Berondong Simpanan Istriku

Berondong Simpanan Istriku
Mengungkap Jati Diri Intana


__ADS_3

Pagi itu Mila berpikir keras. Haruskah ia menerima Intana. Atau pergi saja bersama Deni.


Jika ia meninggalkan Samsul. Wanita licik itu pasti akan menguras habis harta Samsul. Ia tahu dengan pasti, suaminya sangat loyal tak pernah perhitungan masalah uang. Dia juga tak pernah ambil pusing mau dipakai apa uang yang telah masuk ke kantong istrinya. Terserah mau gunakan untuk apa.


Tapi apa jadinya, jika Wanita licik itu mengadukan semua rahasia dirinya dengan Deni.


Untuk itu Mila dengan berat hati, harus menerima Intana sebagai madunya. Agar wanita itu tak membongkar semua perselingkuhannya bersama Deni.


"Kenapa masih belum pergi? Biasanya kamu pergi ke tempat senam!" Perkataan Intana menyadarkan lamunannya.


Mila mengangkat sedikit kepalanya menatap wanita yang kini akan menjadi madunya. Kemudian Mila berjalan perlahan mendekatinya.


"Maafkan aku ..." ucap Mila sambil menundukkan wajahnya di hadapan Intana.


"Hah! Maaf! Untuk apa?" ujar Intana menyeringai.


"Aku tadi kasar sama kamu," ucap Mila kemudian.


Intana menyungging seulas senyum. Ia tahu maksud perkataan Mila. Pasti wanita itu tak mau pergi dari rumah itu.


"Jadi kamu tak mau pergi dari sini?" sindir Intana.


Mila menggeleng samar.


"Aku sangat mencintai suamiku ... " ucap Mila melirih.


"Heh! Kalau kamu benar mencintai suamimu, mengapa kamu mengkhianatinya!" bentak Intana dengan mata yang sudah berkilat karena tingkah laku Mila yang begitu keji membohongi pria sebaik Samsul.


Mata Mila berkaca saat Intana menegurnya. Batinnya gerimis mendengarnya. Bagaimana pun sakit dan pedihnya. Mila harus berterus terang pada Intana. Bagaimana dan mengapa ia bisa terjerat cinta terlarang bersama Deni.


"Apa kamu ingin tahu alasannya? Mengapa aku melakukan ini semua ... " ucap Mila dengan mata berkaca.


Intana terdiam.


Mila menarik nafas dalam- dalam sambil memejamkan mata. Ia berusaha sekuat tenaga membendung air di matanya agar tidak tumpah.


"Aku menemaninya selama tiga tahun. Suamiku seorang pekerja keras, hingga tak punya waktu untukku."


Bibir tipis Intana sedikit melengkung. Wajahnya dihiasi sebuah senyum meremehkan.


"Alasan utama mengapa aku berpaling dari dia, karena dia tak pernah menyempatkan waktunya untuk menemaniku kemana saja. Waktunya di habiskan untuk bekerja dan bekerja."


Intana masih menyimak mendengarkan keluhannya.


"Aku tahu. Dia lakukan itu semua untuk membahagiakan aku. Tapi aku tak ingin itu semua, aku ingin perhatian, itu saja!" sentak Mila. Tubuhnya mulai gemetaran diiringi air cucuran air mata.


Intana menelan ludahnya sambil melirik pada wajah Mila yang sudah banjir air mata.

__ADS_1


"Dia tak pernah memberiku nafkah batin layaknya suami kepada istrinya. Aku tak pernah merasakan nikmatnya surga dunia selama berhubungan badan dengannya. Dan itu membuatku tersiksa. Kadang kala dia meninggalkanku di saat aku ingin mencapai puncak itu. Setelah itu dia tidur dan tidak memperdulikan aku lagi. Kadang aku harus berusaha sendiri di kamar mandi agar beban itu lepas. Dan itu terjadi setiap aku berhubungan dengannya."


Intana menundukkan wajahnya berusaha mengalihkan tatapan Mila.


