
Zahra sedikit kaget saat tiba- tiba Samsul sudah berdiri di belakangnya.
Saat itu juga Zahra menghentikan kegiatannya.
"Ma, maaf tuan. Ini saya lihat piring kotor, jadi saya mencucinya," ucap Zahra ketakutan.
"Sudah biarkan saja. Ayo makan dulu," ajak Samsul sambil berjalan keluar menuju ruang makan. Dua bungkus nasi Padang ia simpan di atas meja. Kemudian Samsul mengambil dua buah piring untuk alas nasi bungkusnya.
Dengan cepat Zahra menyelesaikan cuciannya. Selesai mengerjakan semuanya. Zahra pun bergegas menuju ruang makan.
Samsul sudah duduk di meja makan sambil menyantap nasi Padang yang baru saja ia beli.
"Ayo duduk sini. Habiskan nasi Padang ini. Kamu pasti lapar," tawar Samsul.
"Ba, baik tuan."
Zahra pun duduk di kursi, lalu mengambil nasi Padang itu dengan tangan gemetaran. Kemudian sedikit demi sedikit ia memakannya sampai habis tak tersisa. Begitupun dengan Samsul.
Selesai makan Zahra membereskannya lagi dengan rapih. Sementara Samsul pergi ke kamar untuk mengambil laptop.
Zahra kemudian menghampiri Samsul yang tengah serius menatap layar laptop di ruang tengah.
"Tuan ... " ucap Zahra.
"Ya. Ada apa?" jawab Samsul matanya masih pokus menatap layar.
"Maaf tuan. Apa istri tuan tahu, saya tinggal disini," tanya Zahra sungkan.
Samsul langsung menoleh ke arah Zahra.
"Istri ku sudah pergi dari rumah ini. Sudahlah ... aku tidak mau bahas itu, sebaiknya kamu istirahat sana," ucap Samsul.
"Mmm ... maksudnya istri tuan sedang pergi?" tanya Zahra menatap sekilas wajah Samsul lalu kembali menunduk.
"Kamu bisa diam tidak? Jangan pernah tanya tentang istriku lagi!"
Zahra hanya bengong dengan kata- kata Samsul yang baru saja di ucapkan nya. Sebenarnya kemana istri pria itu pergi. Apa mereka telah berpisah?
"Kenapa kamu masih berdiri? Ayo masuk ke kamar."
"Maaf tuan, itu ... boleh saya pinjam mukena, saya mau sembahyang magrib, Sekali lagi maaf tuan, saya telah merepotkan tuan," ucap Zahra.
"Baiklah, saya coba cari di kamar, ya." Samsul kemudian tersenyum tipis memandangi gadis muda cantik nan rupawan itu. Begitupun dengan Zahra. Gadis itu membalas senyuman Samsul, tak di duga mata mereka saling bertemu dan beradu.
Sontak saja langsung Samsul membuang pandangan nya karena hilap akan apa yang ia lakukan barusan, memandangi wanita yang bukan mahramnya.
"Astagfirullah .... " bisik Samsul menunduk.
Kemudian Samsul bangkit berdiri lalu berjalan tergesa menuju kamarnya. Tangannya langsung bergerak mencari mukena milik istrinya. Meski istrinya jarang menggunakan kain putih suci itu. Tapi Samsul hapal betul dimana Mila selalu menyimpan mukenanya.
Tepat di bawah tumpukan kitab suci. Akhirnya Samsul menemukan mukena milik Mila yang masih tersimpan rapih dan masih terbungkus plastik. Mukena itu adalah salah satu mas kawin darinya saat pernikahannya dulu bersama Mila.
Tapi sayang. Mila jarang menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim. Wanita itu malah terlena dengan cinta butanya pada berondong muda.
Samsul pun mengambil satu buah kitab kecil, barangkali gadis muda itu memerlukannya.
__ADS_1
Mukena dan kitab kecil kemudian ia serahkan pada Zahra.
"Nih, ambillah. Kamu boleh pake mukena milik istriku," ucap Samsul sambil menyerahkan benda berharga itu kepada Zahra.
"Ba, baik tuan."
