
Di dalam kamar, Intana dan Samsul saling bicara satu sama lain mengenai rumah tangga yang tengah mereka hadapi.
Keduanya mengabaikan Mila yang terbaring di kamar menangis sepanjang malam membayangkan suaminya tengah bercumbu dengan wanita lain. Walau sebenarnya Samsul dan Intana tak melakukan hal yang buruk seperti yang ada di pikirannya.
Betapa hati Mila hancur malam itu. Dia bahkan tidak bisa berpikir dengan baik. Bukankah ia sendiri yang pertama bermain api, dan api itu mulai membakar kehidupan rumah tangganya.
***
Jam sudah bergerak pukul delapan pagi. Dan itu artinya Samsul sudah bangun untuk pergi ke kantor. Mila bergegas bangun, ia harus cepat menyediakan sarapan untuk suaminya.
Cepat Mila melangkah menuju kamar mandi. Membasuh muka berkumur, menatap pantulan wajahnya di cermin sebentar lalu merapihkan rambutnya.
Baru saja kakinya akan melangkah ke arah dapur, sebuah pemandangan yang tak mengenakkan menyapanya.
Samsul tengah sarapan di temani Intana.
Mila menghembus nafas berat, menyiapkan hati untuk melanjutkan langkahnya menuju dapur yang harus melewati dua sosok yang sedang asyik menyantap sarapan pagi.
Intana melihat ke arahnya. Begitu menyadari kehadiran Mila ia tersenyum.
"Mbak," sapanya.
"Nikmati saja makananmu. Jangan sok akrab!" jawab Mila dengan wajah kecut.
Samsul hanya tersenyum kecil.
"Sini Ma. Kita sarapan sama- sama. Ohiya, Mama hari ini mau ke tempat senam lagi, kan?" sindir Samsul. Matanya tajam menatap wajah istrinya.
"Jangan pikirkan Mama Pa! Urus saja wanita itu!"
Setelah mengatakan itu Mila kemudian duduk di sisi suaminya kemudian mengambil sendok yang sedang di pegang Samsul lalu mengambil nasi goreng dan memasukkan ke dalam mulutnya.
"Ma. Apa- apaan ini?" tegur Samsul melihat Mila berbuat itu.
"Kenapa Pa? Mama kan sudah biasa makan bareng sama Papa, apa karena wanita itu?" sindir Mila sambil menatap wajah Intana.
Intana tersenyum menyeringai mendengar sindiran Mila. Apa wanita itu tak berkaca. Beruntung Samsul masih sabar dan mau menerima dia sebagai istrinya. Padahal kalau mau, Samsul bisa saja mengusirnya saat itu juga.
Selesai sarapan. Samsul pun bersiap pergi ke kantor. Mila dan Intana mengantarnya sampai depan. Keduanya tampak saling lempar tatapan satu sama lain.
"Kalian baik- baik ya di rumah. Intana, kalau Mbak mu mau ke tempat senam, kamu pergi saja ke pasar, ya? Beli ikan gurame kesukaan saya, ok."
Di depan Mila. Sengaja Samsul mengeluarkan uang ratusan ribu lalu di serahkan pada Intana.
Mila mulai jengah melihat sikap suaminya. Apa dia sengaja memanasinya. Mila tak habis pikir. Sepertinya Samsul dan Intana sengaja melakukan itu agar dirinya pergi dari rumah itu.
Tapi tidak!
Mila akan bertahan sampai Deni mendapat pekerjaan. Setelah Deni mempunyai penghasilan sendiri. Mila akan segera pergi dari rumah itu.
Setelah Samsul pergi. Intana masuk ke dalam sambil menghitung uang yang diberikan Samsul di depan Mila. Membuat otak Mila mendidih melihat tingkahnya.
"Heh, Pelakor!" caci Mila sambil berkacak pinggang di depan Intana.
Intana menoleh lalu balik menantangnya dengan membusungkan dada di depan Mila.
"Apa? Aku memang pelakor! Terus kenapa?" ejek Intana.
"Dasar tidak tahu malu! Rebut suami orang masih belagu!" balas Mila.
"Apa? Ngaca kalau ngomong, apa kamu sudah merasa jadi istri benar! Lihat dirimu, setiap hari pergi ke tempat senam pulang sore. Senam apa senam ... hahaha." sindir Intana sambil tertawa ngakak.
