
Sayangnya, setelah puluhan menit berlalu di rumah ini. Tidak ada yang bersuara walaupun setiap pengunjung rumah dipertemukan di meja makan. Siang ini aku masak sedikit sajian, sebelumnya kupikir hanya ada seorang yang akan berkunjung. Namun, aku tidak tahu kalau Natasya pun ikut kemari.
Jadi menu yang dihidangkan tentu saja terkesan kurang. Aku memasak untuk porsi makan tiga orang di rumah, tetapi sekarang jumlahnya menjadi lima karena teman-temannya Kalista. Aku tidak bermaksud menyalahkan, seandainya aku memasak lebih banyak saja.
Kami makan bersama—menikmati yang ada saja di meja makan tanpa protes tentang seberapa banyak dan kurang teman nasi hangat kami di sini. Selama itu tidak ada yang bersuara, seakan makan siang ini adalah perjumpaan formal yang dihadiri banyak kepala departemen perusahaan, kami sama-sama tidak berniat membuka topik yang ringan maupun berat.
"Tadi pada ngerjain tugas apa?"
"Sosiologi."
"Biologi."
Kedua perempuan itu saling melirik gemas, seperti mendongkol amarah masing-masing yang masih enggan berdamai dengan situasi. Baik Kalista maupun Natasya, mereka langsung memalingkan perhatian ke arah lain saat menyadari kompaknya menjawab pertanyaanku.
Seperti perwakilan dari kedua murid dan temannya, guru muda itu tersenyum simpul sembari menjawab, "Mereka beda kelas, Karina ngajar di dua kelas."
Aku manggut tertawa renyah, menggaruk tengkuk yang tidak gatal seraya menatap Fathan untuk memperpanjang topik. Ya, daripada banyak diam dan justru menimbulkan kontra yang tidak benar, lebih baik aku memintanya berkontribusi dengan pertanyaan lain, 'kan?
"Susah?"
Aku menghela napas, apa tidak ada pertanyaan lain?
Natasya bereaksi lebih dahulu, kepalanya menggeleng lucu. Entahlah, sepertinya perempuan ini tertarik dengan anakku. Terlihat sedari tadi gesturnya sesekali melirik kehadiran Fathan yang bahkan tidak sadar sedang diamati diam-diam, mungkin Natasya penasaran dengannya.
"Nggak, kok. Kan udah diajarin."
Dahi Kalista mengernyit. "Sok imut lo."
"Dih, tapi emang bener diajarin, 'kan?"
Aku tidak terlalu mempermasalahkan mereka akan berkata sebanyak apa, sih. Kalau ingin mengobrol silakan saja, tetapi jika percakapannya ditebak mempunyai akhir yang tidak baik. Pastinya aku menyela pembicaraan keduanya, aku tidak ingin ada pertengkaran lain yang bertambah di rumah ini maupun di antara mereka.
"Sorry, gue belum tau nama lo. Namanya siapa?"
Beruntung saja Fathan menimpal, membuat atensi mereka langsung teralihkan pada laki-laki yang bertanya polos. Aku baru sadar Fathan memang tidak diperkenalkan pada Natasya, tadi dia masuk ke kamar setelah gugup berhadapan dengan Karina. Jadinya tidak sempat tahu tentang siapa kedatangan perempuan lain di rumah ini setelahnya.
"Oh, iya belum kenalan," respons perempuan itu tersenyum jengah, menyodorkan tangan kanannya sebagai bentuk pendekatan alami, "kenalin, aku Natasya Farafadila 17 tahun, gemini, dan juga single:"
"Gemini?"
Sebelumnya terkesan akan melangkah maju, tetapi Natasya langsung mengundurkan diri dengan tangan yang ditarik lagi usai Fathan bertanya lebih lanjut. Gemini, katanya. Aku juga tidak tahu maksud gemini, apa itu gemini?
"Jangan bilang lo nggak tau gemini?"
"Zaman sekarang mana ada yang percaya sama zodiak."
"Ih, dia aja yang ketinggalan zaman!"
