Beloved Violet

Beloved Violet
Meminta tanggung jawab


__ADS_3

Setelah insiden di Bar pada malam itu, Violet memutuskan untuk mengambil cuti selama tiga hari. Bayangan kejadian pertemuannya dengan Tuan Kin membuatnya merasa sangat takut. Bahkan selama tiga hari ini Ia belum keluar rumah sama sekali.


"Sudahlah, kau tidak perlu merasa takut seperti itu, Vio. " Tyas meletakkan segelas coklat hangat di atas meja. Ia pun mulai merebahkan dirinya di sofa.


"Lagipula jika dia benar-benar mati, beritanya pasti sudah tersebar dari kemarin. Kau tentunya tahu, Tuan Kin sangat terkenal, " seru Tyas menatap Violet yang duduk di sofa singel.


Violet menatap Tyas. "Jika dia selamat, bukankah dia akan memenjarakanku? " lirihnya.


"Mungkin. Tapi buktinya sampai sekarang tidak terjadi apa-apa. Lagipula kau sudah berniat membunuhnya, kenapa kau harus menelepon ambulans? "


"Siapa yang berniat membunuhnya? Aku tidak sengaja! " ketus Violet.


"Ya, kau biarkan saja dia mati, " sahut Tyas santai.


Violet hanya mendengus pelan. Ia menyandarkan kepalanya, matanya terpejam. Bayang-bayang kejadian itu tiada henti mengusik tidur malamnya. Violet sampai takut keluar rumah. Ia takut jika ia keluar rumah lalu bertemu Tuan Kin lagi, dan bagaimana jika Tuan Kin menangkapnya? Tuan Kin bukanlah orang yang tepat untuk diusik. Membuat masalah dengannya sama saja berjalan menuju gerbang kehancuran.


"Andai Aku tidak datang untuk menjemputmu malam itu, " lirih Violet dengan mata terpejam.


Tyas bangkit, Ia meraih coklat panas dan meminumnya. "Kau menyalahkanku? "


"Jika bukan Kau, Aku harus menyalahkan siapa? Aku bahkan tak sanggup hanya untuk sekedar menyalahkan diri sendiri. "


"Kau saja yang bodoh! Kau bisa saja menemani Tuan Kin bermain lalu setelah itu Kau tinggal memintanya ganti rugi. Gampang, 'kan? " santai Tyas.


Violet langsung menegakkan tubuhnya. Ditatapnya Tyas dengan tajam. " Kau semakin membuatku menyesal berteman denganmu, " ucapnya.


"Kenapa? Dengan cara itu mungkin akan merubah hidupmu, Violet. Apa kau tak ingin membalas orang-orang yang sudah merendahkanmu? " tanya Tyas.


Violet terdiam. Membalas orang-orang yang telah merendahkannya? Tentu saja Ia mau, hanya saja Ia tak berdaya. Apalagi dengan cara yang kotor seperti itu.


"Aku mau, tapi bukan begitu caranya! "


"Lalu bagaimana? "


"Aku, aku, aa--aku.... "


"Aku sudah sering memintamu berubah. Kau bisa menutupi bekas lukamu dengan make up. Kau cantik, Violet. Hanya saja itu tertutup oleh rambutmu! " cerca Tyas. "Menjadi simpanan juga tidak papa, asalkan bisa balas dendam. "


"Kau, gila, Yas?! "


"Iya! ini semua karena, kau, yang tidak mau menerima bantuanku. Sampai kapan, sih, Violet? Udah saatnya, kau, itu berubah! " tegas Tuas.


"Percuma! Percuma, Tyas! Aku ini cacat! Bahkan jika aku memiliki wajah cantik sekalipun, aku tetaplah orang cacat! Wajah cantik gak akan merubah apapun, aku tetap cacat! Dan orang cacat selalu di pandang hina! " terang Violet. Ia mulai menangis.

__ADS_1


Dari dulu, dari sejak orang tuanya berpisah. Sudah tertanam rasa benci di hatinya. Ditambah, orang-orang yang terus menghinanya dan membully-nya. Rasa benci itu kian tumbuh. Ia ingin membuktikan pada ayah ibunya, bahwa walau ia cacat ia tetap bisa sukses. Ia ingin membuktikan pada saudara tiri yang selalu membully-nya, bahwa cacat bukan alasan untuk direndahkan. Ia ingin melakukan itu semua, namun lagi-lagi Ia tak berdaya.


