Beloved Violet

Beloved Violet
Kau punya bibir yang manis


__ADS_3

Cup!


Netra indah Violet membulat saat merasakan kecupan manis di bibirnya. Ia berkedip-kedip menatap netra Tuan Kin yang terpejam, terlihat sangat menikmati.


"Kau punya bibir yang manis, " ucap Tuan Kin mengusap lembut bibir merah muda yang tadi ia kecup lama.


"Tu--tuan.... "


"Anggap ini hadiah untukku, " sela Tuan Kin.


Violet mendorong Tuan Kin agar menjauh, ia memalingkan wajah ke arah cendela mobil. Violet merasakan pipinya memanas, ah, pipinya mungkin sudah memerah macam udang rebus. Kecupan ini mengingatkannya pada kejadian malam. Bedanya malam itu Tuan Kin melakukannya dengan penuh na*su dan sangat kasar, tapi malam ini Tuan Kin menciumnya dengan lembut dan tulus.


Violet memegang dadanya, ia dapat merasakan bahwa jantungnya menggila di dalam sana. Bahkan Violet bisa mendengarkan detaknya. Terdengar deg-degan.


Tuan Kin tersenyum melihat Violet yang nampak malu-malu. Ia menjilat bibirnya sendiri, dapat ia rasakan sensani manis dari bibir Violet yang masih menempel di bibirnya. Entah angin dari mana hingga Tuan Kin tiba-tiba mencium Violet. Tuan Kin hanya tak tahan untuk tidak tergoda melihat bibir Violet yang nampak s*xy di matanya.


Di depan kemudia, dengan mencengkeram kuat stir mobil, wajah Asisten Ali ikut memerah layaknya wajah Violet. Ia yang tak pernah mencium wanita merasa takjub dan tersipu sendiri melihat Tuan Kin dan Violet berciuman.


"Si alan! Otakku tiba-tiba memikirkan sesuatu yang enak-enak! " umpat Asisten Ali.


*


*


*


Sesuai prediksi, berita tentang Tuan Kin yang mengakui Violet sebagai wanitanya benar-benar telah menyebar luar. Membuat sebagian orang berdecak kagum tapi ada juga yang langsung mencibir.


Semua orang berduyun-duyun mencari informasi tentang Violet. Semua orang menyorotinya, mereka dibuat menganga ketika tahu siapa Violet sebenarnya.


Identitasnya yang sekian lama ditutupi kini telah terungkap. Violet anak kandung dari seorang istri pengusaha kaya dan ayah kandungnya juga adalah orang yang kaya. Publik heboh mengetahui fakta ini.

__ADS_1


Margi Mulyo, suami dari Sinta itu cukup terkenal di kalangan pebisnis. Perusahan krontuksi dan properti miliknya cukup terkenal. Apalagi perusahaan kontruksinya sering kali dipercayai untuk membangun berbagai gedung-gedung mewah. Perusahaan milik Margi juga bekerja sama dengan perusahaan Tuan Kin. Meski terkenal, nyatanya masih belum dapat menyayangi kehebatan Tuan Kin.


Hadiyanto sendiri memiliki sebuah perusahaan penyedia bahan-bahan bangunan. Perusahaan itu sebenarnya milik Wulan yang merupakan warisan dari suaminya yang telah meninggal. Di tangan Hadi, perusahaan itu kian berkembang. Apalagi Hadi bekerja sama dengan Margi.


Begitu banyak orang yang bersimpati pada Violet. Ketika ibu dan ayahnya yang telah bercerai mampu menjalin hubungan baik, Violet justru ditelantarkan. Ia tak dianggap dan dibuang. Ibu dan ayah Violet bahagia di atas penderitaannya.


Selama ini orang-orang hanya tahu bahwa Sinta dan Hadi bercerai tanpa anak. Mereka semua tak tahu ada Violet yang merupakan buah dari cinta yang pernah Hadi dan Sinta rajut.


Banyak orang mulai menyumpahi dan mengutuk Sinta serta Hadi. Mereka mengecam tindak buruk mereka pada Violet. Di sisi lain, Violet sebenarnya tidak lagi ingin mengungkapkan identitasnya. Akan tetapi ternyata semuanya terbongkar oleh Vino. Adik kecilnya yang ia benci itulah yang pada akhirnya menunjukkan kebenaran pada dunia.


"Si alan! Bagaimana sekarang? Bisnisku bisa hancur kalau begini! " pekik Margi.


Pesta ulang tahun yang ia buat untuk menyenangkan istrinya justru membawa petaka padanya. Ini semua karena kehadiran Violet dan Tuan Kin di pesta itu.


"Aku juga tidak tahu, Mas. Aku tidak menyangka Tuan Kin bisa dekat dengan anak ini! " geram Sinta yang bahkan enggan menyebut nama Violet.


