
"Nona! "
Ali memanggilnya, membuat Violet yang tertunduk langsung mengangkat wajahnya. Matanya terlihat sembab, terlihat jelas air mata yang mengalir dari matanya.
Ali menatapnya iba. "Nona, lebih baik Nona segera mengambil barang-barang Nona. Kita segera pulang saja, " ucap Ali.
Melihat Violet yang begitu tak berdaya membuatnya merasa begitu kasihan. Mata gadis itu sembab, air matanya mengalir bebas di pipinya. Sebagai anak kandung, Violet bahkan tak bisa mempertahankan haknya sebagai anak. Violet terlalu lemah hingga membuat Bella dengan mudah menindasnya.
Ketidakberdayaan Violet inilah yang mungkin membuat Tuan Kin mengasihinya. Bahkan Ali saja sekarang merasa, Ia harus melindungi gadis itu. Selain dari perintah Tuan Kin yang menuruhnya untuk melindungi Violet. Hati kecil Ali juga mendorongnya untuk menjaga Violet.
"Oh, Jadi ini pria hidung belang ini yang menyewamu? " Bella memincingkan matanya menatap Ali. Dengan tatapan merendahkan, Ia tertawa mengejek.
"Hei, Tuan! Anda ini buta, ya? Anda ini lumayan tampan lah, kok mau sama gadis cacat ini? Walaupun dia ini mura*an, tapi emang situ gak jijik lihat dia cacat begini?! " Bella menatap rendah Violet.
Violet hanya diam. Dia sudah biasa dengan segala hinaan dari Bella. Tangisannya sekarang adalah berkat rasa sakit yang lagi-lagi orang tuanya torehkan. Meski orang tuanya juga sudah sering memberikan luka, tapi rasanya tetap saja sakit. Ditelantarkan, tak dipedulikan, dan disepelekan, rasanya menyakitkan. Apalagi rasa sakit itu diberikan oleh orang tua sendiri. Orang yang harusnya menjadi sandaran yang seharusnya menjadi tempat keluh kesahnya saat Ia sakit dan terluka. Tapi kini, luka yang dia dapat, orang tuanya adalah pemeran utamanya.
Tyas yang mendengar ucapan Bella benar-benar sangat marah. Ia ingin membalas dengan ucapan pedasnya. Namun urung saat mendengar ucapan Ali.
"Terima kasih atas sanjungannya. Menurut saya, lebih baik jadi murahan dari pada gak ada harganya, " ucap Ali sembari mengamati penampilan Bella.
Baju kurang bahan yang memperlihatkan bahu mulusnya dan rok pendek yang memperlihatkan paha putihnya. Sangat indah sebenarnya, namun jauh lebih dari murahan. Dia tak ada harganya. Tubuhnya hanya menjadi tontonan gratis orang-orang yang melihatnya.
"Oh, iya, satu lagi. Sebenarnya saya tak ingin sombong tadinya. Tapi mau bagaimana lagi, melihat Anda yang begitu angkuh ini. Jika tidak dibalas dengan keangkuhan, takutnya Anda kurang puas. " sambung Ali. Ia tersenyum namun senyum itu sedikit menakutkan.
Bella menahan amarah mendengar setiap kata-kata Ali. "Oh, ya? Baiklah, kita lihat. Bagaimana orang buta sepertimu akan membalasku?! " angkuhnya.
Ali mengangguk kecil. "Sebelumnya perkenalkan, Saya Ali Permana. Saya adalah asisten pribadi Tuan Kin. Anda kenal Tuan Kin? "
Bella membulatkan matanya. "Tuan Kin? Asistennya? Kau, k--kau asisten Ali? "
"Ya. Saya di sini ditugaskan oleh Tuan Kin untuk menjaga Nona Violet. Saya tidak keberatan, Anda mengatakan bahwa saya pria hidung belang yang buta. Hanya saja takutnya, Tuan Kin tidak akan melakukan hal sama. Nona Violet adalah orang Tuan Kin. "
"Hahaha! " Bella tertawa keras. "Kau pikir Kau bisa membodohiku? Cih, ayolah. Selain CEO tampan, Tuan Kin adalah Model Fashion terkenal. Kau pikir, orang yang sekeren Tuan Kin tidak akan jijik melihatnya, " ucap Bella menunjuk Violet.
Sebenarnya Ia cukup terkejut dan takut saat Ali mengaku sebagai asisten pribadi Tuan Kin. Ia tahu asisten setia yang selalu ada di samping Tuan Kin. Dalam beberapa kesempatan, Ali kerap kali muncul di layar kaca. Hanya saja Bella tak begitu ingat wajahnya. Jadi ia ragu. Apalagi, mendengar ucapan Ali membuat Bella yakin bahwa dia bukanlah asisten Tuan Kin. Tidak mungkin Tuan Kin yang terlihat begitu memeperhatikan penampilan bisa dekat dengan Violet yang udik dan cacat.
