
Violet meremat lengan Tuan Kin yang tengah ia gandeng. Saat di depan rumah pemilik pesta yang tak lain adalah ibunya, Violet merasa ragu untuk masuk ke dalam. Langkahnya terhenti yang secara otomatis juga ikut membuat Tuan Kin berhenti.
Ia terkejut bahwa pesta yang Tuan Kin maksud adalah pesta yang diadakan oleh Santi. Jika tahu begini, Violet pasti akan sekeras mungkin menolak.
Kini dia sudah berdiri di sini, haruskan ia pulang dan membantah ucapan Tuan Kin? Jujur saja Violet belum siap bertemu Santi.
"Kenapa? "Tuan Kin menatap Violet. Wajah gadis itu nampak sedikit berkeringat. Untung saja make up dari brand-nya adalah make anti luntur yang tahan lama.
"Kenapa ke sini, Tuan? Pesta yang, Tuan, maksud...? "
"Ya. Di sinilah pesta itu akan diadakan! Pesta ulang tahun ibumu, " sela Tuan Kin.
"Seharusnya saya tidak datang..., " lirih Violet. Ia menundukkan kepalanya menatap sepasang kakinya yang tertutup gaun panjangnya. "Dia tidak menganggapku, Tuan. Dia pasti tidak suka saya ada di sini. "
"Aku yang membawamu ke sini. Siapa yang berani, mereka bisa mengatakannya jika tidak suka, " timpal Tuan Kin.
Violet tak berani menatap. "Apa semuanya akan baik-baik saja, Tuan? " lirihnya.
"Percaya saja padaku. Tatap mereka dengan angkuh, apapun yang terjadi jangan sampai terlihat lemah, " ujar Tuan Kin. Ia mengusap lembut lengan yang tengah ia gandeng itu.
Violet mendongak, menatap Tuan Kin yang tersenyum padanya. Terus saja terlihat tampan. Ah, tidak. Violet menggelengkakan kepalanya, bagaimana mungkin ia masih saja terpesona pada Tuan Kin di saat genting seperti ini?
"Ada apa? " bingung Tuan Kin saat melihat Violet menggeleng-gelengkan kepalanya.
Violet menggeleng lagi. "Tidak papa! "
Kemudian mereka berdua melanjutkan langkah. Violet berusaha yakin dan mempercayakan semuanya pada Tuan Kin. Lelaki baik itu tidak mungkin membiarkannya terluka ... lagi.
Begitu memasuki pesta yang meriah itu, semua orang menatap ke arah mereka. Para kaum hawa fokus kepada Tuan Kin, sedangkan kaum adam tertarik melihat wajah cantik Violet. Semua berdecak kagum, mereka berdua terlihat seperti pasangan yang serasi.
Namun beberapa saat setelahnya, decakan kagum mulai menghilang. Yang ada tinggal bisikan mencibir saat melihat gadis yang digandeng oleh Tuan Kin berjalan dengan pincang. Mereka tak menyangka, orang sehebat Tuan Kin begitu tak tahu malu melangkah bersama orang cacat.
Mereka juga heran. Biasanya Tuan Kin tidak pernah menghadiri pesta-pesta seperti ini. Tuan Kin hanya hadir sesekali di acara yang benar-benar formal dan penting. Untuk undangan pesta ulang tahun seperti ini, Tuan Kin biasa menyuruh orang menggantikannya.
"Wah, Tuan Kin datang. Mimpi apa aku semalam, bisa melihat Tuan Kin di sini?
__ADS_1
"Apa aku tidak salah lihat? Itu Tuan Kin, 'kan? "
"Ah, bagaimana idolaku itu bisa berjalan dengan seorang gadis? Cantik, sih, tapi cacat. "
"Hebat sekali Margi Mulyo, dia bisa mengundang orang sehebat Tuan Kin. "
"Gadis itu sangat cantik, tapi sayangnya dia cacat! "
"Nggak guna punya wajah cantik kalau cacat!"
Cibiran-cibiran itu tak lekang dari mengatai kondisi kaki Violet. Violet rasanya ingin menunduk dan menangis, tapi tidak ia lakukan. Ia tidak ingin semakin membuat Tuan Kin malu. Pria itu terlihat percaya diri berjalan pelan menyamai langkahnya. Violet terharu, Tuan Kin sangat peduli padanya.
Tentu saja Tuan Kin tidak peduli dengan omongan orang-orang. Jika mereka hebat, harusnya mereka mengatakan hal itu langsung di depan matanya. Sayangnya mereka terlalu pengecut untuk dirinya yang luar biasa hebat.
Heh.... Tidak ada yang sebanding denganmu, Tuan.
Dari jauh, Sinta dan suaminya, Margi, menatap ke arah Tuan Kin dan Violet dangan tak percaya. Terlebih lagi Sinta, ia tak menyangka bahwa anaknya itu bisa berubah menjadi sangat cantik.
"Apa dia Violet? " batin Sinta. Wajah cantik Violet membuatnya pangling. Terakhir kali mereka bertemu, Violet nampak kusam dan kumal. Kini setelah bertemu kembali, ia tak menyangka Violet akan berubah sangat jauh.
