Berondong Simpanan Istriku

Berondong Simpanan Istriku
Akhirnya Beban Samsul Keluar


__ADS_3

Tak lama. Deni pun pamit kepada Zahra sambil terus berucap maaf karena gadis itu terlihat sedih saat Deni menegurnya tadi.


Di perjalanan Deni masih mengingat wajah gadis manis itu. Berbekal kunci rumah yang di berikan Mila. Tadinya Deni hendak mengambil mukena milik Mila yang menurut pengakuan Mila. Mukena itu adalah salah satu mas kawin saat Samsul menikahinya dulu. Tapi Deni tidak menyangka, di rumah itu ternyata ada saudara Samsul. Pikir Deni Samsul tidak berada di rumah siang itu. Untung tadi Deni ketuk pintu terlebih dahulu. Coba kalau Deni langsung membuka pintu dengan kunci pemberian Mila. Sudah dipastikan gadis cantik itu akan mengira ia perampok.


Di sisi lain. Zahra sungguh tidak mengerti dengan kejadian yang baru saja dialaminya. Mengapa istri Samsul harus menyuruh saudaranya untuk mengambil sesuatu dari rumahnya sendiri..


Sebenarnya apa yang tengah terjadi dengan rumah tangga Samsul. Sejak ia menginjakkan kakinya di rumah itu. Sosok wanita yang ada di Poto itu. Tidak pernah menampakkan batang hidungnya. Dan Samsul sepertinya enggan menceritakan keberadaan istrinya itu.


Zahra jadi semakin khawatir. Bermaksud pergi ke kota mencari Ibu kandungnya. Tapi ia malah bertemu Samsul.


* * *


Sementara Samsul dan Pak Dadang masih sibuk mengurus burung Samsul yang terus menegang. Mereka berdua sudah berada di toilet untuk mengatasi keadaan Samsul yang semakin mengkhawatirkan.


"Ayo Pak. Digosok-gosok saja pakai sabun mandi. Biar keluar!" sentak Pak Dadang geli.


Raut wajah Samsul tampak memerah, menahan gairah yang semakin tinggi karena efek yang di timbulkan obat itu.


"Aduh Pak. Saya sudah tidak tahan! Saya harus melakukannya dengan perempuan. Saya ingin puas Pak!" ujar Samsul sambil berusaha menyambar sabun mandi yang di dekatnya. Namun pikirannya selalu tertuju pada Mila istrinya. Tadinya obat yang ia konsumsi untuk memuaskan istrinya. Namun kebusukan Mila terbongkar. Dan Samsul tidak mau memaafkan perbuatan Bejad yang dilakukan istrinya.


"Pak. Bagaimana ini. Tolong saya Pak ... " ucap Samsul melirih.


"Aduh Pak. Saya juga tidak tahu harus bagaimana. Sudah Pak, coba saja pake sabun Pak," tegur Pak Dadang dengan wajah yang sudah pucat karena panik.


"Saya tidak mau Pak. Lebih baik bantu saya cariin PSK Pak," balas Samsul.


Berhubung gairah nya yang semakin memuncak dan ia tidak mau melakukannya dengan sabun mandi.


Akhirnya Pak Dadang membawa Samsul ke luar.


"Bapak ini bagaimana sih! Siang-siang gini, kemana saya harus mencari wanita penjaja cinta Pak!" sentak Pak Dadang mulai kesal.


Samsul kemudian berjalan keluar kantor sambil menutupi burungnya yang terus menegang diikuti Pak Dandang dari belakang.


Tingkah kocak mereka pun jadi tawaan sebagian karyawan kantor yang kebetulan melihat mereka berdua. Berjalan sambil menutupi bagian sensitif nya dengan jaket. Samsul berjalan tergesa menuju ke luar ruangan.


Tepat di depan pintu keluar. Pak Wisnu yang baru saja tiba langsung menegurnya.


"Hei! Mau kemana kalian berdua? Ini masih jam kerja, ayo cepat sana masuk!" tegur Pak Wisnu seraya memperhatikan tingkah Samsul dan Pak Dadang yang terlihat tegang.


"Ini, Pak, anu, anu, saya ada keperluan penting. Mohon ijin sebentar saja Pak. Saya cuma pergi sebentar kok!" jawab Samsul gelagapan.


Kedua alis Pak Wisnu mengerut memperhatikan Samsul yang menutupi bagian intimnya dengan jaket.


"Eh, kenapa anu kamu ditutupi jaket? Sakit, ya?" tanya Pak Wisnu penasaran.


"Bukan Pak, saya, saya, tadi air minuman saya tumpah dan mengenai celana saya Pak," balas Samsul beralasan.


