
Intana tersenyum kecil melihat gerakan spontan Samsul saat ia mendekat. Lelaki itu memang tak berubah, selalu setia pada pasangannya.
Untuk itu. Intana berjanji akan melupakan Samsul untuk selamanya, karena lelaki itu sudah bahagia hidup berumah tangga. Ia akan pergi menjauh darinya.
"Pa!"
Mila tiba- tiba sudah berdiri di hadapan mereka berdua. Keduanya langsung berdiri melihat kehadiran Mila.
"Ma, Mama, udah bangun Ma ... " jawab Samsul gagap.
Mila lalu mendekati suaminya. Lalu menatap sekilas Intana kemudian tatapannya beralih pada nasi goreng yang terdampar di atas meja makan.
"Ini pasti nasi goreng buatan Siti. Betul kan, Pa?" ujar Mila sambil memasukan satu sendok nasi goreng ke mulutnya.
Samsul menelan salivanya. Tenggorokannya seakan tercekat mendengar perkataan istrinya.
"Eh, itu. Siti yang buat," ucap Samsul gelagapan. Ia tak mau istrinya curiga dengan Intana.
"Enak juga nasi goreng buatan saudaramu Pa. Ohiya Sit. Nanti agak siangan Mbak mau pergi ke tempat senam. Tolong jaga rumah, ya? Sore Mbak pulang. Kamu gak usah kerjaan tugas rumah. Biar nanti saya yang masak pulang senam. Ok!" kata Mila seraya pergi ke kamar.
"Pa. Papa mau pergi sekarang?"teriak Mila dari dalam kamar.
"Iya Ma. Papa pergi dulu, ya? Udah siang nih!" sahut Samsul sambil melirik jam tangannya lalu berjalan tergesa menuju ke luar rumah diikuti Intana.
"Mas. Hati- hati, ya" ucap Intana menatap sendu wajah Samsul. Lelaki itu kemudian mengelus pipi Intana. Dan menyelipkan tiga lembar uang ratusan ke tangan Intana.
"Mas ih! Gak usah Mas!" kata Intana berusaha mengembalikan uang tersebut ke tangan Samsul. Tapi dengan cepat Samsul menepisnya.
"Ini buat jajan. Kalau kamu bosan, kamu bisa pergi ke depan, disana banyak jajanan. Pakailah uang itu buat beli apa saja, ya?"
"Tapi Mas. Ini kebanyakan, aku tak ingin beli apapun. Kamu sudah menolong aku. Itu saja sudah cukup. Aku tak mau merepotkan Mas," keluh Intana.
"Kamu hati- hati ya, di rumah. Jangan kerjakan apapun. Ada Mila, biar dia yang kerjakan semua tugas rumah."
Setelah mengatakan itu. Samsul pergi dengan motornya.
Intana kemudian masuk ke dalam, lalu uang pemberian Samsul ia masukkan ke dalam saku dasternya. Kemudian ia mengambil piring bekas Samsul makan tadi. Dan membawanya ke dapur lalu mencucinya bersih.
__ADS_1
Kemudian Intana pergi ke kamar menghampiri Mila. Tapi Mila tak ada disana. Hanya suara guyuran orang sedang mandi yang terdengar. Mila rupanya sedang mandi. Wanita itu sepertinya sedikit kurang perhatian sama Samsul. Ketika Samsul pergi tadi, Mila tak mengantarnya sampai depan.
Seharusnya seorang istri, sebelum suaminya pergi, akan mengantar sampai suaminya hilang dari pandangan. Tapi sepertinya Mila malah pergi ke kamar mandi karena katanya ada sesuatu yang penting di tempat senamnya.
Dan senam macam apa yang selesai hingga sore hari. Seingatnya, melakukan senam cukup satu atau dua jam.
Tapi sudahlah. Intana tak mau berprasangka buruk terhadap Mila. Toh semua manusia punya urusannya masing- masing. Dan Intana tak berhak mencampuri urusan rumah tangga Samsul.
Bosan tak tahu apa yang mesti di kerjakan. Intana pun bergerak berjalan mendekati tempat tidur Mila yang berantakan. Perlahan jemari lentiknya mengambil bantal guling. Tapi sesuatu terjatuh dari bawah bantal. Cepat Intana meraihnya. Benda itu ternyata ponsel milik Mila. Intana pun bermaksud untuk menyimpan ponsel itu di atas nakas. Tapi sebelum itu terjadi. Terdengar suara dering ponsel tanda pesan.
