Belajar Menjadi Seorang Ibu

Belajar Menjadi Seorang Ibu
23. Hujan dan Cokelat.


__ADS_3

Sayangnya, kebahagiaan yang seharusnya terwujud di keesokan hari justru lebur menjadi anak-anak hujan yang membasahi daerah Karawang. Langit tak membiarkan anakku keluar rumah, memintanya menetap di dalam bersama keluarga yang berkumpul di satu tempat.


Sudah berjam-jam lamanya hujan ini mengguyur, derasnya disertai rintihan petir yang membuatku sesekali terkejut sangat menyebalkan. Melihat wajah anak gadisku yang murung ternyata mempengaruhi perasaanku, aku jadi merasa bersalah karena hujan ini malah turun di hari liburnya.


Aku mengembuskan napas, diam-diam sedari tadi berdoa dalam hati agar hari baik Kalista tidak sepenuhnya hilang. Sabtu kemarin menjadi hari yang paling selekeh, hari buruk yang tidak ingin dialami anak-anak mana pun. Jadi seharusnya sekarang adalah waktunya dia refreshing.


Jam dinding merotasi jarum panjangnya hingga sampai di angka dua belas, mengartikan sekarang adalah jam delapan tepat. Kami di ruang tamu sedari pagi, sibuk dengan urusan dan kegiatan di sofa masing-masing.


Suamiku bersama ponselnya, sesekali juga menyempatkan diri untuk menyeruput secangkir teh. Anak pertamaku membaca buku, entah buku pelajaran atau novel yang dibacanya. Sedangkan, anak terakhirku sibuk menghubungi temannya, terlihat dari wajahnya yang semakin lama cemberut sambil menikmati beberapa biskuit yang disediakan.


Nyatanya, meski kami berkumpul di tempat yang sama, tidak ada kesenjangan yang membuat kami saling bertukar senyum. Tidak ada kesamaan yang memikat perhatian kami, begitu juga tak ada perbedaan yang membuat salah satu di antara kami bertanya-tanya. Mungkin masing-masing menelan pertanyaannya dengan banyak asumsi atau memilih tidak peduli.


"Ma, sore ini Fathan izin futsal sama temen, ya."


"Bukannya kemarin Mama udah bilang sama kamu?" Aku membalasnya cepat, "Nggak, di rumah aja."


"Emangnya kenapa, sih?"


Cahyo lantas menyanggah perkataanku, membuat perhatian ini juga terbagi dua. Seakan tidak sesuai dengan apa yang dipikirkannya, suamiku mengembuskan napas sambil meletakkan ponselnya di meja. Sepertinya akan ada kecelakaan kecil di sela percakapan ini.


"Fathan kan laki-laki, wajar kalau keluar sama temennya buat futsal atau ke mana," sangkalnya menoleh ke anak perempuanku. "Daripada diem aja baca-baca buku apaan sih di rumah, mending bergaul di luar. Ini malah anak perempuan yang paling sering keluar."


"Kok jadi aku?"


Aku sudah sering mengingatkannya untuk tidak membalas saat Ayahnya berbicara, bila Ayahnya bersuara entah benar ataukah tidak. Karena mau seberapa panjangnya kita membalas, seberapa kuat argumen kita nantinya, suamiku tidak akan mau menurunkan egonya. Dia selalu memenangkan perdebatan dari siapa pun lawan bicaranya.


Jika tidak ada kata menang atau kesan 'selamat' yang menandai perbantahannya nanti, maka pergi dari tempat dan permainan tangan akan menjadi solusi terakhir yang membuat lawan bicaranya menutup mulut seakan diperlihatkan gerbang kematian mereka.


"Ya iyalah, kamu perempuan di sini. Lihat Mamanya di dapur masak-masak, jangan kebanyakan main HP ... mulu di kamar nggak tau ngapain. Sekalinya keluar malah sama laki-laki."


"Lho, aku baru sekali ini tuh main sama Biyan!" Kalista menaruh ponselnya di sofa. "Kenapa sih aku selalu nggak dibolehin? Giliran Fathan aja apa-apa diizinin!"


Ayahnya berdecak, "Emangnya lo mau berapa kali ke luar sama cowok, hah? Berani lo ngomong kayak begini sama gue? Nggak denger kemarin gue bilang apa!"

__ADS_1


"Ayah, udah," ucapku menyentuhnya pelan, berusaha menenangkan suasana memanas di sela hawa dingin yang menyeruak. "Fathan, kamu kan udah gede. Tolong ngertiin Mama, belajar aja di kamar, ya."


Aku tidak bisa mendeskripsikan reaksi dari anak pertamaku sebaik mungkin. Dari tatapannya, gestur, serta napas yang seharusnya diembus, tidak ada timbulnya perubahan atau kesan kecewa saat jawabanku masih tidak sesuai permintaannya tadi.


"Laras!" panggil suamiku memperingatkan. "Udah, Fathan nanti keluar aja. Kalau perlu, biar gue yang nemenin."


