Belajar Menjadi Seorang Ibu

Belajar Menjadi Seorang Ibu
25. Futsal.


__ADS_3

Saat aku dan anak-anak berkumpul di tempat yang sama lagi, saat awan-awan mendung itu mengenyampingkan kehadiran mereka, ada yang bisa bernapas lega dari tempatnya duduk yang bisa kulihat dari posisi berseberangan kami. Dia tampak lega dan bergembira dalam hati, buktinya tangan itu langsung mengambil ponsel yang sempat kuberi saat Cahyo menyembunyikannya.


Baik aku maupun Fathan, kami sama-sama melirik anggota keluarga yang paling muda itu senyam-senyum sendiri. Sepertinya hari baik anakku tidak sepenuhnya lenyap, meski setengah harinya terbuang sia-sia karena kehadiran derasnya hujan, perempuan yang merapatkan pakaiannya sekarang kelihatan masih punya niat bersenang-senang.


"Mau ke mana, sih?" tanya Fathan membuka topik.


Seakan terpanggil karena sedang bersiap-siap, anakku menelengkan kepala untuk sejenak menjawab, "Ada, deh. Main sama temen."


"Kamu jadi dijemput Biyan?" Aku mengikuti perbincangan, membuat diriku terlibat di dalam sana yang menghadirkan embusan napas dari anakku.


"Ya, sebentar lagi juga sampe."


Benar saja. Usai Kalista bersuara, terdengar bunyi lain yang membentuk bising dari klakson sepeda motor di depan rumah. Dipikir-pikir dari sini pun sudah jelas siapa orangnya, jadi aku mengantar anakku ke depan pintu dengan tingkah si paling protektif.


Aku mengamati mereka dari kejauhan. Mulai dari helm bogo yang dipakaikan anak laki-laki itu untuknya, dilanjut menurunkan footstep dari kendaraan yang dibawanya tadi. Aku benar-benar menyelidiki interaksi mereka, senyuman yang entah bagaimana bisa timbul begitu saja ketika saling bertatapan, padahal ketika aku menatap anakku tidak semudah itu pelangi yang mengembang di wajahnya muncul, 'kan?


Aku mendengkus, apalagi melihat Kalista yang diam-diam seakan terbawa perasaan yang aku sendiri pun tidak bisa iri dari interaksi yang ... mungkin bisa dianggap romantis oleh mereka. Ya, namanya juga anak-anak. Mungkin begitulah cara mereka berhasil memahami antara satu sama lain.


Kemudian, sepeda motor itu melaju dengan kecepatan sesuai standar. Menyisakan lambaian tanganku di tempat tanpa menghampiri keduanya tadi, aku berusaha memahami kondisi anakku dan si Laki-laki yang bersamanya. Mungkin mereka mempunyai janji untuk mengenal lebih dalam antara satu sama lain.


Tiba-tiba aku teringat akan kejadian di minimarket waktu itu, saat beranjak pergi ke tempat kasir yang malah menemukan Biyan bersama perempuan lain. Aku lupa mencari tahu dan menebak-nebak siapa perempuannya, seharusnya aku bisa menjadikan eksistensi mereka kemarin sebagai peringatan untuk Kalista juga.


"Laras!"


Ya, ini bukan waktunya beradaptasi dengan aroma tanah yang basah tadi. Aku melangkah masuk ke dalam rumah tanpa perlu memastikan kepergian Biyan dan Kalista. Mendengar namaku dipanggil Cahyo, aku langsung menghampirinya yang berada di daerah dapur.

__ADS_1


Sepertinya, kali ini aku diduakan lagi. Kupikir hanya kami yang menempati meja makan, tetapi perhatian suamiku seluruhnya diletakkan di titik pusat laptop kesayangannya. Alih-alih menghentikan kegiatannya, suamiku justru bertindak lebih fokus seakan aku hanya bayangan dari makhluk cahaya yang mengganggu konsentrasinya.


"Nih."


Aku melirik benda tersebut, melihat statistik penjualan perusahaan yang naik dan turun secara tidak beraturan. Sepertinya perusahaan itu mengalami kebangkrutan perlahan, tidak heran bila suamiku sejak kemarin tampak sibuk mengurusnya. Penuh dengan rapat sampai menggantikan kinerja rekan yang buruk, pasti berat bagi Cahyo yang membuatnya sering emosi di rumah.


"Gue bakal ada diskusi sama rapat lebih lanjut buat kerja sama bareng setiap kepala departemen, ini mendadak, jadi mulai besok bakal pulang telat terus."


