Belajar Menjadi Seorang Ibu

Belajar Menjadi Seorang Ibu
31. Susu Cokelat.


__ADS_3

Sambal, makanan penyedap berasa pedas yang menggugah selera. Aku menumbuk bahan-bahannya sekarang; beberapa cabai merah segar, siungan bawang merah dan bawang putih, juga tomat-tomat yang kini tidak lagi berbentuk. Sebelumnya sudah kutumis semua, hal itu mengundang batuk dari anak pertamaku yang sedang ujian di dalam kamar sampai dia berpindah ke ruang tamu sekarang.


"Mama masak apa, sih!"


"Sambeell!" Aku memekik.


Mungkin Fathan menggelengkan kepala, lalu melanjutkan aktivitasnya lagi. Aku sibuk memasak sedari tadi, sudah menentukan menu makan siang apa yang akan disantap kami nanti; tempe goreng kesukaan Fathan, tumis kangkung, dan lembar telur dadar favoritnya si adik yang belum pulang.


Setelah membuatnya halus, aku menuangkan sambal itu ke mangkuk. Sejenak kutunggu minyak memanas, kemudian dituangkanlah sambal tersebut dilanjut menumisnya sebentar saja agar anakku tidak terbatuk-batuk. Takut Fathan terganggu karena bau masakanku.


Beberapa menit kemudian, pekerjaanku selesai. Aku berniat menghampiri Fathan yang fokus mengerjakan ujian di ruang tamu. Dilihat dari dapur, dia tampak tidak ingin diganggu. Sebagai penunjang mood yang bagus, aku menyiapkan susu cokelat bubuk yang sempat kubeli tadi di salah satu warung sebelum memasak.


Aku menggunakan air hangat sebagai pelarut, lalu memenuhi gelasnya dengan air yang lebih dingin. Ya, menyamakan posisi anak yang tegang karena ujian perlu didinginkan melalui minuman favoritnya. Sembari mengaduk larutan susu, aku tersenyum kecil, entah mengapa ada rasa tenang yang tebersit dengan menyajikannya segelas susu. Rasanya ada kemajuan dariku yang belajar menjadi seorang Ibu.


Selesai, aku merapikan pakaianku sebentar, berusaha menyingkirkan aroma sambal dan masakan lain yang mungkin menempel di beberapa bagian. Dirasa nyaman, aku mendekati anak laki-laki itu di ruang tamu. Membawakannya susu cokelat dingin untuk disajikan, lalu duduk mendampinginya yang sedang ujian.


Mungkin Fathan sadar ada yang kubawa ke meja itu, dia melirik sebentar lalu tersenyum manis melihat hal favoritnya diberikan tiba-tiba. "Makasih, Ma," katanya spontan, belum menghapus senyumnya.


Aku mengangguk pelan, ikut senang melihatnya menyukai apa yang kuletakkan di meja. Sembari menunggunya mengerjakan ujian harian, aku mencari beberapa topik hangat dan ringan yang bisa kami bahas meski Fathan menetapkan perhatiannya di satu titik.


"Ujiannya susah nggak?"


"Nggak susah, Ma. Ini Bahasa Indonesia," jawab Fathan menyempatkan waktunya untuk menyeruput susu cokelat yang semakin dingin. "Fathan suka pelajarannya, sedikit lagi selesai."


Kepalaku manggut, mengiyakan perkataan anakku sambil sesekali mengusap rambutnya. Kalau boleh jujur, aku jarang memperlakukannya sehangat ini. Seingatku, aku biasa menyentuhnya lembut sebagai bentuk kasih sayang hanya ketika Fathan memberikan raport dan berkata begini.


"Ma, Fathan juara satu.",


Selain itu, aku tidak mengingatnya. Berbeda dengan si adik, aku biasa memperlakukannya lembut meski kami sering kali terlibat pertengkaran kecil ataupun besar. Entah siapa yang benar dan salah, Kalista selalu menang karena aku yang mengalah untuk memperbaiki keadaan—membujuknya. Aku masih ingat seberapa besarnya menurunkan ego untuk anak sendiri, jelas bertentangan dengan prinsip ayahnya yang selalu ingin benar.


Katanya, laki-laki punya jiwa yang kompetitif. Tidak heran bila melihat ayahnya maupun anakku yang lebih tua banyak berambisi, banyak membaca buku, atau lebih senang menyendiri bersama bacaannya di dalam kamar. Tetapi bukan berarti membenci pergaulan zaman sekarang, ya. Adakalanya Fathan ke luar bersama sekumpulan teman, walaupun mereka kelihatan sering mengejek hal kesukaan Fathan, nyatanya anakku mampu beradaptasi dengan baik di lingkungan mereka.

