
"Fathan itu nggak salah."
Aku mengembuskan napas, misuh-misuh tidak terima mendengar respons darinya yang berkata seenak hati. Didengar dari perkataan yang berjumlah empat kata saja, dia menganggap seolah apa yang terjadi di sekolah hanyalah pertengkaran anak Taman Kanak-kanak.
Pria itu bertingkah mengamati, bergerak menyelisik untuk mencari informasi yang kemungkinan disembunyikan oleh kami bertiga. Di antara aku, Fathan, dan Kalista yang duduk di hadapannya sekarang, cuma aku yang banyak bersuara dan menjelaskan apa yang terjadi seadanya dari laporan guru konseling itu.
Beruntung Cahyo berada dalam mood yang bagus, jadi tidak gegabah atau tidak seberisik biasanya yang kami kenal. Dia kelihatan netral hari ini, tidak tahu karena Fathan yang pertama kali membuat kesalahan atau memang tidak mau memperbesar masalah. Nyatanya, aku lebih tenang sekarang.
"Kamu nendang perut temen kamu?"
Pertanyaan pertama diarahkan kepada anakku, kepalanya masih setia menunduk sedari bangun dari tidur tadi sampai berhadapan dengan Ayahnya sekarang. Mungkin rasa bersalahnya melebihiku, dia tampak berusaha menjelaskan keadaannya juga.
"Iya, Ayah. Fathan nendang perut temen Fathan. Waktu itu emang lagi ujian, tapi si Orangnya malah asik ngobrol buat nanya jawaban. Diingetin sekali, dia malah ngeledek terus nyorat-nyoret kertas ujian Fathan. Habis itu berantem."
"Kok kamu nggak bilang kertas kamu juga dicorat-coret?" Aku lantas berpartisipasi, menerobos percakapan mereka karena telanjur kesal. "Kamu nggak bilang gitu ke Mama."
"Maaf."
"Karena si Kakak kagak dikasih kesempatan ngomong."
"Berisik!" Cahyo memperingatkan anaknya yang lain, menoleh dengan alis yang saling mengerut. "Nggak usah ikutan ngomong."
Kalista bertingkah 'Ya sudah' dengan gelagatnya yang bersedekap, membiarkan kedua tangannya terlipat rapi di bagian dada sembari memperhatikan kami yang persis memperagakan drama-drama di setiap channel televisi.
Anak perempuanku memang kelihatan menikmati percakapan kami, seakan yang berada di depannya merupakan sebuah tontonan edukasi penting untuk disaksikannya sekarang ini. Namun, bukan saatnya mengurus anak itu sekarang. Kami harus membahas masalah ini dengan matang.
Selanjutnya, suamiku mengambil lembaran kertas yang menjadi bukti atas surat peringatan anak pertamanya. Sebagai hukuman dan pelajaran penting untuk anak kelas SMA akhir, Fathan langsung menerima surat peringatan kedua dengan catatan yang berisi perlakuan tidak senonoh; kekerasan dan mengganggu kegiatan belajar atau ujian teman kelasnya.
Dibacalah surat itu baik-baik, bahkan Cahyo niat menggunakan kacamata miliknya yang biasa dipakai saat bekerja dari rumah saja. Beberapa detik kemudian, kepalanya menggeleng berulang kali seakan berujar 'Ada aja anak yang satu ini'.
"Temen kamu dapet surat ini juga?"
Kali ini, giliran Fathan yang menggeleng pelan. Menyatakan jawabannya sebaik mungkin tanpa menciptakan percikan api yang bisa membuat emosi Ayahnya bergejolak.
__ADS_1
"Nggak, Yah."
"Kok gitu?" Cahyo tampak tak terima.
Aku mengembuskan napas, tetapi tindakanku itu justru mengundang perhatian Cahyo yang kebetulan paham bahwa aku mengetahui alasannya. Jadi dia menelengkan kepalanya padaku, membuat setiap perhatian anggota keluarga ini berpusat di satu titik, kehadiranku menjadi sentral mereka di sini.
"Udah nanya gurunya?"
Kepalaku mengangguk, menjawab seadanya agar dia pun memahami kondisi anak-anakku untuk kedepannya.
"Kenapa?"
"Dia anak orang yang lebih mampu dari kita," kataku tanpa mengurangi atau melebih-lebihkan informasi. "Dia juga dianggap korban di masalah ini."
Seolah embusan napas yang berat menjadi tindakan bergilir, akhirnya Cahyo melakukan hal yang sama denganku. Kacamatanya diletakkan setelah kertas itu ditaruhnya lagi, kening suamiku dipijatnya sendiri seperti pusing menghadapi masalah yang tidak bisa dikendalikan olehnya.
"Udah, Fathan sekarang istirahat aja di dalem."