__ADS_1
Violet menatap Ali, sedang Ali yang ditatapnya membalas dengan senyuman. Violet merasa tersentuh. Ali sampai-sampai menggunakan nama Tuan Kin untuk membelanya. Ia sadar, Ali adalah orang profesional. Ia tak mungkin akan bertindak ceroboh dengan menyeret nama Tuan Kin. Pasti Tuan Kin sendiri yang memintanya.
"Jadi Kau tidak percaya?! "
Suara dingin nan berat itu mengalihkan atensi orang-orang. Di sana, Tuan Kin baru saja turun dari mobilnya. Entah kapan dia datang tak ada yang tahu. Ia berjalan mendekat, dengan kaca mata hitam yang ia pakai, Ia berjalan dengan gaya coolnya. Kedatangannya seperti bintang jatuh yang tak diduga-duga.
Bella membulatkan matanya. Apa Ia tidak mimpi? Ia benar-benar bertemu Tuan Kin? Astaga, ini seperti mimpi. Ia bertemu dengan idolanya.
Tuan Kin berhenti di depan Violet, menatap gadis itu. Violet menundukkan pandangannya. Tuan Kin beralih menatap Bella.
"Apa yang tidak Kau percayai, Nona? "
Bella salah tingkah. "Emh, ini. Ini, Tuan ... pria ini mengaku-ngaku sebagai asistenmu dan dia bilang bahwa gadis cacat ini adalah orangmu. Dia begitu berani merendahkanmu! " balas Bella tersenyum manis pada Tuan Kin.
Tuan Kin beralih menatap Ali membuat Ali seketika menundukkan pandangannya. Melihat itu membuat Bella senang. Ia semakin yakin bahwa semua omongan Ali adalah kebohongan.
"Kau bekerja semakin baik, Li. Aku akan memberikanmu bonus! " seru Tuan Kin.
Bella melotot, Ia menjatuhkan bibir bawahnya. Ia menganga tak percaya. "T--tuan, jj--jadi dia ... Dd--dia? " Bella tergagap.
"Ah, **--tidak, tidak! " ucap Bella cepat.
Dalam posisi menunduk, Ali menaikkan satu sudut bibirnya. Seriangi tipis tertulis di bibirnya.
"Ada yang ingin Kau katakan, Li? "
Ali mengangkat wajahnya, Ia tersenyum. " Tuan, saya mengantar Nona Violet mengambil barang-barangnya. Tapi insiden kecil terjadi, ternyata rumahnya sudah di jual. Wanita ini datang untuk mengusir Nona Violet. Oh, ya ... dia juga tak sengaja merendahkanmu. Dia bilang, hanya orang buta yang mau dekat-dekat dengan Nona, " terang Li dengan gaya pongahnya.
Benar-benar cocok menjadi asisten Tuan Kin, mereka sama-sama angkuh.
Mata Bella melotot dengan keringat dingin yang bercucuran. Tatapan tajam Tuan Kin semakin membuatnya takut.
"**--tuan, saya, ss--saya. Saya tidak ber, b--bermaksud. " Bella gugup setengah mati.
Tuan Kin hanya menatapnya dingin. Ia kembali menatap Violet yang terus menunduk.
__ADS_1
"Apa Kau begitu menginginkan rumah jelek ini? " Tuan Kin bertanya padanya.
Violet diam.
"Kau belum berubah tuli, 'kan?! "
Violet menggeleng. "Rumah ini sudah bukan milik saya, Tuan. "
Tuan Kin memutar bola mata malas.
"Apa rumahku kurang bagus sampai-sampai Kau menginginkan rumah jelek ini? " tanya Tuan Kin dengan ekspresi kesal.
"Saya tidak bilang bahwa saya menginginkan rumah ini. "
"Kau tidak bilang, tapi Kau menangisinya, " sindir Tuan Kin dan Violet hanya diam.
"Li, tidak perlu mengambil barang-barangnya. Langsung bawa dia pulang! "
Ali mengangguk patuh.
"Tuan .... " Violet mengangkat wajahnya hendak protes.
"Jangan membantahku! " tegas Tuan Kin.
Tuan Kin lalu kembali menatap dingin Bella. Tubuh gadis itu sudah bergetar ketakutan. Ia cukup sadar seberapa berbahaya jika menyinggung Tuan Kin.
"Aku tidak peduli apa yang Kau pikirkan. Ini peringatan pertama, jangan pernah mengganggu Violet lagi. Tapi jika Kau ingin bermain denganku, Kau coba saja ganggu dia. Dengan senang hati akan kutemani Kau bermain-main! "
"T--tapi, Tuan.... "
"Hanya sekali kuperingatkan! Untuk yang kedua kali, siap-siap saja kuhancurkan keluarga kecilmu itu! Ingat, aku tidak pernah main-main dengan ucapanku! " tandas Tuan Kin.
Tuan Kin, Asisten Li, juga Violet dan Tyas pergi meninggalkan pekarangan rumah yang dulu pernah Tyas tinggali. Mulai sekarang Sepertinya Violet hanya bisa tinggal di istana mewah milik Tuan Kin.
"Si alan! Bagaimana bisa gadis cacat itu mengenal Tuan Kin?!! "
__ADS_1