Beloved Violet

Beloved Violet
Bukan ibu yang baik


__ADS_3

"Bunda mau ulang tahun. Bunda buat pesta meriah, Kakak, datang ya? "


Violet hanya melirik dan diam tak menjawab. Bundanya mau ulang tahun, ya? Ah, Violet sampai lupa hal itu. Lagian kenapa juga dia harus mengingatnya sedangkan bundanya itu tak pernah ingat padanya.


"Kak, bunda pasti senang kalau, Kakak, datang, " lirih Vino.


Ucapan Vino membuat Violet terkekeh miris. "Huh, senang? Dia akan lebih senang kalau aku tidak datang, " balas Violet.


Vino menatap kakaknya sendu, dia begitu menyayangi Violet tapi dia juga tahu Violet membencinya. Vino dapat merasakan itu, Violet selalu enggan menatapnya apalagi berbicara padanya. Ia juga tahu, hubungan antara kakak dan bundanya itu tidaklah baik.


Vino masih kecil, meski mengerti tapi Vino tetap tidak tahu apapun. Ia tidak tahu kenapa kakaknya membencinya? Kenapa hubungan ibu dan kakaknya tidak baik? Ia tidak tahu apa penyebabnya. Vino bahkan tidak tahu bahwa Violet bukanlah anak dari ayahnya akan tetapi anak dari lelaki lain. Vino tidak tahu kalau mereka berbeda ayah.


"Itu nggak mungkin! Bunda pasti senang kalau, Kakak, datang. Kita kasih kejutan buat Bunda, ya? " Vino kecil masih berusaha membujuk kakaknya.


Violet bergeming, membuat Vino semakin merasa sedih. Sejak dulu ketika bundanya telah menikah lagi, Violet tidak diizinkan datang ke rumahnya. Jangankan datang ke rumah bundanya, untuk menghubunginya saja Violet dilarang, kecuali bundanya yang menghubunginya lebih dulu.


Bundanya tidak pernah mengakuinya sebagai anak di depan orang lain. Wanita yang telah melahirkannya itu benar-benar telah membuangnya. Sebenarnya Violet tidak ingin membenci Vino, akan tetapi melihat anak itu yang mendapatkan kasih sayang penuh dari bunda membuat hatinya iri. Karena Vino dan ayahnya, bunda tidak mau lagi mengakui Violet sebagai anak


"Kak Li, tolong antarkan anak ini ke rumahnya dulu, ya." Violet bahkan enggan menyebut namanya. Hingga membuat Vino hampir menangis.


Mobil yang mereka tumpangi telah sampai di depan sebuah rumah mewah. Asisten Ali nampak turun dari mobil.


Di dalam mobil Vino menatap Kakaknya yang hanya diam. Vino tersenyum kecut, kakaknya terlihat tidak ingat menatapnya. Dia sedih, entah bagaimana lagi caranya agar Violet mau menerimanya. Akhirnya Vino turun bersama Tyas meninggalkan Violet di mobil sendirian. Setelah Vino dan Tyas turun, ia menatap mereka dari dalam mobil.


Terlihat dua orang penjaga terpekik senang saat Vino turun dari mobil. Ternyata mereka memang sedang mencari Vino. Anak dari majikan mereka itu tadinya dikabarkan hilang di sekolah.


Salah satu dari penjaga itu masuk ke dalam rumah dan tak berselang lama dia keluar bersama seorang wanita yang telah berkepala tiga tapi masih terlihat cantik. Wanita itu sedikit mirip dengan Violet. Tentu saja, dia adalah ibu Violet. Violet merasakan jantungnya berdenyut sakit saat melihat bundanya keluar dan memeluk Vino.

__ADS_1


"Kamu dari mana aja, Sayang? " Sinta, bunda Vino itu menatap putranya.


"Maafin Vino, Bun. Vino tadi pergi cari kakak, " jawab Vino menunduk.


Sinta nampak terkejut akan tetapi ia mampu berubah ekspresinya dengan cepat. Ia menerbitkan senyuman manis pada putranya itu.


"Benarkah? Sekarang, Vino, masuk ke dalam dulu, ya? Bunda mau bicara dulu sama kakak, " ujar Sinta.


