
Akhirnya Tyas dan Violet pergi berbelanja. Dengan hati riang, Tyas menggandeng tangan Violet menuju toko pakaian. Sedangkan di belakang mereka, Asisten Ali hanya bisa diam mengikuti mereka.
Untuk pertama kalinya, Violet bisa membeli apapun yang ia inginkan. Sebelumnya, ia bahkan tidak punya kesempatan untuk memikirkan keinginannya. Violet bekerja untuk makan dan bertahan hidup.
Sebenarnya Tuan Kin ingin langsung memberikan Violet baju-baju terbaik dari brand-nya, make up, juga beberapa perhiasan. Sayangnya Violet menolak, ia bilang itu terlalu mahal padanya. Ia tak menginginkan apa-apa, tapi akhirnya Tuan Kin malah menyuruhnya ke Mall dan belanja sepuasnya.
Tuan Kin juga menyuruh Asistennya untuk menemani Violet. Ia tidak mau seseorang kambali menindas Violet, apalagi dengan penampilan Violet seperti itu. Banyak sekali orang yang memandangnya rendah.
Sebenarnya Asisten Ali tidak pergi sendiri, ada beberapa bodyguard yang ikut menjaga Violet. Hanya saja mereka mengikuti secara diam-diam. Mereka ada di beberapa titik mengawasi Violet dan Tyas. Tuan Kin memerintahkan seperti itu agar Violet merasa nyaman berbelanja.
"Yang ini bagus nggak, Vio? " Tyas menunjukkan sebuah dress selutut berwarna coklat susu.
Violet tersenyum memperhatikan. "Bagus, cocok untuk kulit kamu yang putih, " jawabnya.
Tyas mengangguk-ngangguk. Ia pun melenggang ke ruang ganti meninggalkan Violet yang masih memilih-milih baju.
"Harganya mahal-mahal, ya, " gumam Violet.
Asisten Ali yang berada tak jauh darinya dapat mendengarkan ucapan Violet. Ia tersenyum.
"Ini salah satu toko terbaik di mall ini, Nona, " seru Asisten Ali.
Violet beralih menatap Asisten Ali. " Semua baju yang ada di sini sepertinya tidak cocok untukku, Kak, " ucap Violet.
Violet memperhatikan penampilan dirinya sendiri. Semua baju yang ada di sini adalah dress dan gaun-gaun mewah, sangat tidak sesuai dengan gayanya yang terbiasa memakai hoodie kebesaran dan celana jeans seperti saat ini.
Apa tidak akan aneh jika dia mengubah gayanya sekarang? Menurutnya akan percuma, toh, dia ini cacat. Cantik pun tidak akan merubah kenyataan itu.
"Nona, belum mencobanya, " sahut Asisten Ali.
Violet tersenyum, " baiklah. Aku akan mencobanya. "
Asisten Ali balas tersenyum, ia hanya diam kembali memperhatikan Violet yang mulai memilih baju lagi. Hari ini seharusnya ia menemani Tuan Kin meeting, tapi bosnya itu malah menyuruhnya Menemani gadis-gadis berbelanja. Ini hal yang belum pernah ia lakukan. Violet sepertinya benar-benar spesial untuk bosnya itu.
Selang beberapa menit, atensi mereka teralihkan oleh Tyas yang baru keluar dari ruang ganti. Gadis itu tersenyum lebar menunjukkan deretan gigi putihnya. Dengan mengenakan dress coklat susu yang ia pilih tadi, ia berjalan mendekati Asisten Ali dan Violet.
"Gimana? Cocok nggak? " tanya Tyas, ia memutar-mutarkan tubuhnya.
"Cantik! " puji Violet. Sedangkan Asisten Ali lebih memilih memalingkan wajahnya.
__ADS_1
"Heum! Sepertinya sudah saatnya aku mencari pria kaya, " seru Tyas tertawa renyah. Violet terkekeh mendengarnya sedangkan Asisten Ali melotot lebar.
*
*
*
Mereka bertiga dalam perjalan pulang sekarang. Asisten Ali sendiri yang mengemudikan mobil, sedangkan Violet dan Tyas duduk di kursi penumpang. Tyas terus saja berbicara, ia menceritakan apa saja yang ia beli tadi. Teman dekat Violet itu bahkan tiada henti memuji Tuan Kin.
Asisten Ali hanya diam sebagai pendengar, Violet pun sama. Mereka hanya sesekali menanggapi cerita antusias dari Tyas.
Violet menatap ke arah luar jendela. Suasana jalanan ibu kota nampak ramai sekali. Violet tak tahu apakah yang terjadi padanya saat ini adalah berkah dari Tuhan untuknya. Violet tidak pernah berpikir bahwa Tuan Kin akan begitu baik padanya. Pertemuan mereka bukan pertemuan pertama yang baik.
Betapa beruntungnya dia bisa bertemu orang sebaik Tuan Kin.
"Vino! "
Violet tersentak oleh pekikan lirih Tyas. Gadis itu seketika menoleh.
"Violet, lihat itu! Vino kenapa ada di situ? " tunjuk Tyas ke arah luar.
"Ada apa, Nona? " tanya Asisten Ali.