Zahra pun kemudian membawa masuk mukena dan kitab itu ke dalam kamar. Lalu ia kembali menanyakan letak kamar mandi pada Samsul. Karena di rumah Samsul hanya ada dua kamar mandi. Satu di kamar Mila dan satunya lagi ada di dapur.
Tapi Samsul menyarankan Zahra agar menggunakan kamar mandi istrinya. Karena disana lebih bersih. Sedang kamar mandi yang di dapur jarang di gunakan.
Zahra pun menuruti perintah Samsul. Meski sungkan ia harus menggunakan kamar pribadi pria asing itu. Tapi mau bagaimana lagi. Ia butuh air untuk berwudhu.
Masuk berjalan perlahan. Mata Zahra langsung tertuju pada tempat tidur mewah yang masih acak- acakan. Dua bantal guling ada di lantai.
Lalu Zahra kembali ke ruang tamu guna melihat Samsul yang masih asyik memainkan laptopnya.
Cepat Zahra kembali masuk ke kamar Samsul. Ia pun mulai merapihkan tempat tidur itu dengan cepat sebelum pria itu melihatnya. Bantal dan guling sudah berada di posisi semula. Sprei juga sudah terpasang rapih.
Kemudian Zahra beranjak melangkah menuju kamar mandi. Membasuh muka berkumur, menatap pantulan wajahnya di cermin sebentar, lalu mulai berwudu.
Setelah selesai, Zahra kemudian berjalan menuju kamar melewati Samsul yang masih pokus memandangi layar laptopnya.
Dengan cepat Zahra masuk ke kamar lalu menutup pintunya.
Salat membuat Zahra merasa lebih tenang dan damai. Yang di akhir salam, Zahra bisa mencurahkan segala bentuk masalah yang tengah di hadapinya pada sang pemilik hidup-Allah.
Selesai salat Zahra bertadarus membaca surat Ar- Rahman. Lantunan suara Zahra begitu merdu terdengar oleh Samsul.
Lelaki itu menghembus nafas pelan. Mendengarkan setiap bait ayat suci yang di lantunkan Zahra. Membuat batinnya gerimis saat mendengarnya. Hatinya terasa damai dan sejuk.
Pertama dalam hidupnya. Samsul merasakan getaran tubuhnya berdecak kagum pada sosok gadis muda belia itu. Ayat yang dilantunkan gadis itu seakan menampar kehidupannya.
Air mata mulai menitik di kedua sudut matanya. Hari-harinya selalu sibuk mengurus duniawi. Seringkali ia meninggalkan Mila dalam kesendirian di rumah. Bahkan ia hampir tak punya waktu untuk istrinya.
Waktu bergerak menunjuk pukul tujuh malam.
Zahra masih di dalam kamar. Mungkin melanjutkan salat Isa.
Samsul pun beranjak dari ruangan itu. Merasa netra matanya sudah lelah. Samsul pun merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur yang sudah terlihat rapih.
Andai Mila seperti gadis itu. Mengaji dan bertadarus tak melupakan kewajibannya. Tentu iman nya takkan goyah saat cobaan menghadang.
Samsul memiringkan tubuhnya sambil mengenang istrinya yang tak lama ini akan ia ceraikan.
Kembali air mata menetes membasahi bantal yang dipakainya. Ia merenungi nasib rumah tangganya yang sudah hancur berkeping- keping tak tersisa.
* * *
"Sodaqallahul' azdim," Zahra memeluk dan menciumi penuh syahdu kitab kecil ber-cover keemasan itu. Obat dari segala kegundahan, penawar dari segala kesulitan.
Selesai menunaikan salat subuh. Zahra keluar kamar. Ruangan tampak hening. Sebuah laptop milik Samsul masih teronggok di atas meja.
Kemudian Zahra melangkah menuju dapur untuk mencari sapu.
Pagi itu Zahra bereskan semua rumah dengan rapih kecuali kamar Samsul yang pintunya masih terbuka tak terkunci.
__ADS_1
Selesai bersih- bersih. Zahra berjalan menuju kamar mandi yang ada di dapur.
Kamar mandi tampak sedikit kotor dan bau. Dengan cekatan, Zahra menyikat dan membersihkannya.
Selesai membersihkan tubuhnya. Zahra kembali masuk ke dalam kamar sambil menunggu pria itu bangun.
