
Samsul kembali duduk bersila di hadapan mereka berdua.
Ia menarik nafas berat. Mencoba menetralisir amarahnya agar bisa tenang saat berbicara.
Mila masih terisak menangis tak henti- henti di samping Deni.
"Ma. Sudah hentikan tangisan mu itu. Tangisanmu itu tidak akan merubah apapun. Semua sudah terjadi. Kita sudah tidak ada hubungan apa- apa lagi. Papa akan segera membebaskan Mama. Papa harap Mama bahagia dengan kehidupan Mama yang baru," ucap Samsul dengan mata berkaca. Perih batin Samsul saat itu. Miris nasibnya harus berakhir seperti itu.
"Pa!" jerit Mila tak kuasa ia melihat raut wajah suaminya. Ingin ia memeluk suaminya erat- erat. Tapi tiada guna, tak ada lagi yang tersisa. Semua yang telah ia lakukan harus di bayar dengan rasa pedih yang tak terperi.
"Den ... saya harap kamu bisa membahagiakan istriku kelak. Aku tidak mampu memberi apa yang dia inginkan, untuk itu aku mohon. Jangan pernah sakiti istriku. Aku titipkan dia padamu dari ujung rambut sampai ujung kaki. Kini dia tangung jawab mu."
Deni mengangguk samar.
"Pa ...Mama masih sayang sama Papa!"
Tiba- tiba Mila bangkit dari duduknya lalu memburu dan merangkul suaminya dengan erat sambil menangis histeris.
"Pa ... jangan tinggalkan Mama ... Mama tidak bisa hidup tanpa Papa!" pekik Mila semakin mengeratkan pelukannya.
Dan itu membuat Samsul tak bisa menahan gejolak emosi jiwanya. Cepat Samsul berusaha melepaskan rangkulannya.
"Lepas Ma!"
"Tidak Pa. Jangan tinggalkan Mama!"
Raut wajah Samsul berubah, pria itu lalu menatap Mila dengan tajam.
"Kau tidak berhak lagi atas diriku!"
Samsul kemudian mendorong tubuh Mila dengan kasar beruntung Deni menangkapnya.
Samsul bangkit dan berdiri.
"Aku pergi sekarang! Tolong jangan pernah lagi hubungi Papa dan jangan pernah datang ke rumahku!" tunjuk Samsul mengancam.
Deni tak berdaya melihat keadaan Mila yang meronta dan memberontak hendak mengejar Samsul.
"Pa!!!
Mila menjerit histeris. Kedua tangannya bergerak berusaha menggapai suaminya tapi Deni menghalanginya agar wanita itu tak mendekatinya.
Tepat di depan pintu. Samsul menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah Mila.
"Kamu jangan khawatir Ma. Selama suami siri itu belum dapat kerjaan. Papa akan kirim Mama uang setiap bulan!"
Setelah mengatakan itu, Samsul pun bergegas pergi dari sana.
Meninggalkan Mila bersama lelaki pilihannya. Bahkan suara jeritan istrinya yang memangil manggilnya. Ia tak mau lagi peduli. Meski jauh di lubuk hatinya, ia tak sanggup melihat wanita itu untuk terakhir kalinya.
Tapi itulah pilihan hidup.
Mila bukan lagi bagian hidupnya, kini wanita itu tinggal kenangan. Kenangan yang harus ia singkirkan dari pikirannya.
Untuk sesaat pengakuan Samsul berhasil menyentil harga diri Deni. Sesak dada Deni saat lelaki angkuh itu menyindir tentang keadaannya. Deni akui, ia belum mempunyai pekerjaan. Tapi demi Mila. Suatu hari nanti, ia akan tunjukkan pada lelaki itu bahwa ia mampu membahagiakan Mila.
Pergi meninggalkan luka yang dalam. Samsul harus memulai hidupnya tanpa seorang istri yang biasa menemani nya di kala gundah.
Berjalan terkulai lemas. Samsul masuk ke dalam mobil lalu pergi dari sana membawa luka yang pedih.
Sepanjang jalan. Wajah Mila masih bermain di pelupuk matanya yang sudah berderai.
