
"T--tuan? "
"Apa kau terharu? " tanya Tuan Kin dengan pongah.
Violet terkekeh. "Terima kasih untuk semuanya, Tuan. Anda terlalu baik, " ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Tuan Kin berdeham singkat. Ia merasa hatinya berbunga-bunga mendengar pujian dari Violet. Ah, dia belum pernah merasa seperti ini sebelumnya.
"Lebih baik suruh mereka untuk segera memeriksamu, " ucap Tuan Kin.
Dihadapan mereka kini bukanlah Tuan Kin yang dikenal sangat dingin. Melihat bagaimana lembutnya ia bicara pada Violet, orang juga akan tahu bahwa Violet ini istimewa. Para dokter itu bahkan sampai beradu pandang bingung. Sebab tadinya sebelum Violet pulang, Tuan Kin bahkan tidak tersenyum. Jangankan senyum, Tuan Kin bahkan mendiamkan mereka dan tak berbicara sama sekali. CEO tampan itu hanya menyuruh mereka agar melakukan yang terbaik untuk Violet.
Violet menurut, ia berjalan mendekat dan duduk di sofa. Dua orang dokter wanita yang merupakan seorang dokter kecantikan berdiri dari duduknya dan mendekati Violet. Tyas pun ikut mendekat, ia duduk di samping Violet.
Dua orang wanita dengan seragam khas dokter itu adalah dokter kulit dan juga kecantikan. Secara khusus Tuan Kin meminta dokter-dokter terbaik itu untuk memeriksa kondisi kulit Violet. Meski Violet memiliki kulis putih akan tetapi kulitnya tidak pernah dirawat dengan baik sehingga sedikit kusam dan kotor. Violet mendatangkan mereka juga untuk mengatasi masalah bekas luka yang ada di garis rahang Violet.
Perlahan salah satu dari dokter itu menyibak helaian rambut pendek Violet yang menutupi lukanya. Sekarang, semua orang melihat luka itu. Ini kali keduanya bagi Tuan Kin melihat bekas luka itu. Ia melihat kembali netra sebelah kanan Violet yang biasanya tertutup rambut. Sungguh, mata Violet sangat cantik di mata Tuan Kin. Sama indahnya seperti kali pertama dia melihat Violet malam itu.
Asisten Ali sedikit terperangah saat melihat wajah Violet keseluruhan. Cantik, Violet sebenarnya sangat cantik. Bahkan menurut Asisten Ali, bekas luka itu tidak mempengaruhi kecantikannya. Heum, yang dikatakan Tuannya benar, Violet itu cantik.
Dua dokter cantik itu mulai memeriksa wajah Violet. Mereka mulai mengidentifikasi kulit dan bekas lukanya.
Setelahnya, kini gantian seorang lelaki yang diketahui merupakan dokter ortopedi, yaitu dokter yang menangani penyakit muskuloskeletal, mencakup tulang, otot dan saraf. Dokter lelaki itu memeriksa kondisi kaki Violet. Sebagai doktor ortopedi terbaik di negara ini, Tuan Kin memerintahkan untuk menyembuhkan kaki Violet yang pincang.
"Tuan ... saya belum bisa memastikan apapun sekarang. Nona Violet perlu datang ke rumah sakit untuk memeriksakan kakinya. Di sini tidak ada alat medis yang memadai untuk mengecek lebih dalam kondisi kakinya. " Dokter itu memberikan sebuah penjelasan. Semua orang nampak diam mendengarkan.
"Apa dia bisa berjalan normal lagi? " tanya Tuan Kin.
"Maafkan saya, Tuan. Kemungkinan untuk Nona Violet agar bisa berjalan dengan normal itu sangatlah kecil. Kakinya cacat sebab sebuah benturan keras yang menghantam tulang kakinya. Luka ini sudah lama, andai kala dulu kaki Nona Violet mendapatkan perawatan yang baik maka mungkin Nona Violet tidak akan berjalan pincang sekarang, " terang Dokter laki-laki itu.
