
Selesai ijab qobul. Mila dan Deni kini bisa bernafas lega. Kini mereka resmi menjadi suami istri. Tak ada lagi yang perlu di cemaskan.
Terutama Deni. Wanita yang berhasrat tinggi itu kini telah sah menjadi istrinya. Meski mereka menikah secara siri. Tapi bagi Deni ia bisa dengan leluasa melayani kebutuhan wanita itu tanpa merasa berdosa. Meski Mila masih berstatus istri orang. Tapi tak mengapa, yang penting ia kini bisa memperlakukan Mila sebagaimana layaknya suami terhadap istrinya. Apalagi kini wanita yang terpaut jauh umurnya itu. Sedang mengandung anaknya.
Siang itu tampak Mila duduk bersandar di dada Deni dengan hati berbunga- bunga. Pemuda tampan idamannya itu, kini sudah menjadi miliknya seutuhnya.
"Sayang ... kamu bahagia ... ucap Mila dengan suara syahdunya.
"Tentu saja sayang ... aku sangat bahagia sekali. Apalagi kamu kini tengah mengandung buah cintaku ... " ucap Deni sambil membelai rambut Mila dengan lembut.
"Sayang ... aku mau ...." suara menggoda Mila membuat Deni mengerti.
Deni sudah tidak tahan mendengar suara menggoda itu.
Seolah tak punya waktu. Deni bergerak menghujani tubuh Mila dengan memberinya sentuhan yang bertubi- tubi.
Mila mendesah nikmat begitupun Deni saat milik mereka sudah sama sama menyatu. Tubuh Deni bahkan sudah bergetar dengan sensasi nikmatnya. Selagi Deni menggerakkan pinggulnya maju mundur, bibir berondong muda itu tetap bekerja melumati bibir ranum Mila. Sedang tangan lainnya ikut andil bergerilya meraba setiap lekuk tubuh Mila. Membuat Mila mengejang nikmat.
Mila sudah tidak tahan lagi. Iapun segera melepaskan bebannya mencapai puncak kenikmatan yang tiada tara.
Wanita itu sedikit menjerit karena sensasi kenikmatan yang luar biasa dari Deni.
Deni tak mau berhenti. Ia terus memburu tubuh Mila. Sampai akhirnya keduanya terkulai lemas tak berdaya.
Nafas Mila sudah habis. Hampir dua jam Mila dan Deni melakukan adegan ranjang. Wanita itu sampai mengerang dua kali.
"Sayang aku begitu puas ... " ucap Mila dengan tubuh masih polos.
"Aku akan berikan nikmat ini setiap hari ... balas Deni. Berondong itu memang tak pernah menyerah jika harus melayani Mila.
Mila wanita berhasrat tinggi. Hampir tiap hari, Deni harus melayaninya. Dan bukan itu saja. Mila bahkan bisa melepas bebannya dua atau tiga kali membuat Deni sedikit kewalahan menghadapinya.
Deni harus mengerahkan semua tenaganya jika bermain di atas ranjang bersama Mila. Tak jarang Deni kehabisan tenaga karena birahi Mila yang tinggi.
"Ohiya sayang, besok aku akan membeli peralatan rumah tangga. Sekalian aku ingin membelikan kamu pakaian," ucap Mila sambil beranjak bangkit dari sana. Lalu menyambar setiap helai pakaiannya yang berserakan di lantai.
"Sayang, kamu mau pulang sekarang?" tanya Deni.
"Iya sayang. Ini sudah sore. Suamiku pasti sudah pulang sekarang, aku harus siapkan makanan untuknya."
Mila pun mematut wajahnya di cermin ukuran sedang yang kemarin ia beli dari pasar. Merapihkan hijabnya dan merias sedikit wajahnya lalu memakai lipstik di bibirnya yang baru saja di ***** berondong muda itu.
"Sayang, kamu tidak mandi dulu?"
"Nanti saja di rumah. Ini sudah setengah tiga sore. aku harus pulang, besok aku datang lagi setelah suamiku pergi ke kantor. Ok!"
__ADS_1
Setelah selesai berdandan, Mila pun pergi dari tempat itu.
Menggunakan Gojek pesanannya, Mila cepat pulang agar suaminya tak menaruh curiga.
Tak butuh waktu lama. Mila sudah berada di teras depan rumahnya.
Rumah tampak sepi.
