
Setelah kejadian tadi pagi, Violet belum keluar dari kamarnya hingga malam ini. Ia mengurung dirinya di kamar. Di dalam, Violet duduk di samping kasur. Tatapannya kosong ke depan. Terlihat menyedihkan.
Sebenarnya ini sering terjadi ketika orang tuanya melukai hatinya. Hatinya merasa tak pernah sanggup meski menerima luka dari orang yang sama. Selalu saja begitu menyakitkan.
"Ayah, apa aku bukan anakmu? "
"Ibu, apa benar Kau wanita yang telah melahirkanku? "
"Kenapa kalian begitu tega padaku? "
"Kenapa harus sesakit ini, Tuhan?! "
Air mata Violet mengalir deras. Ia sesenggukan meratapi nasib malangnya. Dari kecil dia kehilangan kasih sayang orang tua. Dia tak diinginkan, dibuang oleh orang tuanya sendiri. Adakah yang lebih sakit dari itu?
Dari kecil hidup sendiri, tak ada yang bertanya apakah dia baik-baik saja. Tak ada yang peduli padanya. Bagi semua orang, orang cacat sepertinya begitu hina. Kenapa mereka sejahat itu? Violet juga tidak mau seperti ini. Dia juga tak ingin menjadi cacat!
Violet terngiang-ngiang akan ucapan Tuan Kin yang mengatakan akan membantunya membalas dendam. Haruskah ia menerima uluran tangan dari pria itu? Masalahnya mereka belum kenal lama. Pikiran Violet dipenuhi dengan keraguan.
*
*
*
Mentari pagi kembali menyapa penduduk bumi. Sinar kehangatannya memeluk raga setiap manusia. Membuat tersenyum orang-orang yang pandai bersyukur.
Violet yang sadar akan kewajiban barunya, kini telah berdiri di depan itu. Ia terlihat ragu untuk mengetuk pintu kamar Tuan Kin. Tapi dia harus membangunkannya, karena itu tugasnya.
Tok!
Tok!
Tok!
Beberapa kali Violet mengetuk pintu namun tak terlihat adanya pergerakan dari dalam kamar. Violet menggaruk kepalanya. Jika tidak dibangunkan, dia juga yang akan kena marah. Apa Tuan Kin tidak bisa bangun sendiri? Apa Ia biasanya harus dibangunkan seperti ini? Batin Violet.
'Jika Tuan Kin tidak membukan pintu, Anda bisa langsung masuk, Nona. Tak ada yang berani masuk ke kamarnya, tapi Anda bisa dan boleh. '
Ia teringat ucapan Ali kemarin padanya. Ali juga memberinya sebuah kartu akses untuk masuk ke dalam kamar Tuan Kin. Violet menatap kartu yang ada digenggamannya itu.
"Seperti di hotel, " gumamnya.
Dengan sedikit ragu, Violet akhirnya menggunakan kartu itu untuk membuka pintu besar berwarna hitam itu. Dengan perlahan Ia membukanya dan masuk ke dalam kamar Tuan Kin.
Violet berdecak kagum, kamar ini jauh lebih luas dari kamar yang ia tempati. Bahkan mungkin, luasnya kamar Tuan Kin hampir sama dengan rumahnya.
Violet berjalan mendekati ranjang Tuan Kin. Terlihat, pria itu masih tertidur pulas di atas ranjangnya. Violet berhenti di samping ranjang. Ia mengamati sejenak kamar mewah Tuan Kin yang tentunya berisi barang-barang mewah.
Violet kembali menatap Tuan Kin.
"Tuan.... "
Suara Violet lebih seperti orang berbisik dari pada membangunkan orang. Apa menurutmu Tuan Kin akan mendengarnya?
"Tuan! " kini suaranya sedikit lebih keras, namun belum sampai membangunkan Tuan Kin. Pria itu masih anteng dengan tidurnya.
__ADS_1
"Seperti kebo! Susah dibangunkan! " batin Tuan Kin.
Ck!
Violet, bagaimana Tuan Kin akan bangun jika suaramu saja tidak lebih keras dari suara ular yang mendesis.
Kini Violet bergerak menggoyangkan lengan Tuan Kin. "Tuan, bangun! "
"Tuan, ini sudah siang. Jika Anda, tidak bangun mungkin Anda bisa bangkrut, " tutur Violet.
"Kau pikir perusahaan itu milik siapa? Jika aku telat juga tak akan ada yang berani memarahiku sampai membuatku bangkrut, " sahut Tuan Kin dengan suara seraknya. Matanya terbuka perlahan dan menatap Violet.
Violet menunduk.
"Jika aku bangkrut, Kau yang akan kutuntut. Kau telat membangunkanku, " ucap Tuan Kin lagi.
"Maaf.... "
Tuan beranjak duduk. "Siapkan pakaianku! Tunggu aku selesai mandi! "
Beberapa saat kemudian, Tuan Kin telah selesai mandi. Ia keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk yang menutupi bagian pingga hingga lutut. Cetak nyata tubuh atletisnya terpampang nyata. Perutnya yang berotot seperti yang ada di komik-komik.
Violet yang sadari Tuan Kin keluar dari kamar mandi hanya menunduk. Ia belum menyadari penampilan Tuan Kin yang menggoda.
"Kenapa Kau berdiri di situ? "
Suara itu sontak membuat Violet mendongakkan wajahnya. Matanya melotot melihat Tuan Kin yang bertelanjang dada seperti itu.
"Kau tuli? Aku memintamu menyiapkan pakaianku, lalu apa yang kau lakukan sekarang?! " sentak Tuan Kin.
