Berondong Simpanan Istriku

Berondong Simpanan Istriku
Nikah Siri


__ADS_3

Sambil mengawasi rumah yang diyakini tempat Mila dan Deni melangsungkan pernikahan sirinya.


Intana sengaja membeli baso yang tempatnya tak berada jauh dari rumah tersebut.


Meski sebenarnya. Intana tak pernah jajan di pinggir jalan Seperti itu. Tapi karena untuk membuktikan kebenaran. Intana harus mencari akal agar gerakannya tidak di ketahui Mila.


"Mang basonya dua mangkuk, ya? Tidak pake sayur. Baso nya saja," pesan Intana sambil terus mengawasi rumah itu.


Mang ojek duduk dengan tenang sambil menunggu pesanan.


Sesekali ia memperhatikan gerak gerik Intana yang terlihat gelisah.


Dua mangkuk baso sudah siap. Lalu Kang Baso memberikannya pada Intana dan Mang ojek.


"Bu. Maaf, bukan maksud saya mencampuri urusan Ibu. Tapi siapa wanita itu?" tanya Mang ojek sambil melahap baso yang masih panas.


Intana duduk terdiam. Kursi plastik yang di duduknya sangat tidak nyaman. Membuat Intana risih.


"Mang, makan saja baso nya, Jangan makan sambil bicara. Nanti keselek!" protes Intana sambil memperhatikan Mang ojek yang lahap memakan baso.


"Hehehe ... iya Bu. Maaf," ucap si Mang ojek tertawa cengengesan dengan mata yang tak henti memandangi wajah Intana yang rupawan. Pipi mulus bibir merah merona dan kulit putih. Sungguh wanita itu sangat cantik jelita.


Intana masih memegang mangkuknya. Tak sedikitpun ia menyentuh makanan itu. Terus saja mengawasi rumah itu.


Sesaat Intana teringat sesuatu.


Ia membawa kunci rumah. Bagaimana jika Samsul pulang nanti.


"Mang! Jam berapa ini?" tanya Intana.


Mang ojek langsung mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya.


Jam menunjukkan pukul sembilan pagi. Intana harus cepat, sebelum Samsul kembali. Ia tak mau kehilangan momen yang menegangkan itu. Ia ingin membuktikan semua rasa curiga nya terhadap Mila.


Tak ada pergerakan di rumah itu. Sepi dan sunyi. Hanya ada buah motor terparkir di luar.


Intana celingukan mengamati daerah sekitar pasar itu yang cukup sepi. Lantas ia mendekati kang baso yang sedang berdiri memotong daun bawang.


"Mang. Mang tahu, rumah siapa yang ada di ujung sana?" selidik Intana.


Mata si kang baso langsung beralih pada satu rumah yang di maksud Intana.


"Oh itu Bu. Itu kalau gak salah, rumah haji Komar, dan sekarang di kontrak oleh seorang pemuda. Tapi Mang gak tahu namanya. Pernah dia beberapa kali beli baso mang," jelas Kang Baso.


"Pemuda? Maksud Mang seorang pemuda, atau gimana Mang?" Intana tambah penasaran.


"Iya Bu. Seorang pemuda tampan. Dan kalau Mang gak salah lihat. Ada juga seorang Ibu yang suka datang menemui pemuda itu," katanya menambahkan.


"Oh begitu ya, Mang. Mang tahu tidak, nama pemuda itu?"

__ADS_1


"Oh kalau itu Mang kurang tahu. Memangnya Ibu kenal, ya? Sama pemuda itu?"


"Ti, tidak Mang. Aku tidak kenal. Ya sudah, terima kasih yang Mang," Intana kemudian duduk kembali. Sambil menyeruput kuah baso.


Satu porsi baso habis di lahap Mang ojek. Lalu ia berjalan menuju ke jalanan.


"Mang!" panggil Intana.


"Ya Bu!" Mang ojek langsung menghampiri Intana.


"Ya. Ada apa Bu?"


"Mang. Mau gak, Mang pergi ke rumah itu. Pura- pura berjalan atau apalah terserah Mang. Dan lihat, ada kegiatan apa di rumah itu?" titah Intana.


Mang ojek menghela nafas panjang sambil menelan ludah. Kemudian mengusap kasar wajahnya.


"Aduh Bu. Ngapain Mang ke sana? Itu kan jalan buntu. Mang takut ah Bu!" tolak Mang ojek.


