
Setibanya di rumah. Baik Samsul dan Intana keduanya terlihat tegang. Tapi mau bagaimana lagi. Samsul tak mau Intana berbuat nekad seperti yang tadi ia lakukan saat ingin menabrakkan diri ke jalanan.
Begitupun dengan Intana. Ia sudah putus asa dan ketakutan. Daripada ia kembali pada Toro. Lebih baik ia mati saja. Sudah cukup, ia tahan deritanya yang tak berkesudahan. Jika ia pulang ke rumah orang tuanya. Tentu dengan sangat mudah Ibu dan ayahnya terbujuk rayuan manis Toro yang berbisa itu. Lelaki itu akan menggunakan kelemahan kedua orang tuanya dengan uang.
Ia tak mau itu terjadi, melibatkan kedua orang tuanya, hanya akan menambah beban pikiran mereka saja.
Dengan hati- hati. Samsul memarkirkan motor nya di depan rumahnya. Lalu secara perlahan ia membuka pintu rumah dengan kunci cadangan yang selalu ia simpan kemanapun ia pergi.
"Aku takut, bagaimana jika istrimu curiga ... " bisik Intana.
Samsul menelan ludahnya. Wajahnya sudah terlihat pucat dan jantungnya berdetak tak karuan.
"Mau bagiamana lagi. Sudahlah biar aku nanti yang menjelaskan pada istriku," ucap Samsul sambil membuka pintu rumah dengan sangat hati- hati.
Pintu terbuka lebar. Cepat Samsul memasukkan motornya ke dalam rumah.
"Ayo masuk ... " ucap Samsul berbisik pada Intana yang berdiri kaku kedinginan.
Selesai menyimpan motornya. Samsul kemudian menyuruh Intana untuk duduk. Tak lupa ia menutup pintu dan menguncinya rapat.
"Kamu tunggu disini ya, saya akan bangunkan Istriku. Ohiya, jangan pernah bilang bahwa kamu adalah mantan saya. Saya akan bilang sama istriku. Bahwa kamu saudara jauh, ok," ucap Samsul suaranya pelan nyaris tak terdengar.
Intana mengangguk samar. Matanya mengedar ke setiap ruangan yang terlihat apik dan bersih. Rumah Samsul lumayan bagus dengan barang barang yang cukup mewah. Pasti Samsul suami yang penuh perhatian terhadap istrinya.
Menyesal ia dulu tak menikah dengan Samsul. Pikir Intana.
Berjalan perlahan agar tak menimbulkan suara. Samsul masuk ke dalam kamar untuk membangunkan Mila.
Tampak Mila sudah tertidur dengan lelap. Perlahan Samsul mendekat.
"Ma ... Ma ... bangun Ma, lihat siapa yang datang ... " bisik Samsul sambil mencium bahu istrinya yang tidur miring.
Mila menggeliat.
"Mmmm ... ada apa sih Pa ... " Mata Mila mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya ia terbangun.
__ADS_1
Mila mengucek kedua matanya. Mengamati Samsul yang ada didepannya.
"Papa sudah pulang," ucap Mila setengah sadar. Matanya begitu berat, karena masih kantuk.
"Bangun Ma. Lihat siapa yang datang," ucap Samsul.
Mata Mila menyipit.
"Siapa memangnya yang datang Pa." Mata Mila langsung terbuka lebar mendengar pengakuan suaminya.
Segera Mila bangkit dari tidurnya. Penasaran dengan apa yang dikatakan suaminya, iapun langsung berjalan menuju ruang tengah tamu untuk melihat seseorang yang dikatakan Samsul.
Tampak wanita cantik jelita memakai hijab kuning dalam keadaan basah seluruh tubuhnya.
Mata Mila langsung membelalak, tertegun dengan kecantikan wanita itu.
"Si, siapa kamu?" tanya Mila gelagapan.
"Dia saudara Papa, Ma," dusta Samsul sambil memegang bahu istrinya. Lalu Samsul menuntun tangan Mila untuk mendekat pada Intana.
"Sa, saya saudara Mas Samsul," ucap Intana sedikit gugup karena tegang.
"Saudara?" Mata Mila langsung menukik tajam pada suaminya yang berdiri di belakangnya.
"Pa. Ini saudara Papa yang mana? Kok, Mama baru lihat?"
"Ini Ma. Ini Putri pamanku, namanya itu, anu, Siti Ma!" kelit Samsul kebingungan. Terpaksa ia membohongi Mila.
