
Aku menampar anakku di depan teman-teman kelasnya. Sorot mata ini penuh dengan murka yang besar sehingga bisa mengambil tindakan spontan, terasa dari napasku yang tidak beraturan sembari memperhatikan mimik wajah anak pertama yang berhasil mempermalukan nama keluarga kami di tempat menimba ilmu.
"Mama nggak pernah ngajarin kamu kayak begini."
Dari apa yang didengarnya tadi, laki-laki itu kian menunduk dengan kedua tangan yang bersembunyi di belakang punggung. Kepala itu sepenuhnya berposisi layu dengan beberapa getaran yang bisa kulihat sesekali di bagian kaki, Fathan gemetar menerima konsekuensi atas apa yang kulakukan tadi.
"Pulang."
Fathan langsung memelas, memohon penuh ampun dengan tangan terlipat. "Ma, Fathan belum selesai ujian. Fathan minta maaf, nggak seharusnya ...."
"Pulang, kamu itu dibilangin Mamanya nggak pernah ngerti!" Aku membentak lalu menghadap ke sekumpulan teman tongkrongannya. "Jangan pernah ajak anak saya buat main sama kalian lagi!"
Kemudian, aku menyeret Fathan dari kerumunan yang terbentuk di sepanjang lorong sekolah. Bola mataku tidak perlu menjawab perhatian mereka, begitu juga anakku yang sekarang pasrah setelah lengannya ditarik olehku tadi. Kami pulang, pulang dengan rasa malu yang paling dalam.
Aku sudah bilang untuk tidak bermain futsal atau apa pun itu yang berarti berkumpul bersama teman-temannya, beginilah hasil dari pertemuan kemarin. Senin ini, di hari pertamanya ujian, anakku justru bertengkar dengan teman sekelas hanya karena ketahuan menyontek. Fathan mengadu pada gurunya tetapi karena teman mejanya merupakan anak berkecukupan tinggi, Fathan yang justru disalahkan karena mengganggu urusan orang lain.
Memang bodoh dan tidak benar kalau siapa pun mendengarnya, memang tidak adil. Tetapi bukan itu intinya, ini tentang pertengkaran mereka yang berakhir dengan pukulan Fathan pada perutnya sampai laki-laki itu mengeluh kesakitan. Eh, bukan pukulan. Melainkan tendangan mautnya. Nah, siapa yang bisa disalahkan di sini, bukan?
Aku tidak pernah mengajarkan anakku untuk menendang seseorang apa pun alasannya. Jangankan menendang, memukul saja bisa kupukul balik nantinya. Masa iya aku harus menendang anakku juga?
Ini masih jam sepuluh pagi dan gerbang sekolah sudah memulangkan pelajarnya, aku tidak membawa kendaraan atau menaiki angkutan umum dan memilih membawa anakku yang pertama untuk pulang berjalan kaki. Sungguh, jika punya kekuatan istimewa, aku akan menghilangkan setiap ingatan warga sekolah tentang apa yang dilakukan anakku tadi.
Yang membuatku semakin kesal, kabar ini disampaikan oleh guru konseling lain yang kebetulan sedang mengajar di sana, bukan dari bu Irma yang biasa diskusi denganku di sekolah maupun luar sekolah. Guru itu terkenal lebih tegas dan kurang toleransi, jadi anakku langsung mendapat surat peringatan kedua karena kekerasan dan mengganggu yang sedang ujian di kelas.
"Mama, Fathan minta maaf."
Sampai sekarang, aku merasa telinga ini tidak bisa mendengar atau tunarungu dengan kata 'minta maaf' saja. Aku masih belum bisa menerima kenyataan, bahkan membayangkan seorang Muhammad Fathan menendang teman sekelasnya pun tidak bisa. Apa ayahnya bisa membayangkan?
Sesampainya kami di pekarangan rumah, aku langsung membawanya masuk ke dalam ruangan. Tubuhnya masih terseret dengan sepatu yang terlibat di sana, alas kaki itu menyisakan bekas jejak kaki yang menodai setiap keramik di rumah ini.
__ADS_1
Aku mendorong anakku ke dalam kamar mandi, dia masih dengan lirihan yang sama seolah menyesal akan perbuatannya tadi di sekolah.
"Mama ...."
Tanpa berpikir panjang, aku mengguyurnya kesal yang membuat seragamnya basah. Deru napas kami saling memburu, sama-sama merasa ketakutan tidak berdaya setelah banyak sorot perhatian yang sempat melirik kepergian kami.
"Kamu itu keterlaluan tau nggak? Disuruh belajar malah futsal, waktunya ujian malah berantem. Gimana Mama nggak kesel coba!"
