Belajar Menjadi Seorang Ibu

Belajar Menjadi Seorang Ibu
30. Bersabar.


__ADS_3

"Saya salah ya, Bu?"


"Bu Laras jangan emosi dulu, ya."


Terdengar seperti rem mendadak, aku langsung mengerjap dengan wajah yang ditutupi telapak tangan. Sepertinya aku terlalu serius mendengarkan, mungkin Bu Irma sempat terkejut mendengarku begitu yang terkesan seperti diajak bertengkar.


"Memang, apa yang dilakukan anak seperti itu bisa jadi salah satu faktornya karena kurang perhatian orang tua. Tapi Ibu nggak bisa menyalahkan diri sendiri, bukan itu solusinya. Bisa jadi memang Kalista lebih butuh banyak perhatian, makanya terbagi dua. Pasti susah ya, Bu?"


Aku mengangguk lambat, sulit rasanya mengatur waktu untuk menyediakan kebutuhan mereka dari segi jasmani dan rohani. Kadang, aku seperti pembantu yang terus-terusan disuruh tanpa bantuan atau inisiatif pertolongan dari suami dan anak. Namun, aku juga berpikir memang begini tugas seorang Ibu.


Ini berat, aku bisa mengatakan beratnya kapan saja. Wanita di hadapanku memperlihatkan rasa ibanya, dia terarah mengusap bahu milikku sembari tersenyum sebagai bentuk penenang sementara.


"Nggak apa-apa, Bu. Ini wajar, setiap Ibu juga pernah mengalami hal ini."


"Kalau begitu, gimana cara ngatasinnya?" Aku melanjutkan pembahasan. "Apa saya harus minta maaf atau ...?"


Bu Irma membalas, "Ibu nggak perlu minta maaf, Ibu cuma perlu sabar. Sabar waktu anak belum mau cerita, sabar waktu anak lebih milih temen-temennya buat cerita, sabar waktu anak bilang capek dan nggak perlu membandingkan rasa capeknya kita, dan sabar waktu anak ditanya malah dijawab pendek."


"Banyak banget, ya," ujarku spontan.


"Ya, Bu. Kalau kita ngelakuin itu semua, insyaallah nanti anak akan merasa diterima dan siap buat berbicara lebih banyak lagi. Dia jadi bisa mengekspresikan emosinya, terus Fathan juga tumbuh jadi pribadi yang lebih terbuka."


Mendengar nama Fathan diucap menjadi pribadi yang lebih terbuka, aku jadi membayangkan bagaimana cerianya anak laki-lakiku saat bercerita. Bagaimana Fathan menceritakan kesehariannya di sekolah, apa yang membuatnya senang di kelas, dan berapa banyak uang saku yang diinginkannya. Aku menunggu anakku menjelaskan banyak keinginannya.


Mungkin Bu Irma benar, aku terlalu keras pada Fathan yang selalu meluangkan waktunya untuk belajar. Seharusnya aku tidak perlu memberinya banyak ekspektasi, aku tahu dia berusaha keras. Dengan menjadikannya contoh kepada adiknya, belum tentu Kalista akan mengikuti kakaknya karena sifatnya juga yang keras kepala.


Maksudku, mungkin aku harus lebih keras pada anakku yang terakhir dalam hal belajar. Dia diberikan banyak perhatian tetapi tidak pernah berubah, aku sering mengalah tetapi dikalahkan juga oleh emosinya. Walaupun apa yang membuat Kalista marah adalah hal yang wajar, tidak seharusnya dia begitu dan semestinya berusaha menyamaratakan posisinya seperti sang kakak.


Sebagai penutup perjumpaan kami, aku tersenyum tulus sembari menyodorkan kedua telapak tangan ini untuk bersalaman. Sudah lama aku di sini, siapa tahu aku mengganggunya, aku juga harus memeriksa kondisi anak pertamaku di rumah.

__ADS_1


"Kalau gitu makasih ya, Bu. Saya terbantu banget."


"Sama-sama, Bu Laras. Saya senang dengernya."


Kami saling bertukar senyum. Baru saja berdiri dari tempat, Bu Irma langsung bergerak cepat seakan ada yang harus diberikan sebelum aku meninggalkan ruangan.


"Sebentar, Bu," katanya menghambat kepulanganku.


Dia kelihatan mencari-cari sesuatu. Setelah benda itu berada di tangannya, Bu Irma memberikannya padaku dengan ekspresi yang tampak seperti 'beruntung saja aku ingat'.


"Ini buku tulisnya Fathan ketinggalan, Bu. Buku pelajarannya."


Aku menerimanya dengan senang hati. "Oh, iya. Sekali lagi makasih ya, Bu. Maaf ngerepotin."


