
Menjelang bulan menukar kehadirannya mentari, ada gerombolan awan abu-abu yang siap mengiringi hawa dinginnya malam. Mendung yang kukatakan tadi semakin lebat, sejuk menyelimuti daerah Purwasari yang membuatku sesekali menggigil kedinginan.
Beruntung anak pertamaku menepati janji, dia pulang sebelum hujan tiba dalam keadaan baik-baik saja. Selepas mandi dan mengganti pakaiannya dengan baju tidur, Fathan kembali ke ruang tamu dengan ponselnya bersama Kalista yang sibuk bermain HP juga.
Di sinilah aku, mengantar sebuah nampan berisi gelas-gelas teh manis hangat. Usai menyajikannya di meja, aku duduk bersama keduanya di ruang tamu dengan ponselku juga. Ini sudah memasuki petang, tetapi Cahyo masih belum membalas pesanku. Apa dia sesibuk itu sampai mengabaikan pesan dari istrinya?
"Fathan, coba chat ayah kamu terus tanya 'lagi di mana?'. Pesan Mama dari tadi nggak dibales, takut kenapa-napa," kataku meminta tolong.
Fathan mengangguk patuh, dia mengetikkan beberapa kalimat di sana.
"Nanti juga pulang, Ma," sahut anakku yang terakhir.
Ya, memang dipastikan suamiku bakal pulang, sih. Namun, aku khawatir dengan kondisinya sekarang. Apa Cahyo sudah makan? Apa ada kesulitan yang membuatnya sampai tidak bisa membalas pesan? Apa memang aku yang tidak penting, ya?
Ada banyak puluhan tanda tanya yang beterbangan di benakku. Tak lama, air-air dari langit berjatuhan membasahi rumah, tempat tinggal kami dihujani gerimis yang semakin deras. Sesekali kedua lengan ini kuusap, berusaha menghangatkan kondisi tubuh yang biasanya kurang kuat saat hujan berlangsung.
Sembari melihat-lihat situasi, aku salah fokus pada anak perempuanku yang tampak sibuk dengan ponselnya. Ditilik dari posisi HP yang horizontal lurus ke samping, aku pun yakin dia memang sedang bermain permainan di ponselnya. Anak perempuan ini ... padahal aku sudah banyak memberi tahunya, tetapi masuk kuping kanan dan ke luar di kuping kiri.
"Kamu main ya, Kalista?"
Seperti diganggu, niat semangat bermainnya anakku tidak lagi kelihatan. Dia tampak tak suka diajak bicara, mimik wajahnya persis membalas 'sudah tahu malah bertanya'.
"Iya."
"Kan Mama udah bilang berkali-kali, jangan kebanyakan main game!" Aku memperingatkan, "kamu itu cewek, lagian kenapa main kayak begitu, sih?"
Ekspresinya semakin buruk, dia cemberut mendengar Ibunya berkata begitu. Mungkin fokus pada permainannya ikut berkurang, alisnya juga kian mengerut meski perhatiannya masih tertuju pada ponsel tersebut. Jujur, aku memang tidak suka melihatnya bermain game online.
Fathan melirik adiknya, tidak ada perubahan ekspresi yang membuatku setuju atau tidak setuju pada tanggapannya. Kalau Fathan ini justru sebaliknya, dia tidak pernah bermain game online, bahkan aku tak pernah melihatnya banyak fokus ke ponsel.
Berbeda dengan si adik yang berbuat sesuka hati, tetapi sebagian orang di rumah ini kurang menyukai kegiatannya. Baik aku maupun Cahyo, kami sama-sama setuju ingin menjauhkan Kalista dari permainan itu, aku tidak mau anakku kecanduan, sedangkan suamiku tidak suka melihatnya bermain yang seperti laki-laki.
"Taro dulu HP-nya, Kalista."
__ADS_1
Sekali diberi tahu, anakku memang tidak mau menurut. Dia selalu begitu. Kalau Mama dan ayahnya tidak mengambil tindakan, Kalista mungkin bisa seterusnya bermain atau bahkan sampai ketiduran memainkannya—dia pernah ketiduran dengan kondisi HP masih di dalam game.
"Kalista, dengerin Mamanya."
Kalista menggeleng, enggan melepas sebelum permainannya selesai. "Iya, bentar apa. Ini belum selesai!"
Fathan mengembuskan napas. "Nanti dilanjut lagi."
"Ya, mana bisalah!" Perempuan itu memekik, "dikira bisa disetop kali, kalau bisa juga pasti udah gue taro ini HP-nya!"
Aku mengembuskan napas, bingung ingin menghadapinya bagaimana. Kalau bu Irma dihadapkan dengan posisi ini, bagaimana cara mengatakannya, ya? Aku cuma bisa menatapnya dari sini, membiarkan anak perempuanku lanjut bermain game sambil sesekali berisik seakan sedang mengobrol dengan temannya di sana.
Tak lama, terdengar bunyi klakson dari depan yang tidak asing. Mobil itu sampai, Cahyo pulang lebih cepat hari ini! Buru-buru aku mengambil payung yang bersandar di dinding bagian teras, lalu bergegas ke mobil tersebut agar Cahyo pulang tanpa baju kantor yang basah kuyup.
Hujannya benar-benar deras. Aku belum lama di luar rumah, tetapi sudah kedinginan. Sadar ada aku yang menjemputnya keluar, pintu kendaraan itu dibuka yang mengeluarkan seorang pria paruh baya dengan tas hitam pekatnya.
