
Samsul mengatakannya sambil berlinang air mata. Rasa sakit di dada karena penghianatan sang istri membuatnya tak berdaya dan pedih.
Mila terus memohon padanya untuk memberinya kesempatan agar bisa merajut kembali benang kusut yang ia ciptakan.
"Pa! Tolong beri Mama kesempatan sekali lagi Pa. Mama janji akan berubah!" Mila memohon dan menghiba pada suaminya.
"Ayo Ma. Hari ini juga, kita selesaikan semua. Bereskan semua bajumu. Aku akan mengantar mu ke tempat berondong itu," ucap Samsul sambil mengambil koper besar yang ada di atas lemari.
"Tidak Pa! Mama tidak mau pergi! Mama ingin tetap disini, hidup bersama dengan Papa ... hiks ... hiks ..." rintih Mila seraya mencegah suaminya agar tidak mengusirnya.
"Cukup Ma! Sudah cukup! Apa Papa harus iklas menerima wanita yang tubuhnya sudah di jamah orang lain, begitu?" potong Samsul. Kilat amarah tergambar jelas di wajahnya.
Mila menggeleng beberapa kali dengan kedua tangan bersimpuh dan memohon pada pria yang telah menemaninya selama tiga tahun.
"Maafkan Mama Pa ... " kata maaf berulang kali Mila ucapkan. Namun Samsul tak bergeming.
"Ayo Intana. Bantu aku memasukkan semua pakaian istriku!"
Intana cepat bergerak menghampiri Samsul. Lalu keduanya sibuk memasukkan satu persatu baju Mila ke dalam koper. Meski Mila berusaha mencegah. Tapi Samsul sudah tak mau lagi peduli.
Untuk apa mempertahankan wanita kotor seperti Mila. Hanya karena ia tak bisa memberi nafkah batin. Istrinya dengan mudah mencari kepuasan di luar sana demi memuaskan hasratnya.
"Pa! Tolong jangan usir Mama. Pa ... " ucap Mila melirih.
Selesai memasukkan semua baju istrinya termasuk perhiasan. Samsul kemudian membawa koper dan beberapa tas sedang ke depan teras rumahnya.
Di depan pagar. Ada sebuah mobil Avanza warna hitam keluaran terbaru.
Mila seketika menganga melihat keberadaan mobil baru yang terparkir di depan rumahnya.
Rupanya hari itu Samsul membeli mobil baru.
"Pa. Itu ... itu mobil Papa?" tanya Mila gagap. Tak menyangka suaminya bisa membeli mobil baru.
"Ayo cepat! Aku akan mengantar mu ke tempat si Deni!"
Dengan kasar, Samsul meraih tangan Mila untuk mengikutinya. Tapi Mila berontak dengan menepis tangan suaminya.
Tidak Pa! Mama tidak mau pergi! Mama sedang hamil!"
Samsul menyeringai.
"Papa sudah tahu Ma. Jangan sakiti hati Papa lagi. Dengan mengatakan kehamilan mu. Bayi itu bukan darah daging Papa."
Mila semakin tak berdaya mendengar pengakuan suaminya. Betapa dirinya semakin menyesal dan bersalah terhadap suaminya saat itu. Sungguh pria itu sangat tegar dan kuat.
"Ohiya Intana. Setelah aku membereskan masalah ini! Aku akan mengantarmu pulang," ucap Samsul sambil menatap Intana yang tengah memegang koper milik Mila.
"Jangan Mas! Aku tidak mau kembali pada suamiku!" jerit Intana. Koper yang tengah di pegangnya lepas dari genggaman setelah mendengar perkataan Samsul. Lalu Intana berjalan tergesa menghampiri Samsul.
"Mas. Jangan pikirkan aku kemana aku akan pergi. Dan jangan pernah berpikir aku mau kembali pada suamiku yang keji itu! Lebih baik aku mati, daripada aku harus kembali padanya!" bentak Intana sambil menangis.
"Terserah! Pokonya aku tak mau melihat kalian berdua ada di rumah ku! Apalagi kamu masih berstatus istri orang!"
"Cukup!" Mila menyela.