Aku mengguyurnya lagi, terus-terusan sampai air bak mandi itu hampir mencapai batasnya. Terus-terusan sampai tangis dan suara anakku juga ikut membungkam, dia cuma bisa terpaku di tempat dalam keadaan basah yang menyamakan bilas tubuhnya seseorang.
"Pikir coba sama kamu tuh dipikirin, Fathan ... kalau ayah tau gimana? Kamu nggak mikirin Mama, nggak mikirin adik kamu yang udah kayak begitu sekarang di mata ayahnya. Kamu nggak mikirin masa depan kamu?"
"Tapi dia juga ...."
"Berani kamu bales Mama, hah?"
"Coba pikir sekali lagi, SALAH ATAU NGGAK!"
Kemudian, pintu kamar mandi itu ditarik rapat. Aku menutupnya, menguncinya dari luar dengan lampu ruangan yang dimatikan cepat. Benar, aku mengunci Fathan di dalam kamar mandi dengan keadaan basah kuyup bersama matinya lampu.
Tentu saja hal itu mengundang paniknya Fathan, penghalang cokelat muda ini diketuknya berkali-kali dari dalam dengan banyak teriakan meminta tolong, meminta maaf dengan rintih yang tidak pernah kudengar sebelumnya.
Masih belum bisa melampiaskan emosi, aku berlari ke kamarnya yang penuh dengan banyak buku di sana. Katakan saja kejam ataupun sadis, aku mengacak-acak barang kesukaannya di kamar, memuaskan perasaanku yang berkecamuk dengan air mata yang semakin lama meluncur ke bagian pipi.
Aku menangis. Tidak percaya anakku akan berani melakukan hal itu, kekerasan yang tidak ada untungnya dan justru memperburuk nama keluarga kami. Bukan anak yang akan dipandang rendah, melainkan orang tuanya. Aku yang akan disalahkan, aku yang akan menjadi lirikan tajam orang-orang ketika mereka melihatku berjalan di jalan yang sama.
Aku berakhir di tempat itu, menarik anak-anak rambut sekencang mungkin dengan berteriak tanpa suara. Kalau ini memang salahku, aku masih belum mengerti di mana letak kesalahanku. Apa aku membuatnya tertekan atau bagaimana, aku tidak paham.
Namun, yang bisa kulakukan saat ini hanya mendeskripsikan bentuk emosiku saja. Aku tidak bisa melakukan banyak hal selain membuat anak pertamaku sadar, selain membuat anak-anakku mengikuti perintah dan tidak banyak tingkah. Aku harus lebih tegas lagi.
__ADS_1
...***...
Sorenya, anak bungsuku pulang tanpa derum sepeda motor yang biasa terdengar sampai ke rumah. Dia kembali ke tempat peraduannya dengan berjalan kaki, masuk tidak mengucap salam, lalu melewati kehadiranku begitu saja.
Tak lama, Kalista kembali menghampiri ruang tamu. Berhadapan denganku tanpa menduduki tempat yang kosong tak berpenghuni. Seakan teringat sesuatu, dia bertanya padaku.
"Ma, Fathan mana?"
Sayangnya, aku masih dalam perasaan yang buruk. Aku belum bisa diajak berbicara, belum mau merespons banyak hal sampai suamiku pulang ke rumah. Mungkin aku harus menceritakan tentang anak pertamanya di sekolah, aku ingin tahu bagaimana tanggapannya nanti.
Merasa diabaikan, akhirnya anakku pergi. Dia mengetuk kamar saudaranya, terkejut melihat pintu itu terbuka dengan kondisi yang berantakan.
"Ma, si Fathan di mana, sih!"
Aku menutup wajahku, mencari arah di mana ketenangan berada. Tetapi mendengar adanya percobaan pintu yang didorong kasar berkali-kali, aku terkejut saat Kalista berhasil membukanya. Baru ingat dia anak karate.
"Mama!"
Aku menghampiri asal suara, ada Kalista yang berusaha membantu Kakaknya ke luar dari sana dengan kesusahan karena lemasnya tubuh si Laki-laki. Sepertinya Fathan kehabisan tenaga dan kedinginan di kamar mandi.
Aku tidak membantunya sama sekali, aku memantau merek sampai Fathan berhasil merebahkan tubuh di kasurnya yang lembut. Keadaan kamar masih berantakan, aku membiarkannya begitu saja sebagai bentuk pelajaran juga.
"Mama pikir yang Mama lakuin itu bener?" Kalista berhadapan denganku, berkata seenak jidat, "Mama pikir, Fathan sepenuhnya salah?"
"Kamu nggak tau apa-apa, Kalista."
"Gue tau!" Anakku menyahut cepat, "Gue tau yang Mama lakuin itu nggak ada bedanya, sama-sama ngelakuin kekerasan. Mama nggak takut Kakak trauma, jadi Mama juga seenaknya. Iya, 'kan?"
"Kamu ini ...."
__ADS_1