
Sudah semingguan Violet menjalani aktivitasnya, yaitu kuliah. Yang artinya setengah bulan berlalu sejak ia bertemu dengan Vino. Sejauh ini pula ia kuliah dengan tenang. Ia tak pernah lagi bertemu dengan sekelompok mahasiswi yang pernah membully-nya di awal kuliah.
Di dalam kamarnya, Violet menatap kertas undangan yang pernah Vino berikan. Ia menatapnya sendu. Teringat akan perketaan bundanya saat mengantarkan Vino waktu itu, membulatkan tekad Violet untuk tidak datang. Ia sudah muak, tidak ingin lagi di permalukan.
Sudah cukup ia mengemis kasih sayang selama ini, kini Violet sudah tidak peduli. Meski masih sakit rasanya, Violet berusaha membuat hatinya keras, sekeras batu agar tak mudah menangis. Jika nanti terluka karena mereka, Violet tidak ingin menangis lagi. Sudah cukup ia lemah selama ini.
Violet menghembuskan nafas pelan lalu membuang kertas undangan itu ke kotak sampah. Ia tidak peduli pada Vino yang akan kecewa padanya jika ia tidak datang.
Tok!
Tok!
Tok!
Violet menoleh menatap pintu kamarnya yang tengah diketuk dari luar. Ia beranjak dari ranjang dan perlahan melangkah mendekati pintu.
Ceklek!
"Ada apa? " tanya Violet. Pelayan di depannya nampak menunduk hormat.
"Maaf mengganggu, Nona. Tuan Kin meminta, anda, untuk datang ke kamarnya, " jawab pelayan perempuan itu dengan sopan.
Violet mengangguk. "Baiklah. Kamu, bisa kembali, " seru Violet.
Pelayan itupun berlalu pergi, Violet juga bergegas menuju kamar Tuan Kin. Entah ada apa sampai Tuan Kin memintanya datang ke kamarnya malam ini. Waktu menunjukkan pukul sembilan dua puluh satu menit.
Sampai di depan kamar Tuan Kin, ia mengetuk pintu tiga kali lalu membukanya dan bergegas masuk. Tuan Kin telah memberinya akses keluar masuk kamar pribadinya, tapi jika ada Tuan Kin di dalamnya maka Violet wajib mengetuk pintu terlebih dahulu. Akses itu ia berikan kepada Violet dengan alasan untuk memudahkan Violet jika akan menyiapkan pakaiannya sebab Violet adalah pelayan pribadinya.
"Tuan.... " Violet berdiri tak jauh dari Tuan Kin yang duduk di sisi ranjang.
Tuan Kin menoleh. " Kemarilah! " titahnya.
Dengan ragu dan pelan, Violet mendekat secara perlahan. Berada dalam satu kamar dengan laki-laki setampan Tuan Kin membuat jantung Violet berdebar-debar.
"Apa ada yang harus saya lakukan, Tuan? " tanya Violet begitu berdiri di samping Tuan Kin.
"Duduklah! " Tuan Kin meneluk ranjang kosong di sampingnya. Ia mengisyaratkan Violet untuk duduk di sampingnya.
Violet pun hanya bisa menurut.
"Apa kau sibuk besok?" tanya Tuan Kin sesaat setelah Violet duduk.
Violet menggeleng, memberi jawaban bahwa besok dia tak punya kesibukan lain selain menyiapkan kebutuhan Tuan Kin dan kuliah.
Tuan Kin terdiam sejenak. Ia teringat kembali dengan ucapan Asisten Ali tadi siang di kantor. "Tuan, Nona mendapatkan surat undangan pesta ulang tahun dari adiknya yaitu anak dari ibu dan ayah tiri Nona. Namun Nona sepertinya tidak akan datang. Hubungannya dengan keluarga baru ibunya juga tidak baik. "
__ADS_1
Tuan Kin tersenyum simpul, sepertinya Violet memang tidak akan datang ke pesta itu besok malam.
"Besok aku akan menghadiri undangan pesta. Aku ingin kau menjadi teman wanitaku untuk hadir di pesta besok, " seru Tuan Kin.
Wajah Violet nampak terkejut. "Tapi, Tu---"
"Aku tidak ingin dibantah! " sergah Tuan Kin, ia menatap tajam Violet membuat si empunya menunduk takut.
"Ta--tapi kenapa harus saya, T--tuan? " tanyanya terbata-bata.
"Karena aku maunya kamu! " singkat Tuan Kin.
Violet menatap Tuan Kin dengan tatapan tak setuju. "Tuan, anda bisa meminta siapa saja untuk menemani, anda, datang ke pesta itu. Tuan harusnya datang dengan orang yang pantas, " ucap Violet. "Saya hanyalah gadis cacat, saya tidak ingin mempermalukanmu, Tuan. "
"Siapa yang pantas pergi denganku hanya aku yang bisa menentukan. Berhenti merendahkan dirimu di depanku. Aku tidak menatap orang dengan berbeda, " ucap Tuan Kin.
Violet tahu bahwa Tuan Kin adalah orang baik. Laki-laki itu tak pernah menatapnya sebagai orang cacat. Tuan Kin Memperlakukannya dengan baik layaknya Violet adalah orang istimewa. Namun untuk menemani Tuan Kin ke pesta, Violet merasa sangat tak pantas. Ia tidak ingin mempermalukan Tuan Kin. Orang-orang pasti akan mencemoohnya yang datang dengan gadis cacat.
