
somad sudah siap berangkat kerja,tetapi rosa tidak mendapatkan baju yg pas untuknya
"sayang aku udah siap mau berangkat kerja loh,kamu dari tadi mondar mandir aja sih" somad heran melihat tingkah istrinya
"aku juga bingung baju dari tadi nggak ada yg muat" rosa kebingungan lalu menggaruk kepalanya
"ya jelaslah baju nggak ada yg muat,kamu nggak liat perut kamu yg semakin buncit itu" somad meraih kedua tangan lalu istrinya dan memberitahu kehamilan yg sudah berusia 7 bulan itu
"kalau begitu aku ambil cuti aja ya sampai nanti aku melahirkan,dan kamu cari rekan kamu yg baru buat bawain acara" pinta rosa pada suaminya
"sebenarnya kalau cari rekan baru itu butuh waktu yg susah buat aku" somad ragu dengan permintaan istrinya
"meskipun di tv kamu punya rekan baru,tapi rekan hidup kamu tetap aku,ya udah ayo kita sekalian turun ke bawah" rosa memeluk suaminya
Mereka berdua turun ke bawah
"mad kamu nggak jemput silvi" bu mirna bertanya pada anak sulungnya
"oh iya aku lupa ma" somad yg sedang menuruni anak tangga itu memegang kepalanya
"jangan begitu nanti kita jatuh" rosa memberitahu suaminya
"iya,aku hati² kok" somad memegang tangan istrinya sampai ke ruang tamu
tiba² ada yg mengetuk pintu
Tok tok tok
"ada yg ketuk pintu aku buka dulu ya" ujar somad pada istrinya
"iya" jawab rosa pada suaminya
"sayang,kamu udah pulang baru aja ayah mau jemput" ujar somad pada anaknya
"sebenarnya aku bisa pulang sendiri yah tapi bu guru yg mau anterin aku" jawab silvi pada ayahnya
"makasih ya buk,udah anterin anak saya" ujar somad pada rima
"iya pak,lagipula silvi sudah saya anggap seperti anak saya sendiri kok" jawab rima pada somad
"bu rima masuk yuk" rosa berjalan menghampiri mereka bertiga
"nggak usah buk,nanti ngerepotin" rima menolak ajakan rosa
"nggak ngerepotin kok,lagipula saya di rumah kok yg berangkat kerja suami saya doang" rosa tetap mengajak rima masuk
"ya udah" rima menerima ajakan rosa
"sayang aku berangkat ya" ujar somad pada istrinya
"iya hati²" jawab rosa sambil mencium punggung tangan suaminya
"ayah hati² ya" silvipun mencium punggung tangan ayahnya
__ADS_1
"iya" somad tersenyum lalu berangkat kerja
"ayo buk duduk" rosa menyuruh rima duduk di sofa
"iya buk" rima menurut lalu duduk di sofa
"sayang kamu ganti pakaian dulu ya" ujar rosa pada anaknya
"iya ma" silvi menurut lalu naik ke atas
"bu rima apa kabar" bu mirna menyapa rima
"alhamdulillah baik buk" jawab rima pada ibu mertua rosa itu
"silvi nakal nggak kalau di sekolah" bu mirna bertanya pada rima
"nggak kok buk dia anak yg baik,kadang² sedikit jahil juga sih" jawab rima pada bu mirna
"bu rima sudah berapa lama menjanda??" bu mirna bertanya pada rima
"sudah 5 tahun buk" jawab rima pada bu mirna
"kenapa dulu cerai sama suaminya buk" bu mirna bertanya kembali pada rima
"karena saya nggak bisa punya anak buk makanya dia menceraikan saya" jawab rima pada bu mirna
"tapi bisa juga loh suaminya yg nggak bisa punya anak buk" ujar rosa pada rima
"saya juga nggak tau buk diantara kita siapa yg nggak bisa punya anak,tapi dia sudah menceraikan saya saja setelah 2 tahun pernikahan lalu selama 4 tahun saya kuliah dan jadi guru agar bisa dekat dengan anak²" jawab rima pada rosa
"iya buk,termasuk silvi karena matanya itu sangat mengingatkan saya kembali pada pak somad,eh maaf" rima keceplosan
"kalau saya boleh tanya apa bu rima masih mencintai anak saya" tanya bu mirna pada rima
"jawab aja buk,saya nggak marah kok" ujar rosa pada rima
kemudian silvi turun dari tangga dan menghampiri semuanya
"jujur saya memang masih mencintai pak somad buk,tapi saya nggak akan merebutnya dari bu rosa apalagi bu rosa sedang hamil sekarang" jawab rima secara blak blakan
"bu guru masih suka sama ayah" silvi berjalan ke sofa dan bertanya pada gurunya
"nggak kok" rima menggeleng pada muridnya
"kirain masih suka" silvi menghampiri ibunya
"oh iya bu rosa udah berapa bulan kandungannya" rima mengganti topik pembicaraan
"sudah 7 bulan buk" jawab rosa pada rima
"bu rosa nggak berangkat kerja lagi" rima bertanya pada rosa
"baju kerja saya nggak muat buk,karena perut yg semakin buncit ini" jawab rosa sambil mengelus perutnya
__ADS_1
Melihat rosa mengelus perutnya rima melamun dan membayangkan dirinya berada di posisi rosa
"buk,buk,bu guru" silvi melambaikan tangannya di depan wajah rima
"eh iya ada apa" rima bertanya pada muridnya
"jangan melamun" jawab silvi pada gurunya
"aku yakin pasti bu guru lagi ngebayangin kalau posisi mama jadi dia yg lagi hamil dan ngelus perutnya" silvi membatin
"nenek,pasti bu guru melamun lagi ngebayangin posisi dia seperti mama yg lagi ngelus perutnya" bisik silvi pada neneknya
"nenek juga tau,karena dia ngeliatin mama kamu" bu mirna membalas bisikan cucunya
"mama,mama" silvi memanggil ibunya
"iya" jawab rosa pada anaknya
"kok mama nggak berangkat kerja tadi" silvi bertanya pada ibunya
"baju kerja mama nggak ada yg muat" jawab rosa pada anaknya
"emang kenapa nggak muat" silvi bertanya pada ibunya
"kamu nggak liat ini perut mama udah buncit seperti ini" jawab rosa sambil menunjuk perutnya pada anaknya
"oh iya,maafin kakak ya" silvi mengusap perut ibunya lalu bicara pada adiknya
"iya kakak" rosa menjawab ucapan anaknya
"kalau begitu saya pulang dulu ya buk" rima pamit pada bu mirna dan rosa
"iya buk" jawab bu mirna dan rosa pada rima
"silvi bu guru pulang dulu ya" rima pamit pada muridnya
"iya buk" jawab silvi lalu mencium punggung tangan gurunya
kemudian rima pulang
"kasian juga guru kamu silvi,padahal dia juga nggak terlalu jelek juga sih orangnya" ujar bu mirna pada cucunya
"iya nek" jawab silvi pada neneknya
"siapa tau kalau dia menikah lagi bisa punya anak ya ma" tanya rosa pada ibu mertuanya
"betul juga yg kamu bilang rosa" jawab bu mirna pada menantunya
"oh iya nek mungkin semua yg dialami sama mantan ayah itu karma kali ya" silvi bertanya pada neneknya
"kemungkinan seperti itu" jawab bu mirna pada cucunya
"kalau bu guru menikah sama om gila itu gimana ya ma" silvi bertanya pada ibunya
__ADS_1
"tanya dulu sama dia mau nggak sama om roy" jawab rosa pada anaknya