Aku menggelengkan kepala, tidak mengerti tentang apa yang diperdebatkan mereka sekarang. Karina juga begitu, menghela napas sambil tersenyum kecil mewajarkan apa yang sedang terjadi di hadapannya.
__ADS_1
Setelah makan siang ini selesai, aku mengumpulkan piring kotor di meja untuk dibilas di tempat cucian piring. Sementara mencuci yang kotor, aku melihat Fathan rajin menyapu lantai rumah yang kelihatan kasar karena debu-debu di beberapa titik ruangan.
Selesai mencuci, aku sengaja menetap lebih lama di dapur untuk menguping pembicaraan anakku di ruang tamu. Ya, dia masih bersama Karina dan temannya dengan suasana yang tetap menjengkelkan. Kalau mereka benar bersahabat, mungkin siklus pertemanannya seperti; bertengkar, menangis, meminta maaf, dan bermain lalu bertengkar lagi.
"Oh, namanya Fathan ...," ujar Natasya mengangguk-angguk, "kakak lo?"
"Ya, sepantaran. Dia anak IPA 2, lo nggak tau?"
"Dih, gue nggak tau. Kenapa baru kelihatan, ya?" Natasya tampak bergumam, menaruh jarinya di dagu persis terheran-heran mengapa anakku yang pertama jarang kelihatan di sekolah, "pasti introvert."
Kalista menggeleng ringan mendengarnya begitu.
"Kalista, aku izin pulang duluan, ya. Mama lagi sakit terus sendirian di rumah, aku takut kenapa-napa."
"Eh, mau dijenguk nggak?"
Memang tidak ada yang memanggil, tetapi rasanya aku perlu hadir di antara mereka sekarang saat Karina bangun dari sofa. Aku bersikap penuh pertanyaan, bingung dengan apa yang akan dilakukan Karina selanjutnya.
"Ibu, Karina izin pulang dulu, ya. Mama lagi sakit di rumah."
Aku mengerjap. "Mau dianter? Nanti sekalian jenguk ibu kamu, ibunya sakit apa? Siapa namanya?"
Perempuan itu menggeleng cepat, seakan sama sekali tidak perlu dibantu atau belum siap menerima eksistensi siapa pun yang berkunjung meskipun sekadar menjenguk keadaan ibunya.
"Nggak, Bu. Mama lagi masuk angin aja, Karina udah bilang pulangnya cepet. Maaf ya sebelumnya."
"Bener nggak mau dianter? Jauh dari rumahnya nggak? Biar ditemenin sama Kalista aja," kataku mencoba lagi menawarkan bantuan. Aku tidak enak melihatnya pulang begitu saja tanpa bawaan dari rumah kami.
"Ya, Karin. Nggak apa-apa, gue juga hapal daerah sini, kok."
Sekali lagi, Karina menggeleng pelan. Dia menolak masih dengan sikap lembutnya. "Nggak apa-apa. Beneran nggak jauh dari sini, izin pamit sekarang, ya."
Karina bersalaman denganku, menjadikan aktivitas itu sebagai penutup pertemuan kami hari ini. Anakku yang terakhir melambaikan tangan, menyatakan perpisahan mereka dengan senyum yang lama kelamaan semakin memudar.
Selesai dengan salah satu tamu yang pulang, Kalista memberikan perhatiannya kepada perempuan yang masih terduduk di sofa. Dia tampak menganggap rumah ini sebagai rumahnya juga, aku senang melihatnya bertingkah nyaman dengan menghabiskan camilan di meja itu, camilan yang bahkan jarang disentuh orang-orang rumah selain diriku sendiri.
Aku membentuk senyum.
"Heh, lo kapan baliknya?" Kalista mempertanyakan.
Yang ditanya balik mendengkus. "Kenapa mesti banyak cemilan di sini, sih? Kan gue jadi betah, nih."
Kepalaku menggeleng. "Nggak apa-apa, dibawa pulang aja, ya."
"Wah, boleh?"
Kalista menyahut, "Mama apaan, sih."