Kecelakaan itu terjadi sudah hampir sepuluh tahun yang lalu. Memang benar bahwa dulu kaki Violet tidak mendapatkan perawatan maksimal sehabis kecelakaan. Orang tuanya dulu hanya hidup pas-pasan dan ini menjadi faktor utamanya. Itulah sebabnya Violet tidak lama-lama dirawat di rumah sakit, bahkan belum sampai sembuh. Setelah itu kakinya hanya dibiarkan sembuh dengan sendirinya yang justru berdampak hingga hari ini yang membuatnya tak bisa berjalan normal.
"Jadi dia tidak bisa berjalan dengan normal lagi? "
Dokter itu mengulas senyuman. "Saya tidak berani mengatakan apapun. Saya sarankan agar Nona Violet datang ke rumah sakit. Semuanya pasti dapat dijelaskan nanti. "
__ADS_1
Dokter itu belum bisa memastikan. Namun yang pasti, kemungkinan untuk Violet bisa berjalan dengan normal sangatlah kecil. Kakinya itu seolah telah dibiasakan berjalan pincang sehingga akan susah menyembuhkannya.
Tuan Kin menghela nafas samar. Sebenarnya ia sudah menduga hal ini. Mengingat Violet yang telah cacat hampir sepuluh tahun lebih, membuatnya ragu kalau gadis itu dapat berjalan dengan normal kembali.
Violet tersenyum kecut. Sepertinya sampai kapanpun ia hanya bisa menjadi gadis cacat yang tak berguna. Hatinya berdesir kecewa, awalnya ia sudah menaruh harapan pada dokter itu. Tyas menggenggam tangan Violet, ia berusaha memberikan gadis itu semangat agar tidak putus asa.
Kini tatapan Tuan Kin beralih pada dua dokter wanita yang tadinya memeriksa wajah Violet. Ia harap dua dokter itu dapat memberinya kabar baik.
"Kalian bisa memberiku kabar baik? " Dua dokter itu mengangguk saat Tuan Kin bertanya.
"Katakan! " tegas Tuan Kin.
Salah seorang dokter angkat bicara. "Tuan, bekas luka itu bukan apa-apa. Kecanggihan alat medis sekarang dapat mengatasinya. Di dunia modern saat ini banyak orang dengan mudah mengubah gender mereka. Jadi jika hanya untuk menghilangkan bekas luka Nona Violet, itu sangat mudah sekali, " terangnya.
"Benar, Tuan. Kulit Nona juga sangat bagus. Nona hanya perlu melakukan perawatan untuk membuatnya menjadi gadis yang jauh lebih cantik. " Dokter kecantikan itu menyambung ucapan temannya.
"Baguslah! Jadi bekas luka itu bisa benar-benar hilang sepenuhnya? " tanya Tuan Kin.
"Iya, Tuan! " Mereka berdua mengangguk mantap.
Tuan Kin melihat Violet yang justru menunduk murung. Gadis itu menarik kembali rambutnya untuk menutupi bekas luka miliknya. Tidak ada raut wajah bahagia di sana. Tuan Kin tak mengerti, bukankah seharusnya Violet senang mendengar hal ini?
"Kau menginginkan sesuatu? "
Sontak saja semua orang yang ada di sana menatap Tuan Kin, entah untuk siapa pertanyaan Tuan Kin itu. Saat melihat Tuan Kin yang justru menatap Violet, kini semua orang beralih pada Violet. Mereka semua mengernyit saat melihat gadis itu yang tak senang sama sekali.
Tyas dan Asisten Ali berpikir hal yang sama, mungkin saja Violet masih sedih karena kejadian di rumah ibunya tadi. Gadis itu mungkin masih memikirkannya.
"Violet, kau baik-baik saja? " tanya Tyas menyentuh pundak Violet.
