Belajar Menjadi Seorang Ibu

Belajar Menjadi Seorang Ibu
38. Anak Kedua.


__ADS_3

Pilihan, pembahasan kami tadi siang yang berdampak canggungnya suasana rumah sampai malam ikut menerjang. Decak, desis, decih, segala hal yang menunjukkan emosionalnya seseorang disembur berulang kali ketika masing-masing diharuskan berinteraksi. Ya, mau bagaimana lagi? Kami saling membutuhkan.


Mulai dari Kalista yang menanyakan makan siangnya, letak kunci motornya Fathan, kapan ayah pulang, sampai kejadian mati listrik yang membuat kami terpaksa berkumpul di satu titik. Di ruang tamu yang lama karena bosan ingin melakukan apa.


Beruntungnya, hal itu berlangsung tak sampai setengah jam. Setelahnya, kami membubarkan diri dan kembali beraktivitas seperti biasa. Kalista kelihatan mencari kesibukan, sedangkan Kakaknya memang selalu sibuk walaupun aku tak tahu apa yang dikerjakannya di dalam kamar.


Yang pasti saat aku membuka pintu, sudah ada Fathan bersama buku-bukunya di meja belajar. Kalau musik tidak diputar, pasti ada makanan ringan yang dibawanya ke kamar. Meski begitu, anak pertamaku tetap sesekali menyempatkan diri untuk membantu Ibunya. Berbeda dengan Kalista, dia banyak mengurung diri dengan lagu-lagu yang kedengarannya selalu sama.


Aku sempat menerima kabar suamiku yang pulang lebih awal, jadi aku menyiapkan kebutuhannya sedari tadi; setelan pakaian tidur, air panas untuk menyeduh secangkir kopi, makan malam yang tersedia di meja makan, juga keadaan rumah yang sudah rapi. Aku jadi tidak perlu berkacak pinggang antara melayani Cahyo dan membereskan rumah nantinya.


Setengah jam kemudian, suamiku diantar pulang dengan sopir pribadinya seperti biasa. Hujan tak lagi memekik bersama petir, tetapi Purwasari masih diselimuti sejuk yang menyeruak saat berada di luar rumah. Padahal aku hanya berdiri di teras rumah untuk bersalaman dengannya. Namun, lagi-lagi dingin memenangkan pertandingan atas daya tahan tubuhku, ya.


"Mana anak-anak?"


"Di dalem," jawabku sopan, membuntutinya dari belakang sambil bergiliran menenteng tas kerjanya, "ada yang mau dicuci nggak? Aku lagi rendem cucian baju."


Sesampainya di ruang tamu, Cahyo meluangkan waktu untuk membuka pakaiannya di sana. Cuma blazer hitam yang selalu dipakainya bekerja, dia memberikannya padaku sebagai bahan mencuci di esok hari.


"Ini aja."


Aku mengangguk pelan, membiarkannya duduk di sofa untuk bernapas tenang sejenak. Aku mencium aroma blazer suamiku sebelum menaruhnya ke mesin cuci, memastikan adakah noda dan bau-bau yang harus dihilangkan atau tidak. Sebentar, yang satu ini lebih wangi dari baju-baju Cahyo yang pernah kucuci.


Seharusnya kalau ingin dicuci pasti pakaian tersebut kotor atau mengandung bau badan yang tidak sedap, 'kan? Tetapi kenapa yang kucium justru aroma yang lebih wangi? Ini bukan bau yang merujuk ke kata 'maskulin', wanginya lebih mirip parfum anakku yang terakhir, parfumnya Kalista.


Namun, mengingat anak itu tak pernah berkeliaran di sekitar ayahnya atau tidak bisa dibilang dekat secara fisik, bagaimana bisa pakaian ini punya aroma permen yang manis? Apa ada sesuatu yang dirangkul suamiku sejak kemarin atau ...? Aku tidak bohong. Baunya memang tidak sekuat itu, tetapi tenggelam yang menjadi bau utama blazer hitamnya Cahyo.


"Ras, mana kopi!"


Aku mengerjap cepat. "Iya, sebentar!"

__ADS_1


Pakaian itu kuletakkan asal, aku menyiapkan cangkir dan sebuah saset kopi susu favoritnya. Cuma perlu menuangkan bubuk kahwa tersebut ke dalam, menyeduhnya dengan air panas yang telah disimpan di dalam termos, lalu mengaduknya rata sambil berhati-hati agar tidak tumpah ke mana-mana.


Siap sedia, aku menggunakan nampan sebagai alat pengantar minuman tadi. Menyajikannya di meja tamu, merapikan beberapa toples camilan dan kue kering, lalu duduk di antara anggota keluarga yang sudah berkumpul sejak tadi.


