Beloved Violet

Beloved Violet
Hadiah dari Tuan Kin


__ADS_3

"Mulai sekarang, Kau akan menjadi pelayan pribadiku! "


Seketika itu, Violet hanya bisa mendongak dan menatap Tuan Kin. Tanpa bantahan Ia hanya diam saja. Orang seperti Tuan Kin, akan percuma jika Ia berdebat dengannya. Tuan Kin tipe orang yang tidak suka dibantah, toh Violet sudah mencobanya sendiri tadi.


"Baiklah, sepertinya Kau sudah setuju, " ucap Tuan Kin saat melihat Violet hanya diam.


"Jadi Saya tidak dipenjara, Tuan? "


"Jadi Kau, lebih suka dipenjara? " Tuan Kin balik bertanya.


Violet langsung menggeleng. "Tapi, Tuan ... bagaimana dengan pekerjaan Saya? " tanya Violet kemudian.


"Kau harus berhenti bekerja di toko kecil itu. Kau tenang saja, Aku akan menggajimu bahkan lebih besar dari gajimu selama ini, " balas Tuan Kin.


"Tapi.... "


"Ah, Kau lebih suka dipenjara sepertinya? "


"Tidak, Tuan! Tidak! " Violet langsung menyangkal cepat. Baiklah, Dia tak bisa berdebat.


Violet terdiam tapi kini tidak lagi menunduk. Ia justru memandangi Tuan Kin yang sedang duduk santai itu. Bahkan saat seorang pelayan datang memberikan berkas pada Tuan Kin, itu tak membuatnya mengalihkan pandangan. Sebenarnya, daya pikat Tuan Kin sangatlah kuat. Setiap orang yang menatapnya akan kesulitan mangalihkan pandangan. Tak ada yang sempurna di dunia ini, namun Tuan Kin bahkan nyaris sempurna. Dia Kaya dan tampan.


Violet akui ketampanan Tuan Kin memang memabukkan. Dia tenggelam ke dalam pesonanya. Hingga, kesadaran Violet akhirnya kembali saat Tuan Kin kembali berucap.


"Namamu Violet, tidak ada nama panjang. Ayahmu bernama Hadiyanto dan Ibumu bernama Sinta Ayunda. Kau adalah anak tunggal. Apa Aku, benar? " Tuan Kin bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas-berkas yang ada di tangannya. Berkas-berkas itu adalah informasi lengkap tentang Violet. Dari Violet lahir hingga sekarang.


Violet hanya diam menatapnya. Mendadak Tuan Kin begitu menyeramkan. Walau tadi Ia sempat berpikir bahwa Tuan Kin tidak seseram yang di rumorkan. Namun nyatanya sekarang Tuan Kin terlihat begitu menyeramkan. Mendapatkan informasi lengkap tentang hidup orang lain?

__ADS_1


"Saat kecil Kau pernah kecelakaan, itu membuat kakimu jadi cacat dan itulah sebabnya Kau mengurai rambutmu menutupi sebagian wajahmu, Kau menutupi bekas luka dari kecelakaan itu. Apa Aku masih benar? "


Bahkan sedetail itu? Bukankah ia menakutkan? Tuan Kin begitu mudah mendapatkan informasi tentang Violet yang tandanya juga mudah bagi Tuan Kin untuk menghancurkannya. Violet diserang rasa takut sekarang. Apakah menjadi pelayan pribadi belum cukup untuk membalas perbuatan Violet?


Violet menundukkan kepalanya saat Tuan Kin menatapnya.


"Orang tuamu bercerai dan Kau hidup sendiri sejak itu. Ayahmu menikah lagi dengan seorang janda kaya raya yang mempunyai putri seusia denganmu. Sedang Ibumu menikah lagi dengan seorang seorang pengusaha kaya. Kau hidup sendiri sejak umur sepuluh tahun. Saat sekolah, Kau selalu dibully oleh saudara tirimu. Ayah Ibumu membuangmu dan semua orang merendahkanmu. Malang sekali hidupmu.


Bahkan, Kau saja tidak bisa membalas perbuatan saudara tirimu yang terus-terusan membully-mu. Kau terlalu lemah. Violet, apa Kau ingin membalas dendam? "


Violet sepenuhnya menatap Tuan Kin. Ia mencoba memahami apa yang pria itu inginkan. Kenapa pria itu sampai menyelidiki kisah hidupnya. Kalimat panjang yang keluar dari mulut Tuan Kin adalah kenyataan. Kenyataan yang selalu membuat Violet rapuh.


"Tuan, apa Anda benar-benar Tuan Kin si CEO yang dingin itu? " tanya Violet. Baginya aneh mendengar Tuan Kin berbicara sepanjang itu sedang sejauh yang Ia tahu bahwa pria itu terkenal dingin.