Kemana Siti?
Mila membuka pintu rumah dengan kunci cadangan.
Pintu terbuka lebar.
Tak ada siapapun di dalam. Siti dan Samsul juga tak ada.
"Kemana mereka pergi," Mila berguman.
Siti tak ada di kamarnya. Samsul juga belum kembali.
Mila lalu mengambil ponsel dari dalam tas senamnya untuk menghubungi suaminya. Tapi tak ada jawaban sama sekali. Bahkan ponsel Samsul tak aktif.
Mila semakin penasaran, tidak seperti biasanya. Suaminya mematikan ponselnya.
Rasa cemas dan gelisah mulai mengganggu pikiran Mila.
Apalagi tiba- tiba, Samsul membawa seorang wanita cantik yang diakuinya sebagai keponakan.
Deg!
Mengapa ia percaya begitu saja pada perkataan Samsul.
Tak pernah terpikir olehnya. Bisa saja Siti itu bukan keponakannya, bisa jadi wanita berparas cantik itu adalah selingkuhan suaminya.
Tidak!
Mendapati suaminya dan Siti tak berada di rumah. Mila jadi curiga, apalagi Samsul mematikan ponselnya.
Dan untuk membuktikan itu semua, Mila harus bertanya kepada kedua orang tua Samsul yang kini menetap di Kalimantan.
"Helo Ibu. Ini Mila, bagaimana kabar Ibu disana," sapa Mila basa basi.
"Eh Nak Mila, apa kabarnya Nak? Bagaimana Samsul disana? Apa baik- baik saja?" tanya mertua Mila dari seberang sana.
"Oh ... disini baik- baik saja Bu. Kami berdua sehat Bu," balas Mila.
__ADS_1
"Syukurlah Nak kalau begitu. Ibu harap kalian berdua selalu bahagia," jawabnya lagi.
"Kami bahagia Bu. Hanya ada hal penting yang ingin saya tanyakan, Bu?" tanya Mila sungkan.
"Tanyakan saja Nak Mila ada apa?"
"Itu Bu. Paman Bram baik- baik saja. Oiya saya dengar putrinya mau dijodohkan. Kok paman gak undang- undang Bu?"
"Putri? Putri yang mana? Setahu Ibu, paman Bram hanya punya dua putra kembar!"
Mata Mila langsung membelalak mendengar pengakuan Ibu mertuanya.
Keterlaluan!
Samsul sudah membodohi dirinya.
Di akhir kata. Mila pun mengucap salam pada Ibu mertuanya dan saat itu juga langsung memutuskan sambungan telponnya.
Mila langsung melempar ponselnya ke atas tempat tidur. Wajahnya sudah memerah menahan amarah yang memuncak.
Samsul begitu tega berbuat keji seperti itu.
Mila lalu melepaskan satu persatu pakaiannya dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya bekas tadi bertarung liar bersama Deni.
Selesai mandi. Mila mengambil kembali ponsel yang tadi ia lempar ke atas tempat tidur. Ia menghubungi lagi suaminya, masih sama ponselnya tak aktif.
Mila semakin geram. Ia membayangkan suaminya pasti sedang bermesraan dengan wanita licik itu.
Ia sangat menyesal. Mengapa ia langsung percaya pada suaminya. Mungkin malam itu, Mila selalu kepikiran Deni dan rencana pernikahan sirinya.
Jam sudah bergerak menunjuk pukul delapan malam.
Berkali- kali ia menghubungi suaminya. Masih tetap sama. Tak ada jawaban dari ponselnya.
Mila begitu tersiksa menunggunya. Bolak balik ia masuk keluar rumah. Berharap suaminya kembali.
Mila tak tahan lagi. Ia pun pergi ke kamarnya. Mengacak tempat tidurnya sambil mengutuk perbuatan Samsul. yang tega memasukkan wanita ke dalam rumahnya. Dan yang membuat dadanya sesak. Samsul telah membohonginya, dengan mengatakan bahwa Siti adalah keponakanya.
"Kurang ajar kamu Pa! Awas kalau pulang! Mama akan buat Papa menyesal!" jerit Mila sambil mengacak kasar rambutnya.
Mila tak henti henti menangis dan mengutuk perbuatan suaminya dan wanita licik itu.
Pantas saja, wanita itu begitu perhatian pada suaminya.
Dasar pelakor!
__ADS_1