Intana menelan ludahnya berulang- ulang. Sama halnya dengan Samsul, iapun gugup sekaligus tegang.
Dari atas kepala sampai kaki. Mila mengamati penampilan Intana. Wajahnya putih mulus dan bersih, dari cara ia berpakaian. Mila berpendapat wanita itu pasti dari keluarga berada. Tapi bagaimana bisa tubuhnya basah kuyup begitu. Dan Putri paman yang mana yang dimaksud Samsul. Setahu Mila. Paman Samsul tak berada di pulau Jawa. Dia menetap di Kalimantan sana.
"Ayo Ma, bawa dia ke kamar tamu. Dia kabur dari rumah. Karena pamanku ingin menjodohkan dia sama lelaki tua," ucap Samsul mengarang cerita agar Mila percaya.
"Kabur! Maksud Papa kabur dari Kalimantan, begitu?" Mila menatap heran wajah suaminya.
__ADS_1
"Kalimantan?"
"Iya. Kan, setahu Mama, Paman Papa tinggal di Kalimantan, itu kan, yang dulu Papa katakan saat kita menikah dulu. Dan karena ada halangan. Pamanmu tak bisa hadir di pesta pernikahan kita," ungkap Mila berusaha mengingatkan suaminya.
Sontak saja Samsul kaget. Bagaimana ia bisa lupa. Bahwasanya. Paman Danu memang tinggal di Kalimantan.
Sial!
Samsul semakin gugup. Hampir saja kebohongannya terbongkar.
"Iya, iya Ma. Dia kabur dari Kalimantan dengan mengunakan kapal Peri menuju kesini," ujar Samsul berdalih.
Bukan saja Samsul yang gugup. Jantung Intana semakin kuat memompa tubuhnya. Karena ingin lari dari suaminya. Secara tidak sengaja ia bertemu Samsul di jalan. Dan kini, lelaki itu mulai terpojok dengan pertanyaan istrinya yang bertubi-tubi. Membuat Intana merasa bersalah.
Mila akhirnya mengulurkan tangannya pada Intana yang masih berdiri kaku kedinginan. Intana pun menyambut uluran tangan Mila dengan senyuman.
"Ayo pakai bajuku untuk ganti. Nanti kamu kedinginan," ajak Mila sambil menuntun tangan Intana dan membawanya masuk ke dalam kamar.
Lalu di dalam kamar. Mila langsung mengambil beberapa daster untuk di pakai Intana. Tubuh Intana seukuran dengan tubuhnya. Dengan senang hati, Mila bisa meminjamkan pakaiannya pada Intana.
Tapi Mila masih penasaran dengan wanita yang mengaku putri dari paman suaminya itu. Wajah nya yang cantik membuat Mila tak pernah berhenti menatapnya.
"Ayo. Aku akan tunjukan kamarmu," sahut Mila seraya mengajak Intana menuju kamar kosong yang biasa ia peruntukkan untuk saudara yang menginap di sana. Tapi sampai sekarang baik saudara Samsul ataupun saudaranya. Tak pernah berkunjung ke rumah mereka. Mungkin karena jarak yang saling berjauhan. Rumah Mila berada di Bandung. Sedangkan orang tua Samsul tinggal di Kalimantan sana, mengikuti satu anak perempuannya. Adik kandung dari suaminya.
Samsul hanya diam memperhatikan kedua wanita itu. Dari tadi ia menghela nafas berkali- kali. Takut kebohongannya di ketahui istrinya. Untuk selanjutnya, ia akan meminta Intana pergi dari rumahnya. Agar tak menimbulkan salah paham yang nantinya akan menimbulkan pertengkaran.
"Ayo bersihkan dulu badanmu. Aku akan siapkan makan malam, ya?"
"Te, terima kasih ... maaf aku sudah merepotkan kalian," ucap Intana gemetar. Bahkan terdengar pelan layaknya bisikan.
Sementara Samsul begitu ketakutan. Langkahnya semakin mendekat pada istrinya yang berjalan tergesa menuju dapur.
"Ma ... Mama tak keberatan kan, dia tinggal disini untuk sementara," bisik Samsul.
Mila menoleh ke wajah suaminya.
__ADS_1
"Kenapa mesti keberatan Pa. Dia kan saudara Papa. Justru Mama kasian sama dia. Mama merasakan bagaimana dipaksa nikah sama orang yang tak dicintai sama sekali."