Belajar Menjadi Seorang Ibu

Belajar Menjadi Seorang Ibu
36. Nanti Salah Jurusan.


__ADS_3

"Fathan masih ujian di rumah ya, Ma?"


Kepalaku manggut, Fathan masih harus mengerjakan ujiannya di rumah. Dari yang kuingat setelah pertemuanku dengan bu Irma, anakku yang pertama itu mendapat skors selama tiga hari kedepan. Ya, mulai dari hari Selasa sampai Kamis.


Di sinilah kami, di Rabu yang banjir dengan guyuran hujan di pagi hari. Hawanya jauh lebih dingin, aku belum berani mandi karena takut kedinginan lagi seperti kemarin. Belum lagi sudut bibirku semalam terluka, masih sesekali perih jika tak sengaja tersentuh.


Setelah ditampar suamiku, tidak ada yang bersuara sampai Cahyo membawa laptopnya ke luar kamar. Seterusnya tidak kembali lagi, dia memaksa tidur di ruang tamu meski keadaan sekitar semakin dingin karena datangnya hujan kala itu.


Namun, Cahyo tidak di rumah hari ini. Lagi-lagi memaksa berangkat ke kantor walau sopirnya terlambat dan dipadati hujan yang irama turunnya tak bisa ditebak, tadi aku memayunginya juga, lalu kendaraan itu pergi dengan kecepatan meningkat.


Seperti anak dan ayah, Kalista juga tidak mau kalah. Dia menolak untuk tetap di rumah, padahal angin yang membawa anak-anak hujan belum memberikan tanda pemberhentian. Akhirnya, dia menerobos keberangkatan dengan motornya, tak peduli pada omelanku yang melebihi panjang gerbong kereta api.


Aku mengembuskan napas, ada-ada saja pagi ini.


"Mama bibirnya kenapa?"


Mendengar anak pertamaku bertanya, aku langsung menutup mulutku. Tak ingin menunjukkannya lebih banyak di hadapan Fathan. Menyadari objek dari sorot matanya dihalangi, laki-laki itu meninggalkan meja makan untuk bersimpati padaku.


"Mama nggak apa-apa?"


"Nggak, nggak apa-apa," elakku tersenyum mengulur waktu, "ini–ini mah cuma kegigit! Nanti juga sembuh sendiri."


Aku menampilkan deretan gigi, berusaha membuat keadaan tidak secanggung tadi dengan senyuman kecil. Aku tidak mau membuatnya khawatir, bisa-bisa mengganggu ujiannya nanti dan membuat masalah kemarin menjadi berkepanjangan. Daripada mengungkit-ungkit, lebih baik aku melupakannya saja.


"Kalau ada apa-apa, nanti bilang Fathan ya, Ma."


Kepalaku mengangguk, dia perhatian melebihi ayahnya. Aku senang bila anakku menunjukkan bentuk perhatiannya padaku, tampak tidak mau sesuatu terjadi pada Ibunya tanpa sepengetahuan Fathan.


Selesai sarapan, aku membereskan beberapa alat makan kotor yang berasal dari Fathan dan adiknya makan. Membilasnya di empat cucian piring,


membiarkan anak laki-lakiku kembali ke ruang tamu untuk bersiap menjumpai jam pertama ujiannya.


Mungkin aku bisa menyiapkan sesuatu untuknya, aku tidak mau anakku sedih atau semakin murung karena keadaan yang bisa saja membuat perasaannya hanyut. Apalagi hanya ada kami di rumah, aku tidak boleh membuat suasana semakin sepi dan canggung.

__ADS_1


Selepas merapikan dapur, aku mengambil dua lembar roti tawar, keju batangan, meses, dan satu saset kental manis yang ditaruh ke meja makan. Aku bisa menyiapkan ini, semoga perasaannya membaik dan bisa lebih semangat untuk menghadapi ujian di hari ketiga.


Mulanya, aku memarut keju di atas roti tawar tersebut. Menaburkan meses cokelat, lalu menuangkan susu kental manis sampai merata meliputi setiap sudut. Aku menutupnya lagi dengan roti tawar yang lain, kemudian beralih ke teflon untuk mencairkan margarin.


Aku memastikan setiap lapisannya penuh dengan lelehan kuning, lalu memanggang roti tawarnya sambil membolak-balik. Hm ... semakin lama ada aroma panggang yang sedap tercium di hidungku, aku membiarkannya sejenak untuk membuatnya matang kecokelatan.


Dirasa pas, kompor ini kumatikan apinya untuk segera memindahkan lembar roti bakar itu ke sebuah piring. Aku menyajikannya di sana, tidak lupa dengan segelas susu cokelat kesukaan anakku, lalu mengantarnya perlahan menuju seorang laki-laki yang perhatiannya lantas teralihkan padaku.


"Wah ... apa ini?" Dia mendekat, ponselnya diletakkan spontan sembari memperjelas apa yang baru saja kubawakan untuknya, "kesukaan Fathan, Mama baik banget. Makasih, Mama!"


Mendengarnya antusias dengan wajah berseri-seri, aku tersenyum penuh dan bersedia memotong rotinya menjadi beberapa bagian. Mungkin ada orang yang menganggap hal ini sepele, tidak seharusnya dibesar-besarkan. Namun, bukan berarti setiap hal kecil tidak berarti di mata seorang anak. Aku sudah berusaha dan aku senang Fathan bisa menghargainya.