__ADS_1
Mila baru saja meninggikan suaranya dan itu membuat Samsul dan Intana terkejut, untuk pertama kali, wanita yang bersikap lemah lembut, hari itu mulai menunjukan emosinya. Seketika Mila menangkupkan wajah. Lalu bersandar pada dinding ruang tamu. Bahunya berguncang hebat. Tangisannya pecah seketika.
Samsul tetap tak bergeming. Hari itu harus ia selesaikan semuanya. Ia sudah muak melihat air mata buaya istrinya.
"Papa tak mau berdebat lagi. Ayo kalian berdua masuk ke dalam mobilku!"
Samsul berbicara sambil memasukkan dua koper dan satu tas sedang ke dalam mobil miliknya yang baru saja ia beli.
Tadinya mobil itu di peruntukkan untuk Mila, sebagai hadiah ulang tahun. Tapi sebelum itu terjadi. Tuhan memberinya petunjuk melalui Intana.
Mantan kekasihnya itu mengungkap semua perselingkuhan istrinya.
"Pa kita bisa bicarakan ini baik- baik."
Mila terus mengekori suaminya sambil memohon dan menangis. Sementara Intana sudah berada di dalam mobil duduk di belakang.
"Ok Pa. Mama akui memang Mama salah."
"Setahun tubuhmu di gauli pria lain, jelas itu salah, sekarang tak ada lagi yang perlu Mama jelasin sama Papa, ok! Ayo masuk!"
Samsul kemudian mencengkram kuat pergelangan tangan Mila dan memaksanya masuk ke dalam mobil.
Meski Mila meronta dan memberontak namun suaminya berhasil memasukkan dirinya masuk ke dalam mobil duduk di depan bersama Samsul.
Setelah Mila sudah berada di dalam. Lekas Samsul mengunci bagasi mobilnya dan berjalan tergesa dan masuk ke dalam mobil setelah itu menguncinya.
Sambil menangis mata Mila mengedar melihat isi mobil yang masih baru dengan kursi jok yang masih terbungkus plastik.
"Tega kamu Pa ngusir Mama ... " ucap Mila melirih.
Samsul pokus ke jalanan tak menghiraukan perkataan istrinya.
Intan pun langsung memberitahu arah dimana ia dulu dan tukang ojek mengikuti Mila, yaitu menuju pasar.
Di lain sisi. Mila terus menangis sesegukan. Ia masih tak rela harus kehilangan suaminya. Tetapi tak ada kata maaf lagi dan Samsul. Lelaki itu tak mau lagi di ajak bicara, Mila menyadari kesalahannya tak mungkin dimaafkan begitu saja oleh suaminya.
Kini ia harus pasrah dengan semua kemungkinan yang bakal terjadi. Takdir hidupnya bersama Samsul hanya sampai disini. Tak bisa lagi di pertahankan.
Tak berapa lama. Sampailah mereka bertiga di kontrakan Deni.
Tampak Deni sedang mengutak ngatik motor maticnya.
Melihat sebuah mobil Avanza berhenti di depan rumahnya. Deni langsung menghentikan kegiatannya lantas matanya menyelidik ke arah mobil tersebut.
Bug!
Suara pintu mobil membuat Deni sedikit kaget.
Dari dalam mobil keluar Samsul dan berjalan ke arah samping pintu mobil untuk mengeluarkan Mila dari sana.
"Ayo keluar!"
Dengan kasar. Samsul menarik tangan istrinya dan membawanya tepat di hadapan Deni.
"Om Samsul," Deni berguman.
__ADS_1
Samsul kemudian berjalan menuju begasi mobilnya untuk mengeluarkan koper dan tas milik istrinya.
Di depan Deni, Samsul masih diam dan sibuk mengambil satu koper dan disimpannya begitu saja di depan pintu. Kemudian balik lagi menuju begasi untuk mengambil tas yang lainnya.
Sementara Mila menenggelamkan wajahnya di dada Deni sambil menangis histeris.
"Bu, ada apa ini," Deni berbisik di telinga Mila sambil memeluk tubuh Mila.
"Ayo masuk! Ada hal penting yang ingin saya sampaikan!"