Hening untuk beberapa saat.


"Sudah cukup bercandanya, bagaimana jika Aku benar-benar dipenjara? " cemas Violet meraup wajahnya kasar. Mengabaikan perdebatanya tadi dengan Tyas.


Tyas menghembuskan nafas gusar. Sebenarnya Ia juga sangat khawatir dengan Violet. Apalagi Violet berurusan dengan orang yang tak mudah. Bagaimana jika Tuan Kin benar-benar akan membalas dendam? Bukankah Violet akan segera tamat?


"Jangan Kau pikirkan! Percaya denganku, semuanya akan baik-baik saja. Jika Tuan Kin benar-benar akan membalas, Aku yang akan bertanggung jawab. "


"Yas.... " Mata Violet berkaca-kaca.


"Aku sudah berjanji akan menjadi sahabat terbaikmu. Aku hanya menjalankannya sekarang. Jangan baper! "


"Iihh! Siapa juga yang baper?!! Memang harusnya kau yang bertanggung jawab. " ketus Violet. Ia merasa kesal karena Tyas tidak pernah bisa diajak bicara serius. Gadis itu suka sekali bercanda.


*


*


*


"Jadi kau sudah mendapatkan informasi tentang gadis itu? " Seorang lelaki yang duduk di atas brankar rumah sakit terlihat serius bertanya kepada bawahannya.


"Sudah, Tuan! " Lelaki dengan setelan formal itu menyerahkan sebuah map berwarna hijau kepada pria yang kepalanya tengah di perban, itu bosnya.


Tuan Kin menerimanya, lalu membuka map itu dan membaca berkas yang ada di dalamnya.


"Violet? Jadi namanya Violet? "


"Benar, Tuan. Gadis itu bernama Violet, ia bekerja di sebuah toko roti, " terang sang asisten.


"Rambutnya ini.... " Tuan Kin membelai foto wajah Violet. "... Dia menutupi bekas lukanya. Tapi aku sudah melihatnya, Dia tetap cantik, " ucapnya.


Sang asisten tersenyum tipis. "Anda belum membaca poin terakhir dari informasi yang saya dapatkan, Tuan, " ucapnya.


Tuan Kin mengernyit, ia lantas membuka lembaran selanjutnya. Di sana tertulis tentang segala kekurangan dan kelebihan Violet. Termasuk juga tentang Violet yang cacat. Tuan Kin menatap asistennya.


"Benar, Tuan. Gadis itu memang cacat, dia berjalan pincang. Itu semua karena dia pernah mengalami kecelakaan. Luka di pipinya itu juga akibat dari kecelakaan yang sama, " terang sang asisten saat menyadari tatapan penuh tanya dari Tuan Kin.


Bayangan wajah Violet malam itu jelas masih terus berputar di otaknya. Walau tak sepenuhnya dapat terlihat karena sebagian tertutup rambut, tapi dia tahu bahwa Violet itu cantik. Apalagi saat menatap netra coklat milik Violet. Tuan Kin adalah satu-satunya orang yang mengatakan Violet cantik setelah melihat kekurangan Violet.


Di Bar, malam itu sebenarnya Tuan Kin sedang dalam pertemuan bisnis. Namun siapa sangka bahwa sang partner yang akan Ia ajak bekerja sama itu menjebaknya. Mereka mencampurkan obat perangsang ke dalam minumannya dan menyuruh seorang wanita penghibur untuk menggodanya. Mereka berencana merekam aktivitas panas yang akan terjadi antara dirinya dan wanita itu dan menyebarkan ke publik untuk menjatuhkan reputasinya.

__ADS_1


Dalam keadaan masih sadar dan menahan gejolak hasrat, Tuan Kin mendorong wanita itu dan pergi menjauh. Hingga dia menabrak Violet. Ia meminta bantuan Violet dengan cara memintanya meredam nafsunya. Siapa sangka bahwa Violet tak mau dan malah memukul kepalanya hingga berdarah. Lagi, Dia tak menyangka bahwa gadis itu juga menelepon ambulans untuk menyelamatkannya. Hal itu benar-benar membuatnya tertarik.