"Apa kau tahu, aku bahkan membeli alat agar bisa puas. Tapi justru aku semakin tersiksa. Karena aku butuh sentuhan sentuhan suamiku. Aku akui, memang aku haus akan belaiannya. Tapi dia tak pernah mau mengerti. Dia lebih mencintai pekerjaannya daripada aku ... hiks ... hiks ... " Mila menangis terisak.


Batin Intana mulai terketuk mendengar pengakuan Mila. Ini poin ketiga yang harus ia dengar dari mulut Mila. Samsul tak seperti dalam pikirannya. Semula ia menduga lelaki itu begitu sempurna di matanya. Namun menurut pengakuan istrinya. Suaminya mempunyai kekurangan. Dan kekurangan itulah yang membuat Mila bertindak di luar batas kesadarannya.


Berkaca pada kehidupan rumah tangganya bersama Toro. Justru Intana tak pernah kekurangan dalam hal apapun termasuk nafkah batin. Tapi prilaku suaminya itu sangat jahat dan keji.


Toro suaminya bahkan menjual tubuhnya demi lancarnya bisnis.


Wajah Intana yang cantik. Selalu dijadikan pelengkap kerja sama bersama klien suaminya.


Dan demi kemajuan bisnis suaminya. Intana rela disetubuhi beberapa pria pengusaha kaya sebagai syarat kontrak bisnis suaminya.


Tapi lambat laun. Intana merasa, Toro hanya memanfaatkan tubuhnya demi bisnis nya. Dan ia hanya seonggok sampah yang tak berguna. Seperti kejadian malam itu. Toro dan anak buahnya mengejarnya dan berusaha menangkap Intana. Beruntung ia bertemu dengan Samsul.


Nasib Intana tidak seberuntung Mila. Meski Samsul tak bisa memberi nafkah batin pada wanita itu. Tapi setidaknya Samsul masih melaksanakan tangung jawabnya sebagai seorang suami.


Entahlah siapa yang patut di salahkan dalam masalah ini. Yang jelas, seharusnya Mila bisa menjaga kehormatannya saat suaminya tidak berada di rumah. Bukan berarti ia bebas mencari kepuasan di luar sana. Berbuat maksiat dengan berondong muda yang bukan mahramnya.


Kurang perhatian bukan berarti seorang istri bisa seenaknya melakukan hal hal yang membuatnya terjerumus dalam lembah hitam berlumur dosa.


"Sudahlah! Yang jelas kamu telah menyakiti suamimu! Jangan karena suamimu kurang memberi nafkah batin. Kau menghalalkan segala cara. Berbuat maksiat dan tak beradab. Dan asal kamu tahu! Tak ada yang menyakitkan bagi seorang suami, ketika ia harus menerima istrinya di jamah orang lain!" seru Intana dengan tegas.


"Kalau Mama merasa tersiksa. Tinggalkan Papa sekarang juga. Dan pergilah bersama lelaki pilihanmu ... "


Intana dan Mila terhentak kaget. Saat Samsul tiba- tiba sudah berada di hadapan mereka berdua.


Mulut Mila menganga tak percaya. Di hadapannya berdiri suaminya yang entah kapan dia datang dan mendengarkan percakapannya bersama Intana.


"Pa ... Papa ... kapan Papa datang?" tanya Mila gelagapan.


"Ma. Papa sudah tahu semuanya."


"Semuanya? Apa maksud Papa?"


Mila, ia wanita yang tiga tahun telah menemaninya dalam suka dan duka, yang senyumnya ramah dan manja. Yang berhidung mancung dan memilik mata indah yang menyiratkan sebuah rasa. Tiap memandang wajahnya. Samsul terbius dan tersesat dalam sorot mata nan rupawan.


Kini sosok yang di cintai nya bukan lagi miliknya. Tak ada lagi Mila yang ada hanya untuknya. Mila yang sekarang berdiri di depannya. Hanyalah bayangan kotor yang menjijikkan.


"Pa ... maafkan Mama ... hiks ..."