Tuan Kin bersedekap dada.
"Kau lihat pintu di belakangmu? " Tuan Kin menunjuk pintu di belakang Violet dengan dagunya. Pintu itu berada berlawanan arah dengan kamar mandi. "Di sana adalah ruang ganti. Semua bajuku ada di sana. Kau harus menyiapkan bajuku di sana! " jelas Tuan Kin.
"Aku tidak tahu. "
"Itu karena kau tidak bertanya! "
Rumah orang kaya memang berbeda. Di dalam kamarnya ada kamar mandi dan ruang ganti sendiri. Sangat berbeda dengan rumah yang dulu Violet tinggali. Tapi di kamar yang Violet tinggali ada lemari pakaian dan sepertinya tidak ada ruang ganti.
"Dasar bodoh! Kau, 'kan hanya pelayannya, Vio. Tentu saja kamarmu berbeda dengan majikan! " rutuk Violet dalam hati.
*
*
*
Violet berjalan di belakang Tuan Kin. Mereka baru saja keluar dari kamar. Mereka berjalan bersama menuju ruang makan
Dugh!
"Awss.... " Violet mengusap-usap keningnya yang baru saja menabrak punggung kokoh Tuan Kin.
"Perhatikan jalanmu! " tegur Tuan Kin.
__ADS_1
"Tuan, yang kenapa berhenti mendadak? " balas Violet.
"Siapa yang menyuruhmu berjalan menunduk seperti itu? " tanya Tuan Kin.
Ia menatap gadis di depannya ini sambil geleng-geleng kepala.
"Maaf.... " kata Violet.
"Permisi, Tuan! "
Kedatangan Ali mengalihkan perdebatan mereka. Rupanya Ali tidak datang sendiri, di belakangnya ada Tyas. Violet melihat Tyas, sedang Tyas justru tersenyum meledek padanya.
"Yas, kok kamu ada di sini? " bingung Violet.
"Dari kemarin aku di sini. Aku nginep di sini, " jawab Tyas santai.
"Hah? " Violet menatap Tuan Kin yang hanya berekspresi datar. Apakah semudah itu menginap di rumah Tuan Kin? Violet rasa Tuan Kin tidak akan membiarkan orang sembarangan menginap di rumahnya. Lagi-lagi, Violet tak habis pikir dengan jalan pikiran Tuan Kin.
"Kenapa aku tidak tahu? " gumam Violet.
"Jelas saja tidak tahu. Kau mengurung dirimu di kamar sejak kemarin, " seru Tyas.
Violet mengusap tengkuknya. "Maaf.... "
Tyas berjalan mendekatinya. "Aku sarankan, kau terima saja hadiah dari Tuan Kin, " bisik Tyas padanya.
Violet meliriknya dengan melotot. "Tidak! "
Tyas menghela nafas. "Kesempatan gak datang dua kali! Ini satu-satunya cara buat kau balas dendam sama keluargamu yang bi*dap itu! " ucap Tyas.
Sejak Violet menceritakan seluruh kejadian yang Ia alami bersama Tuan Kin, Tyas yang paling bahagia mendengar Tuan Kin mau membantu Violet. Awalnya Ia tak percaya bahwa Tuan Kin akan sebaik itu, tapi melihat bagaimana Tuan Kin kemarin datang bagai pangeran berkuda putih, itu membuatnya yakin. Juga, buktinya ia bisa menginap di rumah Tuan Kin semalam. Padahal Tuan Kin bukan orang yang begitu ramah.
Violet menatap Tuan Kin yang hanya diam. Ia juga menatap Ali yang tersenyum tipis padanya. Teringat akan hadiah yang Tuan Kin berikan padanya. Sebenarnya Ia ingin menerimanya, tapi Ia masih ragu. Ia bertemu Tuan Kin belum lama, tapi pria itu begitu baik padanya.
Dengan kondisinya ini, seharusnya tak ada untungnya bagi Tuan Kin untuk memanfaatkan gadis cacat sepertinya. Tapi apa mungkin Tuan Kin akan sebaik itu membantunya. Bisa dikatakan mereka belum saling kenal.
"Tuan.... " Violet memanggil Tuan Kin lirih membuat si empu pemilik nama menatapnya kian intens.
Violet menunduk. "Apa aku masih bisa mengambil hadiahku? " ucapnya pelan nyaris tak terdengar.
Tyas yang di samping Violet tersenyum mendengarnya. Ali 'pun langsung menatap Tuannya. Terlihat jelas Tuan Kin menarik satu sudut bibirnya mendengar ucapan Violet.
"Kau berubah pikiran? "
"Ss--saya, saya.... " Violet tak tahu harus menjawab apa.
"Tuan, Anda sudah menjanjikan. Akan lebih bagus jika Anda menepatinya, " seru Tyas. Ia tak ingin Violet menyia-nyiakan kesempatan emas seperti ini. Selama ini Ia tak bisa membantu Violet banyak. Yang bisa Ia lakukan hanyalah menyemangati Violet. Jadi untuk sekarang ia ingin Violet mengambil kesempatan ini agar bisa merasakan kebahagiaan.
"Aku tidak menjanjikan apapun padanya. Aku hanya menawarkan dan dia menolaknya. Aku tidak bahwa dia akan berubah pikiran secepat ini, " balas Tuan Kin tersenyum muring.
Violet hanya diam dan menunduk.
"Akan Aku bantu Kau membalas mereka, tapi kini ada syaratnya. "
Violet langsung menatap Tuan Kin.
__ADS_1
"Apa?! "