"Tapi tetap saja, Tuan. Orang lain tidak berpikir hal yang sama dengan, Anda, " lirih Violet.
"Aku tidak ingin mendengar bantahan apapun. Ingat, Violet! Kau hanya diizinkan menuruti semua perkataanku dan dilarang membantahnya, " tegas Tuan Kin.
Jika sudah begini, maka Violet hanya bisa menurut. Tentu saja ia tak akan lupa dengan perjanjian itu, tapi Violet hanya tak ingin membuat Tuan Kin malu. Ya, mungkin saja wajahnya semakin cantik tapi dia tetaplah cacat. Semua orang tetap menatapnya dengan jijik.
Tuan Kin tersenyum miring. Acara pesta besok malam benar-benar sangat ia nantikan. Ia tak sabar melihat ekspresi wajah makhluk-makhluk biadap itu saat melihat perubahan Violet nanti.
"Mari bersenang-senang. "
*
*
*
Tibalah malam yang ditunggu-tunggu oleh Tuan Kin, juga ditunggu-tunggu oleh si pemilik pesta. Berbeda halnya dengan Violet yang nampak tak bersemangat. Ia takut mengecewakan Tuan Kin nanti.
"Nona, mari bersiap! Mereka akan mendandani, anda! " Asisten Ali datang ke kamar Violet membawa dua orang penata rias.
"Kak.... Aku, 'kan udah bisa riasan sendiri, kenapa harus sama mereka? " protes Violet. Pasalnya jika hanya untuk make up ala kadarnya Violet sudah bisa, lagipula ia juga tak ingin riasan berlebihan.
"Ini perintah dari tuan, Nona. Saya hanya menjalankannya saja, " balas Asisten Ali.
"Baiklah.... Tuanmu memang sangat hebat, " cibir Violet. Heumm, dia mulai berani di belakang Tuan Kin.
"Kak! " panggil Violet.
__ADS_1
"Ya?"
"Nanti, Kak Li, juga ikut ke pesta? " tanya Violet.
Asisten Ali mengangguk. "Ya. Saya yang akan menjadi sopir kalian nanti, " jawabnya.
Mulut Violet membulat kecil. "Kakak, mulititalenta, ya? Nggak cuman asisten, Kak Li, bahkan bisa merangkap jadi supir, " ucap Violet dengan tawa kecil.
Asisten Ali menyengir. "Hanya menuruti perintah Tuan Kin, Nona. "
Tentu saja! Jika bukan karena Tuan Kin yang menyuruhnya untuk menjadi supir, memangnya dia mau? Ini bukan pertama kalinya, jadi tidak perlu heran.
"Baiklah-baiklah.... Kak Li, memang sangat patuh! " puji Violet.
Setelah itu Asisten Ali keluar dari kamar Violet. Ia membiarkan Violet bersiap-siap bersama dengan dua penata rias tadi. Dua orang tadi adalah penata rias artis terbaik, hasilnya pasti akan sangat memuaskan. Violet pasti akan sangat cantik.
Asisten Ali turun ke lantai bawah, ia menemui Tuan Kin yang sedang duduk santai di ruang tamu. Tuan Kin nampak sudah rapi mengenakan tuxedo hitam, rambutnya ditata sangat rapi. Aura ketampanannya benar-benar tidak dapat diragukan.
Gambaran-gambaran CEO yang keren dan ganteng ada pada Tuan Kin.
"Tunggulah di mobil, Li! " titah Tuan Kin. Tanpa sepatah katapun, Asisten Ali menunduk hormat lantar undur diri sesuai perintah.
Lima belas menit telah berlalu, Tuan Kin menghela nafas jengah. Entah harus berapa lama lagi dia menunggu Violet. Ini adalah kali pertamanya Tuan Kin mau menunggu seseorang. Sebelum ini, orang lain yang rela menungguinya, seberapapun lamanya itu.
Tap tap!
Tap tap!
Tap tap!
Tuan Kin mengalihkan pandangannya, ia melihatnya. Ya, dia melihat Violet yang turun dari tangga dengan anggunnya. Ia menggunkan gaun hitam yang menjuntai panjang dengan bagian bawah yang terdapat banyak mutiara-mutiara cantik sebagai hiasannya. Terlihat sederhana dan elegan, gaun itu Tuan Kin sendiri yang memilihkannya.
Ditambah rambut pendeknya yang diberi jepitan kecil namun mewah. Ah, Violet semakin cantik setiap hari. Kulitnya cerah, tak lagi kusam seperti dulu.
Violet berdiri di depan Tuan Kin, ia terpana menatap pria di depannya itu. Sangat tampan, batinnya. Sudah tampan ditambah penampilannya yang luar biasa, Tuan Kin nampak seperti pangeran dunia modern.
Tuan Kin juga merasakan hal yang sama, ia terpesona pada Violet. Ia bahkan tak peduli tentang bagaimana cara berjalan Violet. Sejak pertama bertemu, ia tahu Violet cantik. Kini hatinya telah rerdoktrin oleh pesona tersendiri dari Violet. Tuan Kin tak dapat berpaling.
Mereka terdiam saling pandang, dua-duanya sama-sama saling mengagumi. Andai mata bisa bicara, maka tatapan berbinar itu akan menjelaskan semuanya.
"Sudah? " Tuan Kin yang sadar lebih dulu memecah keheningan.
Violet ikut tersadar, ia mengangguk samar. "Sudah, Tuan! " ucapnya.
"Baik. Mari kita bersenang-senang, aku sudah tak sabar. "
__ADS_1