"Nggak, Yah. Fathan belajar aja, baru inget minggu depan ada ujian harian," katanya tersenyum, kelihatan tulus.


Setelah selesai menghasilkan perbincangan renyah yang tidak berguna, akhirnya anakku bangun dari tempatnya duduk. Buku yang ternyata berjenis novel itu ditenteng, bertingkah permisi hingga beranjak masuk ke dalam kamar. Mungkin dia lebih nyaman melanjutkan bacaannya di dalam sana.


"Kamu?"


Aku mengembuskan napas.


"Nggak ikut Kakaknya belajar?"


"Iya, nanti aku belajar."


"Ayah, apaan, sih!"


Kalista berteriak saat ponselnya tiba-tiba dirampas, sementara Ayahnya sibuk menyembunyikan barang milik anaknya di dalam saku. Aku tidak mengerti dengan keduanya, tidak ada yang mau mengalah dan tidak ada yang ingin memahami situasi.


"Mana HP aku!"


Cahyo menggeleng. "Masuk ke kamar, belajar!"


Kemudian, anak perempuanku melenguh sebal. Dengan terpaksa, dia melangkah malas dengan kaki mengentak-entak menuju kamarnya. Sesaat sampai di tempat tujuan, pintu pun dibanting sesukanya yang membuat suamiku berdecak kesal.


"Banting aja pintunya!"


"Yah, jangan kasar sama anak perempuannya. Nanti dia takut atau trauma gimana?" Aku berusaha membuatnya mengerti. "Nggak apa-apa kalau sesekali dimarahin, tapi dikasih taunya yang baik."


Cahyo tampak tak terima mendengar nasihatku. Mungkin karena kehabisan kata dan tidak mau memperpanjang masalah, akhirnya koran yang terdampar di meja pun diseret oleh tangannya. Dia pergi tanpa ragu, masuk ke dalam kamar kami yang dilanjutkan menutup pintu.

__ADS_1


Lagi-lagi, aku ditinggalkan.


Aku sudah mencoba segala cara, tetapi tidak bisa membuat siapa pun mengalah. Hasilnya justru tentang aku yang selalu memaklumi mereka, tentang aku yang menangis diam-diam, dan menghela napas sebagai kebiasaan tiap harinya.


Kadang, aku berpikir di saat-saat begini. Apa dahulu ibuku juga banyak pikiran sepertiku atau aku yang selalu mempersulit urusan rumah tangga ini? Karena ibuku telah ditinggal suaminya juga, apa dia bisa bertahan melawan segala rasa kesepian dan rindunya sendirian? Apa hal itu dijadikan sebagai kesempatan bernapas baik karena semua urusannya sudah selesai?


Aku juga ingin dimengerti. Sekali lagi, aku ingin dimengerti.


Ingin memastikan perasaan anak pertama, akhirnya lututku menegak dan membawaku mendekati kamarnya. Dari pintu ini, sudah ada tulisan 'Ketuk sebelum masuk' sebagai tanda agar penghuni kamar tahu kalau ada yang akan datang.


Jadi aku mengetuk pintu, membuka penghalang cokelat tersebut yang menampilkan kamar dari seorang Muhammad Fathan. Kamarnya penuh dengan lukisan garis berbentuk hasil tangan anakku, dicampur puluhan jenis buku yang tersusun di raknya, juga beberapa fotonya bersama teman-teman sekolah yang ditempel rapi di sepanjang meja belajar.


Ruangan ini selalu tersusun rapi dengan barang-barangnya, kadang aku bingung merapikannya juga yang berakhir meninggalkan kamar. Setelah kupandang lebih lanjut, aku menemukan anak sulungku yang sedang menulis sambil mendengar alunan musik yang terkesan seperti senandung melodi saja untuk membuatnya fokus.


"Fathan, lagi apa?"


"Lagi nggak mau diganggu."


Aku manyun mendengarnya begitu. "Kok kamu begitu? Kamu nggak sayang sama Mama?"


Fathan terdengar mengembuskan napas, dia menoleh padaku sebentar yang baru saja duduk di tepi kasur. "Aku lagi belajar, Mama. Biar ujiannya lancar."


Senyumku terbentuk tipis, terarah mengangkat dan menaruh bantal dan peralatan tidurnya yang telah diletakkan lepih. "Ya, bagus dong belajar biar nilai kamu juga bagus. Biar bisa dicontoh sama adiknya, kemarin kamu ranking dua, 'kan? Semester ini harus naik ke angka satu, yaa."


Aku tak melihat reaksi maupun respons dari anakku, dia tampak memilih memprioritaskan kegiatannya sekarang seakan perkataanku tadi hanyalah permintaan sementara dan komentar dari orang yang berlalu lalang.


"Denger Mamanya ngomong nggak?"


"Denger," katanya pelan. "Tapi Fathan nanti dapet sesuatu, ya."


Dahiku mengernyit, tidak biasanya Fathan meminta sesuatu ketika usahanya membuahkan hasil. "Mau minta apa?"


"Cokelat."

__ADS_1


__ADS_2