Beloved Violet

Beloved Violet
Pelayan Pribadi


__ADS_3

"Aku datang untuk meminta pertanggung jawabanmu, Nona Violet! "


Suara itu terdengar sangat dingin, bahkan mampu membuat Violet membeku. Suara khas yang mengingatkannya pada kejadian malam itu. Suara yang sama seperti suara lelaki yang hendak melecehkannya pada malam itu.


'Ini cantik. '


Violet menggeleng pelan saat sepenggal ingatan tentang malam itu memuat di kepalanya. Violet mendongak, Ia menatap dua teman kerjanya yang tampak berdiri mematung.


"Apa, Kau mendengarku, Nona? "


Deg!


Tiba-tiba jantungnya berdetak cepat. Jantung Violet berdetak begitu cepat bukan karena Dia sedang jatuh cinta. Tapi Ia sedang takut. Dengan pelan Violet membalikkan tubuhnya. Mata itu terbuka lebar menatap objek di depannya.


"Kk--kau? "


"Yes, Kau masih mengingatku rupanya. "


Tuan Kin menatap Violet dengan sorot yang tajam. Sorot mata yang sama seperti malam itu dan efeknya masih sama, membuat Violet bergetar takut.


"Tidak! Aku tidak mengenalmu! " bantah Violet. Ia berusaha tenang, Ia benar-benar tak mau berurusan dengan Tuan Kin.


"Aktingmu sangat jelek! " cetus Tuan Kin terus menatap Violet. Lihatlah gadis di depannya itu, tubuhnya bergetar dan dia terus menunduk. "Jangan Kau, kira Aku melupakanmu begitu saja, " lanjutnya.


"Kau tidak perlu takut. Jika kau, bertanggung jawab maka aku tidak akan menyakiti, " tandas Tuan Kin.


Violet menunduk.


"Tuan.... "


"Kau hanya perlu bertanggung jawab, Nona Violet, " seru Tuan Kin.


Violet hampir terpekik saat sepasang tangan kekar milik Tuan Kin mangangkat tubuhnya ala brydal style. Asisten Hui yang melihatnya hanya diam lalu menunduk.


"**--tuan.... " lirih Violet. Tuan Kin hanya meliriknya saja.


Tuan Kin berbalik dan hendak melangkah. Namun sebelum itu, sebuah perintah keluar dari mulutnya untuk asisten Li.


"Aku tidak ingin ada berita apapun tentang ini besok. Kau tahu maksudku, Li? "


"Baik, Tuan. " Asisten Li menunduk hormat. Ia lalu mengikuti langkah bosnya itu.


Tuan Kin pergi membawa Violet dan meninggalkan Bu Rosma serta teman kerja lainnya yang diselimuti tanya.


"Apa kalian tahu apa yang terjadi? " Bu Rosma bertanya kepada para pekerjanya yang juga ikut menatap kepergian Violet dan Tuan Kin menaiki mobil mewah.


"Tidak! Mungkin saja gadis cacat itu membuat masalah dengan Tuan Kin. "


"Bukankah itu artinya hidupnya akan tamat? "


"Sudah cacat, bodoh pula! Berani sekali membuat masalah dengan Tuan Kin. "

__ADS_1


Bu Rosma menghela nafas gusar mendengar ocehan para karyawannya. Ia cukup khawatir dengan Violet, apalagi Dia cukup tahu penderitaan Violet selama ini yang hidup susah karena pandangan hina dari orang-orang sekitarnya. Dan sekarang Violet justru berurusan dengan Tuan Kin, orang yang dikenal arogan itu. "Semoga, Kau baik-baik saja, Violet, " batin Bu Rosma.


*


*


*


Di dalam mobil mewah itu, Violet hanya bisa duduk diam dan menunduk. Bersampingan dengan orang penting seperti Tuan Kin, membuat detak jantungnya bertalu cepat. Di sampingnya, Tuan Kin terlihat duduk santai sembari membaca sebuah map yang ada di pangkuannya.


"Tuan, kita mau pergi ke mana? " tanya Violet pelan tanpa berani melirik Tuan Kin.


Tuan Kin tidak menjawab, Ia pura-pura tidak mendengar.


Violet memilin ujung bajunya, Ia merasa takut. "**--tuan.... " lirih sembari menoleh ke arah Tuan Kin.