Aku mengembuskan napas, lagi-lagi akan sering ditinggal suami. Bukannya tidak mengizinkan, aku hanya sedih karena akhir-akhir ini selalu kesepian. Meski anak-anak berada di rumah saat malamnya, bukan berarti mereka bisa menghapus kesedihanku juga. Apalagi hubunganku dengan mereka juga tidak bisa dibilang baik sekarang, kami sedikit demi sedikit canggung karena adanya kontra kecil.


Akhirnya, kepalaku mengangguk saja, mengiyakan perkataan Cahyo. Lalu, kegiatannya pun dilanjutkan lagi, menganggap seakan kehadiranku tidak penting dengan laptop yang dibawa ke pangkuannya. Kadang, aku berpikir apa ada seorang istri yang merasa dibiarkan saja oleh suaminya? Apa hal ini bisa dibilang salah atau memang sudah seharusnya begitu?


Kalau kubilang rindu, apa Cahyo akan melepas laptopnya sekarang? Apa aku harus mencoba? Mungkin aku perlu mencoba, suamiku juga tidak seharusnya bekerja di hari libur, bukan? Dia selalu menghabiskan waktunya sendiri tanpa aku di sisinya, seakan aku seorang pembantu yang disuruh menyiapkan kebutuhannya saja.


"Ma."


"Ngapain?"


Pertanyaanku bermaksud menanyakan urusan anakku kemari, tetapi Ayahnya justru menoleh dengan tatapan yang kurang menyenangkan.


"Kok ngapain? Biarin aja anaknya ke sini."


Aku mendesah pelan. "Kenapa, Fathan?" ulangku pelan.


"Siang ini aku nggak boleh futsal ya, Ma?"

__ADS_1


"Katanya sore," jawabku cepat, aku paling tidak suka dengan perubahan jadwal mendadak begini. "Gimana sih kamu? Jangan diganti-ganti waktunya!"


"Ya, terus tiba-tiba mereka ngajaknya sekarang."


Seiring aku menghela napas, suamiku kelihatan tertarik dengan percakapan kami. Dia sempat memperhatikan anak pertamanya, melepas alat elektronik tersebut dan mengubah posisi menjadi seseorang yang mendengarkan.


"Futsal di tempat biasa?" sahut suamiku memperpanjang. "Hujannya udah reda, ya?"


"Udah, Ayah."


"Ya udah, hati-hati mainnya."


Lantas aku menyanggah, "Nggak, Fathan nggak boleh main. Besok sekolah, besok ujian. Nanti aja mainnya. Masuk ke kamar sekarang!"


"Fathan futsal aja, main sama temen-temennya sebelum ujian sana."


"Yah!" Aku tak sengaja berteriak padanya. "Kamu ini anaknya mau ujian juga bukannya dilarang malah diizinin, giliran Kalista mau main aja nggak boleh."


"Kalista kan tiap hari udah ke luar," balas suamiku cepat. "Ke luarnya sama laki-laki lagi, Fathan mau main sama temennya doang. Ya, beda."


"Ya, tapi Kalista juga ke luar karena udah selesai kerja kelompoknya Sabtu kemarin. Makanya sekarang seneng-seneng sebelum ujian."


"Gue nggak mau tau, Fathan ke luar sama temennya dan itu nggak salah. Ajarin anak perempuan lo tuh, kalau dikasih tau bandel mulu nggak kayak Kakaknya,"


Aku mengembuskan napas, Cahyo malah membandingkan antara Kakak dan adik yang pastinya akan membuat Fathan terdiam merasa bersalah sudah bertanya. Aku melihatnya murung, sepertinya tidak lagi bersemangat untuk bertemu teman-temannya.

__ADS_1


Kemudian, anak pertamaku beranjak mendekati dunianya lagi, masuk ke dalam kamar dengan pintu yang ditutup pelan. Baik aku maupun suamiku, tidak ada lagi yang bersuara. Dia juga kembali ke aktivitasnya bersama laptop.


Aku cuma takut Fathan tidak bisa fokus di hari selanjutnya. Futsal selalu menjadi distraksi atau pengalih perhatian anakku, emosinya dilampiaskan ke sana sehingga aku tidak tahu apa yang terjadi padanya. Terakhir kali, aku menemukannya sedang terlibat pertengkaran bersama anak futsal lainnya. Tidak heran kalau aku melarangnya, 'kan? Aku juga khawatir.


__ADS_2