Berondong Simpanan Istriku

Berondong Simpanan Istriku
Kejujuran


__ADS_3

Bunyi notifikasi dari ponselnya menghenyakan Samsul dari lamunan. Samsul beranjak dari duduknya dan langsung mengambil benda pipih itu dari atas meja, nampak ada pesan di aplikasi hijau, dan menunjukan pesan dari Mila.


[Pa. Mama ada urusan penting dengan teman Mama, Papa kalau lapar, Beli saja dulu masakan dari luar. Nanti jam tiga sore Mama pulang ya] pesan dari Mila sedikit membuat Samsul merasa tenang.


Iya Ma. Mama jangan khawatir, nanti Papa beli nasi padang saja, selesaikan dulu urusan Mama sama teman Mama.


Jemari Samsul lugas mengetik balasan untuk istrinya.


Setelah membalas pesan dari istrinya. Cepat Samsul menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya. Setelah itu ia duduk sejenak di sofa, pikirannya masih menerawang pada kejadian yang tadi siang dialaminya bersama Intana. Wanita masa lalu nya itu, sedikit menguras otaknya.


Bagaimana mungkin Intana bisa berubah liar, dulu saat Samsul masih berhubungan dengan wanita itu. Intana adalah sosok anggun dan baik. Tapi setelah menikah, justru prilakunya berubah. Wanita itu bahkan mulai mengenal minuman keras.


Memikirkan Intana. Samsul jadi ketiduran di sofa dan akhirnya ia pun tertidur pulas.


"Pa! Bangun Pa!" Berkali- kali Mila mencoba membangunkan suaminya. Tapi Samsul tetap tertidur pulas.


"Aduh Papa ini! Bangun Pa, ini sudah jam lima sore. Mama sudah masak nih!"


Sontak Samsul terbangun mendengar teriakan istrinya.


"Intana apa yang kamu lakukan?"


Mata Mila menyipit mendengar perkataan suaminya.


"Intana? Siapa Intana Pa?"


Deg!


Jantung Samsul berdetak kencang. Karena memikirkan Intana. Mulutnya keceplosan begitu saja, menyangka Mila adalah Intana. Cepat Samsul beranjak bangun.


"Eh, anu Ma, maksud Papa, itu Mama sudah pulang?" jawabnya gelagapan.


"Papa ini bisa saja ngelesnya. Jawab Mama siapa itu Intana. Tadi Mama dengar dengan jelas, Papa menyebut nama Intana!" sentak Mila penuh amarah.


"Aduh Ma. Papa tidak tahu siapa Intana. Papa hanya mimpi saja mungkin," kelit Samsul dengan wajah yang sudah terlihat pucat.


"Papa bohong! Papa selingkuh, ya?" selidik Mila.


"Selingkuh! Aduh Ma, Papa ini setia sama Mama. Mana mungkin Papa selingkuh," rayu Samsul sambil mendekati istrinya dan langsung memeluknya erat.


"Ih. Awas ya, Pa! Kalau Papa selingkuh, Mama cekik Papa nanti!" bentak Mila dengan emosi yang sudah meluap- luap.

__ADS_1


"Tenang Ma. Papa ini setia kok sama Mama, apalagi Mama sekarang sedang ..."


Ups hampir saja mulut Samsul keceplosan.


"Sedang apa Pa? Papa ini aneh ih!"


"Tidak Ma. Maksud Papa Mama sedang cape, iya Mama cape, ya?"


Dengan wajah ketus. Mila kemudian pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan suaminya. Samsul mengikutinya dari belakang sambil terus merayu Mila agar tidak terlalu memikirkan nama wanita yang tak sengaja tadi ia ucapkan.


"Tadi Mama pulang, Papa tertidur pulas di sofa. Mama gak tega bangunin Papa. Jadi Mama langsung masak," kata Mila dengan wajah yang masih terlihat kesal.


"Iya maaf ya Ma. Habis Mama pergi ke pasar lama sekali. Sambil nunggu Mama datang, Papa tiduran di sofa ... eehh ... Papa malah tertidur."


"Ya sudah sana makan dulu!"


Ikan gurame bumbu kuning kesukaan Samsul, Mila suguhkan di atas meja beserta sayur asam dan juga kerupuk.


Tentu saja masakan istrinya itu membuat perut Samsul bersuara nyaring tanda lapar. Segera ia melahap habis ikan bumbu kuning yang dimasak istrinya. Sementara Mila duduk di sampingnya menemani suaminya makan.


