Berondong Simpanan Istriku

Berondong Simpanan Istriku
Nasehat Intana


__ADS_3

Melihat sikap kasar Mila terhadap Intana. Gegas Samsul bergerak dan menarik tangan Mila dengan kuat.


"Lepaskan dia Ma?" pekik Samsul sambil meraih tangan Mila.


"Kurang ajar! Papa bela dia?" Mila semakin tak terkendali. Ia meronta dan berusaha mengejar Intana yang berlari masuk ke dalam kamar.


"Cukup Ma!" pekik Samsul sambil mendorong tubuh Mila ke belakang hingga Mila jatuh sempoyongan terjerembab ke lantai.


Rupanya teriak Mila mulai mengusik tetangga depan rumahnya yang sudah berdiri dengan wajah heran melihat kejadian yang tengah berlangsung di depan rumah mereka.


Cepat Samsul mengunci rapat pintu rumahnya.


"Dengar! Papa tak mau berdebat lagi. Mulai sekarang Mama harus terima dia sebagai madu mu. Jika tidak! Mama boleh tinggalkan tempat ini!"


Mila mengepalkan tangan menahan amarah. Dia tidak menyangka suaminya sejahat itu. Hatinya seperti diiris- iris silet yang begitu tajam, mengeluarkan darah yang tidak terlihat.


Tidak ada satu kalimat pun keluar dari bibirnya. Tak ada lagi perlawanan. Mila hanya menatap tajam pada suaminya.


Sebagai seorang lelaki yang harga dirinya diinjak- injak istrinya. Dia tidak ingin mengeluarkan air matanya demi wanita yang selalu ia percaya selama ini.


Tega.


Itulah yang harus Samsul lakukan demi sakit hatinya yang begitu mengiris batinnya.


Sementara Mila hanya duduk membisu dengan air mata yang tak henti membanjiri pipinya.


"Malam ini Papa akan tidur di kamar Intana, besok Papa tidur dikamar Mama. Begitu seterusnya. Dan Papa harap. Mama mau berdamai dengan Intana. Dia akan tinggal disini."


Setelah mengatakan itu. Samsul pun berjalan menuju kamar Intana.


"Pa!"


Panggilan Mila menghentikan langkahnya.


"Pa. Bunuh saja Mama," ucap Mila sambil menangis sesegukan.


Samsul memejamkan kedua matanya. Menyiksa batin Mila cukup membuat dirinya lemah. Ingin ia mengakhiri sandiwaranya. Tapi Samsul harus bisa kuat agar wanita itu, menyadari. Bagaimana sakitnya di khianati oleh orang yang di cintanya.

__ADS_1


Bisa saja Samsul membongkar kejahatan Mila hari itu juga. Tapi ia ingin Mila mengakui kesalahannya. Dan secepatnya ia akan menceraikan Mila.


Dan mengenai bayi dalam kandungan istrinya. Samsul akan bertanggung jawab penuh jika memang bayi itu darah dagingnya. Dan jika bukan, ia tidak akan pernah memaafkan Mila seumur hidupnya.


Mila terus menangis lirih. Dan Samsul tak sedikitpun terusik dengan tangisan air mata buaya istrinya.


Samsul kemudian masuk ke dalam kamar Intana lalu menguncinya.


Di dalam kamar. Intana tengah duduk di tepi ranjang dengan wajah sendu.


Samsul mendekatinya dan duduk di sampingnya.


"Aku tak tega," ucap Samsul dengan mata berkaca.


"Kamu harus bisa Mas. Istrimu itu sangat keterlaluan, tapi kalau Mas merasa ragu. Mari kita akhiri saja sandiwara ini," kata Intana kemudian.


Samsul terdiam sejenak. Lalu ia berjalan pelan mendekati celah pintu kunci untuk mengintip ke luar apa yang tengah di lakukan istrinya.


Tak ada pergerakan. Mila masih terduduk sambil menyeka air mata yang tak henti berderai di pipinya.


Tak terasa air matanya pun sudah meleleh di pipinya. Tak kuasa melihat keadaan Mila. Tapi jika teringat akan Deni. Berondong simpanan istrinya itu. Hati Samsul kembali berdarah.


Entah berapa kali. Berondong itu tidur dengan istrinya. Mengingat, satu tahun Deni menempati rumah di sampingnya. Jika ingat itu. Jiwa laki- lakinya berontak. Harusnya bukan Mila saja yang dihukum. Berondong itupun seharusnya di beri pelajaran yang setimpal dengan perbuatannya.