Mila memburu mendekati suaminya lalu duduk berlutut di depan suaminya diiringi air mata yang tak henti henti berderai.


"Tak ada gunanya Ma. Tangisanmu palsu!" sentak Samsul sambil bergerak menjauh dari istrinya.

__ADS_1


Mila mengangkat kepalanya menatapnya lalu berangsur bangkit.


"Pa. Setidaknya Mama mengakui kesalahan Mama. Tapi apa Papa lupa. Setahun Papa menyimpan wanita itu! Jadi apa bedanya Papa dengan Mama. Papa tak pernah setia sama Mama. Diam- diam Papa menjalin cinta dengan dia!" protes Mila matanya beralih pada Intana yang masih mematung.


Mendengar perkataan istrinya. Samsul hanya bisa mengusap dada. Hingga akhirnya Samsul pun mulai angkat bicara agar tak ada lagi salah paham.


"Ma, apa Mama tahu siapa sebenarnya Intana?"


Samsul sekilas menatap istrinya lalu beralih menatap wajah Intana yang tertunduk.


"Mama tidak ingin tahu siapa dia!"sentak Mila dengan wajah kecut.


"Wanita malang ini istri dari seorang pengusaha kaya," ungkap Samsul.


"Apa?" Mila terlonjak kaget mendengar pengakuan suaminya.


"Ya. Malam itu saat Papa ingin pergi ke tempat Pak Wisnu. Papa tidak sengaja melihat dia di kejar oleh beberapa anak buah suaminya."


"A, ada apa ini? Mama jadi tidak mengerti. Jadi dia sudah menikah?"


"Iya Ma. Intana adalah wanita masa laluku jauh sebelum Papa menikah dengan Mama. Dia lah cinta pertama Papa. Tapi cinta kami kandas saat kedua orang tuanya menjodohkannya dengan seorang pengusaha kaya."


"Hah! Jadi dia mantanmu, Pa?"


Intana yang sedari tadi diam membisu tiba- tiba bergerak berjalan perlahan mendekati Samsul.


"Mas." Intana memegang erat pergelangan Samsul.


"Biarkan Mas jelaskan semuanya pada istriku."


"Tapi Mas?"


"Kamu jangan khawatir. Mas baik- baik."


Mila semakin penasaran. Siapa sebenarnya Intana. Samsul sepertinya menyembunyikan sesuatu darinya.


"Katakan Pa, siapa wanita ini sebenarnya?"


"Baiklah ... Papa sebenarnya sudah mengetahui semuanya. Termasuk pernikahan siri mu bersama lelaki tak punya malu itu!"


Mila membelalak. Jantungnya seakan berhenti berdetak, keringat dingin mulai berembun di dahinya. Tubuhnya seakan terguncang. Air mata bahkan sudah berderai di kedua belah pipinya. Membuat Mila begitu tak kuasa dan juga terasa sulit untuk sekedar menjelaskan apa- apa saja yang hendak di utarakan.


Kemudian, Mila pun mencoba menyeka jejak air matanya. Melirikkan pandangannya pada Intana yang bersembunyi di balik tubuh suaminya.


"Asal kamu tahu ya, Ma. Papa dan Intana tak menjalin hubungan yang seperti Mama pikirkan. Papa hanya ingin Mama merasakan bagaimana sakitnya jika cinta terbagi dua. Mama pikir, Papa ini sekuat baja! Hingga Mama tak pernah memikirkan bagaimana sakitnya di khianati orang yang kita cintai."


Tenggorokan Mila seakan tercekat tak bisa bersuara. Ingin berbicara tapi mulutnya seakan terkunci rapat tak bergerak.

__ADS_1


"Kalau mau. Papa bisa berbuat apa saja terhadap Intana. Dia takkan menolaknya. Tapi kesetiaan Papa sama Mama begitu besar. Karena hati dan jiwa ini hanya untuk Mama seorang. Tapi lihat balasan cinta Papa. Mama begitu keji membohongi Papa tanpa perasaan!"


__ADS_2