Deg!
Mendadak Samsul menginjak pedal rem. Ia menoleh ke belakang.
"Intana!"
__ADS_1
Karena terlalu memikirkan masalahnya. Samsul melupakan Intana yang sejak tadi ia tinggalkan di mobil.
Samsul kemudian turun dari mobil. Matanya mengedar ke setiap sudut jalan guna mencari Intana. Ia mengusap kasar wajahnya. Panik dan gelisah mulai mengusik pikirannya.
"Sial! Kemana wanita itu perginya!" oceh Samsul sambil mengucek kasar rambutnya.
Dan tepat di emperan toko. Tatapan Samsul mengarah pada seorang wanita yang berjalan seperti orang linglung.
"Intana ... "
Gegas Samsul menghampiri wanita yang mirip dengan Intana. Dan benar saja setelah ia dekati, wanita itu ternyata Intana.
"Ayo!"
Dengan kasar Samsul menarik tangan Intana dan membawanya dari tempat itu.
"Lepas aku Mas! Aku tidak mau pulang!" sentak Intana sambil menepis tangannya.
"Kamu sudah gila, ya? Kalau kamu tidak pulang. Terus sampai kapan kamu berkeliaran di jalan! Ayo ikut aku sekarang juga!" Dengan paksa Samsul kemudian memasukkan Intana ke dalam mobil.
"Tolong Mas ... jangan bawa aku ke rumah suamiku. Aku lebih baik mati daripada harus kembali ke rumah itu!"
Intana berusaha kabur dengan membuka pintu mobil. Tapi cepat Samsul mencegahnya lalu mengunci pintu mobil.
Tanpa menghiraukan keluhan Intana. Samsul melaju kencang menjalankan mobilnya. Membuat Intana beberapa kali merasakan tubuhnya terguncang. Ia pun mengingatkan pada Samsul untuk melajukan mobilnya dengan hati- hati karena mereka berada di jalan yang padat, tapi Samsul mengabaikannya. Ia sudah kesal dengan ulah Intana yang selalu menyusahkan nya dari semenjak bertemu.
"Apa kau gila? Kau ingin kita cepat mati!" Intana memegangi seatbelt, merasakan kecepatan mobil semakin bertambah.
"Aaaa!" jeritnya saat mobil benar- benar menghantam seorang gadis muda yang hendak menyebrangi jalan.
"Hah!" Samsul cepat menginjak rem menghentikan mobil.
Gadis muda yang tidak sengaja di tabrak nya terlihat berusaha bangun sambil meraba keningnya yang mengeluarkan darah.
Cepat Samsul dan Intana keluar dari mobil dan berlari menghampiri gadis tersebut. Beruntung jalan tampak sepi pejalan kaki. Jadi tak memancing kegaduhan.
Intana membantunya memasukan tubuh gadis muda itu ke dalam mobil.
"Cepat Mas! Kita bawa ke rumah sakit!"
Dengan kecepatan penuh. Samsul melaju kencang menuju rumah sakit.
Tidur di pangkuan Intana. Gadis itu mengerang kesakitan sambil meraba-raba pelipisnya yang berdarah.
"Mmmm ... dimana aku ... " wanita itu berguman setengah sadar.
"Ayo cepat Mas!" teriak Intana khawatir melihat keadaannya yang terus mengeluarkan darah dari keningnya.
Panik dan tegang Samsul berusaha menjalankan mobilnya dengan sekencang mungkin. Sesekali tangannya menyeka dahinya yang sudah banjir keringat.
Tak berapa lama. Sampailah mereka di rumah sakit. Cepat Samsul mengeluarkan gadis itu dan langsung menggendongnya membawanya masuk ke dalam rumah sakit.
Dua orang perawat yang tengah berjaga. Sigap langsung bereaksi melihat Samsul tengah menggendong seorang gadis.
Perawat satunya bergegas mengambil brankar.
Gadis itu terlihat mulai pucat lemah dan selalu memanggil manggil ibunya.
"Ibu ... ibu ... " gumannya.
Setelah membaringkan gadis itu di brankar. Kedua perawat itu lalu memasuki ruang IGD.