Mulanya, aku terkejut dan bisa bernapas lega. Entah seberapa beruntungnya aku dan anak-anakku sekarang, kami lepas dari pembahasan ini tanpa teriakan dari kepala keluarga yang biasa membuat seisi rumah bergetar.
Sayangnya, Kalista benar-benar sulit menutup mulut. Mendengar anaknya mengulang perkataan sang Ayah, pria itu menoleh seakan meminta penjelasan lebih lanjut atas ucapannya tadi.
"Kalau gue yang bermasalah, pasti diomelin. Giliran Fathan yang kena masalah malah disuruh istirahat, padahal dia lebih parah dibanding gue."
"Lebih parah?" Giliran Cahyo yang mengulang kalimatnya tadi. "Lo bilang Kakak lo lebih parah tapi tadi lo ngomong begitu, nyalahin yang nggak bener. Keliatan lebih parah siapa, 'kan?"
"Fathan salah, tuh!" balas anakku tidak mau kalah, posisi duduknya diubah sekarang. "Fathan nendang perut orang, sementara gue cuma ngebales apa yang temen gue lakuin! Jelas kita beda."
"Lo bangga ngelakuin itu apa gimana?"
Kalista terperanjat mendengar Cahyo berkata begitu, seakan apa yang dilakukan lawan bicaranya adalah mengalihkan topik. Dia masih akan membalas, berani beradu kata sampai emosinya benar-benar di bagian puncak.
"Nggak, deh. Anak kesayangan Ayah emang selalu bener."
__ADS_1
"Kalista."
"Oh, iya jelas. Fathan juara kelas, nurut, nggak banyak tingkah, nggak banyak keluar!"
"IYA, GUE YANG SALAH!"
"Ayah."
Aku langsung menarik lengan suamiku, menghambatnya yang hendak membuntuti gadis itu masuk ke dalam kamar dengan bantingan pintu. Kepalanya berhasil mendidih atas kelakuan anak bungsunya sekarang, bahkan deru napasnya pun tidak beraturan lalu mengempas cekalan tanganku tadi.
"Liat kelakuan anak lo sekarang, 'kan? Dari dulu dimanjain, begini nih jadinya! Jadi Ibu aja nggak becus lo!"
"Yah, Mama nggak salah apa-apa."
"Apa?" Cahyo menghampiri yang menyahut perkataannya tadi, bahkan tangannya lantas menarik kerah baju sang anak yang membuatku histeris meminta dilepaskan cepat. "LO KALAU NGGAK BISA JADI APA-APA SEENGGAKNYA JANGAN BUAT MASALAH!"
"AYAH, UDAH!"
Suamiku melempar kasar tubuh anaknya, lalu melampiaskan emosinya pada subjek yang lain. Baik aku, Fathan, maupun Kalista yang tiba-tiba ke luar dari kamarnya sama-sama terkejut melihat apa yang dilakukan pria ini sekarang.
Entah apa salahku atau apa tujuannya melakukan itu, aku tercengang hebat saat kepala ini terseret karena tangannya menjambak rambutku yang terurai. Dia menariknya paksa, menyebabkan kepanikan yang dahsyat sampai Kalista pun berlari dan ikut turun tangan menghentikan Ayahnya.
"Yah, lepasin!"
"Jangan-jangan selama ini lo cuma ngincer duit gue. Lo cuma mau manfaatin gue dan ngerusak hidup gue lewat anak-anak lo ini, 'kan? NGAKU LO!"
"AYAH!"
Kalista terlihat berusaha sekeras mungkin untuk melepas tangan Cahyo dari rambutku, begitu juga Fathan yang sepertinya menarik tubuh Ayahnya dari belakang. Sementara, aku cuma bisa menahan sakit dan berharap semua ini selesai atau jadikan saja ini mimpi burukku, Ya Tuhan. Bangunkan aku sekarang.
Seakan mendengar permohonanku, Cahyo melepas tarikan tersebut dengan kelakuan yang masih di luar kendali. Merasa risi dan benci dengan situasinya, suamiku langsung meninggalkan tempat dengan bantingan pintu yang melebihi anaknya.
Di sinilah kami, memeluk untuk pelik yang banjir dengan air mata membasahi pipi. Di malam yang menolak sunyi dengan hujan yang tidak mau berhenti, kami melepas penat atas apa yang telah terjadi, tanganku terarah mengusap kepala mereka sambil memeluk satu persatu anakku yang tampak tersiksa atas perlakuan Ayahnya tadi.
__ADS_1
Setelah apa yang terjadi barusan, aku bisa memastikan keadaan kami tidak akan mudah untuk dapat berinteraksi lagi. Akan ada penyesuaian, adaptasi yang kuat untuk bisa saling mengerti tentang kebutuhan masing-masing. Antara aku, suamiku, dan anak-anakku di dalam keluarga ini.