
"Apa?! " Tyas yang bertanya antusias.
"Dia .... "Tuan Kin menunjuk Violet " ... harus menuruti semua perkataanku! " ucapnya.
Tyas membolakan matanya. Menuruti semua perkataannya itu ada batasnya atau tidak? Jangan bilang semua itu termasuk meminta itu, eh, itulah maksudnya. Gila! Batin Tyas memukul pelan kepalanya yang berani-beraninya berpikiran kotor.
"Tunggu se--- "
"Baik! Saya setuju! "
Tyas melongo mendengar ucapan Violet. Ia menatap Violet dengan cengo. Bukankah tadi Violet tidak mau? Tapi sekarang? Apalagi sekarang ada syaratnya. Apa Violet gila.
"Heh! Kau serius? Bagaimana jika dia memintamu melakukan hal yang tidak-tidak? " cemas Tyas.
Tuan Kin dan Ali yang begitu mendengar ucapan Tyas mendadak berekspresi sangat datar. "Apa aku sejahat itu, Nona? "
Tyas nyengir, ia menggaruk pelipisnya yang tak gatal.
Violet telah memikirkan hal ini dari semalam. Seolah kebencian terhadap orang-orang yang telah merendahkannya membuatnya tak peduli akan keraguannya. Mungkin tadi Ia masih ragu, tapi sekarang tidak lagi. Tidak ada jalan lain untuk membalas mereka dan Violet sudah lelah disepelekan selama ini.
Ketika kita menginginkan sesuatu, maka kita juga harus siap kehilangan sesuatu lainnya. Violet mungkin akan mendapatkan kekuatan untuk balas dendam, tapi sekarang Ia kehilangan kebebasannya. Semuanya tak akan lagi sama saat ia menyetujui syaratnya.
Violet sudah bulat akan keputusannya. Dia lelah menderita. Sesekali dia ingin membuat orang lain yang telah merendahkannya menderita. Apa itu tidak boleh?
"Aku ingin melihat mereka semua menderita! " seru Violet dingin.
Hal itu membuat tiga orang yang bersamanya menatapnya dengan kerut heran.
__ADS_1
"Vio.... "
"Sesekali aku boleh menjadi jahat, 'kan, Yas? " Violet tersenyum pada Tyas.
Tyas menatapnya sendu. Namun sedetik kemudian, Ia mengangguk dan tersenyum.
"Aku selalu mendukungmu, " seru Tyas.
"Kau, yakin? Aku tidak ingin kau menyesalinya nanti " Ucap Tuan menatap Violet dengan serius.
Violet balik menatapnya, Tuan Kin tak lagi menemukan sorot tak berdaya itu lagi sekarang. Sorot mata Violet sekarang penuh luka dan kebencian. Tapi Tuan Kin tetap bisa membaca kepasrahan dari wajah Violet. Terlihat bahwa gadis itu tak berdaya oleh luka dan dendam.
Segaris senyuman terbit di bibir Violet. "Anda tidak perlu khawatir, Tuan. " Violet lalu menunduk lagi dan lagi.
"Penyesalan selalu datang di akhir. Jadi untuk sekarang, biarkan aku menikmati proses menuju penyesalan itu. Lagipula menyesal bukanlah kesalahan. Itu adalah hasil kebodohan. Tapi, biarkan saja aku melakukan hal bodoh ini, aku lelah untuk berusaha selalu baik-baik, " lirih Violet.
Setetes embun bening merembes dari netranya. Ia sadar sepenuhnya, bahwa setelah ini kebebasannya ada di genggaman Tuan Kin. Menuruti semua perkataan lelaki itu? Artinya Ia menyerahkan seluruh kebebasannya pada Tuan Kin. Violet sadar, setelah ini Ia tak bisa bertindak sesuai keinginannya. Violet tak peduli! Toh, dari dulu tak ada yang berjalan sesuai keinginannya.
"Baiklah. Semua ada pada pilihanmu. "
Ali datang membawa sebuah berkas. Diletakkannya berkas itu di depan Violet yang tengah duduk bersama Tyas dan Tuan Kin.
"Nona, ini adalah surat perjanjian yang Tuan Kin buat, " terang Ali.
Violet menatap Tuan Kin yang duduk santai meminum kopi panas yang dia biatkan tadi untuknyaa.
"Kenapa harus membuat perjanjian di atas kertas seperti ini, Tuan? " tanya Violet.