"Iya Pak. Tadi Pak Samsul menumpahkan kopi, jadi celananya basah," sela Pak Dadang membelanya.

__ADS_1


"Ya sudah cepat sana! Tapi kalau udah selesai, kembali lagi, ya?"


"Baik Pak."


Mereka berdua pun pergi terburu- buru menuju mobil milik Samsul.


Di dalam mobil. Hasrat Samsul semakin tinggi. Keringat pun sudah membanjiri seluruh tubuhnya. Wajahnya memerah dan pucat.


"Bagaimana ini Pak? Saya sudah tidak tahan lagi. Sebaiknya Bapak saja yang menyetir," pinta Samsul sambil beralih posisi duduk.


"Bapak ini bagaimana, sih! Sudah saya bilang tadi. Pakai sabun mandi, tapi Bapak keras kepala," balas Pak Dadang sambil berjalan keluar mobil dan pindah tempat duduk.


"Saya tidak biasa memakai sabun Pak, udah Pak cepat. Kita cari tempat panti pijat plus plus!" pekik Samsul sambil terus berupaya mengendalikan burungnya.


"Baiklah, tapi dimana saya harus mencarinya Pak? Saya tidak pernah ke sana," ujar Pak Dadang seraya tancap gas pergi dari tempat itu.


Sekilas Samsul teringat sesuatu.


"Pak. Sebaiknya kita ke rumahku saja. Aku pernah mengalami ini dulu. Dengan kelapa muda dan mandi air hangat! Ayo Pak, cepat ke rumahku saja!" pekik Samsul seraya meremas bahu Pak Dadang karena reaksi obat kuat itu sudah tak bisa ia kendalikan lagi.


"Wah! Kenapa bukan bilang dari tadi!" gerutu Pak Dadang.


Tak berapa lama. Sampailah mereka berdua di rumah Samsul. Dengan terburu- buru Samsul loncat dari mobil kemudian berlari masuk ke dalam rumah. Pak Dadang segera berlari mengikutinya setelah memarkirkan mobil tentunya.


Dalam keadaan yang mengkhawatirkan. Samsul membuka pintu rumah dengan cepat. Namun ia tidak sadar. Zahra menguncinya dari dalam. Beruntung Samsul punya kunci cadangan.


Setelah pintu terbuka. Tampak Zahra yang sedang berdiri dengan wajah kaget melihat kedatangan Samsul yang tiba-tiba. Terlebih Zahra dalam keadaan terbalut handuk selesai mandi.


Karena panik. Zahra langsung masuk ke dalam kamar sambil menjerit histeris. Membuat Samsul dan Pak Dadang ikutan panik. Mereka menjerit bersamaan.


"Waduh! Itu siapa Pak?" tanya Pak Dadang dengan nafas tersengal karena terkagum sekaligus kaget melihat kecantikan Zahra yang begitu mempesona.


"Dia itu gadis yang saya ceritakan di kantor tadi Pak. Ayo Pak!" Dengan cepat Samsul menarik tangan Pak Dadang dan langsung membawanya menuju dapur.


Sementara Zahra di dalam kamar masih berdiri di balik pintu dengan wajah pucat. Seluruh tubuhnya seakan mati rasa mendapati kedatangan Samsul. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Samsul menerobos masuk ke dalam. Sedangkan ia masih ditutupi handuk karena baru saja selesai mandi.


Di dapur Samsul dan Pak Dadang sibuk menyiapkan segala sesuatunya.


Pak Dadang mulai memasak air panas untuk Samsul mandi, kemudian Pak Dadang mengambil kelapa muda yang ada di gudang tempat Samsul menyimpan barang-barang yang sudah tidak terpakai.


Beruntung ada satu buah kelapa muda bekas dulu Samsul konsumsi saat ia mengalami kejadian yang sama.


Tidak berapa lama. Setelah berpakaian, Zahra keluar kamar mengedap-endap karena mulai risih mendengar percakapan Samsul dan Pak Dadang yang sedikit mencurigakan. Berdua di kamar mandi dengan pintu tertutup.


"Astagfirullah ... apa yang mereka lakukan di kamar mandi ... " guman Zahra seraya menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


Zahra semakin curiga. Mungkinkah Samsul dan temannya itu ada hubungan khusus. Hingga mereka berdua melakukan hal tak senonoh di kamat mandi.


"Ya Tuhan ... sedang apa Tuan Samsul di kamar mandi ... " Zahra terus berguman dalam hati.