__ADS_1
Mila mulai kesal dengan sindiran yang dilontarkan Intana. Wanita itu semakin menunjukan sifat aslinya yang licik.
"Heh! Jaga mulut mu!" sentak Mila sambil meremas kuat pergelangan tangan Intana dan itu membuat Intana meringis kesakitan. Tapi Intana tidak tinggal diam. Ia kemudian menepis tangan Mila.
"Lepas! Dasar wanita tak punya otak!" bentak Intana sambil berjalan cepat menuju ruang dapur untuk membereskan piring bekas Samsul sarapan.
"Apa kamu bilang? Aku tak punya otak!" geram Mila sambil mengejar Intana kemudian menjambak rambut Intana dari belakang.
Tentu saja itu membuat tubuh Intana tersentak ke belakang dan iapun jatuh terjerembab ke lantai.
Intana bergerak berusaha bangkit untuk melawan. Tapi tangan Mila semakin kuat mencengkram rambutnya.
"Rasakan kau pelakor!" Mila tak bisa lagi menahan kekesalan nya terhadap Intana.
Karena terjepit dengan keadaan. Terpaksa Intana berteriak membongkar perselingkuhannya bersama Deni.
"Lepas! Kalau tidak! Aku akan bongkar kebusukan kamu bersama si Deni!" ancam Intana sambil berusaha melepaskan diri dari Mila.
Mata Mila membelalak mendengar pengakuan Intana. Perlahan tangan yang tadi kuat tak mau lepas mencengkram rambut Intana. Perlahan tangan itu berangsur turun.
"Apa kamu bilang?"
Intana bangkit berdiri dan menjauh dari Mila yang tengah berdiri kaku dengan mata melotot menatapnya.
Intana balik memelototinya dan berkata.
"Kamu pikir. Aku tidak tahu, kemana setiap hari kamu pergi, hah!!!
"A, apa maksud kamu?" Mila berkata tergagap.
Raut wajah Mila berubah pucat.
"Aku tahu kemana kamu pergi, kelakuan mu itu, persis binatang yang tega menyakiti suamimu sendiri."
Tapi ia sudah tidak bisa lagi menahannya. Wanita seperti Mila tak boleh di kasih hati. Pengkhianatan besarnya bersama Deni. Harus ia bongkar.
"Apa yang kamu ketahui tentang Deni ..." ucap Mila dengan tubuh yang sudah terguncang.
Intana menghela nafas panjang.
"Aku tahu semuanya, juga tentang pernikahan siri mu dengan lelaki muda itu," Intana menyipitkan mata dinginnya saat mengatakannya.
Mata Mila membola.
"Cukup! Kamu mematai aku?" Mila manatap tajam wajah Intana.
"Heh. Dasar perempuan gatal. Apa reaksi suamimu nanti, jika dia mengetahui kelakuanmu yang bejad itu!" tekan Intana menakuti Mila.
"Jadi kamu memang mau menghancurkan rumah tanggaku?" Mila memprotes.
"Aku pastikan Samsul akan segera menceraikan mu!" Intana berdecak dengan raut wajah masih tak bersahabat.
"Kurang ajar! Sebenarnya siapa dirimu?" selidik Mila penasaran. Ia tidak menyangka Intana mengetahui semuanya. Wanita itu baru satu hari tinggal di rumahnya. Tapi sepertinya ia mengetahui segalanya termasuk pernikahan nya dengan Deni.
Dengan wajah yang kian pucat. Mila mendekati Intana dengan wajah memerah.
"Aku tak akan meninggalkan rumah ini! Di rahimku ini bersemayam benih suamiku," Mila mencoba mencari kekuatan dengan mengungkap kehamilannya pada Intana.
Intana menggeleng masih dengan seringainya.
"Apa kamu yakin? Itu bayi Samsul?"
__ADS_1
"Apa?Jadi kamu meragukan bayi ku ini?"
Mila sudah terbakar emosi. Tanpa ampun kemudian Mila meraih wajah Intana bermaksud mencakar nya.
Tapi Intana segera bergerak menjauh.
Intana kemudian mencengkram kedua tangan Mila untuk menghalangi niatnya. Wanita itu sepertinya ingin merusak wajahnya.
