
"Anda, terlihat sangat senang, Nona? "Asisten Ali tersenyum tipis melihat Violet yang nampak ceria.
Hari ini adalah hari pertama Violet kuliah, Violet juga nampak sangat cantik. Wajahnya tidak lagi ditutupi, wajahnya terlihat sangat cantik dengan polesan make up. Bekas luka Violet ditutup oleh make up, Tuan Kin menyiapkan penata rias terbaik untuk mendandani Violet.
Ia melirik Violet yang duduk berdua dengan Tuan Kin di kursi penumpang, sedangkan Asisten Ali sendiri duduk di depan bersama supir.
Violet mengangguk dan tersenyum. "Bahkan sangat senang, Kak. Akhirnya aku bisa kuliah juga seperti Tyas, " ucap Violet.
"Tapi, Nona, tidak satu angkatan juga bukan satu falkutas dengan teman, Nona. " Asisten Ali nampak sedikit enggan hingga tak sampai menyebut nama Tyas.
"Tidak masalah. Yang penting kita masih satu tempat kuliah, Kak, " balas Violet.
Meski keluarganya mendapatkan sumber pangan utama dari berbisnis, nyatanya Tyas tidak tertarik dengan bidang itu. Tyas lebih memilih untuk menjadi guru. Itu adalah cita-citanya sejak kecil. Beruntung orang tua serta keluarganya mendukung. Mereka tidak menghendaki Tyas untuk ikut terjun dalam dunia bisnis. Toh, jika nanti Tyas ingin, ia bisa ikut sesuai keinginannya.
Tuan Kin menunjukkan wajah datar melihat keakraban Violet dengan asistennya. Terlebih saat mendengar Violet memanggil Asisten Ali dengan sebutan 'Kak' ia merasa tak suka.
"Apa kalian sedekat itu? "
Violet menoleh ke arah Tuan Kin dengan bingung. Tak paham dengan pertanyaan Tuan Kin.
"Maksudnya, Tuan?" bingungnya.
"Kau memanggilnya dengan sebutan seperti itu, apa kau sangat dekat dengannya? " Dengan wajah datarnya Tuan Kin kembali melempar pertanyaan.
Berbeda dengan Violet yang tetap tidak paham dengan arah pembicaraan Tuan Kin, Asisten Ali justru sudah berkeringat dingin. Tuannya itu sepertinya tidak suka saat Violet memanggilnya dengan sebutan 'Kakak'. Ia pikir dengan meminta Violet memanggilnya sesuka hati, asal selain tuan maka Tuan Kin tidak akan marah.
"Emm, anu, Tuan--- "
"Bicara yang benar, Li! " sergah Tuan Kin.
Asisten Ali meneguk saliva kasar. "Itu, Tuan.... Awalnya Nona memanggil saya dengan sebutan 'tuan', saya merasa kurang pantas jadi meminta Nona untuk memanggil dengan sebutan lain, " terangnya.
"Meminta dia memanggilmu 'KAK'? " Akhir kalimat itu mendapatkan penekan penuh.
"Euh, ini.... "
"Aku yang ingin memanggilnya seperti itu, Tuan, " sahut Violet membuatnya Tuan Kin langsung menatapnya tajam. Violet mengatakan itu hanya untuk menyelamatkan Asisten Ali yang sepertinya sedang dalam bahaya.
"Kenapa? "
"Em, karena Kak Li baik, " jawab Violet dengan sangat jujur. Memang asisten Ali sangat baik karena selalu menemani dan menjaganya.
"Dia hanya melakukan apa yang aku perintahkan. Jadi bukankah aku yang paling baik di sini? " tanya Tuan Kin dengan kesal. Menurutnya Asisten Ali tidak melakukan apa-apa, dia hanya melakukan apa yang ia perintahkan. Termasuk selalu menemani Violet, itu adalah perintahnya. Ck, sepertinya dia harus berhenti menyuruh Ali menemani Violet. Bisa-bisa gadis itu suka dengan asistennya itu.
"I--iya! "
"Kalau begitu seharusnya kau memanggilku apa? "
Violet memiringkan wajah bingung. Ia bahkan tidak pernah memikirkan akan membuat sebutan lain untuk Tuan Kin. Semua orang yang bekerja padanya memanggilnya Tuan, jadi Violet hanya melakukan hal yang sama.