"Dingin? "


Tuan Kin menatapnya datar. "Dingin bukan berarti tidak bisa bicara! "


"Emh. " Violet menyengir sungkan. "Apa pentingnya Aku mau balas dendam atau tidak bagi, Tuan? Apa untungnya untukmu? " lanjut Violet bertanya.


Tuan Kin terdiam sebentar. "Tentu saja karena sekarang Kau adalah orangku. Dan aku tidak akan membiarkan orang-orangku ditindas, " jawab Tuan Kin kemudian.


Jawaban itu mungkin masuk akal, namun tidak masuk di akal Violet. Violet saja belum benar-benar bekerja sebagai pelayan pribadinya. Dan ini adalah kali kedua mereka bertemu. Wajar jika Ia berpikir bahwa Tuan Kin memiliki maksud lagi, apalagi pria itu sampai memiliki informasi lengkap tentang hidupnya.


"Aku hanya bertanya, apa Kau benar-benar tak ingin membalas orang-orang yang telah merendahkanmu? Kau tidak ingin membuktikan pada orang tuamu bahwa Kau pantas dibanggakan? "


Pertanyaan itu, perlukah sebuah jawaban? Adalah orang yang disakiti dan tidak dendam? Jika ada, beritahu Violet. Violet akan sungkem padanya. Tak ada orang yang ingin disakiti, tak ada orang yang ingin direndahkan dan dihina. Sama! Sama seperti Violet. Tak hanya sakit tapi juga benci dan dendam.

__ADS_1


"Itu tidak penting, Tuan. Saya sudah terbiasa, " jawab Violet. Nyatanya Dia memang sudah terbiasa dengan hinaan dan rasa sakit.


"Lagipula, apa yang bisa Saya lakukan? Tidak ada, Tuan. Membuktikan pada orang tua Saya bahwa Saya bisa dibanggakan? Hahaha.... " Violet tertawa miris. " Orang cacat seperti saya, apa yang bisa dibanggakan. " lanjutnya dan diakhiri dengan kekehan kecil.


Violet terlihat sangat menyedihkan. Dia terlihat tak berdaya di mata Tuan Kin. Gadis itu tersenyum padanya, namun senyum itu penuh derita. Sorot mata tak berdaya itu tak bisa membohongi Tuan Kin.


"Ini adalah hadiah dariku. Aku bisa membantu membalas orang-orang yang telah membuangmu dan menghinamu. Kau bisa menggunakanku untuk membalas dendam, " seru Tuan Kin.


Hening yang kini terjadi.


Dua orang itu sama-sama terdiam. Tuan Kin yang anteng duduk di sofa dan Violet yang juga betah berdiri. Jari-jemari kedua tangannya saling meremas. Menandakan kecemasan kini Ia rasakan.


Violet jadi teringat dengan pembicaraan dengan Tyas tempo lalu. Tentang Tyas yang selalu mendesaknya untuk berubah dan membalas dendam. Perdebatan-perdebatannya dengan Tyas selalu berakhir dengan Violet yang menangis hingga membuat Tyas tidak tega.


Kini, Tuan Kin sama dengan Tyas. Menyuruhnya balas dendam. Bahkan Tuan Kin menawarkan dirinya untuk membantunya membalas dendam.


"Anda tidak bercanda? Tuan, saya rasa Anda tidak perlu memberikan saya hadiah. Anda terlalu baik, " terang Violet. Bukannya Ia menolak tawaran Tuan Kin. Bahkan tawaran itu benar-benar menggodanya hingga Ia tak ingin menolak. Tapi, ini terlalu cepat. Dan Tuan Kin akan membantunya cuma-cuma, 'kan?


"Kau terlalu lemah! Aku memberikan hadiah yang akan membuatmu bisa membalas orang-orang itu. Kau yakin tak mau? "


"Ss--saya.... "


"Baiklah. Kau bisa memikirkannya. Hadiah ini hanya untukmu, Aku memberikannya. Kuharap Kau tidak mengecewakanku! "


Tuan Kin beranjak dari duduknya. Ia melangkah pergi meninggalkan Violet sendiri di ruangan itu.


Violet hanya menatapnya saja. Yang Ia pikirkan adalah ucaman terakhir Tuan Kin. Terdengar seperti sebuah harapan namun juga seperti perintah yang tak ingin dibantah. Kalimat terakhirnya seolah menggambarkan bahwa Tuan Kin tidak suka sebuah penolakan.

__ADS_1


Apa pertemuannya dengan Tuan Kin ini adalah hal baik? Ataukah hal buruk? Haruskah Ia bersyukur? Atau haruskah Ia mengutuki Tuan Kin yang dengan seenaknya menjadikannya pelayan? Tuan Kin memberikannya hadiah yang bahkan tak pernah terlintas dalam pikirannya. Ibarat sebuah bintang jatuh yang menimpa dirinya. Luar biasa namun juga menakutkan.


__ADS_2