Bu Irma menggeleng ringan, lalu mengantarku ke depan ruangan yang berakhir dengan kata 'mari' sebagai akhir pertemuan kami. Aku pulang dengan menenteng sebuah buku, media untuk belajar yang terpajang nama Muhammad Fathan sebagai pemiliknya di sampul buku.


Lorong sekolah tidak seramai tadi, sepertinya jam ujian pertama telah dimulai, kelihatan dari banyaknya murid yang tersusun rapi di mejanya masing-masing seiring aku melewati kelas. Aku lupa tidak mengabari suamiku. Sampai di gerbang sekolah, aku langsung membuka ponsel dan menghubunginya dengan mengirimkan pesan sebagai catatan di pagi ini.


Jangan lupa makan siang, aku minta maaf buat yang kemarin.


Ada banyak penyebab dan alasan yang bisa dijadikan sebagai faktor eksternal amarahnya suamiku. Dari pekerjaan padatnya, kondisi rumah yang berantakan, belum lagi mengahadapi istri dan anak-anaknya sembari menahan lapar. Aku benar-benar ceroboh, seharusnya bangun lebih pagi untuk hari ini!


Beberapa menit berdiri di depan gerbang sekolah, akhirnya aku menggunakan angkutan umum sebagai kendaraan pulang yang lebih cepat. Kebetulan banyak angkutan yang berhenti, jadi aku menaikinya, dan berharap bisa sampai di rumah dengan segera.


...***...


"Makasih, ya."


Usai kendaraan itu melaju pergi, aku memasuki pekarangan rumah sambil melihat-lihat isi dari buku tulis anak pertamaku. Sepertinya Fathan juga dikenal rajin di sekolah, dahulu dia pernah bercerita tentang seberapa konsistennya mengunjungi perpustakaan meski tidak didampingi teman.

__ADS_1


Awalnya hanya tulisan biasa, tetapi melihat bagian belakang dari buku tulis tersebut, aku terdiam tanpa melangkah lebih lanjut ke dalam rumah. Aku berdiri di depan pintu, mengamati baik-baik setiap susunan garis menjadi sketsa yang tidak asing seperti sebelumnya.


Usai mendongakkan kepala, ada kehadiran Fathan yang menyambut kepulanganku dengan senyum merekahnya. Baru saja akan bertanya terus-terusan, aku teringat dengan apa yang dikatakan bu Irma tadi. Fathan menyembunyikan ini padaku, mungkin dia belum mau menceritakannya.


"Mama pulangg."


Akhirnya, aku menutup kasus itu untuk sekarang ini, memilih tidak memperpanjang masalah dengan banyak pertanyaan memojokkan anak. Oh, aku lupa membeli sesuatu. Harusnya aku membawa susu cokelat kesukaannya, dasar pelupa.


"Lagi ngapain, Fathan? Udah selesai ujiannya?"


Fathan mengangguk antusias. "Udah, gampang, Ma. Pelajaran keduanya nanti jam sembilan, masih lama. Ini baru selesai makan."


"Pinter, Anak Mama. Istirahat dulu, gih. Mama mau cuci kaki dulu."


Aku benar-benar berjalan ke kamar mandi. Tidak sepenuhnya berniat mencuci kaki, aku ingin anakku sadar bahwa aku membawa pulang bukunya yang ketinggalan. Setelah membilas kakiku, aku menghampirinya lagi dengan buku yang sudah tidak ada di meja.


Fathan tampak lebih kaku dari sebelumnya. Ternyata dugaanku benar, dia memang menyembunyikan hal ini dariku. Mungkin sudah waktunya anak laki-laki ini mempunyai perasaan yang lebih dari sekadar kasih sayang, diam-diam dia punya perempuan favoritnya. Ilustrasi perempuan yang sama di antara kertas di kamarnya dan di buku pelajarannya.


Aku yakin tidak salah lihat. Walaupun tidak tahu siapa identitas yang sedang diincar anakku, aku hanya berharap perempuan itu tahu caranya menghargai, dan Fathan juga paham arti batasan antara perempuan dengan laki-laki.


"Mama, Fathan boleh minta izin nggak malem ini?"


Alisku mengerut, mempertanyakan tujuannya. "Mau ke mana?"


"Ke toko buku," jawabnya pelan. "sama Kalista juga, Fathan udah bilang tadi di WhatsApp. Boleh, ya?"


Wah, aku jarang melihat keduanya akur, bahkan sampai berjanji untuk menikmati waktu bersama di luar rumah. Aku bisa saja memberikannya izin, tetapi mengingat suamiku adalah orang yang serba tidak boleh. Maka, aku memberikannya batasan.


"Pulang sebelum jam sembilan, ya?"

__ADS_1


"Siap, Mama."


__ADS_2