__ADS_1
"Emm, Ayah ... mungkin? "
Seketika saja wajah Tuan Kin berubah datar. Sepertinya ia memang tidak bisa mengharapkan apa-apa dari gadis polos seperti Violet. Tuan Kin mendelik saat melihat Asisten Ali memegang perut menahan tawa.
"Ck! Lupakan saja! "
*
*
*
"Gimana? " Tyas menjatuhkan bobot tubuhnya di kursi kantin bersama dengan Violet.
Setelah kelas selesai, Tyas langsung mengajak Violet ke kantin untuk mengisi perut yang lapar. Semua orang nampak berbisik melihat kehadiran Violet, apalagi saat melihat cara berjalan gadis itu yang membuat mereka semakin giat mencibir.
"Seru! " jawab Violet. Ia berusaha mengabaikan tatapan orang-orang.
"Baguslah! Oh, iya. Ku rasa kini semua orang sedang membicarakanmu karena kau datang diantar mobil mewah tadi pagi. Ah, gadis cantik yang kaya raya, " ucap Tyas.
Pagi tadi beberapa orang yang melihat Violet turun dari mobil mewah merasa kagum. Violet terlihat sangat cantik meski hanya mengenakan celana jeans dan kaos kebesaran. Tapi tatapan kagum itu berubah ketika melihat cara berjalan Violet. Mereka tak menyangka bahwa gadis secantik Violet adalah orang cacat.
Tuan Kin tadi memang tidak turun dari mobil, Violet melarangnya ikut turun. Ia tidak ingin orang-orang salah paham hingga memandang rendah Tuan Kin yang turun bersama dirinya. Ia tidak ingin mempermalukan Tuan Kin.
"Bukankah yang benar adalah gadis cacat yang entah bagaimana caranya bisa naik mobil mewah? " Violet tersenyum kecut.
"Kau sudah sering mendengarnya, kenapa masih marah? " lanjut Tyas. Ucapan Tyas itu sebenarnya mengingatkan pada Violet bahwa Violet sudah sering direndahkan, dia sudah terbiasa. Jadi kali ini Tyas juga mengingatkannya untuk biasa saja karena berubah juga butuh waktu.
"Kau benar! " Violet tersenyum.
Dua gadis itu akhirnya memilih makan dengan diam. Mereka tidak melanjutkan obrolan karena merasa topiknya akan mengarah ke hal yang serius yang artinya Tyas sangat anti dengan hal-hal serius. Jadi dia lebih memilih diam tak melanjutkan.
Sedangkan tak jauh dari posisi mereka, ada Bella yang mengamati dengan tangan terkepal. Ia merasa semakin murka saat tahu Violet kuliah di tempat yang sama dengannya. Ia tak menyangka Tuan Kin akan sampai berbaik hati menguliahkan gadis cacat itu. Bella juga merasa takut, seandainya orang-orang di kampusnya tahu bahwa Violet adalah saudara tirinya maka dirinya pasti akan sangat malu. Ia malu punya saudara yang cacat.
Bella ternyata juga takut Violet menyaingi kecantikan. Ketika melihat Violet yang kini mulai berani menunjukkan wajahnya, Bella takut orang-orang mulai berpihak pada Violet karena kecantikan gadis itu.
Perlahan ia mengembangkan senyum miring. Rencana yang ia susun pagi tadi begitu melihat Violet datang dengan Tuan Kin, kini akan segera dimulai. Ia berdecih dengan begitu sinis saat melihat sekelompok mahasiswi berwajah sangar berjalan ke arah Violet dan Tyas.
Tidak ingin mengambil resiko karena ancaman Tuan Kin, Bella memilih mengambil jalan lain. Sesuai rencananya, biarkan orang lain yang melakukannya untuknya. Semua berjalan lancar jika ada uang.
"HEH! "
Tyas dan Violet berjengkit kaget saat satu di antara empat orang mahasiswi berwajah sangar itu menggebrak meja mereka. Tyas menggeram tertahan, ia tak suka diganggu saat sedang makan.
"Bangs*t!" umpat Tyas saat kuah bakso yang ia makan memuncrat akibat gebrakan pada meja.