Violet tersentak, ia yang tadinya melamun terkejut dengan sentuhan tangan Tyas di bahunya.
"Ah, aku baik-baik saja, " jawabnya lirih.
"Aku mendatangkan mereka secara khusus, tapi sepertinya kau tidak suka, " cetus Tuan Kin membuat Violet menggeleng mendengarkan.
__ADS_1
"Ti--tidak, Tuan. Aku, ak--aku han.... " Violet terbata-bata tidak tahu harus mengatakan apa.
"Maaf.... "Akhirnya hanya kata itulah yang keluar dari mulut Violet.
Tuan Kin menghela nafas. "Katakan saja jika kau memang tak suka, " ujarnya.
Violet mendongak menatap Tuan Kin. Ia tidak tahu harus bagaimana mengatakannya pada Tuan Kin. Ia tidak ingin Tuan Kin kecewa. Lelaki telah suka rela membawakan dokter-dokter terbaik hanya untuknya. Jika ia katakan apa yang ada dalam hatinya, apakah Tuan Kin tidak akan kecewa.
"Dalam surat perjanjian itu, tertulis bahwa aku akan melakukan apapun untuk membantumu. Katakan padaku, apa yang harus kulakukan untuk membantumu? " Tuan Kin kembali bersuara.
Dengan penuh keberanian, akhirnya Violet mengatakan apa yang ia mau. "Tuan, terima kasih karena anda telah bermurah hati membawa dokter-dokter hebat ini. Saya sangat senang mendengar mereka dapat membantu saya. Akan tetapi ... maaf, Tuan. Jujur saja saya tidak pernah berniat menghilangkan bekas luka ini, " ucap Violet.
"Kenapa? "
Kenapa? Violet bahkan juga tidak tahu kenapa. Hanya saja ia merasa percuma andai kata ia benar-benar menghilangkan bekas luka itu. Kondisi kakinya tetaplah cacat, sampai kapanpun ia tak dapat merubah itu meskipun wajahnya menjadi cantik. Semua orang hanya akan tetap memandangnya sebelah mata karena ia cacat.
"Saya hanya merasa ini bukan jalan yang bagus, " jawab Violet.
Violet ingin berubah, tapi sejujurnya bukan perubahan seperti itu yang ia inginkan.
"Katakan, jalan seperti apa yang menurutmu bagus! " ujar Tuan Kin.
Violet menunduk takut, tak enak hati rasanya untuk meminta hal ini. Ia merasa Tuan Kin sudah terlalu baik, ia juga tak yakin Tuan Kin akan menyetujui untuk berjalan di jalan yang ia pilih.
"Saya ingin membuktikan pada mereka bahwa saya bisa dibanggakan karena kemampuan saya, bukan karena wajah saja, " lirih Violet.
Ah, Tuan Kin tersenyum tipis. Ia menyukai Violet, gadis itu benar-benar berbeda. Di antara semua kemudahan yang ia berikan, Violet bahkan masih ingin berjuang sendiri. Gadis itu merasa bahwa dirinya harus mengandalkan kemampuannya, bukan belas kasihan orang. Tuan Kin menyukai hal itu.
"Saya memang meminta anda untuk membantu saya, tapi bukan seperti ini. Saya butuh perlindungan anda, Tuan. Saya ingin Tuan membantu saya agar saya bisa berubah. Berubah dalam artian karena kemampuan saya, bukan karena kecantikan dan kemolekan tubuh, " imbuh Violet. Ia sungguh tak berani menatap Tuan Kin, takut-takut kalau pria itu tersinggung dan marah.
Lagi-lagi Tuan Kin tersenyum, membuat orang yang melihatnya bingung. Entah apa maksud dari senyuman itu.
"Baiklah. Kalau begitu aku akan menguliahkanmu. Kau bisa berjuang sendiri dengan itu sekarang! "
"Benarkah? "
__ADS_1