Seorang gadis cacat berani menolaknya. Gadis itu bahkan hampir membunuhnya, namun dia juga yang menyelamatkannya. Benar-benar menarik.


"Aku ingin menemuinya, Ali"


"Baik, Tuan. Lalu bagaimana dengan Tuan Robby? Apa yang harus Saya lakukan? "


"Kau masih perlu bertanya, Li? Hancurkan bedebah tua itu, buat dia merasa segan untuk hidup hingga memilih mati! "


Robby adalah pria baruh baya yang telah menjebaknya. Jangan berpikir bahwa Tuan Kin akan bermurah hati padanya. Pria itu terlalu iri hati dengan kesuksesan Tuan Kin, hingga membuatnya berbuat nekat. Sekarang hanya tinggal menunggu balasan yang jauh lebih kejam dari Tuan Kin. Dan jangan harap ada kata ampun.


"Li, Kau jangan lupa! Aku ingin segera bertemu dengan gadis itu! " perintah Tuan Kin.


Ali, mengangguk. "Baik, Tuan. "


'Ada apa dengan Tuan Kin? Bukannya menyuruhku membereskan gadis ini, dia justru ingin menemuinya. '


*


*


*


Masa cuti kerja Violet telah habis. Pagi ini gadis itu telah kembali sibuk di dapur toko. Banyak roti serta kue-kue yang harus ia kerjakan. Di toko roti ini, hanya ada tiga orang yang bertugas membuat roti dan juga hanya ada satu orang pelayan.


Untuk bisa sampai di tempat kerja, Violet harus memohon kepada Tyas agar mengantarkannya. Violet benar-benar masih takut keluar rumah. Kefokusannya bekerja sekarang saja sudah tersita banyak oleh bayang-bayang kejadian malam itu. Meski begitu, Violet tetap berusaha untuk bekerja dengan baik.


Sementara di bagian depan, terlihat Bu Rosma dan seorang pelayan begitu sibuk melayani para pelanggan. Nampaknya hari ini cukup ramai pembeli. Namun tak lama berselang, mereka semua yang ada di sana terlihat tertegun. Dari pintu dan jendela kaca, dapat terlihat dengan jelas kedatangan rombongan sebuah mobil-mobil mewah.


Mobil-mobil itu berhenti tepat di depan toko. Tampak beberapa pria berjas dan berkacamata hitam keluar dari mobil. Yang paling mencolok adalah seorang pria tampan yang mengenakan jas navy yang nampak berbeda dari yang lainnya. Tak hanya tertegun, mereka semua yang ada di sana juga terkejut melihat bahwa pria tampan itu adalah Tuan Kin, si CEO tampan yang paling terkenal di seluruh negeri.


Terlihat para pria berjas hitam yang merupakan para pengawal Tuan Kin mulai berbaris rapi di depan pintu. Tuan Kin mulai berjalan masuk dengan sang asisten di sampingnya.


"Di mana gadis itu? " Tuan Kin mengedarkan pandangannya di seluruh sudut toko, namun tak dapat menemukan apa yang Ia cari.


"Mari, Tuan. " Ali mempersilahkan Tuan Kin untuk mengikutinya menuju dapur.


Bu Rosma yang sejak tadi terdiam kini angkat bicara. "Tuan, ada apa ini? "


Ali tersenyum sopan padanya. Ia lalu mengkode salah satu pengawal untuk menjelaskan maksud kedatangan mereka. Tuan Kin dan Asisten Li mulai berjalan masuk ke dalam dapur. Sesaat setelah masuk, Tuan Kin dapat melihat dengan jelas apa yang Ia cari. Violet, gadis itu sedang sibuk memasukkan adonan kue ke dalam cetakan. Posisi Violet tengah membelakangi Tuan Kin.


Dua orang teman kerja Violet yang berada di seberangnya nampak menyadari kehadiran Tuan Kin. Mereka terdiam mematung tak berani berucap.

__ADS_1


Tuan Kin melanjutkan langkahnya hingga Ia berhenti tepat di belakang Violet. Ia tersenyum tipis lantas mencondongkan tubuhnya ke depan. Ia mendekatkan mulutnya tepat di samping telinga Violet dan berbisik lirih.


"Aku datang untuk meminta bertanggung jawabanmu, Nona Violet! "


__ADS_2