__ADS_1


Kadang, aku bingung dengan pemikiran anakku yang terakhir. Dia jelas berbeda dari Kakaknya, tidak ada kesamaan sama sekali selain dari bentuk wajahnya yang hampir mirip karena lahir bersamaan. Maksudku, minat mereka berbeda. Antara Fathan yang visioner—mementingkan masa depan—dan adiknya yang berusaha menikmati hidup di masa kini, mereka hidup di dunia yang berbeda.


Aku harus mendukung impian Fathan, aku juga mesti menyenangkan perasaan Kalista yang banyak inginnya. Entah dari segi kebutuhan yang semaunya; skincare, kuota internet, outfit yang sering dibahasnya, atau hal-hal berbau Korea Selatan. Sedangkan, Kakaknya justru menginginkan yang lain; buku peningkatan diri, novel, laptop, peralatan tulis baru, dan lainnya yang mengarah ke kebutuhan belajar.


Aku mengembuskan napas, mereka memang berbeda dan pasti punya cara mengasuh yang jelas bertentangan—bila pola asuh mereka disamakan. Susah juga, ya. Tetapi ada beruntungnya juga karena aku tersadar, ini pertama kalinya aku berpikir yang baik dan serius mengenai mereka di masa pubertas. Ah, cepatnya waktu berjalan.


"Selesai."


Aku kembali ke alam sadar, melihat notifikasi ucapan terima kasih karena telah mengerjakan ujian harian. Senyum ini dijahit lagi, aku menepuk bahu kirinya berulang kali.


"Makasih ya, Fathan."


Fathan tersenyum tulus, lebih manis dan sepertinya bisa kuingat kapan saja karena saking lebarnya. Dia tampak antusias mengincar susu cokelat sedari tadi, ponselnya diletakkan cepat lalu anak laki-lakiku meneguk segelas minuman itu.


"Aku pulanggg!"


Pulanglah anakku yang terakhir, tampak riang dengan langkah yang lebar lalu seenaknya melempar tas ke dalam kamar. Dia tidak mengutamakan kenyamanan dilihat, asal tidak mengganggu dan tidak mengacak-ngacak barang di luar kamar. Kalista bisa berbuat apa saja sesuka hatinya.


Kalista duduk di sofa lain sembari melihat Fathan yang baru saja meneguk habis minuman itu. Sepertinya dia tidak sengaja, wajahnya kelihatan terkejut ada yang pulang.


"Kok dihabisin, sih? Kan gue udah bilang mau tadi."


"Nggak sengaja," kata Fathan seadanya.


"Mau susu."


Perempuan yang masih berseragam menatap kehadiranku, memelas seakan memohon keinginannya dikabulkan—dibuatkan susu cokelat yang sama.


"Nggak, bikin sendiri."


Kalista berdecak, "Fathan aja dibikinin, pasti dibikinin, 'kan? Mana mungkin dia mau buang-buang waktu buat bikin susu. Aku juga capek baru pulang sekolah."

__ADS_1


"Bikin sendiri aja, gue juga bikin sendiri." Fathan berbohong.


"Nggak, mau dibikinin."


Aku mengembuskan napas. Tidak ingin mengundang percikan amarah yang bisa memperbesar masalah, alhasil aku bangkit dari sofa untuk mengabulkan permintaannya; segelas susu cokelat yang sama. Kalista tampak girang melihatku pergi.


"Nggak sopan."


"Apaan, sih. Gue cuma minta dibikinin susu aja."


"Mama bukan pembantu."


"Ya, gue kan minta tolong!"


"Bukan begitu caranya."


"Ih, bacot."


"Kalista!" Aku memperingatkan. Meski jarang anakku berkata kasar, tidak seharusnya mereka berdebat hanya karena segelas susu. Apalagi Kalista baru saja pulang, bisa-bisa emosinya tidak terkontrol lagi. "Diem, Fathan. Jangan berisik."


Aku jarang menyuruh anak pertamaku diam karena dia memang selalu diam, kecuali jika ada hal yang terasa tidak adil. Tetapi karena aku sedang belajar mengendalikan diri, aku hanya bisa melakukan yang terbaik dengan mengikuti alur sehari-hari. Aku mengiyakan perkataan Kalista.


"Ma, nanti temen aku ada yang mau ke rumah. Boleh 'kan, ya?"


Selagi mengantar susunya ke meja, aku bertanya-tanya dalam hati sebelum mempublikasikan pertanyaan secara langsung. Teman, siapa yang dimaksud Kalista? Apa laki-laki yang bersamanya sejak kemarin?


"Biyan."


"Bukanlah!" balasnya cepat. "Ada aja nanti ke rumah."


Aku mengangguk saja.

__ADS_1


__ADS_2