak pertanyaan di kepalaku.
__ADS_1
Aku tak langsung bertanya, aku berpikir sejenak sambil melihat di setiap deretan hasil pensil yang banyak sehingga membentuk bayangan yang menjadi-jadi. Kelopak mataku menyipit, memperhatikan baik-baik gambar ini karena pertama kalinya melihat pola gambar yang baru dibuat Fathan selama seumur hidupnya.
"Fathan, ini siapa?"
Anak laki-lakiku memberikan atensi, dia mengerjap cepat dan kelihatan panik saat menyadari kertasnya berhasil dilihat olehku.
"Itu ...."
Lagi-lagi aku mengamatinya baik-baik, lalu menunjukkannya pada anakku. "Ini gambar cewek, 'kan?"
Fathan tampaknya bingung ingin menjawab apa, sepertinya pertanyaanku mempunyai jawaban yang benar. Melihatnya gugup begitu, spontan aku melempar kertas tersebut ke arah meja belajarnya.
"Kan Mama udah bilang, fokus belajar bukan gambar cewek! Mama nggak tau ya kamu mikirin apa atau siapa si Cewek ini, awas aja kalau nilai kamu turun gara-gara ini!"
Aku menggeram ketika anak itu sempat mengambil dan menyembunyikan kertasnya lagi. Gambarannya memang bagus, tetapi menyadari objek yang digambar itu seorang perempuan membuatku menciptakan asumsi bahwa dia sedang di fase jatuh cinta anak remaja dan aku tidak suka melihatnya masuk di lingkungan cinta monyet itu.
Perkataan itu kujadikan sebagai pungkasan, kalimat terakhir yang disertai kepergianku dari ruangan. Perasaanku memburuk saat tahu Fathan juga tidak ada bedanya, kupikir dia bisa lebih dewasa dari adiknya, ternyata sama saja. Akhirnya juga jatuh ke cinta yang belum tentu benar.
Setelahnya, aku melirik ke bagian kamar anak bungsu. Tidak ada tanda kehidupan dari sini, biasanya kamar itu selalu berisik dengan bunyi musik yang berisik dan lain-lain yang bahasanya tidak kupahami. Apa dia benar-benar belajar atau justru hanya menghindari ayahnya?
Kepo, akhirnya aku mendekati ruangan. Kurasa, pintu ini tidak perlu diketuk seperti yang punya kakaknya. Karena tidak ada tulisan permintaan mengetuk dan aku berniat mengetahui kegiatannya juga, aku pun mendorong kenop pintu tersebut yang membawa penglihatanku pada seorang perempuan di sana.
Kalau kakaknya punya kesan indie dan menyatu dengan alam, maka adiknya punya kesan yang sangat jauh dari kata kalem dan feminin. Mungkin dari cara berpakaian masih bisa dibilang cocok, tetapi dari selera musik dan minatnya pada hal-hal yang bersifat sekarang justru lebih banyak mengandung rock dan tomboi yang kadang membuatku sebal.
Saat kakaknya rapi mengatur kamar, adiknya malah terdampar berserakan di kamar dengan banyak makanan ringan yang belum habis, juga peralatan tidur yang tidak sesuai tempat. Seperti piringan buah di atas lemari, susu kotak yang sudah habis di bawah kasur, dan kue-kue kering yang masih terbuka di meja belajarnya.
Aku tidak mengerti apa penyebabnya, tetapi anakku yang satu ini memang terkesan lebih liar dari si Kakak. Sembari mendekati kehadirannya, aku memungut yang bisa dirapikan sebentar dan mengenyampingkan sesuatu yang mengganggu pemandangan.
"Biarin aja," ucap anakku menyambut. "Ngapain, Ma?"
__ADS_1
Kepalaku menggeleng. "Nggak, cuma pengen tau kamu lagi ngapain," kataku tersenyum kecil, masih bisa mengingat betapa senangnya Kalista mendapatkan cokelat kemarin. "Kamu nggak belajar?"
"Belajar?" ulangnya. "Nggak, kalau sekarang mah. Besok emang ada ujian, tapi nanti malem juga bisa. Ini masih nunggu hujan reda."
Mendengarnya masih punya harapan bepergian, aku mengembuskan napas. Kalista yang melihatku begitu menciptakan kerutan di dahi, bertanya mengapa aku justru terlihat "Yah." dengan apa yang dilakukannya sedari tadi.
Kalista bertanya, "Emang kenapa sih, Ma? Lagian aku mainnya nggak sama Biyan aja, ada temen-temen kelompok. Ini tuh bentuk refreshing juga, kita udah reservasi dari kemarin, lho. Nggak enak kalau nggak dateng."
"Ngapain kamu sampe reservasi tempat segala?" Aku langsung menyemburkan pertanyaan. "Kayak ada acara besar aja, ngabisin duit berapa itu? Sayang duitnya."
"Aku pake uang aku. Aku tau Mama nggak bakal ngasih, makanya aku nggak ngasih tau Mama kalau aku bakal ke sana."
"Bukan begitu, Kalista," ujarku menenangkan dugaannya yang terkesan memojokkan. "Mama pengen kamu jalan-jalan, tapi nggak perlu sejauh itu, nanti kalau ada apa-apa gimana? Siapa yang susah? Pasti tempatnya di Karawang sana, 'kan?"
"Ada Biyan."
"Hubungan kamu sama Biyan itu apa, sih?"
"Ya, pokoknya Mama percayain aja ke Biyan," katanya gampang. "Aku jadi nggak enak sama dia karena setiap kali ke sini pasti diomelin terus, apa Mama nggak malu?"
"Seharusnya kamu yang malu!"
Anakku mengernyit. "Aku pake baju."
"Dilihatin tetangga pulang bareng cowok, nanti ditanya-tanya atau diomongin. Mending kalau cowoknya baik, kalau cowoknya nggak bener, gimana?"
"Mama secara nggak langsung itu punya buruk sangka ke Biyan, ya," balas anakku yang tidak mau kalah, aku baru ingat dia punya sikap yang begini. "Terserah, Mama. Yang penting, aku mau ikut ke sana."
"Terserah!"
__ADS_1