Samsul dan Intana tampak gelisah dan merasa iba melihat gadis itu.
Sepertinya gadis itu sedang merindukan ibunya.
Samsul bolak balik berjalan gelisah menunggunya di luar.
__ADS_1
"Mas, ayo duduk," ajak Intana.
"Tidak, aku takut terjadi apa- apa dengan gadis itu! Kamu lihat tadi, keningnya terus mengeluarkan darah ... ya Tuhan mengapa hidupku jadi begini .,. " ucap Samsul melirih.
"Tenang Mas. Lagian tadi Mas ngebut sih!" omel Intana dengan wajah ketus.
"Ini semua gara- gara kamu!" tekan Samsul memprotes.
Intana menghembus nafas kasar sambil membuang muka.
Tak berapa lama seorang dokter paruh baya menghampiri Samsul.
"Maaf. Bapak siapanya pasien?" sapa dokter itu.
"Sa ... saya ... "
"Dia saudaranya dok!" potong Intana.
"Baiklah. Pasien hanya luka ringan di kening. Kami sudah menanganinya, silahkan Bapak temui dia, sepertinya dia tertekan," ungkap dokter itu lalu pergi begitu saja.
Gegas Samsul dan Intana berjalan memasuki ruang IGD.
Di dalam sana. Tampak gadis itu berbaring dengan keningnya sudah di terbalut.
Seorang perawat lalu pergi memberi ruang agar Samsul merasa leluasa.
"Mbak ... " sapa Samsul.
Gadis itu menoleh menatap wajah Samsul yang terlihat sangat tampan.
"Tu ... tuan siapa?" ucap gadis itu suaranya pelan nyaris tak terdengar.
"Maaf Mbak. Saya tadi hilang kendali dan menabrak Mbaknya. Tapi jangan khawatir. Saya akan membayar semua biaya rumah sakit sampai Mbak baik dan bisa pulang," aku Samsul dengan wajah memelas.
"Aku ingin menemui ibuku, tolong antar aku menemui ibuku ... hikz ... " Gadis itu menangis lirih sambil beringsut ingin turun dari atas ranjang pasien.
"I .. iya baik Mbak, saya akan bantu Mbak. Tapi Mbaknya masih sakit, sebaiknya Mbak berbaring dulu," bujuk Samsul.
Intana hanya berdiri mematung sambil mengamati wajah gadis muda yang wajahnya sangat rupawan. Bulu matanya lentik bibirnya mungil dan rambutnya panjang tergerai.
"Tuan. Aku tidak apa- apa, aku hanya ingin bertemu ibuku ... hiks ... hiks ..." Gadis itu terus memohon pada Samsul untuk membantunya menemui ibunya.
"Ba ... baik, aku akan membawamu ke tempat ibumu. Berikan alamat ibumu," ucap Samsul kemudian.
Gadis itu tampak tercenung saat Samsul meminta alamat ibunya.
"Aku tidak tahu alamatnya Tuan. Yang aku tahu ibuku berada di kota ini ... " ucapnya binggung.
Samsul dan Intana saling tatap. Lalu Intana berjalan mendekati gadis muda itu.
"Kalau boleh tahu, siapa namamu," sapa Intana dengan ramah.
"Namaku Zahra," ucapnya. Suaranya begitu lembut.
"Baiklah Zahra. Kamu tahu, dimana ibumu tinggal?"
Zahra menggeleng pelan.
"Aku tidak tahu dimana ibuku tinggal. Yang aku tahu, ibuku ada di kota ini ... " ucapnya lirih.
Intana menarik nafas panjang. Sepertinya gadis lugu itu berasal dari desa dan tersesat di kota besar untuk mencari ibunya.
"Bagaimana kami bisa membantumu. Kamu sendiri tidak mempunyai alamatnya."
"Kalau boleh tahu, Mbak Zahra datang ke kota ini sendiri? Atau ada yang mengantar," sela Samsul.
Gadis muda itu kembali menggeleng beberapa kali.
__ADS_1
Intana dan Samsul di buat binggung dengan sikap gadis belia itu. Selain lugu. Gadis itu terlihat polos dan kaku.