
Violet berjalan dengan menunduk di antara orang-orang yang kini tengah berjoget ria di bawah sorot lampu disko, suara musik terdengar memekakkan telinga. Violet menunduk takut-takut, apalagi orang-orang di sini memandangnya dengan tatapan mencemooh dan merendahkan. Tentu saja mereka memandangnya dengan tatapan seperti itu. Melihat penampilan Violet yang mengenakan hoodie kebesaran dan celana jeans navy berbeda dengan mereka. Di mana para perempuan di sana mengenakan baju seksi untuk menarik perhatian para pria.
Andai Tyas bukan sahabatnya, Violet tak akan mau datang ke tempat seperti ini. Andai Tyas bukanlah satu-satunya orang yang mau dengan tulus berteman dengannya, tak akan mau dia menjemput Violet di Bar ini. Ck, semuanya hanya andai hingga membuat Violet merasa menyesal bersahabat dengan Tyas.
"Violet, apa yang kau pikirkan? Tyas adalah sahabatmu, " gumam Violet mengusir pikiran buruknya.
Violet terus mengedarkan pandangannya berusaha menemukan Tyas. Namun nihil, batang hidungnya saja tak terlihat. Violet berbelok ke sebuah lorong yang cukup gelap, pasalnya lorong tersebut tak terkena sorot lampu. Di sana ia menyandarkan tubuhnya di tembok. Ia mengatur nafasnya yang terengah-engah.
Violet merogoh saku hoodie yang ia kenakan. Mengotak-ngatik gawai dalam genggamannya, Violet berusaha menghubungi Tyas. Namun, hingga panggilan ketiga Tyas tak kunjung menjawabnya. Violet menghela nafas dan menggaruk pelipisnya.
Violet akhirnya memutuskan untuk kembali mencari Tyas. Namun belum sempat Ia melangkah, seseorang telah lebih dulu menabraknya.
Brugh!
"Auh.... " Violet mengaduh lirih. Meski tak sampai terjatuh namun bahunya terasa sakit saat orang itu menabraknya.
Orang yang menabrak Violet justru jatuh terduduk. "Tuan, Anda baik-baik saja? " Violet berusaha membantu orang itu berdiri.
"Bantu, Aku! " Orang itu memeluknya dan berbisik dengan suara berat di samping telinga.
"Tuan? Anda ... kenapa? " Violet tak yakin bahwa laki-laki dihadapannya ini baik-baik saja.
Laki-laki itu melepaskan pelukannya. Ia mencengkeram erat kedua bahu Violet. "Bantu, Aku! " pintanya tegas, bahkan nada bicara lebih seperti orang yang sedang memberi perintah.
"Bb--baik, tapi apa yang harus saya lakukan? " lirih Violet.
Pria itu menyeringai tipis. "Jangan menyesal karena kau sudah menyetujuinya. "
Violet tersentak saat pria itu tiba-tiba menariknya pergi. Violet berjalan pincang mengikuti tarikan pria yang tak dikenalnya, bahkan ia belum melihat wajahnya karena keadaan yang gelap. Meski ragu namun Violet hanya diam mengikuti.
Pria itu membawanya ke sebuah ruangan. Di dalamnya lebih terang di bandingkan di luar. Sesampainya di dalam pria itu langsung mendorongnya ke tembok dan mengunci pergerakannya. Violet merasa takut mendapat perlakuan seperti ini.
__ADS_1
Cup!
Mata Violet membola seketika mendapatkan serangan tak terduga. Lelaki itu mencumbu bibirnya dan mengunci ke dua tanganya di atas kepala.
"Empt.... "
Violet berusaha memberontak. Kepalanya ia gerakkan ke kiri dan kanan berusaha melepaskan ciuman itu. Pria itu tak tinggal diam, ia menggunakan satu tangan lagi mencengkeram dagu Violet sedang tangan satu masih mengunci tangan Violet.
Tanpa aba Violet meneteskan air mata. Niat hati ingin menjemput Tyas, eh, malah sekarang ia mau dilecehkan orang yang tidak di kenal.
Cukup lama ia berusaha lepas, Violet akhirnya bisa mendorong pria itu saat pria baru saja ingin mengangkat hoodie yang ia pakai. Violet berlari sedikit menjauh. Tak lagi terus menunduk, Violet menegakkan wajahnya menatapa tajam pria itu.
Lagi-lagi yang ia dapati adalah sebuah keterkejutan. Tubuhnya seketika bergetar hebat mengetahui siapa pria yang ada bersamanya.
"**--tuan Kin... ?"
Pria itu menatap Violet dengan seringai menyeramkan. "Yes Baby. Kau baru menyadarinya? "
Violet berjalan mundur saat pria yang ia panggil Tuan Kin itu mulai mendekatinya. Masalah besar kini benar-benar ada dihadapannya. Tatapan penuh hasrat pria itu menyadarkan Violet bantuan seperti apa yang diminta darinya. Seketika ia merutuki diri sendiri karena telah mengiyakan untuk membantu.