Selang beberapa menit. Suara Samsul memanggilnya dari luar.
Cepat Zahra keluar dan menghampirinya.
Tampak Samsul sudah berpakaian rapih hendak pergi ke kantor. Wajah tampannya sesaat membuat Zahra terpesona. Di kampungnya tempat ia tinggal tidak ada pria setampan itu.
Kulit putih bersih dan tubuh sedikit berotot menambah kesempurnaan wajahnya.
"Kamu yang bereskan semua ini?" tanya Samsul melihat rumah sudah rapih dan bersih.
Zahra mengganguk samar.
"Kamu tidak usah repot-repot, biar nanti saya cari pembantu," ucap Samsul sambil mengambil laptop yang berada di atas meja.
"Biar saja tuan. Saya sudah biasa mengerjakannya."
"Baiklah. Nanti kalau saya libur. Saya akan antar kamu pulang. Ngomong- ngomong dimana kamu tinggal?" tanya Samsul sambil memasukkan laptopnya ke dalam tas warna hitam.
Zahra menghembus nafas pelan. Sebenarnya ia tidak mau kembali ke tempat asalnya. Tinggal bersama ibu tiri jahat dan ayah kandung yang sama sekali tidak peduli dengannya. Tapi tinggal bersama pria asing yang baru saja di kenalnya juga akan menimbulkan masalah besar.
"Baiklah ... saya pergi dulu, ya? Tolong jangan pergi kemana- mana. Saya tidak enak dengan tetangga yang ada didepan, kalau kamu berada di rumah ini terus," ucap Samsul.
"Baik tuan, saya akan pergi dari sini besok," ucap Zahra dengan wajah sedih.
"Kamu jangan gegabah. Tak baik gadis belia seperti kamu pergi tanpa tujuan yang jelas. Sudah pokonya aku akan antar kamu ke tempat keluargamu!" tegas Samsul sambil melangkah keluar dan berjalan menuju mobilnya.
Zahra diam membisu tak mampu lagi berkata- kata. Bagaimana mungkin ia menceritakan nasibnya yang pahit. Di paksa menikah dengan seorang kakek lumpuh.
Tak lama kemudian, Samsul kembali masuk menghampiri Zahra.
"Nih." satu lebar uang seratus ribu. Samsul berikan pada Zahra.
"Apa ini tuan?"
"Tentu saja itu uang. Barangkali kamu mau beli sesuatu. Di ujung sana ada warung, beli apa saja yang kamu mau. Apa kurang uangnya," tanya Samsul sambil merogoh saku celananya untuk mengeluarkan dompet dan dua lembar ratusan ia berikan lagi ke Zahra.
Zahra tampak bengong melihat sikap aneh pria itu. Untuk sekedar jajan saja. Zahra menerima uang tiga ratus ribu. Tentu saja Zahra langsung menolaknya.
"Tidak tuan. Ini terlalu banyak. Saya puasa hari ini, saya tidak membutuhkan uang ini," ucap Zahra seraya menyerahkan kembali uang itu ke tangan Samsul.
Tentu saja Samsul kaget mendengar pengakuan gadis muda itu. Berpuasa di hari Kamis dan itu membuat Samsul tertegun melihat keteguhan iman gadis itu. Selain cantik, gadis itu juga sangat menjunjung tinggi agamanya.
"Saya puasa tiap hari Senin dan Kamis tuan. Dan itu sudah jadi kebiasaan sejak umur saya sepuluh tahun," ungkap Zahra.
"Jadi, sejak kecil kamu sudah puasa sunat?"
"Iya tuan. Semua ini saya lakukan agar Tuhan mendengar doa saya. Saya ingin tuhan mengabulkan keinginanku tuan. Bertemu ibuku," ucap Zahra seraya menundukkan wajahnya menyembunyikan kesedihan yang terpendam.
Hati Samsul terenyuh mendengar pernyataannya. Gadis lugu itu begitu merindukan kasih sayang seorang ibu.
__ADS_1
"Baiklah. Aku pergi sekarang, nanti sore aku pulang. Kita bicara lagi nanti. Ok."
Setelah mengatakan itu. Buru- buru Samsul pergi menuju mobilnya.