Tuan Kin menyadari bahwa Violet sedang menatapnya. Akhirnya Ia tak tahan lama-lama untuk berpura-pura. Ia menoleh dengan pelan. Menatap dingin wajah yang hanya terlihat sebagian itu. Netra coklat sebelah kanan milik Violet sama seperti malam itu. Manik mata yang memancarkan sebuah rasa ketidakberdayaan. Hal itu benar-benar membuatnya tak tahan ingin menyingkirkan helaian rambut yang menutupi sebagian wajah sebelah kiri Violet, tepat di mana bekas luka itu berada.


"Tuan. "


Tuan Kin sadar dari lamunannya. Ia berusaha bersikap biasa saja di depan Violet.


"Tuan, kita mau pergi ke mana? "Lagi, Violet bertanya.


Dengan tenang, Tuan Kin menjawab, " Tentu saja pergi untuk bertanggung jawab. "


"Tuan, saya minta maaf. Saya benar-benar tak ada niatan untuk melukaimu, Tuan. Hanya saja.... " Violet tak melanjutkan kata-katanya. Ia lebih memilih kembali menunduk ke depan.


Tuan Kin menaikkan satu sudut bibirnya. "Hanya saja, apa? "


"Katakan saja, mungkin Aku bisa mengurangi hukuman untukmu, " seru Tuan Kin yang membuat Violet seketika menatapnya.


"Hukuman? " tanyanya.


"Ya, hukuman. Tentu saja Kau akan mendapatkan hukuman untuk mempertanggung jawabkan perbuatanmu, " jawab Tuan Kin.


Violet meringis pelan. Mendengar jawaban itu membuatnya serasa seorang tersangka kasus kejahatan. Ya, mungkin memukul orang hingga pingsan adalah hal yang tidak benar, tapi, 'kan dia hanya membela diri. Dia hanya berusaha melindungi dirinya ketika hendak dilecehkan.


"Tuan, bukan, 'kah itu tidak adil? Saya hanya berusaha melindungi diri saja, " protes Violet. Sepertinya Ia mendapatkan sedikit keberanian karena kelihatannya Tuan Kin tidaklah jahat.


"Melindungi diri? " Tuan Kin menaikkan sebelah alisnya. Hal aneh terjadi, Tuan Kin terus menanggapi ucapan-ucapan Violet. Yang pada biasanya Tuan Kin begitu dingin dan tak suka bernegosiasi. Yang Ia tahu hanyalah keinginan dan perintahnya tak terbantahkan. Namun lihatlah, Ia sedang berkompromi dengan Violet. Apakah ada yang salah?


"Ya. Malam itu, Anda hendak melecehkan saya. Saya hanya melindungi diri saya sendiri. Apa itu salah. "


Tuan Kin terkekeh kecil mendengar jawaban Violet. "Melecehkanmu? Kenapa Aku tidak mengingatnya? "


Tawa kecil yang belum pernah orang lihat itu, entah mengapa begitu menyebalkan di mata Violet. Kesan yang awalnya pada Tuan Kin adalah orang yang dingin dan seram, kenapa sekarang berubah menyebalkan?


Violet mendesah kesal. "Tuan, kenapa Anda hanya mengingat apa yang saya lakukan? Tapi, Anda tidak ingat berbuat Anda sendiri malam itu. "


"Salahkan dirimu karena memukulku, mungkin Aku lupa karena hal itu, " jawabnya santai.

__ADS_1


Violet menghela nafas lemas. Violet menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Sepertinya percuma berdebat dengan Tuan Kin. Violet tetap tak berdaya dihadapannya. Bulir-bulir tangis luruh dipipinya. Ketakutan kembali menyerangnya. Hukuman apa yang akan diberikan padanya? Akankah Ia akan dipenjara? Jika Dia dipenjara, hidupnya akan semakin sepi dan menyedihkan. Dia sudah cukup kesepian selama ini.


Tuan Kin hanya terdiam melihat Violet yang menutupi wajahnya. Violet yang hanya terdiam membuatnya khawatir. Tuan Kin bergegas manarik tangan Violet. Jaraknya tubuhnya dengan Tuan Kin cukup dekat. Dalam jarak ini, air mata dan netra yang penuh kaca itu melemahkan hatinya. Rasa aneh datang menyerangnya hingga membuatnya tak tega melihat Violet menangis.


