Beloved Violet

Beloved Violet
Violet


__ADS_3

"Dasar gadis cacat! Berapa kali Aku bilang, hah?! Berhenti meminta uang pada ayahku! "


Gadis berseragam sekolah itu menjambak rambut Violet yang sedang tersungkur di lantai. Violet hanya menangis menahan rasa sakit di kepalanya.


"Tapi dia juga ayahku, Bel, " ucap Violet.


"Tidak! Sekarang dia hanya ayahku! " Bella melepasakan jambakannya. Ia lantas menginjak tangan Violet. "Awas saja jika kau masih berani meminta uang pada ayahku! " lanjutnya berbisik.


Bella beserta teman-temannya pergi meninggalkan Violet di gudang belakang sekolah. Setelah Bella pergi tangis Violet benar-benar pecah. Sehari saja bisakah ia bersekolah dengan tenang? Kenapa Bella dan teman-temannya tak ada henti membully-nya? Apa karena ia cacat?


Bella sebenarnya adalah saudara Violet, saudara tiri lebih tepatnya. Namun Bella sangatlah membencinya. Tentu saja Bella membencinya, dia adalah orang cacat. Orang tuanya saja membuangnya.


Sejak ia masih kecil, Violet telah ditinggal berpisah oleh orang tuanya. Ayahnya menikah lagi dengan ibu dari Bella. Ibu Violet sendiri juga menikah lagi dengan lelaki single, dan kini mereka sudah mempunyai anak. Saat perpisahan itu terjadi, Violet kecil menangis histeris memeluk kaki ibunya. Gadis itu meminta untuk jangan berpisah.


"Violet, kamu mau ikut dengan siapa? Kamu mau ikut sama Ibumu, 'kan? "Ayah Violet bertanya padanya.


"Kok ikut aku, sih, Mas. Ya, ikut kamu dong! " Ibu Violet menyela.


"Ya, 'kan kamu ibunya. "


"Iya tapi Violet bukan bayi lagi. Kamu Ayahnya, dia harusnya ikut kamu! "


"Gak bisa! Calon istri aku juga punya anak seumuran sama Violet! "


"Ya, Aku juga gak bisa! "


Percuma Violet bersujud bahkan menangis darah sekalipun. Bahkan dengan teganya dua orang egois itu memustuskan bahwa diantara mereka tak satupun yang akan membawa Violet. Mereka tak mau merawat Violet.


"Vio, sayang. Kamu, 'kan sudah besar, bisa mandiri. Ibu sama Ayah gak bisa bawa Kamu. Kamu tinggal sendiri di sini, ya? Nanti Ibu sama Ayah akan kirim uang tiap bulan. "


Tangis Violet semakin histeris mendengar ucapan ibunya. Rasa sesak datang menghantam dadanya beriringan dengan rasa benci yang menyelinap ke dalam hatinya. Sejak saat itu, Violet benci Ayah, Violet benci Ibu. Violet benci orang-orang yang menjauh dan meninggalkannya.

__ADS_1


Alasan sebenarnya mereka enggan merawat Violet adalah karena gadis itu cacat. Violet itu berjalan pincang. Orang tuanya malu punya anak cacat. Padahal penyebab Violet cacat karena kelalaian mereka. Violet cacat karena kecelakaan. Ia tertabrak motor saat sepulang sekolah, itu dulu saat ia berusia sepuluh tahun. Ayah atau ibunya yang kala itu harusnya datang menjemputnya pulang dari sekolah malah tak juga kunjung datang. Hingga membuat Violet kecil harus pulang sendiri. Dan akhirnya kecelakaan itu tak dapat dihindari.


Gadis sekecil itu harus hidup sendiri tanpa ada bimbingan. Setiap harinya terlewati dengan tangisan. Tak ada kata bahagia untuk Violet setelah perpisahan kedua orangtuanya. Di sekolah Violet juga tak bisa merasakan indahnya masa sekolah. Hampir setiap hari dia dibully. Teman-temannya tak ada yang mau berteman dengan gadis cacat sepertinya. Semakin dewasa, Violet semakin menarik diri dari keramaian.


