Beloved Violet

Beloved Violet
Balik mempermalukan!


__ADS_3

Brugh!


Syurrr!


Bella pura-pura tak sengaja tersandung dan menabrak tubuh Violet. Tak sempat menghindar, Violet harus pasrah saat anggur merah itu membasahi tubuhnya.


"Ups! Sorry, " cicit Bella dengan sinis.


Violet memejamkan mata dan berusahan tersenyum. Tak ingin berbuat bar-bar dengan mencabik-cabik wajah Bella, walau sebenarnya ia ingin. Violet hanya menepuk-nepuk bahunya yang basah.


"Tidak apa-apa, Nona. Saya hanya kasihan kepada, anda, masih muda tapi sudah tidak bisa melihat jalan dengan baik, " ucap Violet dengan seringai tipis. Matanya menatap Bella dengan angkuh dan tajam.


Ada yang membuat Violet memincingkan mata saat melihat penampilan Bella. Gaun yang saudara tirinya pakai itu terlihat begitu familiar di matanya. Detik berikutnya, Violet mengembangkan seringaian tipis.


Bella terkejut dan sedikit gentar melihat tatapan mengintimidasi dari Violet. Benar-benar sangat jauh berbeda dengan Violet yang biasanya hanya diam jika ia tindas.


"Kamu...! Dasar gadis cacat! " geram Bella.


Semua kini menatap Violet dan Bella. Mereka merasa ini adalah tontonan yang bagus. Ada sebagian yang menyayangkan sikap Bella, apakah ia tidak takut pada Tuan Kin? Ada pula yang mendukung Bella, mereka adalah kaum-kaum si iri dengki yang tak suka pada kedekatan Violet dan Tuan Kin.


"Jangan kira aku takut padamu karena ada Tuan Kin bersamamu. Sekali cacat, ya, cacat! Kau tidak pantas berdiri di samping Tuan Kin, " tekan Bella.


Semua orang mulai kembali mencibir. Yang dikatakan Bella memang ada benarnya. Orang cacat seperti Violet memang tak pantas menjadi wanita Tuan Kin. Entah apa yang Violet lakukan sampai-sampai Tuan Kin mau padanya.


Bella tersenyum tipis mendengar cibiran-cibiran itu. Bella pasti akan membuat Violet malu.


"Entah apa yang kamu lakukan untuk menjerat Tuan Kin. Mungkinkah kau menggadaikan tubuhmu? Heh, kupikir dirimu memang sangat murah*n, " hina Bella. Ia bersedekap dada menatap Violet yang sepertinya tak terpengaruh oleh ucapannya.


"Atau mungkin kau, memeletnya? " tuding Bella yang membuat Violet tertawa.


"Hahaha.... Memelet? Ah, Nona. Kupikir kau ini gadis muda yang modern, tapi ternyata pikiranmu masih sangat kolot, " seloroh Violet dengan nada mengejek. Serangan balik yang bagus.


Dari tempat yang tak terlalu jauh, Tuan Kin terkekeh kecil melihat keberanian Violet. Gadisnya itu ternyata sangat pintar. Ah, Violet terlihat sangat hebat di matanya.


Tuan Kin pun berjalan kembali pada Violet. Ia tidak mempedulikan Margi yang memanggil-manggilnya. Tujuannya ikut dengan Margi dan meninggalkan Violet adalah sebuah pancingan agar Bella muncul. Nyatanya Bella tidak mengecewakan Tuan Kin, ia muncul dengan cepat.


Tanpa aba-aba, Tuan Kin melepas jasnya dan memakaikannya pada Violet. Violet termangu, ia tersenyum tipis melihat pria baik itu telah kembali dengan cepat.


"Hay, Nona Bella? " sapa Tuan Kin. Ia berdiri di depan Violet kini menjadi pelindung gadis itu.


"Ah, Tuan Kin. " Bella tersenyum malu-malu.


Tuan Kin tersenyum samar saat Wulan ikut mendekat. Ibu kandung Bella itu ternyata benar-benar tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia meninggalkan Hadi yang nampak masih tercengang dengan perubahan Violet. Putrinya yang tak berguna, kini bersanding dengan orang sehebat Tuan Kin.


Entah keberuntungan dari mana yang menghampiri Violet.


"Hallo, Tuan Kin. Bagaimana kabar, anda? " Wulan menyapa dengan senyum manis. Ia berdiri tepat di samping Bella. Melihatnya membuat Tuan Kin tersenyum miring.


"Baik. Sangat baik, " balas Tuan Kin.

