Belajar Menjadi Seorang Ibu

Belajar Menjadi Seorang Ibu
37. Kita Punya Pilihan


__ADS_3

Aku banyak berdebat dengan anakku. Ada beberapa sentakan yang membuat bibirnya bergetar, ada beberapa jeda yang bisa diambilnya sebagai bentuk sabar saat menghadapiku. Aku tidak tahu siapa yang patut disalahkan, tetapi perdebatan kami menyebabkan canggungnya suasana di rumah ini, lagi.


Antara Fathan yang tidak mau dimengerti atau aku yang banyak menekan, dia tak mau menurut dan bersikap enggan untuk mengikuti alur kehidupan yang satu ini. Aku tidak tahu apa ada yang memengaruhinya atau tidak, apa dia terlalu banyak membaca hal-hal yang bisa membuatnya menolak perkataanku? Apa aku sebegitu kerasnya?


Yang biasanya menunduk atau mengangguk 'iya', kini memilih diam dan bertingkah tidak mendengar ada Ibunya yang berbicara sedari tadi. Jika ujian kedua sudah dimulai, Fathan bisa memberi tahuku. Namun, dia tidak begitu.


"Dengerin Mamanya ngomong nggak?"


"Denger," jawabnya singkat, "tapi Fathan udah isi datanya tadi lewat link formulir, nggak bisa diubah."


"Ya udah, biar Mama aja nanti yang ngomong sama bu Irma."


"Kenapa, Ma?"


Aku membagikan perhatianku padanya, membuka gerbang selamat datang pada anak laki-laki yang akan lanjut memprotes lagi. Ponselku ditaruh, aku menatapnya dari meja makan sambil termangu tenang, berusaha membuatnya tak ragu berkacak pinggang di hadapan Ibunya dari sekarang.


Fathan adalah anak pendiam yang harus mendapatkan perhatiannya, tidak boleh diberikan sedikit pun kepada anakku yang terakhir dalam posisi ini. Dia tampak berunjuk rasa, melayangkan harapan dan nasibnya selama ini yang sudah tergantikan oleh adiknya.


"Mama, Fathan mau bilang makasih banyak karena Mama sama ayah udah ngebiayain hidupnya Fathan. Udah sabar, udah banyak nasihatin Fathan sampai Fathan di posisi ini. Cuma Fathan minta tolong, Ma. Fathan juga punya kemauan sendiri.


"Fathan emang nggak pengen kayak orang lain, Mama selalu bilang buat jadi diri sendiri dan Fathan sama Kalista juga punya kemauan sendiri. Fathan bisa tanggung jawab, Fathan udah gede, Ma."


"Enak ya ngomongnya."


Mendengarku begitu, Fathan menghela napas seperti perkataannya tidak membuahkan hasil. Ini memang terkesan; seberapa panjangnya dia membujuk, jika Ibunya tidak mau membuka mata, maka psikolog atau psikiater yang menjelaskan pun tidak ada artinya.


"Fathan salah, Ma?"

__ADS_1


"Kamu nggak mikir, ya. Kalau ayah denger omongan kamu tadi, kamu mau dipukul? Kamu mau Mama dimarahin lagi? Pengen keluarga ini berantem terus?"


"Fathan nggak bermaksud begitu," jawabnya menekan, "tapi bener apa yang Fathan bilang, Fathan juga punya pilihan sendiri, Ma."


"Kamu punya pilihan, tapi keluarga ini juga punya aturan."


Anakku tampak berdecih, tak habis pikir dengan apa yang kuujar tadi seakan kehabisan kata untuk membalas. Aku tersenyum kecil melihatnya frustrasi tanpa suara, dia memendam amarah yang tak mampu dilampiaskan ke siapa pun sebelum pintu rumah kami diketuk berulang kali.


Atensiku beralih pada seseorang yang baru sampai, dia melenggang masuk seperti baru saja menjalani harinya sebaik mungkin. Tidak ada teriakan maupun lemparan tas seperti biasa, semua emosinya seolah-olah bisa dikendalikan sendirian. Ya, setidaknya sebelum anak terakhirku melihat Kakaknya terduduk pusing.


Fathan memijat bagian kening, tidak sadar telah menunjukkan bentuk emosinya kepada kami yang tidak seperti biasa. Berniat memahami orang yang berperasaan buruk, akhirnya Kalista menyempatkan waktu untuk duduk bersamanya di sofa sebelum bertanya lebih dahulu padaku.