"Dasar gadis cacat! "


"Sudah cacat, jelek lagi. Dasar bebek buruk rupa! "


"Jangan dekat-dekat dengannya. Kita bisa tertular sial nanti! "


"Aku tidak mau berteman dengannya! "


Pandangan jijik dari orang-orang yang menatapnya membuatnya minder. Hal itulah yang membuat Violet menjadi pendiam. Akibat dari perpisahan kedua orang tua menghadirkan sosok Violet yang pendiam, mudah menangis, dan mudah ditindas. Kehidupan mandiri yang ia jalani tak melahirkan sosok yang pemberani, namun justru sosok yang penakut. Tak adanya orang tua yang menjadi pelindung membuat Violet menjadi gadis yang lemah. Tak ada tempat untuknya berkeluh kesah membuatnya menjadi rapuh.


*


*


*


Meski tak lagi meminta uang pada ayahnya, Bella masih sering membully-nya. Meski telah lulus sekolah sekalipun, Bella masih sering mempermalukannya di depan umum. Salah satu sumber luka Violet lainnya adalah semua perlakuan buruk dari Bella.


Sejak lulus dua tahun lalu, Violet kini bekerja di sebuah toko roti. Toko yang tak bisa dikatakan kecil, namun juga tak terlalu besar. Toko roti milik Buk Rosma inilah satu-satunya tempat yang mau menerimanya bekerja. Mengingat kondisinya yang cacat banyak orang tak menerimanya. Violet sendiri bukanlah gadis yang sangat pintar. Tak ada keahlihan khusus yang ia memiliki.


Namun untuk urusan membuat kue di sangat jago. Semua buatannya rasanya enak. Itulah sebabnya Bu Rosma menerimanya bekerja sebagai pembuat roti di tokonya. Violet sendiri hanya bisa mensyukuri pekerjaannya itu.


"Bu, Saya pamit. " Violet menyalimi tangan wanita paruh baya yang merupakan bosnya itu. Bu Rosma tersenyum simpul.


"Hati-hati, Violet. " Violet hanya menanggapi dengan anggukan.


Violet mulai melangkah keluar toko. Ia berjalan dengan pincang menyusuri trotoar menuju rumah. Waktu menunjukkan pukul delapan malam, masih belum terlalu malam. Kota tempatnya tinggal ini adalah kota yang padat lagi sibuk. Bahkan hingga jam menunjukkan pukul nol-nol, kota ini masih terus ramai. Inilah Jakarta, ibukota yang merupakan kota metropolitan.

__ADS_1


Tak ayal saat bertemu orang-orang, mereka pasti memandang Violet dengan pandangan aneh. Sebab Violet menutup sebagian wajahnya dengan rambut pendek hitam legam miliknya. Alasan Violet menguraikan rambutnya menutupi sebagian wajahnya adalah karena ada segaris bekas luka di pipinya. Akibat yang sama dari kecelakaan yang mengakibatkannya cacat.


Itulah sebabnya selain cacat, Violet juga dianggap buruk rupa. Walau sebenarnya Violet itu cantik. Ia memiliki hidung yang tak terlalu mancung. Kulitnya putih dengan bibir yang pink merona. Violet sendiri memiliki tubuh yang tak terlalu tinggi dan ramping. Andai ia tak cacat, pasti banyak orang yang menyukainya.


Tring


Tring


Violet mengambil gawainya dari saku hoodie. Tertera nama dalam layar panggilan itu.


"Tyas, " gumamnya lirih.


"Hallo, Yas! " Violet mendekatkan gawainya ke telinga. Ia mendengarkan dengan seksama perkataan orang di seberang sambungan.


"Tapi, Yas, Aku belum pernah ke sana, " protes Violet pada orang yang meneleponnya.


"Aku takut, Yas, " lirih Violet. Hingga panggilan itu terputus kemudian. Violet masih menatap lekat ponselnya.


*


*


*


Violet saat ini tengah berdiri menatap sebuah bangunan di depannya, itu adalah sebuah bar dan club malam.


"Bagaimana ini? Aku bahkan belum pernah datang ke tempat seperti ini. " Violet resah.


Ia kembali mencoba menghubungi Tyas, namun rupanya temannya itu tak menjawab panggilannya. "Tyas, kau menyulitkanku. "


Tyas adalah temannya, satu-satunya orang yang mau dengan tulus berteman dengannya. Dan baru saja gadis itu menghubunginya minta di jemput. Ternyata yang terjadi Tyas sedang mabuk. Tyas mabuk karena baru saja patah hati. Ia melampiaskan amarahnya dengan minum-minum.

__ADS_1


"Ck, seperti gak ada laki-laki lain saja, " kesal Violet.


__ADS_2