"Lahap betul Pa makannya? Papa ini dari tadi memang belum makan?" tanya Mila sambil menatap heran suaminya.


"Kan tadi kata Mama kalau Papa lapar, beli saja dulu masakan di luar."


Samsul tak menjawab. Mulutnya terus saja mengunyah menghabiskan semua makanannya.


"Ah kenyang Ma. Terima kasih ya Ma, masakan Mama enak sekali," puji Samsul sambil mengelus- elus perutnya yang sedikit buncit karena kekenyangan.


"Iya!" ketus Mila sambil membereskan semua hidangan bekas makan suaminya.


"Mama masih marah?" tegur Samsul.


"Iya!"


"Kenapa sih Ma? Gitu aja marah!"


"Papa bohong sama Mama. Siapa itu Intana Pa?" Dengan keras Mila menyimpan piring ke tempat cucian memperlihatkan emosi nya.


"Ya ampun Ma. Bahas itu terus, Papa kan sudah bilang. Intana itu wanita yang datang dalam mimpi Papa. Papa gak tahu siapa itu Intana," dusta Samsul beralasan.


"Aduh Pa. Memangnya Mama ini bodoh! Gak mungkin Papa nyebut nama itu, kalau Papa tak ada hubungannya. Pasti Intana itu selingkuhan Papa! Iya kan!"

__ADS_1


Samsul di buat kalut dengan pertanyaan Mila. Tak mungkin ia berterus terang pada istrinya tentang wanita yang pernah hadir di hidupnya dulu.


"Sudah Ma. Jangan bahas itu lagi. Dari tadi itu saja yang Mama tanyakan. Ngomong- ngomong, apa Mama setia juga sama Papa?" Samsul menyerang balik Mila karena merasa terjepit dengan pertanyaan istrinya.


Deg!


Jantung Mila seakan terhenti mendengar pertanyaan suaminya. Wajahnya seketika pucat pasi.


"Ayo, Mama sudah menyembunyikan sesuatu yang penting dari Papa, katakan Ma. Papa tahu itu!"


Mila menelan ludahnya dalam- dalam, dan seketika itu ia menghentikan kegiatannya. Piring kotor yang tengah ia pegang, Mila jatuhkan perlahan begitu saja.


Apa mungkin suaminya mengetahui perselingkuhannya dengan Deni?


"Ayo Ma, kalau ada hal penting yang ingin Mama sampaikan. Katakan saja, jangan menyembunyikan hal besar dari Papa."


Samsul berharap Mila mengakui tentang kehamilannya.


"A, apa maksud Papa?"


Giliran Mila yang terpojok. Keringat dingin mulai menitik di dahinya. Jantungnya terpacu.


"Jadi Mama tak mau terus terang sama Papa?"


Samsul sudah tidak sabar ingin kejujuran dari istrinya. Sampai kapan Mila menyembunyikan kehamilannya.


"Sudah ah! Mama cape! Mama mau istirahat dulu!" Cepat Mila menghentikan kegiatannya. Dan pergi begitu saja ke dalam kamar dengan menundukkan wajahnya dari Samsul. Meninggalkan cucian piringnya yang ia biarkan begitu saja.


Tentu saja Samsul emosi melihat ulahnya. Setiap bertanya sesuatu yang penting. Istrinya selalu menghindar dengan berbagai alasan.


Segera Samsul mengejarnya masuk ke kamar. Mila terlihat berbaring memiringkan tubuhnya.


"Ma! Jawab pertanyaan Papa? Katakan apa ada sesuatu yang Papa tidak tahu! Jawab Ma. Papa ingin kejujuran dari Mama!" bentak Samsul tak sabar menunggu istrinya untuk berterus terang mengenai kehamilannya.


Mila memilih diam tak menanggapi perkataan suaminya.


"Ma. Kesabaran Papa ada batasnya, kalau Mama tak mau berterus terang, Mama akan menyesal!" ancam Samsul kemudian.


Mila berangsur bangkit dari berbaringnya dan langsung menatap tajam wajah suaminya.


"Pa. Memangnya Mama harus berterus terang mengenai apa? Mana gak ngerti!" kelit Mila semakin gugup. Ia harus berusaha menghindari pertanyaan Samsul agar perselingkuhannya bersama Deni tidak terbongkar. Mana mungkin ia berterus terang mengenai Deni. Apalagi di rahimnya telah bersemayam benih cintanya bersama Deni.

__ADS_1


__ADS_2