Natasya kelihatan bersorak dalam hati, terutama saat Fathan menempati sofa di sampingnya juga. Seakan anak laki-lakiku yang menjadi pemenang perhatiannya sekarang, dia jadi salah tingkah sendiri meski Fathan tidak melakukan apa pun. Apa ini bisa disebut sebagai awalan cinta monyet anak remaja?
__ADS_1
"Mau pulang tapi nggak bisa dijemput, sopir gue ada urusan. Gimana, dong ...."
"Ya udah naik ojek aja, biar gue pesenin."
Natasya berdecak, "Buang-buang duit. Mending dianterin aja, ah!" Kemudian, anak itu melirik Fathan yang sama sekali tidak merasa terpanggil untuk mengantarnya pulang.
"Ya udah gue anter pulang aja, dah. Bentar, siap-siap."
"Kok dianterin lo ...?"
"Maunya gimana, sih?"
Kalista frustrasi, aku diam-diam menahan tawa karena sadar dengan maksud dari perkataan temannya tadi. Sepertinya Fathan memang tipe laki-laki yang tidak peka, jelas-jelas Natasya berujar meminta diantarkan pulang, tetapi tidak ada inisiatifnya Fathan untuk menyahut atau ikut masuk ke dalam pembicaraan mereka.
Aku menggelengkan kepala, menyentuh pundak anak pertama yang langsung bereaksi ketika sesuatu mendarat di bagian tubuhnya.
"Fathan, tolong anterin Natasya pulang ke rumahnya, boleh?"
Fathan menatap perempuan di depannya yang memelas penuh harapan, lalu melirik adiknya juga yang menghela napas seakan pasrah dengan keadaan. Dia juga menatapku, mungkin bertanya-tanya mengapa aku bisa menyuruhnya mengantar seorang perempuan untuk yang pertama kali.
"Jauh?"
Natasya menggeleng. "Nggak, kok. Deket."
"Boleh, Ma?" Fathan memastikan.
Aku mengangguk. "Boleh, tapi nanti langsung pulang, ya. Mendung di luar, kalau hujan di jalan nanti neduh dulu. Bawa jas hujan aja sekalian."
Akhirnya, Fathan menurut perkataanku. Dia bangun dari tempatnya, bergerak menyiapkan diri ke kamar untuk berganti pakaian dan mengambil kunci motornya. Sedangkan, perempuan yang duduk di sofa itu langsung menghampiriku, berterima kasih dengan salam mencium punggung tanganku seperti anak pada umumnya.
"Makasih ya, Tante," ucapnya ramah, "makasih karena ngebolehin anaknya nganter Nanat pulang, hehehe. Nanat janji nggak bakal nakal lagi, kok. Ini langsung temenan sama Kalista!"
Risi tiba-tiba ditarik, Kalista mengempas rangkulan teman barunya itu.
"Ish, enak aja! Bohong, Ma. Ini kalau habis ditolak si Kakak juga pasti aku yang bakal di-bully."
"Aku nggak bilang begitu, yaa."
"Ayo, berangkat."
Aku tersenyum melihat Fathan yang tetap berpakaian sopan ke luar rumah. Dia menggunakan jaket, celana panjang, dan topi sebagai penutup kepala. Kami mengantarnya ke depan rumah, membenarkan kegiatan mereka yang akan pergi dengan niat sekadar mengantarkan pulang.
"Dadah, Kalista!"
Kalista berdecak, "Udah sana pulang!"
Kemudian, sepeda motor yang dikendarai anakku menyisakan jejak bunyi derumnya, pergi menjauhi tempat peraduan untuk menurunkan tamu terakhir yang hendak pulang. Aku mengembuskan napas, suasana ramai yang sempat memenuhi rumah ini dengan senda gurau kini kembali sepi tanpa senyuman yang bersifat spontan.
Pesanku juga tidak kunjung dibalas Cahyo, padahal siang hari sudah berlalu sedari tadi. Kuharap dia baik-baik saja di sana.
__ADS_1