"Ayo, ayo. Makasih ya, Pak!" pekikku pada sopir mobil yang melanjutkan perjalanan.
Akhirnya, aku memayungi suamiku untuk sampai ke dalam rumah. Kaki ini menuntunnya, kami berada dalam jarak yang dekat sekarang. Aku cukup gugup karena sudah lama tidak sedekat ini, tidak ada kesan romantis di antara kami sejak keguguranku itu. Aku mengerti Cahyo sibuk bekerja, seharusnya aku memahaminya juga.
Aku mengembuskan napas, membiarkannya masuk begitu saja tanpa mengucap salam. Aku menatapnya berjalan ke kamar mandi setelah menaruh tas di sofa, bergerak seakan tidak ada orang di ruang tamu yang membuatku semakin sedih.
Apa di antara kami ada yang melakukan kesalahan atau dia sebegitu capeknya?
"Bikinin kopi."
Namun, aku tidak ingin mempersulit keadaan dengan menyerang ribuan pertanyaan untuknya. Aku langsung bergerak ke dapur, menyeduh secangkir kahwa sesuai permintaannya tadi. Sedikit-sedikit aku melirik, suamiku duduk di ruang tamu bersama anak-anak tanpa mengganti baju.
Pakaiannya tidak basah, sih. Hanya lebih baik jika suamiku langsung mengganti baju.
Selesai menyeduh, aku meletakkannya di meja ruang tamu. Aku juga memastikan tempat itu bersih, menyusunnya sebentar lalu duduk di sofa untuk menemaninya istirahat sejenak.
Terakhir kali kami berempat berbincang, ada pertengkaran hebat yang membuat suamiku sampai turun tangan untuk melampiaskan amarahnya padaku. Bisa dibilang, kemarin adalah pertama kalinya Cahyo menjambak rambutku, menjambaknya di depan anak anak.
__ADS_1
Kasar, memang kasar dan aku sakit hati dibuatnya. Namun, entah mengapa aku tidak bisa bersikap egois atau memperlihatkan hatiku yang terluka di hadapannya. Seakan dia tidak akan pernah mengerti, aku selalu mengalah dan bersikap 'mengerti' karena letihnya dia bekerja.
Mungkin Cahyo berpikir seorang Ibu hanya mencuci baju, mencuci piring, menyapu, mengepel, membersihkan rumah, dan lain-lain. Dia tidak berpikir bagaimana beratnya aku menahan keluhan hidup, tidak diapresiasi, sesekali diperlakukan kasar oleh anak, bahkan memikul ekspetasi penonton seolah aku adalah harapan keluarga ini berlanjut.
Rasanya bukan kami yang ingin bertahan, tetapi hanya aku yang berpikir keras untuk selalu memperbaiki keadaan. Apa Cahyo pernah berpikir tentang itu?
"Main game lagi?"
Bukan Kalista yang lebih dahulu bereaksi, tetapi Kakaknya yang menjadi lebih kaku lalu meletakkan ponselnya di meja. Kalau sudah begini, baik aku dan Fathan pasti langsung menunduk patuh meski belum tahu letak salahnya di mana. Berbeda dengan Kalista, dia tipe yang tidak mau berhenti sebelum ditindaklanjuti.
"Kal," panggil Kakaknya memberi kode.
"Yah ...." Perempuan itu berdecak, membanting kesal ponselnya ke meja seakan kalah di permainan, "iya ini udah."
Aku menghela napas. Kupikir semuanya sudah berakhir, tiba-tiba suamiku merampas benda yang sebelumnya telah diletakkan ke tempatnya. Bukan hanya satu, melainkan ponsel milik Fathan juga yang langsung diletakkan di belakang tubuh Ayahnya. Ponsel mereka mendadak diambil tanpa izin dari para pemilik, tentu saja Kalista menggeram murka melihat Ayahnya berbuat sesuka hati.
"Kenapa diambil, sih!"
"Kalau diajak ngomong atau ditanya itu respons, jangan diem aja," ketus Cahyo penuh penekanan sebelum menyeruput secangkir kopi, "nggak sopan."
"Lagian udah tau aku main game malah banyak nanya."
"Lo bisa bedain ngomong ke orang tua sama temen nggak?"
"Ayah, udah."
"Apa?" Kini perhatiannya beralih padaku, "ngalah lagi gue, gitu? Anak-anak lo mana mau berubah kalau kayak gitu caranya."
"Emang nggak bisa ngomong baik-baik?" sahut anakku yang terakhir, "bener kata Mama, Ayah kalau ngomong pake urat terus. Marah-marah mulu!"
"Berani ya lo ngomong begitu lagi ke gue. Awas aja lo nanti, gue pastiin nggak bakal dikasih apa-apa SAMPE LO NANGIS-NANGIS MINTA TOLONG KE GUE!"
Pintu dibantingnya kencang setelah Fathan mengikuti adiknya masuk ke dalam kamar, mereka pergi begitu saja setelah Cahyo meninggikan suara. Ini semua hanya karena ponsel ... kenapa masalahnya terkesan begitu besar?
__ADS_1
"Nggak ngerti gue sama pikiran lo, Ras."
Kemudian, dia juga melarikan diri dari tempatnya. Menyisakan kopi yang semakin lama mendingin, mengabaikan camilan-camilan baru yang sempat kususun rapi. Akhirnya, keluarga ini berantakan kembali dan aku juga kesepian lagi.