"Kenapa, Bang?" tanyanya sembari merangkul pundak Fathan, "ada masalah? Ujiannya susah, ya? Di gue juga susah banget tadi pagi, untungnya semalem beneran belajar. Lo belajar kagak?"


Giliran aku yang mengembuskan napas. Aku tidak tahu bagaimana Fathan menghadapi adiknya kalau begini, apa dia bisa mengendalikan emosinya atau tidak, ya? Biasanya, Fathan sangat jarang terlihat emosional di hadapan kami. Dia tipe yang lebih suka menyendiri, aku tidak pernah melihatnya mendongkol.


Namun, aku tidak mau membuat rumah ini penuh dengan banyak pertanyaan. Jadi aku menjawabnya sederhana, "Kakak kamu ngisi data pengen kuliah di Sastra, tapi sama Mama nggak dibolehin."


"Lah, kenapa nggak?" Kalista bertanya-tanya, "lagian Fathan juga pinter tuh, Ma. Dia suka baca-baca buku atau novel apalah, kenapa nggak? Potensinya gede kali."


"Kamu nggak tau apa-apa."


Seperti ayahnya yang menepis penolakan dalam bentuk apa pun, Kalista bergerak menjauhi Fathan. Dia bangkit dari sofanya, menjaga posisi untuk saling membalas pesan antara aku dan anakku yang jaraknya terbilang jauh untuk dipukul.


"Aku emang nggak tau apa-apa, tapi aku tau Fathan bisa milih sendiri. Fathan selalu tanggung jawab sama tugasnya, dia jarang nyepelein semuanya. Jadi, kenapa nggak?"


"Sastra itu buat cewek, masa anak laki-laki sukanya baca-baca novel yang begituan. Malulah kalau tetangga pada tau, apalagi kalau ayah kamu yang denger. Ayah emang selalu ngedukung Fathan, tapi kita juga punya batesan."

__ADS_1


"Mama yang nggak bisa buat anaknya milih!"


"Mama kasih kebebasan selama ini banyak kurangnya?"


"Kebebasan?" Anakku terbahak-bahak, "maksudnya ngelarang Kakak futsal, komentar waktu aku main ke luar rumah. Nggak boleh main game, harus selalu iya-iya dan iya kalau dibilangin. Harus diem pas ayah ngomong, diem waktu ayah mukul, diem waktu Kakak juga diginiin Mama. Begitu?"


"Mama nggak pernah ngajarin kamu kayak ...."


"Emang nggak!" Dia memotong pembicaraanku, "emang Mama nggak pernah ngajarin aku atau Kakak kayak begitu, tapi Mama sama ayah yang ngebuat kita kayak begini."


Dalam sekali tarikan napas, Kalista melanjutkan perkataannya lagi. "Aku juga selalu dituntut buat lebih dari Kakak, aku selalu diminta belajar dan terus belajar meskipun aku masih susah istirahat sampe sekarang."


"Oh, kamu capek?" Aku menyela.


"Ya, aku capek. Mama mau bilang kalau aku nggak boleh ngeluh, 'kan? Aku nggak boleh capek, emangnya aku ngapain di rumah? Seharian main HP aja, iya 'kan?" Tampangnya meremehkanku, "mau sampe kapan pun Mama atau ayah ngebandingin rasa capeknya aku sama Kakak, nggak bakal ada habisnya."


"Kalista."


Kakaknya memanggil, membuat gelengan kepala sebagai bentuk penyudahan debat di antara kami. Fathan tidak mampu berkata lebih banyak, dia tampak capek dan tidak mau mengurus apa yang berada di hadapannya sekarang. Terlihat seperti lari dari kenyataan, aku membencinya yang selalu begitu.


"Mama nggak tau maunya kalian itu gimana, tapi kalau tetep nggak mau nurut ya silakan aja. Biar kalian yang langsung ngomong sama ayah, selama ini Mama udah ngebiarin, udah ngeiyain, udah nutupin kesalahan-kesalahan kalian. Sekarang Mama angkat tangan. Pilih aja sendiri."


"Ini bukan soal menang dan kalah, Ma!"


"Mama salah lagi?"


"Kita juga punya pilihan!"

__ADS_1


__ADS_2