__ADS_1


Melihat Tuan Kin yang memberikan respons sangat baik membuat mereka heran, apa Tuan Kin tidak marah? Wulan berpikir apa mungkin yang dikatakan Bella tempo hari hanyalah omong kosong? Buktinya ketika kini Bella mencari masalah dengan Violet, Tuan Kin tidak terlihat marah.


"Kalian sangat cantik, Ya? " Dalam hati Tuan Kin berdecih jijik setelah ia mengatakan hal itu.


Dua orang ibu dan anak itu terlihat salah tingkah.


"Hahaha.... Tuan Kin memang paling pandai memuji, " cetus Wulan.


Bella bahkan sampai tersipu. Ia menyelipkan helaian anak rambutnya ke samping telinga.


"Tuan, gaun yang saya pakai ini adalah edisi khusus perusahaan, anda, loh! " Dengan bangga Bella mengatakannya. Tidak hanya Tuan Kin, kini seluruh tamu undangan menatapnya sebab Bella yang sengaja mengeraskan suaranya saat berucap.


Semua orang memuji. Gaun edisi terbatas yang dikeluarkan oleh Tuan Kin memiliki harga yang begitu fantastis. Akan tetapi gaunnya memang sangat indah. Memang terlihat cocok saat tubuh ramping Bella mengenakannya.


"Benarkah? " Tuan Kin pura-pura terkejut.


"Ya. Ini adalah edisi terbatas dari HV Fashion, " ucap Bella.


Memang benar bahwa gaun yang Bella dan Wulan kenakan adalah keluaran terbaru dari Brand-nya. Bahkan baju itu baru dilincurkan kemarin, itupun hanya dua potong gaun untuk setiap jenisnya. Total, HV Fashion mengeluarkan tiga jenis gaun. Dan kini dua di antaranya dipakai oleh Bella dan Wulan


"Saya baru ingat, bukankah ini baru diluncurkan kemarin? " tanya Tuan Kin.


Bella mengangguk cepat. "Iya. Saya adalah penggemar setia, anda. Saya juga selalu memakai produk-produk dari HV Fashion. Gaun ini sangat bagus, orang yang membuatnya pasti sangat hebat, " puji Bella.


"Tentu saja, aku hanya mempekerjakan orang-orang hebat, " sahut Tuan Kin dengan pongah.


Tuan Kin maju selangkah, mengikis jarak dengan Bella yang membuat gadis itu gugup setengah mati. "Apa kau ingin tahu siapa yang membuat gaun ini? Kebetulan dia ada di sini, " ucap Tuan Kin.


Tuan Kin mengangguk dan tersenyum. Ia berbalik pada Violet, melangkah dan berdiri di samping gadis itu. Semua orang nampak memperhatikannya. Tuan Kin acuh, ia malah dengan sengaja merangkul pundak Violet.


"Violet yang merancangnya. Gaun-gaun itu dibuat olehnya! " lantang Tuan Kin.


"A--apa? "


Semua orang terkejut lagi, entah sudah berapa kali Tuan Kin membuat mereka tercengang. Gaun seindah itu ternyata dibuat oleh gadis cacat yang telah mereka rendahkan? Tuan Kin bahkan mengakuinya secara langsung dengan lantang.


Mereka semua diam tiada yang berani bicara. Terlalu malu untuk kembali melontarkan suara mereka.


"Aku tidak suka mentolerir kesalahan apapun. Orang yang berani menindas orang-orangku maka artinya mereka siap hancur. Jangan pernah berpikir untuk mengacaukan Violet lagi atau ... bukan hanya akan kuhancurkan tapi pasti akan aku musnakan, " seru Tuan Kin dengan wajah dingin. Suasana berubah mencekam.


"T--tuan.... "


"Aku sudah memperingatkanmu, tapi kau tidak mendengarkan. Mulai saat ini, aku tidak akan memandang orang-orang yang bekerja sama dengan keluarga mereka. Jika ada yang berani, maka siap-siap berurusan denganku! "


Hadi, Wulan, dan Bella menganga tak percaya. Ancaman Tuan Kin itu bisa menghambat bahkan mungkin benar-benar akan menghancurkan bisnis mereka.


"Tuan! Tidak, Tuan! Kami tahu kami salah! Tolong jangan lakukan ini, Tuan.... " Hadi mendekat, ia memohon di depan Tuan Kin. "Jika anda melakukan ini, keluarga saya bisa hancur, Tuan. "


"Aku tidak peduli! " ketus Tuan Kin.

