
"Kalian tidak berbakat dan sangat bar-bar! "
Tyas mendengus mendengar cetusan lelaki di yang telah menolongnya dan Violet tadi. Tyas lebih memilih merapikan baju Violet yang nampak berantakan dan sedikit basah.
"Si alan! " umpat Tyas untuk yang kesekian kali.
Violet tersenyum tipis menatap Tyo, pemuda tampan itulah yang telah menolongnya. Sebenarnya, ini bukan yang pertama kalinya pemuda itu menolongnya. Sebab, kakak laki-laki dari Tyas itu sama baiknya dengan Tyas. Hanya saja ia sedikit ... nakal.
Sebenarnya ini bukan pertama kalinya Tyo menolongnya. Pemuda tampan itu sudah sering kali membantu Violet. Dia cuek, tapi sangat baik seperti Tyas.
"Terima kasih, Bang. Untunglah ada, Abang, tadi, " ucap Violet memanggil Tyo dengan sebutan 'Abang' sama seperti Tyas.
Tyo malah mendelik. "Kamu itu nyusahin. Bodoh! Lemah! Cengeng! Udah dimodalin orang kaya juga masih nyusahin! " cetus Tyo seenaknya. Ia bisa berkata seperti itu sebab tahu bahwa Violet kini tinggal bersama Tuan Kin. Tyas yang menceritakannya.
Plak!
Langsung saja Tyas memukul mulut se*y kakaknya itu. Kalau ngomong emang gak pernah dipikir dulu, selalu seenaknya. Ya, sama sebenarnya sama dia. Cuman Tyo lebih parah, kalau ngomong gak pernah salah. Selalu bener tapi nyakitin hati orang.
Bukannya marah, Violet justru tersenyum tipis. Dia sudah terbiasa dengan watak Tyo yang asal ceplos. Tapi menurutnya itu lebih baik, karena artinya dia tidak munafik. Terkadang omongan Tyo yang selalu apa adanya itu justru selalu menguatkannya.
"Mulutmu, Bang, pengen ku ganti sama mulut buaya biar kalau bicara itu ada manis-manisnya, " cibir Tyas.
"Hilih! Aku yang pengen ganti adek, bosen punya adek bego kayak kamu! " balas Tyo tak kalah.
Tyas kian mendelik. Violet terkekeh melihat mereka bertengkar, memang sudah biasa sebab mereka memang jarang akur.
"Dulu, 'kan abang bilang, supaya kau itu belajar beladiri. Aku ini abangmu tapi sekali aja kamu tak pernah dengar ucapanku, " ketus Tyo. Meski nada bicaranya terdengar mencibir, dua gadis itu mampu menangkap kekecewaan besar yang Tyo rasakan.
"Nggak bisa gelut, bisanya cuman jambak-jambakkan. Apaan itu? Nggak etis banget, " cibir Tyo. Pasalnya Tyas dan Violet tadi memang terlihat sangat bar-bar saat bertengkar. Mereka bertengkar dengan cara saling jambak, cewek banget sih emang. Hahaha....
Meski selalu cuek dan terkesan tidak peduli, nyatanya Tyo sangat menyayangi Tyas. Dia pernah menyuruh Tyas untuk belajar ilmu beladiri agar mampu melindungi diri jikalau seandainya Tyas dalam bahaya, ya, seperti kejadian hari ini.
"Apaan, sih, Bang! " ketus Tyas memalingkan wajah membuat Tyo mendengus dengan kesal.
"Tuh, 'kan! Durhaka banget jadi adek! "
Tyo adalah seorang pemuda dengan perawakan tinggi jakung. kepribadiannya lebih ke cuek dan sedikit berandal. Umurnya hanya selisih dua tahun dari Tyas juga Violet. Tyo juga sosok pria idaman. Dia tampan, juga lumayan pintar. Gak jauh-jauh amat dari Tuan Kin.
Tyo melirik Violet yang tertawa karena tingkahnya juga Tyas. Ia tersenyum tipis melihat gadis itu tertawa, terlihat cantik apalagi kini gadis itu tak lagi menutup sebagian wajahnya.
"Sekarang semakin sulit mendekatimu. "
*
__ADS_1
*
*
"Hallo, Tuan! "
[Katakan saja, Li!]
Asisten Ali menelan saliva susah sebelum berkata, " Nona mengalami sedikit masalah di kampus, Tuan. Ada sekelompok preman yang mengganggunya. "
Di tempat Tuan Kin kini, ia menggebrak meja dengan sangat kuat hingga membuat peserta meeting terkejut. Mereka memegang dada saking kagetnya. Mereka hanya bisa bertanya-tanya dalam hati apa yang membuat bos mereka itu terlihat sangat marah. Lagipula, mereka juga tak bisa menegur. Mereka tidak punya keberanian untuk menegur CEO mereka itu.
"Apa saja yang, Kau, lakukan, Li? " geram Tuan Kin tertahan. Semua bawahannya saling pandang melihat bos mereka yang terlihat murka. Terpaksa meeting tertunda sementara.
[Anu, Tuan. Nona melarang kami ikut masuk ke dalam, kami hanya bisa mengawasi dari luar kampus.]
"Bodoh! Siapa yang menggajimu, hah? Kenapa kau malah menuruti perintahnya?! " sentak Tuan Kin dengan keras.
[Maaf, Tuan] lirih Asisten Ali dari seberang.
Tuan Kin menghela nafas kasar. "Bagaimana keadaannya sekarang? " tanyanya dengan khawatir. Teringat bahwa Violet baru saja membuka diri dan ini adalah hari pertamanya kuliah. Tuan Kin tidak ingin Violet menjadi penakut lagi sekarang.
