
"Benarkah? "
Seketika saja Violet menatap Tuan Kin dengan mata yang berbinar-binar. Sungguh, apa yang ia dengarkan bagaikan mimpi yang jadi nyata.
Tuan Kin mengangguk. "Ya. Akan aku biayai kuliahmu, terserah kau mau kuliah di mana, " seru Tuan Kin.
Violet sangat bahagia mendengarnya, ini adalah impiannya sejak lama dan kini akhirnya terwujudkan. Tuan Kin akan membiayai dia kuliah. Sejak dulu, Violet ingin sekali menjadi desainer pakaian. Cita-citanya itu harus terhalang oleh kondisi hidupnya yang serba pas-pasan. Ia tidak bisa melanjutkan pendidikan, ia tidak bisa meraih cita-citanya. Ia terpaksa bekerja dan melupakan impiannya. Ia harus menyambung hidupnya dengan bekerja.
Kini, langkah Violet semakin terang. Sejak bertemu Tuan Kin, keberuntungan seolah selalu menimpanya. Pria tampan nan gagah itu menyediakan tempat tinggal untuknya, memenuhi segala kebutuhannya, juga melindunginya. Kini, Tuan Kin bahkan membukakan jalan untuknya menggapai mimpi.
"Tuan, terima kasih, " ucap Violet penuh dengan ketulusan.
"Kau hanya perlu ingat untuk menuruti apa yang aku katakan. Aku melakukan apapun yang kau inginkan tapi kau tidak bisa membantah ucapanku. Kau bekerja sebagai pelayan pribadiku, aku hanya ingin kau lakukan pekerjaanmu dengan baik! " Tuan Kin memperingatkan.
Violet mengangguk cepat. "Baik, Tuan. Saya pasti akan bekerja dengan baik, " serunya semangat.
Dengan ini, maka Violet benar-benar menemukan jalannya. Dia sangat bahagia bahkan sampai meneteskan air mata. Suasana menjadi haru, apalagi saat melihat Violet menangis di pelukan Tyas. Gadis itu terlihat sangat bahagia.
Satu yang sampai sekarang sungguh sulit dipercayai, yaitu perubahan Tuan Kin.
Pria yang selalu terlihat dingin itu kini mulai mencair dan semua itu hanya karena seorang gadis yang serba kekurangan seperti Violet.
*
*
*
Waktu berjalan dengan sangat cepat, bahkan sudah seminggu ini Violet tinggal di rumah mewah Tuan Kin. Selama tinggal di rumah Tuan Kin, Violet selalu berusaha melakukan pekerjaannya dengan baik. Ya, meski kadang-kadang ia masih melakukan kesalahan. Namun satu yang pasti, Tuan Kin tak pernah memarahinya.
Ada yang berubah dari sikap Tuan Kin dengannya sejak pertemuan mereka. Tuan Kin benar-benar telah mematahkan asumsi bahwa dia adalah pria berhati dingin. Violet hanya tak tahu, bahwa Tuan Kin bersikap lembut hanya padanya. Jika di depan orang lain, Tuan Kin masih sama. Si CEO dingin dan menakutkan.
"Bagaimana? Semuanya baik-baik saja? " Mendapati pertanyaan dari Tuan Kin, Violet tersenyum.
__ADS_1
"Semuanya baik-baik saja, Tuan. Perawatan kulit yang, Tuan, siapkan berjalan dengan lancar, " balas Violet.
"Kau senang? " Tuan Kin menatap Violet yang berdiri di samping meja makan. Gadis itu baru saja selesai menyiapkan makanan untuknya.
"Sangat! Bagaimanapun juga, ini adalah keberuntungan untuk saya, " ucap Violet.
Tuan Kin mengangguk. "Duduklah dan makanlah! " titahnya.
Violet bergeming, tak tahu apakah ia salah dengar atau tidak.
"Aku tidak suka mengulangi kata-kataku! "
Akhirnya Violet duduk di kursi yang berada dekat di samping Tuan Kin, ia tidak ingin Tuan Kin sampai marah. Meskpiun Ia merasa sedikit canggung dan kurang pantas jika makan semeja dengan sang majikan.
"Kenapa kau, masih menutupi bekas lukamu dengan rambut? Kau, bilang perawatan kulit dari para dokter itu berjalan lancar. Aku lihat kulitmu semakin bersinar, " ucap Tuan Kin.
Degh!
Degh!
Degh!
"T--tuan.... "
"Katakan! "
Tuan Kin tetap melanjutkan aktivitasnya mengamati wajah polos Violet. Sebenarnya, bekas luka itu mulai memudar. Warnya yang awalnya hitam kini mulai memudar. Perawatan kulit yang rutin selama seminggu ini dengan dokter ahli terbaik memang tidak dapat diragukan hasilnya.