Kesenangan atas kehadiran Tuan Kin di pestanya justru membawa akhir yang buruk. Tuan Kin datang bukan untuk memberikan selamat, tapi memberikan sebuah bencana. Kini, citra mereka telah buruk. Apalagi secara tidak langsung Tuan Kin menyatakan permusuhan dengan mereka karena mereka telah menelantarkan Violet.


Ia merasa sangat malu, terlebih lagi pada rekan-rekan bisnisnya. Orang-orang yang akan bekerja sama dengannya kini mulai menarik diri. Untung saja kerja sama yang sudah terjadi tidak ikut dibatalkan, sebab sudah terikat kontrak. Setidaknya perusahaannya masih bisa di selamatkan sementara waktu itu.


Berbeda lagi dengan Hadi, ia benar-benar pusing sampai rasanya kepalanya itu mau copot. Ancaman Tuan Kin semalam benar-benar bukanlah candaan. Kini banyak pelanggannya yang mulai pergi. Mereka tak lagi mau membeli bahan baku bangunan dari perusahaannya. Mereka mungkin takut pada ancaman Tuan Kin.


"Kita benar-benar akan bangkrut jika begini..., " lirih Hadi menjambak rambutnya sendiri. Ia terduduk lemas di sofa bersama dengan Wulan dan Bella yang tak kalah lemasnya.


"Ini gara-gara anak cacat itu! " geram Wulan.


"Ya, Ma. Bisa-bisanya ia menjadi wanita Tuan Kin, anak bodoh itu tidak pantas! " dengus Bella.


Hadi bertambah stres mendengar gerutuan anak dan istrinya. Ia mengerang dan mengacak rambut dengan frustasi.


"Kalian ini bisa diam tidak?! Yang salah itu kalian, kalau saja kalian tidak cari masalah dengan Violet, Tuan Kin nggak akan ngelakuin ini semua! " sentak Hadi dengan sangat keras. Ia lantas pegi meninggalkan Wulan dan Bella yang terdiam dengan tangan terkepal.

__ADS_1


"Si alan! "


"Lihat saja gadis cacat, aku akan membalasmu! "


*


*


*


Violet baru selesai ngampus. Ia berjalan menuju mobil yang terpakir di tempat parkir kampus. Seorang pria membukakan pintu begitu melihat kedatangan Violet. Belum sampai Violet masuk, langkahnya urung sebab ada yang memanggilnya.


"Violet! "


Violet menautkan alisnya saat melihat ... Sinta berjalan ke arahnya. Benar yang dikatakan Tuan Kin, wanita itu pasti datang padanya. Entah apa yang akan Sinta lakukan tapi yang jelas Tuan Kin mengingatkannya untuk tidak terpengaruh sama sekali.


Sinta berdiri di depannya dengan tatapan nyalang. Andai yang berdiri di depan Sinta saat ini adalah Violet yang dulu, ia pasti sudah menunduk takut. Tapi tidak lagi, kini yang Violet perlihatkan adalah tatapan mengintimidasi dan merendahkan.


"Wah, wah! Ada angin apa, nih, sampai Nyonya Sinta yang terhormat datang menemui saya? "


Sinta menatapnya dengan sangat tajam, ada kilatan amarah di matanya. Apalagi setelah mendengar sambutan Violet yang seperti tanpa dosa, gadis itu sepertinya tidak menyadari kesalahannya.


"Dasar anak tidak tahu diri! Inilah sebabnya saya tidak mau mengakui, kamu! Pada akhirnya, kamu, itu hanya akan mempermalukan saya! " hardik Sinta menunjuk Violet dengan jarinya. Wajahnya terlihat merah padam.


"Saya juga tidak butuh pengakuan, anda! Sejak anda memilih membuang saya, sejak saat itu saya tidak menganggap, anda, ibu saya! " balas Violet dengan sengit. Tatapannya mungkin setajam silat, terasa angkuh dan kuat. Namun siapa yang tahu bahwa hati Violet merasa sakit setiap kali mendengar kalimat-kalimat hina dari Sinta.


Setelah kejadin semalam, bukannya sadar Sinta justru semakin menjadi-jadi. Ia justru menyalahkan Violet dan terus mengutuki gadis itu. Sinta sama sekali tak menyadari bahwa ini adalah karma pertama dari tindak-tanduknya yang buruk pada Violet.


Tak ada penyeselana ... Sinta justru semakin membenci Violet.


"Kamu memperlakukan keluarga saya! Kamu harus bertanggung jawab, keluarga saya bisa hancur karena kamu! " geram Sinta.

__ADS_1


Violet menarik sudut bibirnya. "Bertanggung jawab? Jangan berbicara tentang tanggung jawab denganku, anda bahkan tidak pantas berbicara seperti itu! "


__ADS_2