Violet menatap ke depan, ia tidak tahu harus bagaimana sekarang. Mereka saat ini juga sedang berhenti karena lampu merah. Violet dapat melihat dengan jelas bahwa bocah lelaki itu terlihat kepanasan dan kebingungan. Violet merasa kasihan.
Tapi sisi hatinya yang lain menolak untuk peduli. Biarkan saja, toh, bukan karena Violet juga bocah itu bisa berada di jalanan.
"Nggak apa-apa kok, Kak, " balas Violet.
"Vio.... " Tyas memandang dengan ekspresi sendu dan kasihan.
Violet memalingkan wajah. Ia berusaha untuk tidak peduli. Sedangkan di depan, Asisten Ali merasa bingung. Ia ikut menatap ke arah di mana tadi Violet dan Tyas menatapnya. Seorang anak kecil laki-laki terlihat terduduk lemas di bawah tiang lampu merah. Bocah kecil itu menenteng tas kecil di pundaknya.
Dari kaca spion, Asisten Ali menatap Violet yang hanya bergeming. Ia menangkap satu hal dari raut wajah gadis itu, khawatir. Namun terlihat Violet berusaha menutupinya.
Hingga tindakan Violet berikutnya membuat Asisten Ali tersenyum tipis.
"Kak Ali, tunggu sebentar, ya! " ucap Violet dan segera membuka pintu mobil.
__ADS_1
Violet turun dari mobil dan segera berjalan ke arah anak laki-laki itu. Dengan cara jalannya yang pincang, banyak pasang mata yang menatapnya. Violet gugup, tapi ia berusaha biasa saja.
Ia tidak bisa berusaha untuk tidak peduli pada anak lelaki itu. Meskipun ia membencinya, tapi ia tidak bisa abai. Biar bagaimanapun Vino adalah ... adiknya.
Bocah lelaki itu merekahkan senyuman saat melihat Violet. Ia berdiri dan berlari ke arah Violet.
"Kakak! " Ia memekik senang dan segera bangkitn lalu berlari ke arah Violet. Di tengah-tengah jalan ia memeluk kaki Violet erat. Semua orang menatap adegan itu.
"Kenapa kamu ada di sini? " tanya Violet melepaskan pelukan itu dengan sedikit kasar. Ia tidak ingin orang lain berpikir macam-macam. Selama ini tidak ada yang tahu hubungan mereka.
Bocah itu tersenyum. "Aku cari, Kakak. Kenapa Kakak, nggak ada di rumah? " tanyanya polos.
Violet mendengus. Alih-alih menjawab pertanyaan Vino, ia malah menyeret bocah itu ke arah mobil yang ia tumpangi tadi sebab lampu lalu lintas akan segera berubah warna.
Vino Prakasa adalah adik dari Violet, hanya beda bapak. Ya, Vino adalah anak dari ibunya dengan suami keduanya. Umur Vino baru tujuh tahun. Bocah laki-laki itu sangatlah polos. Dari sejak ia tahu bahwa Violet adalah kakaknya, ia sudah sangat menyayangi Violet. Berbeda dengan Violet yang justru membencinya. Ia benci karena Vino bisa mendapatkan kasih sayang ibu mereka sedangkan dia tidak.
"Kamu kok bisa ada di sini, Vino? " Tyas bertanya begitu Vino masuk ke dalam mobil.
"Iya, Kak. Tadinya ke rumah Kak Violet, tapi Kak Violet nggak ada. Jadi aku cari deh, eh malah tersesat. " Bocah itu tersenyum polos. Ia beralih menatap Violet.
"Kenapa, Kakak, nggak ada di rumah? " tanyanya pada Violet.
Violet hanya melirik dan enggan menjawab. Tak mungkin juga ia bilang bahwa ibunya tersayang itulah penyebabnya tidak lagi tinggal di rumah itu.
"Eh, Kak Violet udah pindah tahu. " Tyas yang menjawab. Iya tersenyum pada Vino.
"Iya, kah? Kok nggak kasih tahu aku? " Vino menatap Tyas.
"Hehehe.... Kita lupa kasih tahu Vino, " jawab Tyas tertawa. "Emangnya kenapa cari kakak kamu? "
Vino tersenyum merekah, ia mengambil sesuatu dari dalam tas kecilnya. Tyas terlihat antusias, sedangkan Violet tidak peduli. Asisten Ali juga hanya diam fokus mengemudi. Sesekali ia merilik ke belakang.
"Tada! Vino mau kasih ini buat, Kakak!"
Ternyata Vino mengeluarkan sebuah kertas undangan. Vino menyodorkannya pada Violet akan tetapi Violet hanya diam. Ia tidak terlihat akan menerima itu. Melihat Violet yang hanya acuh, Vino menunduk sedih. Melihat hal itu, Tyas buru-buru mengambil kertas undangan itu.
"Wah, apa ini? "
Vino tersenyum tipis. Ia masih tetap menatap Violet. Dalam hati ia merasa sangat sedih, Kakaknya itu belum bisa menerima kehadirannya. Padahal ia sangat-sangat menyayangi Violet.
__ADS_1
"Bunda mau ulang tahun. Bunda buat pesta meriah, Kakak, datang ya? "