"Bagaimana mungkin? "
Ini sangat bagus. Dengan begini orang-orang akan berpikir bahwa dia memiliki hubungan yang bagus dengan Tuan Kin. Bisnisnya akan semakin lancar.
Bukan hanya Sinta dan Margi, Bella, Hadi, dan Wulan yang juga diundang ke acara itu menatap tak percaya Violet yang menggandeng lengan Tuan Kin. Mereka saling pandang dengan alis bertaut.
Gigi Bella saling bergemeluk, menandakan si empunya sedang menahan emosi. Bella luar biasa murka, ia tak suka melihat kedatangan Violet. Tangannya terkepal, ternyata Tuan Kin benar-benar memanjakan Violet. Bahkan di kampus, kini tak ada lagi yang berani mengganggu Violet karena ancaman dari Tuan Kin.
Bella juga tak suka saat melihat penampilan Violet yang nampak berkelas, jauh berbeda dari yang dulu. Jujur saja Bella iri, sebab Violet terlihat sedikit ... lebih cantik darinya. Ingat, hanya sedikit.
Nyatanya Bella takut orang-orang berpaling darinya dan lebih memilih memandang Violet. Padahal malam ini ia berdandan secantik mungkin untuk membuat semua orang kagum.
"Tuan Kin, saya tidak menyangka, anda, akan menghadiri pesta kecil-kecilan yang saya buat ini. " Margi mendekati Tuan Kin dengan senyum lebar.
"Ya, " singkat Tuan Kin dengan ekspresi datar.
__ADS_1
"Suatu kehormatan bagi saya karena kedatangan, Tuan. Semoga, anda, menikmati pesta ini, " seru Margi. Ia tidak peduli dengan sikap dingin Tuan Kin. Asalkan mereka terlihat dekat, maka itu akan menguntungkan baginya.
Margi menatap Violet yang berdiri di samping Tuan Kin. Violet balik menatapnya dengan tatapan angkuh, sesuai yang diajarkan Tuan Kin. Margi masih tak percaya, gadis buluk yang dulu bahkan tak berani mengangkat wajah di depannya, kini malah menatapnya dengan menantangnya.
"Si alan!" umpat Margi dalam hati.
"Wah, Tuan. Siapa gadis ini? Dia sangat cantik, " puji Margi pada Violet.
Bagaimanapun juga tidak ada yang tahu bahwa Violet adalah anak tirinya. Di depan Tuan Kin dia juga harus bersandiwara untuk menutupinya. Ia juga yakin bahwa Violet tak mungkin menceritakan yang sebenarnya pada Tuan Kin. Gadis itu sangat takut padanya.
Di depan Tuan Kin dan Violet, Margi benar-benar seperti anj!ng bodoh. Ia terlalu menganggap remeh Tuan Kin. Bagaimana bisa dia berakting dihadapan Tuan Kin yang telah mengetahui semuanya.
"Tentu saja. Dia adalah wanitaku, " jawab Tuan Kin.
Semua orang terkejut atas pengakuan itu. Tak terkecuali Violet, ia tak menyangka Tuan Kin berani bilang seperti itu.
Semua orang berpikir, bagaimana mana mungkin wanita Tuan Kin adalah seorang gadis cacat? Banyak gadis cantik dan jauh lebih hebat dari Violet di luaran sana yang suka rela menyerahkan diri pada Tuan Kin. Siapa sangka pria tampan dan mapan itu malah memilih Violet sebagai wanitanya.
Sangat aneh, pikir mereka.
"Hahaha.... Iya, iya. Kalian terlihat sangat cocok, " ucap Margi tertawa.
Heh, benar-benar seorang penjilat.
"Mari, Tuan. Jika berkenan, saya ingin mengobrol dengan, anda, " seru Margi dengan memohon.
Tuan Kin menyeringai tipis. Baiklah, sepertinya ini memang waktunya pertunjukkan di mulai.
Tuan Kin mengangguk, ia beralih menatap Violet. Ia menatap gadis itu yang sepertinya hendak protes. "Hanya sebentar saja. Aku akan segera kembali, " serunya.
Tuan Kin melenggang menjauh meninggalkan Violet yang berdiri sendiri. Ia mulai tak nyaman saat melihat tatapan semua orang seperti menelanjanginya. Tapi ia tak boleh takut, ia lebih takut mengecewakan Tuan Kin.
Melihat Tuan Kin yang meninggalkan Violet, membuat seringai tipis muncul di bibir Bella. Gadis itu melirik ibunya, mereka berdua saling melempar tatapan dan menyeringai. Sepertinya mereka memiliki niat yang sama.
Bella perlahan berjalan mendekati Violet. Di tangannya ia memegang segelas anggur merah. Dengan anggun ia berjalan tanpa dicurigai. Ia berdecih dalam hati. Violet, siap-siaplah untuk malu, " batinnya.
__ADS_1
Brugh!
Syurrr!