[Nona baik-baik saja. Ada seorang pemuda yang menolongnya, Tuan.]
[Kakak dari teman Nona, Tuan.]
Tuan Kin terdiam sejenak mendengar jawaban Asisten Ali.
Tuan Kin mulai tenang membuat para bawahannya bisa bernafas lega. Tadinya mereka merasa sesak nafas melihat kemarahan bos mereka itu. Mereka sudah sering melihat Tuan Kin marah-marah dan itu selalu saja terlihat menakutkan.
"Lakukan apa yang harus, kau, lakukan, Li. Beri mereka pelajaran! " perintahnya lalu memutuskan sambungan secara sepihak.
Kembali ke tempat di mana Asisten Ali berada, yaitu di area luar kampus tempat Violet kuliah. Ia menghela nafas lega begitu sambungan diputuskan. Rasanya ia sampai gemetaran mendapat kemarahan dari Tuan Kin.
"Ah, Nona. Anda membuat saya berada dalam masalah.... " keluhnya menatap bangunan tinggi kampus.
*
*
*
Bulan mulai beranjak meninggi di langit. Bulan terlihat indah di antara bintang-bintang. Seakan memberikan arti bahwa sendiri juga bukanlah hal yang buruk.
__ADS_1
Tuan Kin berjalan memasuki mansionnya. Sebenarnya sudah sejak tadi sore ia ingin pulang tapi pekerjaannya yang tidak bisa ditinggalkan membuat dia terpaksa mengurungkan niat. Ia hanya bisa menanyakan kondisi Violet lewat asistennya. Sungguh ia khawatir, apalagi setelah asisten Ali memberinya kabar buruk.
Langkah Tuan Kin memelan saat melihat Violet duduk membungkuk di sofa ruang tamu. Gadis itu terlihat sedang moncoter-coret sesuatu yang berada di atas meja. Ini sudah sangat malam, kenapa dia masih ada di sini? Apa dia sengaja menungguku? Pikir Tuan Kin.
"Ekhem! "
Deheman Tuan Kin membuat Violet terkesiap. Ia menegakkan tubuh dan menatap Tuan Kin yang berdiri menjulang di depannya.
"Tuan! Akhirnya, Tuan, pulang! " seru Violet senang.
Tuan Kin berdehem. "Kenapa menungguku? "
Violet tersenyum dengan wajah cerah, tak ada tekanan meski di hari pertamanya kuliah sudah mendapatkan penindasan. Tuan Kin tertegun melihat wajah polos itu tersenyum. Bahkan Tuan Kin sampai lupa bertanya apakah Violet baik-baik saja. Namun kelihatannya dia baik-baik saja, Violet nampak ceria atau mungkin hanya pura-pura ceria.
Sudahlah, Tuan Kin tidak ingin menanyakan tentang kejadian tadi dan justru membuat Violet tertekan.
Wajah Violet tanpa make up, juga tidak ditutupi rambut. Violet berani membiarkan Tuan Kin melihat bekas lukanya. Ia tak perlu malu atau takut, sebab tak ada tatapan jijik saat Tuan Kin melihatnya.
"Emm, aku ingin meminta saran dari, Tuan, " jawab Violet. Ia berdiri, membawa kertas-kertas yang ia coret-coret tadi ke hadapan Tuan Kin.
Tuan Kin mengamati kertas-kertas itu. Coretan-coretan di dalamnya membentuk sebuah desain gaun yang sangat indah. Tak hanya satu dua, tapi ada beberapa. Semuanya terlihat sangat cantik dan indah.
"Kau yang membuatnya? " tanya Tuan Kin tanpa mengalihkan pandangan.
Violet tersenyum. "Iya, Tuan. Seandainya aku benar-benar menjadi desainer nanti, aku ingin bekerja pada, Tuan. Ini adalah rancangan pertama yang aku buat, sudah lama, sih. Aku ingin, Tuan, melihatnya. Aku ingin mendapatkan kritikan dari, Tuan, " terang Violet.
Tuan Kin termangu menatap Violet yang tersenyum manis. Gadis itu tidak lagi takut padanya. Violet mulai terbuka padanya. Tuan Kin merasa sangat senang, sekarang Violet tidak lagi malu-malu padanya atau takut padanya.
Ini kemajuan yang bagus.
"Sangat indah. Kau hebat! " ucap Tuan Kin.
Tentu saja Violet langsung berbinar senang, ia memekik tertahan. Awalnya ia malu untuk menunjukkan rancangannya itu, tapi karena ia tak lagi ragu pada kebaikan Tuan Kin, Violet pun memutuskan untuk menunjukkanya. Ia merasa, setiap tahap-tahap yang ia lalui harus Tuan Kin ketahui. Violet merasa hidupnya sudah ada dalam kendali Tuan Kin sejak ia menandatangani surat perjanjian itu.
"Benarkah, Tuan? " Tuan Kin hanya mengangguk.
"Jika kau mengizinkan, aku akan memproduksi gaun-gaun ini, " ujar Tuan Kin yang membuat Violet membulat tak percaya.
"Tuan ... tapi ini tidak sebanding dengan gaun mewah yang pernah perusahaan, Tuan, buat.... " lirih Violet tak yakin.
"Ini bagus. Untuk menandingi desainer-desainer hebat di perusahaanku, itu belum waktumu, Violet. Semuanya butuh proses, perlahan saja, " ucap Tuan Kin yang membuat netra Violet langsung berkaca-kaca. Violet terharu.
"Tuan...? "
__ADS_1
"Anggap saja ini hadiah dariku karena, kau, mulai berani sekarang! "