"Tidak, Baby. Tenanglah, aku hanya memintamu membantuku. " Pria itu semakin mendekatinya.
Tanpa sadar Violet menabrak sebuah sofa yang ada di belakangnya. Ia jatuh terduduk di sofa. Sedang dia, Tuan Kin sudah ada dihadapannya. Lelaki itu bergerak cepat menindihnya di sofa.
"Tuan, tolong jangan seperti ini.... Tolong lepaskan saya.... " lirih Violet.
Tuan Kin tak mengindahkan permohonan dari Violet. "Sudah terlambat untuk menyesalinya sekarang! " Tangannya terulur untuk menyibak rambut yang menutupi setengah wajah Violet. Alisnya sedikit terangkat saat melihat segaris bekas luka yang sedikit memanjang mengikuti garis rahang milik Violet. Tuan Kin mengusap pelan bekas luka itu.
"Ini cantik, " katanya lirih, wajah Tuan Kin terlihat memerah dengan pandangan sedikit sayu. Hal itu meyakinkan dugaan Violet bahwa Tuan Kin telah meminum obat perangsang. Violet hanya mampu menggeleng lemah menyadari kemungkinan buruk yang mungkin terjadi.
Tuan Kin, siapa yang tak mengenalnya. Dia adalah seorang CEO dari perusahan paling terkenal di negara ini. Tuan Kin adalah orang yang cukup ditakuti dan disegani, karena kabarnya CEO tampan itu cukup dingin dan arogant.
__ADS_1
Violet menangis histeris saat Tuan Kin mulai mencumbunya kembali. Tuan Kin menarik tengkuknya dan membungkam bibirnya dengan kasar. Violet berusaha terus memberontak, namun sia-sia. Tenaganya tak sebanding dengan tubuh tegap pria itu.
Dan kepasrahannya menerima semua cumbuan Tuan Kin, Violet masih terus memikirkan cara untuk kabur. Matanya yang berlindung air mata itu sempat melirik sebuah nakas di samping sofa, di atasnya ada vas bunga. Hal itu memunculkan sebuah ide di otaknya. Tak ada pilihan lain, jika ingin mahkotanya selamat maka benar-benar tak ada pilihan lain.
Tangan Violet terulur meraih vas bunga itu. Dicengkeramnya dengan kuat, Violet memejamkan matanya sejenak.
Bug!
Vas bunga itu menghantam wajah Tuan Kin. Membuat Tuan Kin jatuh pingsan di atas tubuhnya. Buru-buru Violet mendorong tubuh Tuan Kin ke samping. Ia lantas berdiri. Ia menangis histeris, terlebih saat melihat kepala Tuan Kin yang berdarah cukup banyak.
"Maaf.... "
Tangan Violet gemetaran, pikirannya buntu. Ia lantas berlari ke arah pintu dan keluar meninggal Tuan Kin sendiri. Ia berlari hingga tak jarang menabrak orang yang ada di sana.
Bruk!
Violet kembali menabrak seseorang. Namun yang Ia tabrak kali ini adalah Tyas.
"Tyas, kau di sini? Ayo pergi, ayo kita cepat pergi dari sini. " tanpa mendengar apa yang akan Tyas katakan, Violet menarik Tyas keluar dari Bar.
Kini mereka berdiri di pinggir jalan. Tyas yang ada di samping Violet nampak sempoyongan karena mabuk. Di sisa-sisa kesadarannya, ia dapat dengan jelas melihat Violet yang menangis sembari menunduk.
"Vio, kau kenapa? " Tyas bertanya.
Violet menggeleng. "Aku harus bagaimana, Yas? Apa yang harus kulakukan? " lirih Violet.
Tyas mengernyit, ia lantas tertawa keras. "Hahaha. Kau ini kenapa, eoh? Seperti orang yang yang baru saja ketahuan mencuri, " cibir Tyas tertawa mengejek.
Violet mengabaikannya. Lebih buruk dari pada ketahuan mencuri, Ia bahkan baru saja membunuh orang. Ya, walau belum tentu Tuan Kin benar-benar akan mati karena pukulan itu. Tapi darah yang keluar dari kepala Tuan Kin membuatnya merasa gelisah dan takut. Apalagi dia meninggalkan Tuan Kin. sendiri di ruangan itu.
Dalam kegelisahan itu, sisi hatinya yang lain memintanya untuk menolong Tuan Kin. Hingga akhirnya Violet mengambil hp-nya. Dengan ragu-ragu Ia menekan-nekan nomor yang ada di hp-nya.
__ADS_1
Panggilan tersambung.
[ Halo. Tolong cepat datang ke Bar di jalan ***. Seseorang terluka di room privat yang ada di lantai dasar. ]