"Cewek cacat! Ngapain, kau, ada di sini? " Mereka menatap dengan pandangan remeh.
Violet menghela nafas, ia melirik Tyas yang wajahnya telah merah padam.
__ADS_1
"Maaf, apa ada larangan? " tanya Violet balik, ia masih berusaha tetap tenang dan tak takut. Ia teringat akan pesan Tuan Kin agar dirinya berani melawan orang-orang yang menindasnya.
"Belagu, nih, si cacat! Mentang-mentang dateng diantar mobil mewah, kau pikir hebat, hah? " salah satu mahasiswi yang mengenakan pakaian ketat membentak Violet.
"Gak usah sok, deh! Sekali cacat, ya, tetep cacat! Sadar diri, say! Kau itu cuman sampah! " ketus salah satunya.
Violet meremat baju yang ia pakai. Meski berusaha kuat, nyatanya ia masih saja lemah ketika dihina.
"Kau, siapa sih? Kok bisa naik mobil mewah? Jangan bilang kau jual diri, ya! Heh, mana ada yang mau.... Hahaha.... " Mereka tertawa. Orang-orang hanya diam, mereka semua tak ingin ikut campur.
"Diam! Siapa yang izinin kalian buat nge-bac*t di sini, hah? " pekik Tyas. Ia berdiri dari duduknya dan memberikan tatapan tajam.
Bukannya takut mereka malah semakin menjadi-jadi
"Yow, pengawalnya marah, guys! Hahaha.... "
Tak peduli pada Tyas, salah satu di antara mereka justru menyiram Violet dengan air dingin. Hal itu tentu saja membuat semua orang terkejut. Dari kejauhan, Bella tersenyum puas.
Tyas mengepalkan tangan dengan murka. Kenapa hidup Violet tidak lepas dari yang namanya dibully? Entah dosa apa Violet sampai ia harus dihukum seperti ini.
Plak!
Tyas dengan berani menampar seseorang yang menyiram Violet. Hal itu membuat sekumpulan mahasiswi marah. Mereka balik menyerang Tyas, bahkan Violet juga kena imbasnya. Violet berusaha membela diri dengan menjambak balik orang yang menjambaknya. Tampar, ya tampar balik!
Brukh!
Seseorang menjatuhkan Violet ke lantai. Empat mahasiswi itu tertawa senang saat berhasil menjatuhkan Violet dan mengunci pergerakan Tyas. Tyas memberontak, ia sangat marah melihat mereka menjambak Violet yang terduduk di lantai. Dua lawan empat, bagaimana akan menang? Tyas juga nggak bisa beladiri.
"Bangs*t kalian semua! Di mana hati nurani kalian, hah? Kalian cuman diam aja melihat tindak kekerasan di depan mata kalian! DASAR IBLIS! " pekik Tyas menatap nyalang orang-orang di sekitarnya yang tak ada niatan menolong. Semua orang memilih memalingkan wajah saat mendengar ucapan Tyas.
Plak!
Plak!
Plak!
Plak!
Semua orang melongo saat melihat seorang pemuda tampan datang dan menampar empat wanita yang membully Violet dan Tyas. Tamparan itu sangat kerasa hingga membuat mereka tersungkur ke lantai.
Pemuda itu merengkuh tubuh Violet dan membawanya untuk berdiri. Penampilan Violet sama dengan Tyas sekarang, acak-acakan.
"Sekali lagi aku lihat kalian berulah, maka aku nggak akan segan-segan buat patahin tangan kalian! " tekan pemuda itu sebelum melangkah pergi membawa Tyas dan Violet.
Sedangakan orang-orang yang tadinya membully Tyas dan Violet kini pingsan akibat tamparan super keras dari pemuda itu. Bayangkan saja, mereka perempuan dan mendapatkan tamparan tanpa kasih dari seorang pria dengan tangan berortot. Bayangkan saja, mereka perempuan dan mendapatkan tamparan tanpa kasih dari seorang pria dengan tangan berortot. Bisa bayangkan sakitnya?
Di sisi lain, Bella menggeram kesal saat pertunjukkan menarik itu selesai. Ia mengumpati pemuda yang menolong Violet.
"Si alan! "
__ADS_1