"Ih. Si Mang, sebentar saja Mang. Ayo cepat. Saya buru- buru Mang!" paksa Intana.


"Ba, baik Bu."


Si Mang ojek langsung bergerak cepat berjalan menuju rumah tersebut walau dalam hati jantungnya deg degan tak karuan. Takut penghuni rumah itu menaruh curiga padanya.


Sekitar dua meter dari rumah itu. Mang ojek memperlambat langkahnya untuk melihat situasi di dalam sana.


Mang ojek langsung berbalik badan kembali berjalan cepat menghampiri Intana.


Melihat Mang ojek datang. Intana langsung menghambur ke arahnya.


"Mang, bagaimana? Apa yang Mang lihat disana?" tanya Intana tak sabar.


"Bu. Di rumah itu, sepertinya ada orang yang sedang nikah!" adu Mang ojek sambil memegangi dadanya dengan nafas tersengal karena tegang.


"Hah! Serius Mang?"


"Iya Bu. Masa Mang bohong!"


Si Kang baso yang sedari tadi asyik mengiris daun bawang sedikit menguping pembicaraan mereka berdua.


"Mang. Ayo antar aku pulang!" Intana kemudian bergegas. Begitupun si Mang ojek.


"Bu!" panggil si kang baso.


Intana langsung menoleh ke arah si kang baso.


"Ada apa Mang?" teriak Intana.


"Anu Bu. Baso nya belum di bayar!"

__ADS_1


Intana langsung menepuk keningnya. Karena terburu- buru, ia lupa belum membayar baso nya. Lalu Intana menghampirinya.


"Aduh, maaf ya Mang," ucap Intana sambil mengeluarkan uang dari saku blazer yang dikenakannya.


"Jadi berapa Mang?" Intana kemudian memberi satu lembar uang ratusan kepada tukang baso itu.


"Semuanya jadi tiga puluh ribu."


Setelah membayarnya. Intana pun kembali menghampiri tukang ojek yang sudah duduk di atas motor menunggunya.


"Mang. Nih saya kasih seratus lima puluh ribu. Untuk ongkos ojek dan sedikit uang tambahan dari saya," ucap Intana sambil menyelipkan uang seratus lima puluh ribu ke tangan tukang ojek tersebut. Uang pemberian Samsul dan Mila. Beruntung tadi Intana menerimanya. Jika ia menolaknya, bagaimana ia bisa membayar ongkos ojek untuk membuntuti Mila.


"Aduh Bu. Terima kasih banyak, ya? Tapi ini gak kebanyakan Bu?" tanya Mang ojek sungkan.


"Udah Mang terima saja, ini rejeki untuk Mang, ya?"


Mereka berdua pun pergi meninggalkan tempat itu.


Dan sampailah Intana di rumah. Suasana rumah masih tampak sepi. Beruntung Samsul belum kembali.


Gerak gerik Intana rupanya terlihat oleh tetangga depan rumah Samsul.


"Pak. Siapa wanita itu?" tanya Bu Ratna pada suaminya sambil mengawasi Intana dari teras rumahnya.


"Mana Bapak tahu Bu. Sudahlah biarkan saja. Mungkin saudara dari jauh."


"Lihat Pak. Gerak gerik wanita itu sangat mencurigakan. Jangan- jangan itu maling Pak!" terka Bu Ratna.


"Husss! Ibu ini!"


Pak Darman kemudian memperhatikan Intana dengan seksama. Tenyata wajah wanita itu sangat cantik.


"Wah. Saya gak nyangka Bu."


"Kenapa Pak?"


"Pak Samsul punya saudara secantik itu."


"Apa? Bapak sudah bosan hidup, ya???


Bu Ratna langsung menjewer telinga suaminya dengan kuat dan membawanya masuk ke dalam rumah.


"Aduh! Ampun Bu! Bapak kan cuma bercanda!" Pak Darman meringis kesakitan.


Sekembalinya dari tempat dimana Mila dan Deni melakukan nikah siri. Intana cepat menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya.


Selesai mandi dan sudah rapih memakai daster milik Mila. Intana lalu pergi ke dapur untuk melihat ada bahan sayuran apa yang akan ia masak hari itu untuk Samsul.


Meski pikirannya masih pokus pada Mila. Wanita itu ternyata jahat sekali dan licik. Di depan suaminya bersikap manis tapi di belakang bermain api.

__ADS_1


__ADS_2