Samsul kemudian membalikkan badannya duduk bersandar di depan pintu kamar sambil menangis.


Di depannya. Intana tengah memandanginya dengan menyimpan sejuta pertanyaan.


Sekilas Intana tadi mendengar keluhan yang dilontarkan Mila. Dan itu cukup membuat batin Intana tersentuh mendengarnya.


Mengumpulkan semua keberaniannya. Intana mengatakan sesuatu yang mungkin akan menyinggung lelaki yang tengah duduk menyedihkan memosisikan tubuhnya, bersandar di depan pintu. Wajahnya tertunduk.


"Mas ... boleh aku mengatakan sesuatu. Tapi Mas janji tidak akan marah," ucap Intana suaranya pelan agar tidak terdengar oleh Mila yang berada di luar.


Samsul mengangkat sedikit wajahnya.


"Katakan apa yang ingin kamu ketahui," bisik Samsul.

__ADS_1


"Apa yang dikatakan istrimu itu benar Mas ..." tanya Intana. Dan ia begitu penasaran dengan keluhan yang tadi di lontarkan Mila.


Samsul terdiam membeku. Sesaat pertanyaan Intana membuat ia sedikit menyadari kesalahannya di masa lalu. Dimana dulu, Mila sering mengeluh karena kurangnya perhatian darinya. Dan waktu itu. Ia mengabaikan keluhan istrinya.


Tapi kekurangan nya jangan di jadikan alasan untuk dia bebas tidur dengan lelaki lain. Bukannya Samsul tak ingin memuaskan istrinya di ranjang. Tapi karena ia lebih mengutamakan pekerjaannya demi masa depan hidupnya kelak.


Tapi ternyata kekurangannya itu. Malah menjadi Boomerang dalam kehidupan rumah tangganya.


"Mas ... kalau tamu tak mau menjawabnya, sebaiknya jangan di jawab. Aku tidak memaksa kok."


"Apakah itu penting."


"Wanita seumur Mila. Apalagi dia belum mempunyai anak. Tentu dia akan merasa kesepian, dan itulah yang membuat dia mencari kesibukan agar bisa menghilangkan rasa sepi itu. Dan, ya. Nafkah batin dalam rumah tangga sama pentingnya dengan materi. Tugas seorang suami bukan hanya memberi materi saja. Tapi memuaskan istrimu di atas ranjang. Merupakan kebahagian bagi setiap istri manapun di dunia ini," beber Intana mengingatkan Samsul mengenai tugas suami selain mencari nafkah.


Untuk sesaat Intana berhasil menyentil batin Samsul tergerak. Seperti yang pernah di katakan teman sekantornya Bapak Dadang. Sebelumnya Pak Dadang pernah menjelaskan tentang pentingnya nafkah batin bagi seorang suami untuk istrinya.


"Aku tak pernah berpikir sejauh itu. Sebegitu penting seorang suami harus memuaskan istrinya," Samsul berkata sambil bangkit dan berdiri mendekati Intana yang duduk di tepi ranjang.


"Penting Mas. Kadang kala untuk mencapai kepuasan itu. Seorang wanita bisa nekad jika hasratnya tidak tersalurkan."


"Nekad? Maksudnya?"


"Sssttt ... jangan keras-keras Mas ... nanti istrimu dengar ... " bisik Intana.


Samsul kemudian berjalan perlahan mendekati Intana.


"Ayo jelaskan. Nekad bagaimana ... " desak Samsul tak sabar.


Intana tersenyum kecil melihat reaksi wajah Samsul yang sudah berkerut.


"Mas. Apa kamu tahu, aku punya teman namanya Tante Lola. Setiap hari dia nongkrong di cafe mencari berondong muda untuk bisa memuaskan hasratnya yang tinggi, yang tak pernah dia dapat dari suaminya. Bahkan tidak satu berondong, dia bisa layani dua berondong sekaligus dalam satu malam. Bahkan ia berani bayar sampai puluhan juta untuk memenuhi hasratnya itu."


"Hah. Serius," Samsul membelalak.


"Mas ini terlalu polos. Itu biasa terjadi Mas di kota besar. Tante- tante kesepian yang haus akan jiwa perkasa seorang lelaki muda."


Samsul hanya bisa mengusap dada mendengar kisah yang di beberkan Intana. Dirinya sedikit mengerti tentang pentingnya perhatian seorang suami terhadap istrinya.

__ADS_1


__ADS_2