Aku tidak tahu pasti tentang baik dan buruknya perasaan Cahyo, suasana rumah ini bergantung pada emosi kepala keluarga kami. Meskipun tidak banyak hangatnya seperti keluarga di luar sana, setidaknya suamiku mau sesekali membuka suara sebagai pembuka obrolan di malam hari.


Pria itu tahu tentang skors yang dialami anak pertama, dia tampak menonjolkan perhatiannya pada Fathan yang asyik membaca buku. Dilihat dari sini, sampul buku itu bergambar bumi dan isinya, yang berarti sedang membaca buku betulan dan bukan karya fiksi semata.


"Fathan masih ujian di rumah?"


"Masih, Yah." Fathan meletakkan bukunya cepat.


Cahyo manggut mengiyakan, meminta penjelasan lewat tatapannya padaku. "Sampe kapan, sih?"


"Waktu itu dikasih tau sama gurunya, katanya sampe besok."


"Nggak bisa dipercepet aja? Kalau kayak begini berarti ujiannya di rumah terus, dong. Anaknya juga bisa-bisa jenuh nanti."


"Ya, biarin aja, sih. Lagian enak ujian di rumah daripada di sekolah, kalau nyontek kan nggak ketauan. Terus nggak berisik, nggak berantem sama temen lagi."


Sepertinya Fathan tersinggung, lirikannya kini lebih tajam dari penampilan laki-laki itu yang sempat tenang di hadapan sang Ayah. Memang anakku yang terakhir hobi memancing emosi, nanti kalau disalahkan baru menangis. Jadi bingung menanggapinya.


"Itu kan lo, sukanya nyontek di sekolah. Fathan mah rajin, belajar di rumah setiap hari, nggak keluyuran sama lawan jenis."


"Lah, aku nggak pernah keluyuran sama lawan jenis, tuh!" Kalista mencari pembelaan, "perasaan dijemput sama lawan jenis aja udah lama kejadiannya, masa masih diungkit-ungkit sampe sekarang. Kayak nggak ada topik lain aja. Oh iya, kan jarang di rumah."


"Begini-begini juga gue kerja buat lo!" Cahyo menggertak, emosinya berhasil menelan umpan, "berani banget ngomong gue nggak ada di rumah terus, dikiranya gue main ke sana-sini terus nggak ngehasilin apa-apa kali."


"Bener, ya? Jangan main ke sana-sini."

__ADS_1


"Ini anak mulutnya ...."


"Ayah!" Aku memekik, mencekal kekerasan buatannya untuk membuat anak itu menutup mulut, "aku nggak suka kamu main tangan terus-terusan."


Cahyo berekspresi tidak percaya, seakan apa yang kulakukan adalah bentuk dari pemberontakan, dia menitikberatkan perhatiannya padaku seorang. Aku tidak perlu ragu untuk yang ke berapa kali, sudah pasti dia akan menunjukku sebagai penyebab masalah di rumah ini.


"Lo ngebelain anak lo kayak begini?"


"Tapi kamu bener nggak ke sana-sini, 'kan?" Intonasiku meningkat, "kamu nggak main-main sama keluarga ini, 'kan? Jawab!"


"Siapa yang main-main sama keluarga ini, sih!" Cahyo memekik, "lo semua yang kagak jelas! Apa-apa nyalahin, apa-apa teriak. Kayak nggak diajarin tata krama!"


"Emang kamu ngajarin?" Aku membalas, berani menukar balik tentang apa yang dikatakannya tadi. Seperti pepatah senjata yang makan tuan, suamiku tampak membelalakkan mata seolah benar menelan ludahnya sendiri.


"Ayah selalu nyepelein aku. Ayah selalu ngebandingin aku sama Kakak, Ayah nggak tau kalau aku diem-diem berusaha, 'kan? Ayah nggak tau kalau aku juga sering nangis di kamar, aku sakit hati. Aku nggak pernah diapresiasi. Aku tau aku nggak sepinter Fathan, tapi apa itu berarti aku bukan anak Ayah?"


"Lo cuma bisa ngerepotin gue tau nggak!"


"Nggak ada yang minta dilahirin," balas anakku menekan setiap kata-katanya, melirik Fathan yang gemetar tak tahu harus berbuat apa, "Ayah cuma sayang sama Kakak, Ayah selalu ngasih perhatian ke Kakak dan nggak pernah dukung aku dari sini. Ayah cuma bisa ngomel, Ayah nggak tau apa-apa."


"Lo bukan anak kecil."


"Ayah selalu nyari pembelaan waktu aku ngomong kayak begini."


"Nggak usah ngebantah."


"Ayah selalu nyakitin Mama."


"GUE BILANG UDAH!"

__ADS_1


"CUKUP!"


__ADS_2