Plak!
Reflek Intana menampar keras pipi sebelah kanan Mila.
"Lancang kamu!" umpat Intana. Meski Mila istri dari mantannya, tapi Intana tidak terima dengan kelakuan Mila yang tempramental. Sudah tahu dirinya salah, bukannya menyesal. Tapi wanita itu justru semakin menjadi.
Mila terlihat murka mendapat tamparan dari Intana. Tangannya melayang ke udara hendak menampar balik. Tapi Intana tidak membiarkan itu terjadi.
"Awas kalau kamu berani menyentuhku! Aku akan adukan semuanya pada suamimu!" ancam Intana.
Tangan Mila berhenti di udara mendengar pengakuan Intana. Kedua tangannya mengepal kuat.
"Percuma kamu mempertahankan rumah tangga yang tidak sehat ini, dalam waktu dekat, suamimu akan menikah denganku. Sebaiknya pergi dari sini. Hiduplah bersama berondong simpanan mu itu," ucap Intana penuh tekanan.
"Itu bukan urusanmu! Selama suamiku belum menceraikan aku. Aku akan tetap tinggal disini!" Mila semakin terjepit dengan ancaman Intana.
"Kenapa? Kamu pasti hanya butuh uang dari Samsul untuk menghidupi lelaki kere itu," sindir Intana.
Mila terdiam dengan emosi yang meledak- ledak. Wanita licik itu pasti akan membongkar semuanya kepada Samsul mengenai perselingkuhannya. Dan sebelum itu terjadi, Mila harus segera pergi dari rumah itu. Dan Mila akan membawa uang suaminya yang selalu ia simpan di brangkas yang terkunci rapat.
Sial.
Tadinya Mila merasa hidupnya tenang. Mempunyai dua suami yang saling melengkapi. Dari Samsul ia tidak akan kekurangan materi, sedang bersama Deni. Ia bisa melampiaskan hasrat birahinya yang tinggi kepada lelaki yang kuat di atas ranjang.
Tapi mendadak Intana mengungkap semuanya. Bagaimana dan dimana ia bisa mengetahui tentang pernikahan sirinya bersama Deni.
Mila berjalan perlahan menuju kamar. Intana hanya diam membisu memperhatikan sikapnya. Intana hanya bisa tertawa puas dalam hati. Pagi itu. Ia berhasil menakuti Mila dan membohonginya. Wanita itu tak tahu. Bahwa Samsul sebenarnya sudah mengetahui semuanya.
Duduk di tepi ranjang. Mila termenung sambil menangis. Tak kuasa batinnya pedih kala itu. Samsul adalah suami yang sangat ia cintai. Tak mungkin Mila meninggalkannya begitu saja. Ia tak mau kehilangan Samsul begitu saja.
Sedang Deni.
Deni hanya lah budak cintanya untuk memenuhi birahinya. Mila begitu tergila- gila dengan permainan Deni di atas ranjang. Berondong muda itu bisa membuat dirinya merasakan nikmat nya syurga dunia hingga berkali- kali.
Tapi.
Terakhir ia melakukan kontak fisik bersama suaminya. Samsul juga begitu perkasa bermain di atas ranjang sampai dua putaran.
Mungkinkah keperkasaannya timbul karena Intana?
Mila mengira suaminya berubah perkasa karena Intana. Tetapi kenyataannya. Samsul maupun Intana tak pernah berbuat maksiat seperti yang ada di pikiran kotornya.
Wanita itu hanya mencari kepuasan birahinya. Mila tak pernah puas jika tak melakukan adegan ranjang setiap hari, Mila butuh sentuhan lelaki yang bisa memuaskannya.
Begitu nikmat tubuh Deni yang kekar. Dan ia tak bisa melupakan Deni begitu saja.
Berondong itu sanggup membuat Mila menjerit nikmat karena permainan ranjang Deni yang penuh sensasi yang luar biasa.
Pagi itu Mila menghadapi dilema. Mila harus cepat mengambil keputusan.
Haruskah ia meninggalkan Deni.
Tidak!
__ADS_1
Tapi untuk apa juga mempertahankan Samsul. Lelaki itu sama bejadnya dengan dirinya. Diam- diam selingkuh di belakangnya.