Berondong Simpanan Istriku

Berondong Simpanan Istriku
Membuntuti Mila


__ADS_3

"Jangan Mbak. Saya masih ada uang kok!" tolak Intana seraya memberikan uang itu kembali ke tangan Mila. Tapi dengan tegas Mila menolaknya.


"Sudah. Kamu jangan menolak! Barangkali kamu mau beli sesuatu di depan sana."


"Iya Mbak. Terima kasih," ucap Intana kemudian.


"Ohiya. Bagaimana penampilan Mbak. Cantik tidak?"


"Ca, cantik Mbak!" ujar Intana sambil mengusap keringat yang dari tadi membasahi dahinya. Karena takut ketahuan oleh Mila karena ia secara tidak sengaja membaca pesan dari pria yang bernama Deni tadi, saat akan membereskan tempat tidur Mila.


Mila berdiri di depan pagar. Mungkin menunggu ojek online yang tadi di pesan lewat ponselnya. Hari itu ia berencana menikah siri dengan Deni. Tentu saja rencana mereka berdua telah disepakati sebelumnya. Deni sengaja memanggil seorang penghulu untuk menikahkan mereka berdua. Dan dengan uang pemberian dari Mila. Deni berhasil membujuk penghulu itu untuk melancarkan semua niatnya yaitu menikahi Mila secara siri.


Bahkan Deni membohongi penghulu tersebut mengenai status Mila. Dan ternyata dengan uang segalanya bisa berjalan mulus tanpa kendala apapun.


Intana masih memperhatikan Mila dari belakang.


Haruskah ia mengikuti kemana Mila pergi?


Tapi bagaimana ia mengikuti wanita itu. Ia tidak tahu arah menuju jalan raya. Yang ia ingat di depan sana ada gapura yang menuju ke jalan raya. Dan disana banyak tukang ojek mangkal.


Cepat Intana masuk ke dalam dan langsung menuju ke kamar untuk mengganti pakaiannya. Pakaian yang tadi malam basah. Secepatnya ia ambil dari jemuran di halaman belakang.


Dengan tergesa-gesa Intana cepat berganti baju. Dan tak lupa ia kenakan hijabnya agar bisa menutupi wajahnya.


Setelah rapih mengenakan pakaiannya. Intana bergegas menuju keluar. Dan beruntung Mila masih belum pergi.


Tak berapa lama, tampak di depan pagar, berhenti seorang tukang ojek yang di pesan Mila.


Mila kemudian naik ke atas motor. Dan keduanya langsung pergi.


Intana buru- buru bergerak. Pertama- tama, ia mengunci dulu pintu rumah. Jantungnya berpacu kuat. Ia harus membuktikan Perselingkuhan Mila hari itu juga. Jika tidak. Ia akan sangat berdosa pada Samsul. Lelaki baik hati itu telah banyak menolong dirinya.


Dan untuk membalas kebaikannya. Intana akan membongkar kebusukkan Mila. Wanita tak tahu di untung itu, sudah sangat keterlaluan membohongi Samsul. Tak pantas rasanya, jika Samsul harus menderita karena perbuatannya.


Samsul begitu mencintai wanita itu. Tapi apa balasan wanita itu kepada Samsul, sungguh tidak berprikemanusiaan. Berencana menikah lagi tanpa sepengetahuan suaminya.


Sungguh Mila wanita yang tak bermoral. Andai saja saat ia membawa ponselnya saat melarikan diri dari rumah Toro. Tentu dengan mudah ia mengungkap perilaku Mila yang menjijikkan.

__ADS_1


Tapi biarlah. Ia akan membuntuti Kemana Mila pergi. Dan mudah- mudahan Mila bisa terkejar.


Setelah mengunci pintu. Gegas Intana berlari menuju arah Gapura. Ia berlari sekencang mungkin agar bisa mengejarnya.


Setelah berlari cukup jauh dari jarak rumah Samsul. Akhirnya terlihat dari jauh Gapura tempat keluar masuk kendaraan untuk memasuki perumahan itu.


Tepat di depan gapura. Intana menoleh ke arah sebelah kiri dimana disana berjejer motor tukang ojek yang sedang mangkal.


Tanpa harus repot memanggil tukang ojek. Salah satu dari mereka langsung menghampiri Intana.


"Bu. Ojek!" tawarnya.


"Iya Mang. Mang, apa tadi Mang lihat wanita berpakaian gamis serba putih di bonceng Gojek?" tanya Intana dengan nafas yang sudah tersengal.


Mang ojek mengernyit, bola matanya naik sedikit ke atas. Seperti mengingat sesuatu.