Intana tak menghiraukannya. Tapi berkali-kali ponsel itu berbunyi. Membuat Intana penasaran.
{"Bu. Deni sudah siap, Ibu mau datang jam berapa? Deni sudah menghubungi penghulu, kita nikah hari ini juga. Deni tunggu, ya!"}
Rentetan pesan dari pria yang bernama Deni memenuhi ruang ponsel Mila.
Deg!
Jantung Intana berdetak kencang. Ia pun segera menyimpan kembali ponsel itu ke posisi semula. Ponsel itu tadi berada di bawah bantal.
Buru- buru Intana keluar kamar dengan wajah pucat.
Dan Penghulu? Untuk apa penghulu. Dan siapa yang akan menikah?
Intana bergegas masuk ke dalam kamar dan mengunci rapat pintu kamarnya.
Lalu ia duduk di tepi ranjang dengan nafas yang tak beraturan.
"Mungkinkah Mila ...." Intana berguman. Ia tak mau berpikir yang aneh- aneh mengenai Mila.
Tapi rasa curiga seakan mencekik lehernya. Ia masih mengingat pesan itu dengan jelas. Pria yang bernama Deni itu sedang menunggu kedatangan Mila.
Tapi bukankah Mila akan pergi ke tempat senam?
Intana kemudian beranjak bangkit dari duduknya. Ia berpikir keras mengingat pesan itu.
Bolak balik Intana berjalan di kamarnya. Rasa tak percaya mulai memenuhi otaknya. Kalau benar pria itu ada hubungan dengan Mila. Tak mungkin pria itu mengirim pesan itu. Dan yang lebih mencurigakan. Mila memberi nama Dina di ponselnya. Dan itu nama seorang wanita. Tapi yang tertera justru pesan dari pria yang bernama Deni.
__ADS_1
Tubuh Intana gemetaran. Ia telah berani membuka pesan itu tanpa sepengetahuan Mila dan itu sangat berbahaya jika Mila membuka ponselnya.
Intana menggigit bibirnya. Bingung apa yang harus ia lakukan jika Mila menegurnya karena telah berani membuka notif pesan di ponselnya.
Intana kemudian keluar kamar. Berjalan perlahan untuk melihat kegiatan apa yang tengah di kerjakan Mila di kamarnya.
Bersandar di dinding kamar. Intana berdiri dekat pintu kamar Mila untuk mengetahui apa yang dilakukan Mila.
Terdengar suara Mila berbisik kecil.
"Iya sayang. aku sebentar lagi berangkat ... " suara Mila nyaris tak terdengar.
Intana cepat pergi dari tempat itu. Dan buru- buru masuk lagi ke kamar dengan memegang erat dadanya. Nafasnya tercekat. Kedua tangannya menutupi mulutnya agar tak mengeluarkan suara.
Jelas sudah Mila tengah bermain api dengan pria lain tanpa sepengetahuan Samsul.
"Siti!Siti!"
Suara Mila memanggilnya membuat Intana terhenyak. Cepat ia berjalan tergesa ke luar kamar.
"Iya Mbak!" sentak Intana berdiri tegap dan kaku dengan wajah pucat di hadapan Mila.
Mila menatapnya heran.
"Hei. Ada apa dengan kamu? Wajahmu pucat begitu? Kamu sakit?" tanya Mila.
Intana membisu memperhatikan penampilan Mila yang anggun. Berpakaian gamis warna putih senada dengan warna kerudungnya yang sama dengan warna gamisnya. Bukan itu saja, wajahnya terlihat menor. Memakai lipstik warna merah pekat. Tas besar tersampir di lengan kanannya.
"Siti! Ditanya kok malah bengong!"
Panggilan Mila berhasil membuat Intana tersadar dari lamunannya.
"Oh, itu, bukan apa- apa Mbak. Mungkin saya demam karena semalam saya kehujanan," dalih Intana beralasan.
"Ya sudah, Mbak pergi dulu, ya? Kamu kalau bosan. Tidur saja sambil dengar musik atau nonton drama Korea," kata Mila sambil berjalan melenggang di depan Intana.
"Baik Mbak," ucap Intana sambil terus memperhatikan wajah Mila.
__ADS_1
Tepat di depan pintu, langkah Mila terhenti. Lalu ia mengeluarkan yang satu lembar uang seratus ribu lalu di berikan pada Intana.
Tentu saja Intana langsung menolaknya.