__ADS_1
Tuan Kin meletakkan cangkir kopinya. "Tentu saja Aku harus membuatnya. Bagaimana jika Kau mengkhianatiku nanti? "
Violet menunduk mendengar ucapan Tuan Kin. Yang ada dalam pikirannya sama sekali tidak sama dengan ucapan Tuan Kin. Sejak dia memutuskan untuk menerima syarat dari Tuan Kin, dipikirannya bahkan tak terlintas niat untuk berkhianat. Bagaimanapun sekarang dia sudah menyerahkan segala harapannya kepada Tuan Kin.
Ucapan yang dikatakan Tuan Kin memang benar adalah alasannya membuat perjanjian di atas kertas itu. Hanya saja ia mengucapkannya sedikit kasar. Sebenarnya dia tidak ingin Violet meninggalkannya suatu hari nanti. Dia akan mengubah Violet menjadi gadis yang hebat dan tak lemah. Suatu hari nanti Violet mungkin bosan berada di sisinya atau mungkin menemukan orang yang lebih hebat darinya. Mungkin Violet akan pergi meninggalkannya.
Dia tak rela Violet meninggalkannya. Tuan Kin belum yakin tentang apa yang ia rasakan. Hanya saja ia ingin mengikat Violet di sampingnya dan tak membiarkannya pergi. Itulah sebabnya ia membuat perjanjian di mana tertulis bahwa Violet tidak boleh mengkhianatinya ataupun pergi meninggalkannya kecuali dia yang menyuruhnya pergi.
"Vio, baca dulu surat perjanjiannya! Siapa tahu Tuan Kin ada nulis pasal aneh-aneh lagi, " bisik Tyas pada Violet, Tyas hanya berusaha bersikap selalu waspada. Meskipun ia yakin Tuan Kin adalah orang baik, tapi tetap tidak ada salahnya berjaga-jaga. Violet mengangguk dan mulai membaca berkas perjanjian tersebut.
Tak banyak yang tertulis di dalamnya. Hanya pihak A yaitu Tuan Kin bersedia membantu Violet membalas dendam asalkan pihak B yaitu Violet mau menuruti segala ucapannya. Pihak B juga tak diizinkan pergi meninggalkan pihak A tanpa izin dari pihak A.
"Dengan surat perjanjian ini artinya Kau harus selalu patuh padaku. Ke manapun Kau pergi harus atas seizinku. Dan Kau tenang saja, di situ juga tertulis bahwa Aku akan melakukan apapun untuk membantumu membuat mereka menyesal, " papar Tuan Kin saat melihat Violet tak kunjung tanda tangan.
Tuan Kin merebut surat perjanjian itu dan menandatanganinya. Lalu ia kembalikan surat itu agar Violet menandatanginya.
Tyas yang melihat Violet hanya diam 'pun bergerak mendekatinya. Ia pun berbisik, "Vio, apa Kau masih ragu? "
Violet menatap Tyas. Ia bisa melihat bahwa Tyas begitu yakin pada Tuan Kin. Sahabatnya itu terlihat sungguh percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja setelah ini.
Violet mengehela nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Tangannya bergerak mengambil pulpen yang ada di meja dan mulai menandatangani surat perjanjian itu.
Ali mengambil berkas perjanjian yang telah kedua belah pihak tanda tangani. Untuk pertama kalinya Tuannya itu menyuruhnya untuk membuat surat perjanjian di luar perjanjian bisnis. Ini benar-benar pertama kalinya Tuan Kin mengikat seseorang dengan sebuah perjanjian. Hal ini membuatnya semakin yakin bahwa Tuannya itu benar-benar tertarik dengan Violet.
"Aku tidak menyangka Tuan Kin akan tertarik dengan gadis seperti Nona Violet, " batin Ali.
Biar bagaimanapun Violet memang berbeda dengan wanita-wanita cantik yang selama ini mendekati Tuan Kin.
__ADS_1
Tuan Kin tersenyum samar dan tak ada yang menyadarinya. Ia merasa puas karena mulai sekarang Violet akan terus ada di sisinya. Entah bagaimana menjelaskannya, tapi ini seperti perasaan yang berbunga-bunga. Tuan Kin bahkan sadar bahwa jantungnya berdetak dengan aneh setiap kali menatap Violet.
"Apa Aku jatuh cinta pada pandangan pertama? "