"Aku minta maaf, Tuan.... Aku salah. Tapi aku, aku juga sudah bertanggung jawab. Aku menolongmu, aku menelepon ambulans untukmu, " lirih Violet berlinang air mata.


Sorot mata yang menunjukkan ketidakberdayaan itu lagi-lagi membuatnya merasakan getaran aneh. Apakah ini rasa kasihan?


"Aku tahu. "


Violet mendongak. Dengan netra basah Ia menatap Tuan Kin.


"Anda mengingatnya? Ambulans, itu, itu aku yang meneleponnya. " Ada binar harapan di mata Violet.


Tuan Kin mengalihkan pandangannya. Ia melepaskan tangan Violet dan berdehem pelan.


"'Hmmh! "


"Benarkah? Tuan, itu artinya saya tidak perlu bertanggung jawab. Saya sudah menolong, Anda, " ucap Violet, senyum tipis terbit di bibirnya.


Tuan Kin kembali menatapnya, menatap senyuman di wajah Violet. "Kau memang sudah menolongku, Aku akan memberikanmu hadiah untuk itu, tapi.... " Tuan Kin menarik dagu Violet. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Violet.


"... Kau juga harus bertanggung jawab karena telah berani memukulku, " bisiknya dengan seringai khas.


Degh!


Violet menegang seketika, artinya percuma Dia menolong Tuan Kin. Itu justru membuatnya dalam masalah, akan lebih jika waktu itu Ia membiarkan Tuan Kin mati tanpa ada yang tahu.


Tuan Kin menjauhkan wajahnya, seringai khasnya itu masih terpatri saat menatap Violet yang menunduk tak berdaya.


"Kau hanya perlu menuruti apa yang kukatakan! "


*


*


*


Mobil mewah itu berjalan memasuki sebuah kawasan rumah mewah. Mobil berjalan melewati sebuah gerbang yang menjulang tinggi. Mobil mewah itu berjalan di atas paving blok dan berhenti tepat di depan rumah. Sebuah rumah bernuansa keemasan yang menggambarkan kesan mewah dan mahal.


Violet ikut turun saat Tuan Kin telah turun dari mobil. Di depannya itu adalah sebuah rumah namun seperti istana, sangat besar. Violet memandangi rumah itu sebentar, Ia lalu menunduk.


Tuan Kin meliriknya. "Ikut Aku! "


Violet menurut tanpa protes. Ia dengan pelan mengikuti langkah lebar sang CEO tampan itu. Kondisi kakinya membuat Ia kesusahan menyamai langkah. Tuan Kin yang menyadarinya 'pun memperlambat langkahnya.


Di dalam, terlihat beberapa pelayan menyambut. Tak banyak, hanya sekitar lima orang pelayan wanita. Tuan Kin dan Violet sampai di ruang tengah, sebuah ruangan yang sangat luas. Ruangan dengan interior mewah dengan banyaknya figura-figura mahal yang terpampang.


Walau Violet hanya menunduk dan tak mengamati setiap sudut ruangan satu-persatu, namun aura kemewahan dapat Violet rasakan. Rumah orang kaya memang berbeda dengan rumah orang biasa. Rumah Violet saja tak ada apa-apanya dibanding Rumah Tuan Kin.


Tuan Kin berjalan ke arah sofa, Ia mendudukkan bobotnya di sana. Menaikkan sebelah kakinya, Tuan Kin menatap Violet dari atas hingga bawah. Ia membatin, gadis ini yang Aku tarik malam itu? Heh, apa menariknya Dia? Tapi kenapa Aku merasa begitu tertarik?

__ADS_1


Tuan Kin merasa tak menyangka bahwa malam itu gadis yang hendak Ia lecehkan adalah gadis cacat. Gadis penakut yang penampilannya sama sekali tidak menarik. Apalagi sebagian wajah Violet selalu tertutup oleh rambut pendeknya. Namun hal berbeda Ia rasakan saat matanya menatap netra coklat milik Violet. Sesuatu seolah menariknya pada Violet. Sebuah rasa aneh yang membuatnya ingin dekat-dekat dengan Violet.


"Mulai sekarang, Kau akan menjadi pelayan pribadiku! "


__ADS_2