__ADS_1


Saat kaki Zahra hendak melangkah ke kamar mandi. Tiba-tiba, Pak Dadang keluar dengan memegang panci. Rupanya di kamar mandi Pak Dadang menumpahkan air panas ke ember untuk Samsul menyiram alat vitalnya.


Terkejut dan panik melihat keberadaan Zahra di depan matanya. Pak Dadang lantas tersenyum dengan wajah memerah.


"Eh, itu, itu, saya mau ... " Pak Dadang berbicara gelagapan sambil menyimpan panci di atas kompor.


Mata Zahra terbelalak, lalu ia mundur beberapa langkah ke belakang. Tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Samsul bertelanjang bugil dan hanya alat vitalnya saja yang ditutupi handuk.


"Zahra! Maaf, bisa tolong tutup pintunya!" pekik Samsul dengan wajah pucat sambil menutupi burungnya dengan handuk.


Pak Dadang yang panik lantas keluar rumah untuk mengupas kelapa muda. Kejadian yang baru saja terjadi di depan Zahra. Sungguh membuat Pak Dadang malu setengah mati. Gadis itu pasti menyangka ia dan Samsul melakukan hal aneh di dalam kamar mandi.


Zahra yang ketakutan setengah mati. Dengan cepat menuju kamar mandi untuk menutup pintunya. Tapi sayang karena lantai licin. Kaki Zahra terpeleset hingga tubuhnya menubruk Samsul yang tengah berdiri kaku di dalam sana. Tubuh Zahra ambruk menindih tubuh Samsul. Keduanya tumpang tindih di kamar mandi. Zahra seketika kaget dan menjerit histeris.


"Aowww!!!"


Keduanya saling menjerit bersamaan. Hanya saja jeritan Samsul berbeda. Tak disangka ketika Zahra menindihnya. Samsul berhasil ejakulasi hingga cairan kental yang sedari tadi ia tahan karena birahinya memuncak. Berhasil keluar karena secara tidak sengaja milik Zahra menyentuh alat vital Samsul.


Dengan nafas tersengal. Tubuh Samsul seketika lemas dan burung miliknya kembali normal. Sementara Zahra langsung berdiri dengan susah payah karena kakinya terkilir cukup parah.


Terusik dengan jeritan Zahra. Pak Dadang berlari menuju dapur. Mata Pak Dadang membola memperhatikan keduanya yang berada di kamar mandi. Zahra berada di atas tubuh Samsul dan berusaha bangkit kepayahan sambil mengerang kesakitan karena nyeri di kakinya.


"Waduh!!" Pak Dadang berujar sambil berusaha menolong Zahra.


Zahra yang kesakitan. Akhirnya di papah Pak Dadang menuju ruang tengah untuk di dudukkan di sofa.


Setelah itu. Pak Dadang kembali menuju dapur untuk melihat keadaan Samsul.


Tampak Samsul terduduk di lantai kamar mandi dengan nafas tersengal.


"Pak, Bapak baik- baik saja?" tegur Pak Dadang mendekat.


"Saya tidak apa-apa," ucap Samsul sambil mengelap miliknya dengan handuk.


"Pak, ayo bangun Pak!" ujar Pak Dadang.


"Sebentar Pak, tubuh saya lemas," ucap Samsul dengan suara parau.


"Tapi mengapa gadis itu bisa jatuh di atas Bapak?" tanya Pak Dadang penasaran.


"Entahlah .... mungkin lantainya licin, jadi dia terpeleset. Tapi karena dia, burung saya sudah kembali normal Pak ... " bisik Samsul sambil tersipu malu pada Pak Dadang.


"Hah! Serius Pak? Memang Bapak diapain, sampai burung Bapak bisa normal hihihi ... " canda Pak Dadang tersenyum geli.


"Ah sudahlah, saya juga tidak tahu Pak ... " balas Samsul sambil bangkit berdiri lalu berjalan lemas keluar kamar mandi. Tubuhnya masih polos dengan handuk melingkar di pinggangnya.


"Pak ... saya penasaran. Bapak tadi ngapain saja di kamar mandi sama gadis itu. Sampai-sampai Bapak bisa keluar. Jangan- jangan ... hihihi ..." Pak Dadang tertawa cekikikan.


"Ah Bapak ini ...ayo kita temui Zahra. Kasian gadis itu, secara tidak langsung dia sudah menolong saya, kan?" ucap Samsul sambil melangkah perlahan menuju ruang tamu.

__ADS_1


"Iya deh ... kalau Bapak tidak mau berterus terang, ya sudah ... ayo ... hihihi .... " celoteh Pak Dadang sambil terus cengengesan.


Samsul menghela nafas panjang melihat sikap Pak Dadang yang selalu saja mengejeknya.


__ADS_2