Setelah menyimpan semua barang bawaanya. Samsul meminta Deni untuk masuk dalam rumah itu.
Deni mengangguk samar.
Sakit saat itu perasaan Samsul takkala melihat istrinya tengah di peluk lelaki lain. Di depan matanya saja. Mila berani melakukan hal itu, apalagi di belakangnya. Wanita itu memang sudah buta mata buta hati tak punya perasaan.
Di dalam rumah yang masih tampak kosong dengan lantai di alasi karpet seadanya. Deni mempersilakan Samsul untuk duduk.
Hari itu akhirnya terjadi. Dan Deni tahu itu, lambat laun cinta terlarangnya dengan Mila akan terbongkar.
Samsul kemudian duduk bersila di atas karpet itu dengan wajah sudah tak bisa di gambarkan. Ia berusaha sekuat tenaga agar bisa tenang menghadapi lelaki yang sudah menikmati tubuh istrinya itu.
Meski hatinya perih bagai di sayat sembilu ketika memandang wajah Deni. Namun ia tahan rasa amarah yang memuncak di dalam dada.
Deni dan Mila duduk bersebelahan sementara Samsul duduk menghadap mereka berdua.
"Namamu Deni, kan?" Samsul memulai pembicaraan.
"Iya Om. Nama saya Deni."
Dengan tegas Deni mengatakannya.
"Baiklah. Saya tidak mau bertele- tele. Hari ini tepat jam sepuluh pagi. Saya atas nama Samsul Setiawan. Saya serahkan istri saya kepada kamu, dan saya harap kamu menjaga istri saya dengan baik. Sebagaimana saya dulu menjaganya. Cintai dia, sayangi dia. Dan jangan pernah sia- siakan dia."
Dengan mata berkaca, Samsul berusaha kuat dan tegar saat wanita yang selama tiga tahun menemaninya harus ia relakan kepada lelaki yang telah menghancurkan rumah tangganya. Sakit memang. Tapi itu lebih baik agar tidak ada lagi saling menyakiti.
Deni tertunduk tak kuasa melihat wajah lelaki yang telah menyembunyikan lukanya. Meski begitu Deni merasa kagum pada sosok pria itu. Dia mempunyai hati sekuat baja. Dan cinta nya begitu besar terhadap Mila.
"Ba, baik Om. Aku akan senantiasa menjaga istrimu. Maaf jika aku selama ini telah menyakiti Om."
"AKU DATANG KEMARI BUKAN UNTUK MENDENGAR KATA MAAF DARIMU!" bentak Samsul dengan wajah memerah menahan amarah yang kian meluap. Namun ia tahan sebisa mungkin.
Deni dan Mila tertunduk.
"Kamu seenaknya bilang maaf! Aku ini punya perasaan. Sakit aku di giniin! Apa kalian waktu selingkuh ingat Tuhan!"
Lantas Samsul berdiri dan membalikan badannya sambil menonjok tembok yang ada di depannya. Guna menyalurkan amarahnya yang tak bisa ia lakukan kepada kedua manusia yang tak tahu malu itu. Air matanya kembali meleleh di pipi. Hati lelaki mana yang tahan jika berada dalam situasi seperti itu. Harga dirinya hancur lebur. Karena ulah dua manusia yang egois. Demi nafsu mereka begitu keji berbuat maksiat.
Mila dan Deni sontak terlonjak kaget. Raut keduanya berubah pucat. Mila yang duduk samping Deni langsung memalingkan wajahnya ke sembarang arah.
"Kenapa kalian diam! Apa perkataan ku ini salah!"
Samsul berbalik badan dan menatap geram pada kedua mahluk yang telah menorehkan luka yang sangat dalam.
Membayangkan, ketika ia sedang berpeluh mencari rupiah. Istrinya enak- enak tidur dengan lelaki lain.
__ADS_1
Entah berapa istrinya mengeluarkan rupiah dari hasil keringatnya untuk menghidupi berondong pengangguran itu.
Sungguh Samsul tak bisa menerima itu semua. Untuk itu sesegera mungkin ia akan menceraikan Mila.