"Mmm ... kalau Mang gak salah lihat. Wanita itu tadi pergi ke arah sana Bu!" ungkap si Mang ojek sambil menunjuk ke arah Utara jalan utama.


"Oh. Mang yakin? Baik kalau begitu. Ayo Mang!" Intana cepat naik ke atas motor si Mamang ojek.


"Kemana Bu?"


"Asiyapppp ... " kata si Mamang sambil menyalakan motornya dan pergi melaju kencang untuk menyusul wanita yang dimaksud Intana. Walau sebenarnya si Mamang bingung. Karena mungkin wanita itu sudah jauh.


Dan sedikit mengingat kebelakang. Sebenarnya si Mang ojek itu sudah tak asing dengan wajah wanita yang bergaun serba putih itu. Ia sering melihat Mila berboncengan dengan pria muda tampan itu. Tapi si Mang tak mau ikut campur urusan orang, lagipula ia tak begitu kenal dengan Mila. Hanya tahu wajahnya saja tapi tidak tahu namanya.


Di sepanjang jalan. Mata Intana pokus ke jalanan agar tak kehilangan Mila.


"Mang cepat sedikit Mang!" tegur Intana tak sabar.


"Iya Bu. Ini juga saya udah ngebut. Tenang saja Bu!" Mang ojek manambah kecepatannya.


Dari jauh tampak wanita yang tengah di bonceng. Pakaiannya serba putih, dan itu mungkin wanita yang di maksud Intana. Secepatnya Mang ojek mengejarnya dengan kecepatan penuh. Intana langsung menutupi wajahnya dengan kerudung.


Beberapa kendaraan yang berhasil di lewati Mang ojek tampak kesal melihat si Mamang yang menjalankan motornya sangat kencang.


"Hai! Bisa pelan gak?" tegur seorang pria yang mengendarai Avanza warna hitam.

__ADS_1


Si Mamang tak menghiraukan teguran pria itu. Ia harus memenuhi permintaan konsumennya agar sampai pada tujuannya.


Tepat di sebuah pasar besar. Wanita yang mirip dengan Mila itu. Tiba- tiba menghilang. Dan seketika itu juga. Si Mamang langsung mengerem motornya.


"Hah. Kemana perginya?" Si Mamang berguman.


"Mang sebaiknya kita turun disini saja!" teriak Intana bicara cukup keras karena suara riuh orang orang yang lalu lalang di pasar cukup ramai terdengar.


"Bu, mau kemana. Ini pasar Bu!" teriak si Mang ojek sama hal nya dengan Intana ia berbicara cukup keras.


"Mang! Apa di pasar ini ada rumah? Maksud saya semacam perkampungan!"


"Ada Bu. Ayo naik. Mang akan tunjukkan!"


Intana kembali naik ke atas motor. Dan dengan cepat si Mamang membelokkan arah motornya menuju ke belakang pasar. Yang dia tahu. Di belakang pasar ada satu rumah yang berada di ujung pasar itu. Bisa jadi wanita berpakaian serba putih itu menuju kesana.


Dan benar saja, tepat di ujung pasar ada rumah lumayan besar berada sekitar dua puluh meter dari penjual bakso gerobak yang mangkal disana.


Intana cepat menyuruh si Mang ojek untuk menghentikan motornya.


"Sudah Mang. Berhenti! Aku turun disini saja," kata Intana sambil terus merapihkan hijabnya yang berantakan karena terpaan angin yang cukup kencang saat ia naik ojek tadi.


"Iya Bu, baiklah."


"Mang, bisa tunggu disini gak, saya akan berjalan menuju rumah itu. Nanti saya kasih ongkos lebih," ucap Intana seraya berjalan perlahan untuk menuju rumah paling ujung dan hanya ada satu buah rumah disana. Dan ia yakin. Mila menuju rumah itu. Terlihat ada dua buah motor terparkir dari kejauhan.


Intana tak boleh gegabah. Agar rencananya berhasil tanpa di ketahui Mila.


Kebetulan tepat dua puluh meter menuju rumah itu. Ada tukang baso gerobak sedang berjualan disana.


Intana lalu memanggil tukang ojek itu.


"Mang sini!"


Mang ojek langsung menghampiri Intana.


"Ya Bu."

__ADS_1


"Mang. Sambil menunggu, kita makan baso dulu disini, ya? Perutku lapar," ucap Intana sambil berjalan pelan menghampiri tukang baso tersebut. Yang hanya ditutupi terpal dan kursi plastik ada empat berjejer disana.


__ADS_2