Awalnya Vino menolak, namun setelah dibujuk berulang kali akhirnya ia pergi masuk ke dalam rumah. Setelah Vino masuk, Sinta langsung menatap tajam Tyas dan Asisten Ali.


"Di mana anak itu? " sungutnya.


Tyas tersenyum sinis dan bersedekap dada. "Apa, Nyonya Sinta yang terhormat merindukannya? "


"Cih! Bilang pada anak bodoh itu, jangan pernah menemui Vino lagi! Sudah berapa kali aku peringatkan? Aku tidak mau orang-orang tahu bahwa anak cacat itu adalah anakku, " sentaknya dengan tajam.


"Peringatkan itu pada putra kecilmu itu, dia yang datang pada Violet! " balas Tyas tak kalah tajam.


"Anak itu hanya akan mempermalukan keluargaku, aku sudah menyuruhnya untuk menjauhi Vino tapi dia tidak mendengarkannya! Ingatkan padanya untuk berhenti menemui Vino, aku tidak mau keluargaku dipermalukan! " Kata-kata itu bahkan meluncur bebas dari mulut Sinta. Dia tidak peduli pada kenyataan bahwa Vino lah yang menginginkan Violet bukan sebaliknya.


Sebagai seorang ibu, Sinta begitu tega mengatakan hal itu pada Violet. Violet adalah anaknya yang artinya juga keluarganya, entah bagaimana bisa ia tak mengakuinya.


"Dasar bi adab! Anda benar-benar iblis! " berang Tyas


"Aku tidak peduli! Suruh anak tidak berguna itu untuk berhenti mengganggu ketenangan keluargaku! " Setelah mengatakan itu, Sinta melenggang pergi.


Dia bahkan tidak tahu bahwa ucapannya benar-benar menyakiti hati seseorang yang kini berada di mobil. Sinta tidak melihat Violet, andai kata dia tahu Violet mendengar segala ucapannya, dia juga tidak akan peduli. Sinta juga tidak menyadari siapa lelaki yang ada bersama Tyas. Ia tidak sadar bahwa Ali adalah asisten tepercaya Tuan Kin.

__ADS_1


Violet meremas dadanya dengan air mata yang bercucuran. Sekuat tenaga ia menahan isak tangis akibat rasa sakit yang ia rasakan. Sungguh, tak dianggap oleh ibu sendiri itu rasanya sangat menyakitkan, jauh lebih sakit dari luka apapun


*


*


*


Perlahan Violet berjalan memasuki rumah mewah milik Tuan Kin. Ia berjalan dengan tertunduk lesu. Di belakangnya, Tyas dan Asisten Ali juga hanya bisa diam menenteng kantong belanjaan. Mereka mengerti perasaan Violet, gadis itu terlihat murung sejak mereka kembali dari rumah Sinta.


Di dalam rumah, Tuan Kin menyambut kedatang mereka dengan senyuman tipis. Ia berpikir, Violet pasti bersenang-senang tadi, tapi begitu melihat gadis itu yang nampak murung, Tuan Kin hanya bisa mengernyit heran. Tuan Kin tidak sendiri, di sana terlihat beberapa orang berkemeja putih duduk bersama Tuan Kin. Dari penampilan mereka terlihat seperti seorang Dokter.


"Bagaimana? Apa kau suka berbelanja? " tanya Tuan Kin saat tiga orang itu telah berhenti di depannya.


"Iya, Tuan. " Violet mengangguk, Tyas pun juga ikut mengangguk dengan sangat antusias.


"Sangat suka, Tuan. Sering-sering saja seperti ini, " ucap Tyas terkikik.


Violet melotot pada Tyas sedangkan Tuan Kin nampak biasa saja.


"Baguslah kalau begitu, " ujarnya.


"Oh, iya! Violet, Aku membawakan Dokter kulit dan kecantikan terbaik di negara ini untukmu. Aku juga membawa Dokter ortopedi yang akan merwat kakimu. " Tuan Kin menjelaskan siapa orang-orang berkemeja putih itu. Ternyata mereka memanglah dokter.


"Mereka adalah dokter-dokter terbaik! Aku secara khusus meminta mereka datang untuk mengecek kondisi tubuhmu. Mereka pasti akan merawatmu dengan baik. "


"Tuan? "

__ADS_1


__ADS_2