"Saya belum terbiasa, Tuan, " jujur Violet.
Tuan Kin menarik tangannya menjauh begitu Violet memalingkan wajah. Ia melihat pipi gadis itu bersemu, ah, dia pasti merasa malu padanya.
"Kau harus mulai membuka diri. Aku memang akan melindungimu, tapi tidak bisa selalu tepat waktu setiap saatnya. Ketika aku tidak bisa, kau harus berani untuk melindungi diri sendiri, " ucap Tuan Kin.
__ADS_1
Violet menunduk. "Saya masih takut, Tuan. Saya takut tentang bagaimana orang-orang akan memandang saya setelah ini, " lirihnya.
Tuan Kin beralih menyantap makanannya. Ia juga menyuruh Violet untuk ikut makan. Violet hanya bisa menurut dan mulai mengambil makanan untuk dirinya sendiri. Sesaat suasana justru hening. Tuan Kin membiarkan Violet makan terlebih dulu.
"Tak perlu kau pikirkan pandangan orang-orang. Kau akan mulai kuliah besok, aku tidak ingin kau menutup sebagian wajahmu lagi. Gunakan make up yang kuberikan, " seru Tuan Kin ketika nasi di piring Violet tinggal tiga suap.
"Kau boleh bergantung padaku, tapi aku tidak ingin kau menjadi lemah. Kau juga harus merubah kepribadianmu menjadi lebih kuat, " imbuh Tuan Kin, ia meletakkan sendok dan minum. Ia menenggak air putih di gelas langsung sampai tandas.
Violet mengangguk. Dia tidak ingin bergantung pada Tuan Kin, tapi untuk sekarang biarlah seperti ini dulu. Nanti, saat ia bisa meraih mimipinya dan telah sukses, ia berjanji akan membalas segala kebaikan Tuan Kin. Violet sungguh tidak akan melupakan Tuan Kin.
"Jadi besok aku bisa kuliah, Tuan? " tanya Violet.
"Ya. Ali sudah mengurus semua pendaftaranmu, kau akan masuk kuliah sesuai jurusan yang kau inginkan. "
Violet mengembangkan senyum. Akhirnya ia bisa kembali menempuh pendidikan. Ini adalah hal yang paling dia inginkan. Dan soal jurusan yang ia pilih, ia memilih untuk menjadi desainer pakaian seperti yang ia cita-citakan. Syukurlah Tuan Kin tidak menolak akan tetapi malah mendukungnya.
"Lalu bagaimana dengan kakimu? Apa terapi itu berhasil? " Tuan Kin sepertinya ingin mengetahui semua yang dilakukan Violet selama seminggu ini.
"Semua berjalan baik. Terapi itu belum menunjukkan hasil yang besar, tapi saya cukup senang, Tuan, " jawab Violet.
Memang Violet menjalani terapi agar bisa berjalan dengan benar. Setelah kakinya di periksakan ke rumah sakit, kakinya itu ternyata tak dapat lagi dioperasi. Setelah sepuluh tahun berlalu, tulangnya yang berada dalam posisi tidak sempurna kini tidak dapat diubah lagi. Hal inilah yang menyebabkan kaki Violet sedikit panjang sebelah, itu sebabnya ia berjalan dengan pincang.
Terapi yang dilakukan Violet hanyalah untuknya belajar agar sedikit demi sedikit bisa berjalan lebih baik. Meski tak sepenuhnya pulih, dengan terapi ini ia bisa menyesuaikan kakinya agar tidak terlalu keliatan pincang.
"Kaki saya tidak bisa pulih lagi, tapi saya sangat berterima kasih pada, Tuan. Tuan sangat baik pada saya, " ujar Violet.
Tuan Kin berdehem. "Aku melakukan ini karena kau adalah orangku. Aku hanya tidak ingin orangku direndahkan oleh orang lain, " seru Tuan Kin.
Violet hanya bisa mengangguk. Mungkin memang itulah alasan Tuan Kin membantunya. Ia tidak tahu apakah Asisten Ali dan orang-orang yang bekerja dengan Tuan Kin mendapatkan perhatian yang sama. Ia berpikir, mungkin saja ia.
Violet hanya bisa menyimpan keraguannnya yang merasa begitu tak pantas mendapatkan semua ini dari Tuan Kin. Ia merasa bahwa gadis cacat sepertinya tidak pantas berdiri di samping Tuan Kin, bahkan meski hanya menjadi pelayan sekalipun. Tapi kini, Violet hanya bisa bersyukur. Setidaknya dia yakin bahwa Tuan Kin bukanlah orang yang jahat.
"Saya janji akan membalas kebaikanmu, Tuan. "
__ADS_1