"Masih panas ...."


Anakku manggut berulang kali. "Ya, nggak apa-apa, Ma. Fathan juga mau lanjut ngerjain ujiannya, ternyata udah mulai."


Akhirnya, aku mengiyakan perkataannya. Sembari mengerjakan ujian, aku membagi makanan itu menjadi empat potong roti bakar cokelat keju yang hangat. Suhunya semakin dingin mengingat hujan juga masih belum teriris, derasnya tidak berkurang dari pagi di hari Rabu.


Sesekali aku mencomot camilan di meja tamu, memeriksa ada berita baru apa saja yang tampil di layar ponsel, lalu sesekali melirik anakku yang tampak fokus menghadapi ujian. Meskipun sekadar ujian harian, nilai mereka akan masuk dan bisa dijadikan sebagai peringkat kelas untuk sementara waktu.


Aku akan membeli novel untuk anak pertama jika dia berada di peringkat satu. Mungkin tidak hanya novel, ada beberapa barang yang bisa dipilihnya nanti. Biasanya, ayahnya juga selalu memberikan hadiah. Makanya Fathan semangat belajar.


Sekitar setengah jam kemudian, anak sulungku menaruh ponselnya di meja. Mengganti objek di tangannya dengan sepotong roti, lalu menyantap sesuka hati sembari membagikan perhatiannya padaku.


"Enak, Mama. Makasihh."


Aku tersenyum simpul. "Udah ujiannya?"


Kepalanya mengangguk, lalu diminumnya segelas susu cokelat tersebut sebagai pembersih di area mulut. "Udah, Ma. Terus tadi ada pengumuman dari gurunya."


"Kenapa, tuh?" Aku mendekat.


"Katanya, ada akumulasi buat pendidikan lanjutnya anak-anak kelas. Yang mau kuliah siapa, yang mau kerja siapa. Nanti dibantu, Ma, buat masuknya. Ini lagi pada didata," jelasnya lengkap.

__ADS_1


"Nah, ya udah Fathan isi, dong. Bilang mau kuliah di mana."


"Fathan beneran bisa kuliah, Ma?"


Kalau boleh jujur, ada sesuatu yang lantas mengganjal kenyamanan dada. Aku tertohok mendengarnya bertanya, perasaanku juga langsung memburuk melihatnya penuh dengan harapan. Fathan tidak salah, aku hanya terperanjat dan sedih mengingat buruknya komunikasi keluarga kami.


Aku belum pernah membahasnya dengan suamiku, tetapi tidak mungkin juga aku mengatakan 'tidak' pada anakku. Kalau soal keinginannya bisa saja kutolak, tetapi yang kami bahas bukan tentang keinginan seseorang. Dia bertanya; bisa kuliah atau tidak?


"Bisa, Fathan bisa kuliah!" Aku menjawab, "sekarang Fathan cuma perlu belajar, nggak usah khawatir soal biaya, biar jadi urusannya Mama sama ayah aja."


Namun, tidak ada reaksi termotivasi yang bisa kulihat dari wajahnya. Ini seperti aku yang berkata 'enggak' dan tak mengizinkannya kuliah, padahal aku bermaksud membuatnya melupakan masalah. Ada apa dengannya?


"Fathan bisa kuliah, Fathan percaya aja sama Mama, ya," ulangku menatapnya serius, "nanti Fathan mau ambil jurusan apa? Mau jadi dokter?"


Kepalanya menggeleng cepat, tetapi tidak bisa dianggap sebagai hal yang spontan. Ditilik dari reaksinya tadi, Fathan seakan menolak mantap dan sudah yakin dengan jawabannya. "Nggak, Fathan mau masuk Sastra aja."


"Sastra?" Dahiku mengernyit, "ngapain masuk Sastra?"


"Fathan minat di bidang Sastra, Ma. Fathan suka novel, cerita, baca, nulis, dan lain-lain. Jadi tadi Fathan isi datanya 'Fakultas Bahasa dan Seni'."


"Kamu ini mikir nggak, sih? Kamu jurusan IPA lho, Fathan. Ngapain masuk ke sana? Prospek kerjanya aja nggak jelas, nanti gedenya mau jadi apa–jadi penulis?"


"Kok gitu, Ma?" Fathan memandangku tak percaya, "tapi Fathan udah yakin, Fathan mau masuk Sastra Indonesia. Fathan mau belajar banyak tentang Sastra."


Kelewat kesal, aku berdecak, "Masih ada dokter, Akuntansi, Manajemen, Ilmu Komunikasi, Teknologi! Kenapa harus Sastra? Mama nggak suka kamu kayak cewek gini, ah. Apalagi kamu pinter, seharusnya kamu manfaatin kesempatan kamu."


"Yang masuk Sastra itu cewek aja?"


"Nyolot ya kamu dibilangin."


"Fathan serius, Ma." Matanya tajam dan penuh keyakinan, terkesan tidak ingin mengampuni bila seseorang bisa saja memohon di hadapannya.


"Mama juga serius, Fathan. Kuliah sesuai jurusan kamu aja atau yang kayak Mama bilang tadi; Akuntansi, Ilmu Komunikasi, Teknologi, Gizi ...."

__ADS_1


"Nanti salah jurusan."


__ADS_2