__ADS_1


Hadi menatap Violet dengan tatapan memohon, setidaknya ia berharap anaknya itu mau membantunya. Sayangnya Violet saja memalingkan wajah, enggan menatapnya.


"Tuan, ini tidak adil untuk keluarga kami. Tolong maafkan kami, Tuan, " iba Hadi. Ia harus rela memohon-mohon, ini adalah akibat dari keangkuhan istri dan anaknya.


Semua orang memandang iba, namun juga tak berani bicara apa-apa. Ini adalah konsekuensi karena berani menyinggung Tuan Kin.


"KAKAK! "


Di tengah-tengah tegangnya situasi, Vino mendadak muncul memecah keadaan. Bocah kecil itu berbinar menatap Violet. Dengan segera ia berlari ke arah Violet, memeluk kaki Kakak perempuannya itu.


"Aku tidak percaya, Kakak, akan datang. Kakak bilang, Kakak, tidak akan datang, " lirih Vino.


"Apa ini? Kenapa putra dari Tuan Margi memanggilnya kakak? "


"Apa mereka saudara? Setahuku Tuan Margi hanya memiliki satu anak! "


"Iya, bukankah istri Tuan Margi tidak memiliki anak dari pernikahan sebelumnya? "


"Iya, buktinya Tuan Hadi mantan suaminya kini juga hanya memiliki anak tiri. Tidak pernah terlihat ada anak lain yang dibawanya, " sahut lainnya.


Bisikan-bisikan itu membuat wajah Sinta dan Margi pias. Ia tidak memikirkan hal terburuk ini. Vino yang belum tahu apa-apa menjadi bumerang untuk mereka. Sekarang semua orang pasti memikirkan yang macam-macam.


Semua orang tahu bahwa Hadi dan Sinta adalah mantan suami istri. Hanya saja hubungan mereka diketahui berjalan baik setelah bercerai, bahkan saling bekerja sama dalam bisnis. Orang-orang bahkan sampai kagum atas hubungan baik sepasang mantan suami istri itu, yang mana ini jarang terjadi di dunia. Orang-orang tidak tahu bahwa mereka memiliki seorang anak, yang mereka tahu Hadi dan Sinta bercerai tanpa memiliki anak sebelumnya. Kebanaran tentang Violet kini terungkap.


*


*


*


Violet terdiam dengan wajah suram di dalam mobil. Pesta telah berakhir, mereka pulang lebih dulu. Tuan Kin mungkin telah berbalik mempermalukan mereka, tapi entah mengapa Violet masih tidak merasa bahagia.


"Apa kau kurang puas? " Tuan Kin memecah keheningan, membuat Violet langsung menoleh padanya.


"Tuan, apa tidak malu mengakuiku seperti itu? Sekarang semua orang, bahkan seluruh dunia pasti sedang membicarakanmu, Tuan..., "lirih Violet.


Memang benar adanya. Dalam sekejap saja berita sudah menyebar. Belum sampai semalam, berita tentang kedekatan Tuan Kin dengan seorang gadis yang cacat telah merebak ke media sosial dan merambah luas. Violet takut hal ini akan merugikan Tuan Kin. Ia mungkin membuat lelaki itu dalam masalah.


Entah masalah apa yang akan Violet dan Tuan Kin hadapi dari hebohnya berita tentang mereka. Violet hanya berharap semua akan baik-baik saja.


"Bukan kau, yang seharusnya berpikir. Biarkan saja mereka mau bicara apa, yang jelas kau puas. Kau, puas tidak? " tanya Tuan Kin memegang dagu Violet, memaksa gadis itu untuk menatapnya.


"Ya.... Kini semua orang tahu bahwa aku adalah putri yang ditelantarkan..., " cicit Violet nyaris tak terdengar.


"Bukan, kau, yang harus khawatir tapi mereka. Kini mereka harus berpikir ribuan kali lagi untuk menyakitimu. Tunggu saja, mereka akan datang mengemis padamu, " seru Tuan Kin. Ia menatap lekat mata Violet yang tertutup rapat, gadis itu tak berani menatapnya.


"Sekarang, apa yang akan kau berikan padaku sebagai hadiah karena telah membantumu? "


Violet membuka mata pelan. "Ap--apa yang, Tuan, inginkan? Aku tidak punya apa-apa? " tanyanya gugup. Posisi wajah Tuan Kin yang begitu dekat dengan wajahnya membuatnya gugup setengah mati. Jantungnya menggila.

__ADS_1


Cup!


"Kau punya bibir yang manis! "


__ADS_2